
Laki-laki adalah manusia yang serakah, padahal hanya diberi sedikit kesempatan untuk dapat memiliki seseorang namun merasa semua adalah miliknya.
...
Sehari setelah Aditya mengatakan wanita yang dia sukai, suasana canggung menyelimuti kelas. Kami semua bingung respon seperti apa yang harus kami tunjukan kepada Aditya meskipun sebelumnya kami berkata kalau akan mendukung Aditya sepenuhnya.
Alasannya karena Cantika yang jelas terlihat tidak memperdulikan Aditya dan bagi kami yang menyadari hal itu, membuat kami canggung ketika mengobrol dengan Aditya. Pada akhirnya sebisa mungkin kami tidak mengungkit permasalahan itu.
...
Seperti biasa aku duduk satu meja dengan Ali, meja ku berada di barisan tengah paling belakang, alasannya di posisi itu Ali dapat tidur dengan bebas ketika jam pelajaran tanpa khawatir akan ketahuan, kalau untuk ku sih, tidak masalah mau itu di depan atau di belakang.
Pelajaran hari ini jauh lebih padat dari yang kemarin, satun-satunya pelajaran yang santay adalah pelajaran seni budaya. Bila berbicara mengenai pelajaran seni budaya, aku teringat perkataan kaka kelas ku ketika MPLS.
Sudah menjadi sebuah tradisi di SMA 2, setiap akhir semester akan diadakan sebuah perlombaan seni antar kelas. Lomba ini juga di jadikan sebagai penilaian praktek pelajaran seni budaya.
Seingatku di semester pertama ini bagi kelas 10 diadakan lomba seni tari kolosal. Hal yang sangat asing di telinga ku, namun ketika MPLS kaka kelas ku sempat menjelaskan sedikit tentang tari kolosal ini.
Inti dari perkataan kaka kelas yang aku tangkap adalah sebuah tarian yang dilakukan oleh banyak orang, didalamnya terdapat unsur tarian dan musik, hal yang unik dari tari kolosal ini adalah tarian yang dilakukan haruslah menggambarkan sebuah cerita.
Bisa dibilang tari kolosal ini seperti menceritakan sebuah cerita lewat musik dan tarian tanpa dialog sama sekali.
Bila tari kolosal diadakan semester ini itu artinya waktu yang tersisa kurang dari tiga bulan lagi, menurut informasi dari kelas lain pelajaran seni budaya hari ini akan membahas mengenai persiapan untuk tari kolosal, mulai dari ketua dan sekbid-sekbid lainnya.
Seperti sebelum-sebelumnya terdapat debat yang sangat panjang ketika pemilihan ketua dan seksi-seksi untuk tari kolosal ini. Namun pada akhirnya Kemal terpilih lagi sebagai seorang ketua.
Menurut ku Kemal memang pantas terpilih sebagai ketua mengingat dia adalah salah satu tokoh sentral di kelas. Berkat dia para laki-laki dapat berbaur satu sama lainnya, sedangkan untuk perempuan, Kemal memang tidak dapat berbuat banyak karena efek dari perang dingin antara dua kubu besar yang sangat berpengaruh.
Kemal yang sudah terpilih kemudian memimpin pemilihan selanjutnya, guru seni budaya kami kemudian keluar dan memberikan kami waktu untuk melakukan pemilihan secara pribadi.
"Okeh semua, sesuai perintah dari Bu Yeni, ga boleh ada yang ga kedapatan tugas." ucap Kemal sambil menunjuk ke papan tulis
Ali kemudian mengangkat tangannya "Yang bener aja Mal, ga ada bagian yang cocok sama aku."
"Ya udah Li gimana kalau kamu jadi ketua, aku jadi seksi dokumentasi aja." Kemal mencoba mendebat Ali dengan seolah-olah mengatakan kalau tugas yang dia emban jauh lebih berat.
Mendengar itu Ali pun menyerah dengan protesnya. Aku pribadi setuju dengan Ali tidak ada satu pun bagian yang cocok dengan ku dan memiliki tugas yang ringan. Meskipun aku sudah memikirkannya berulang kali aku benar-benar tidak mendapatkan sebuah titik terang.
__ADS_1
"Denger ya, aku tau kalian banyak yang ga suka sama bagian-bagian, tapi mau gimana lagi, bagian-bagian ini kan yang nentuin Bu Yeni, jadi ga mungkin diubah, kecuali diantara kalian ada yang mau tukeran sama aku." sekali Kemal mencoba mempertegas posisinya.
Mendengar ucapan Kemal yang seperti itu tidak ada satu pun dari kami yang berfikir untuk melakukan protes lagi.
Kemal kemudian menunjuk ke papan tulis yang beruliskan Sekbid make up dan tata rias "Buat sekbid make up dan tata rias aku tunjuk Mutia, alasanya udah jelas, ga ada lagi cewe yang make up nya paling jelas di kelas ini kecuali kamu."
Seisi kelas menyetujui hal itu, namun Mutia tiba-tiba mengangkat tangannya "Aku setuju kalau aku jadi sekbid make up dan tata rias tapi aku minta 2 orang lagi untuk ngebantu aku."
Kemal kemudian diam sejenak "Oke, aku juga udah kepikiran kalau untuk sekbid ini butuh sekitar 3 atau 4 orang."
Mutia kemudian melanjutkan argumennya "Menurut ku sih tambahan 2 orang lagi cukup soalnya kan masih ada sekbid lain takutnya kekurangan orang juga."
Kemal kemudian memotong argumen Mutia "jadi langsung aja siapa orang yang kamu minta, atau mau di pilih aja."
"Aku minta 1 orang perempuan dan 1 orang laki-laki, yang laki-laki nanti akan bertugas untuk koordinir make up laki-laki, untuk yang perempuan sih aku pilih Regina tapi kalau untuk yang laki-laki." lanjut Mutia, terlihat kalau dia ragu untuk mengajukan nama laki-laki yang akan bergabung dalam sekbidnya.
"Oke, aku terima ide kamu." Kemal kemudian berteriak "Ada ga laki-laki yang mau masuk sekbid make up dan tata rias."
Mutia kemudian mengangkat tangannya lagi "Sebenernya aku kepikiran satu nama sih."
"Aku saranin Iqbal, soalnya dulu pas SMP Iqbal pernah bantu make up pas acara pameran seni." Mutia mengatakan nama ku dengan nada malu.
"Ohh oke, kalau gitu sekbid make up dan tata rias yang laki-lakinya adalah Iqbal." Kemal kemudian menulis nama ku di samping nama Mutia.
Aku yang mendengar cerita Mutia langsung mengangkat tangan ku " Tunggu dulu KM, si Mut itu ngarang cerita, mana pernah aku ngemake up orang lain, jangan kan ngemake upin orang lain alat-alatnya aja aku ga hafal namanya apa."
*Note : Aku mulai merubah panggilan ku kepada Kemal menjadi KM alasannya karena film yang aku tonton.*
Kemal kemudian menatap tajam ke arah ku "Owhh, kalau gitu kamu mau jadi sekbid apa."
Laki-laki di kelas ku kemudian tiba-tiba berteriak "Udah Mal si Iqbal aja."
"Oy yang bener aja, kamu juga Li." ucap ku
"Okelah, berhubung waktu kita terbatas jadi aku putusin kalau Iqbal jadi sekbid make up dan tata rias, kalau ga mau maka Iqbal bisa gantiin aku jadi ketua." tegas Kemal
Melihat itu Ali tertawa dengan terbahak-bahak, aku kemudian memukul punggung Ali "Kampret kamu Li."
__ADS_1
Mutia yang duduk di sebelah kanan barisan ku lebih tepatnya di meja kedua dari depan melihat kebelakang tepat ke arah ku, dia melihat ku dan memberikan sebuah senyuman mengejek.
Aku sudah tahu kalau dia memang berniat balas dendam karena aku telah memaksanya menjadi sekbid kebersihan.
Sedari SMP sifat Mutia memang tidak pernah mau mengalah dalam soal apa pun, bahkan soal percintaan pun dia tidak pernah mau mengalah. Ketika SMP aku sering berdebat dengannya, namun ketika memasuki SMA aku merasa sifatnya sudah sedikit berubah.
Dia menjadi terlihat lebih kalem dan sepertinya dia sudah mulai tidak tertarik dengan pelajaran di kelas.
Mutia yang saat ini rasanya sudah lama aku tidak melihatnya, sifat Mutia yang tidak mau mengalah. Bahkan Mutia yang saat ini ditambah dengan sifat pendendam.
"Yang benar saja" kalimat itu tiba-tiba terucap oleh ku, disaat seperti ini seharusnya aku marah, dendam atau sejenisnya, namun yang aku rasakan malah sebaliknya, perasaan nostalgic yang membuat ku tersenyum.
Kemal kemudian melanjutkan proses pemilihannya, namun saat proses pemilihan baru mencapai setengah jalan bel pergantian pelajaran telah berbunyi.
Kemal kemudian berkata "Oke kawan-kawan ku, pemilihannya kita lanjutin nanti pulang sekolah habis ini pelajaran Kimia yah, gimana kalau aku coba ngomong ke Bu Ani minta jamnya di pake buat pemilihan ini."
"Ide bagus tuh Mal." Jawab Azahra
"Oke nanti aku coba bilang." kata Kemal sambil kembali ketempat duduknya "Oh iya jangan lupa hasil ini di foto yah." lanjutnya
Di sela-sela jam pergantian pelajaran, sambil menunggu Bu Ani masuk kedalam kelas aku menghampiri meja Mutia "Mut, gimana ceritanya aku pernah make upin orang." kata ku sambil tertawa.
Mutia kemudian memalingkan pandangannya dari ku "Bodo amat, habisnya waktu itu kamu maksa aku buat masuk sekbid kebersihan, jadi aku bales kamu sekarang."
Mendengar jawabannya aku semakin tertawa, melihat tingkah ku Mutia sampai menanyakan apa yang sedang terjadi padaku.
Aku membalas perkataannya "Aku engga kenapa-kenapa kok, rasanya lucu aja gitu, udah lama ga lihat kamu berdebat."
"Hah, maksud kamu apa." jawab Mutia ke anehan
"Engga kenapa-kenapa, ah Bu Ani udah dateng." aku yang melihat kedatangan Bu Ani dari kaca kelas kembali ke tempat duduk ku lagi.
Begitu Bu Ani masuk ke dalam kelas Kemal dengan sigap memimpin siswa untuk memberikan salam, setelah itu Kemal dengan gagah mengangkat tangannya.
Dia mencoba bernegosiasi dengan Bu Ani terkait pemilihan itu, namun sangat disayangkan negosiasi Kemal gagal.
Setelah mencoba bernegosiasi dengan guru mata pelajaran lainnya, pada akhirnya pemilihan dilaksanakan pulang sekolah sampai pukul 5 sore, setidaknya pemilihan berlangsung lebih lancar dari pada saat jam pelajaran seni budaya.
__ADS_1