Empat Serangkai : Anak Negeri

Empat Serangkai : Anak Negeri
10. NAMEZONE


__ADS_3

Orang yang sedang jatuh cinta itu seperti orang bodoh, hanya dengan mendengar namanya saja dapat membuat mu bahagia dan tidak dapat bertingkah normal.


...


Hari ini kami diperintahkan untuk membuat kelompok berjumlah 4 orang, guru Bahasa Inggris ku MR. Erick memberi tugas untuk membuat sebuah percakapan sederhana tentang offering something.


Seperti biasa, ketika pembagian kelompok dilakukan selalu saja ada penolakan, bila pembuatan kelompok dilakukan secara bebas, pasti akan menghasilkan kelompok yang terdiri dari orang-orang yang pintar dan kelompok buangan.


Aku rasa hal itu normal dan pasti terjadi di sekolah mana pun, oleh karena itu untuk menghentikan kesenjangan sosial di kelas pembagian kelompok harus lah di tentukan.


Cara menentukannya adalah bisa menggunakan kocokan, dan bila cara itu yang dipilih maka sepenuhnya kita hanya dapat berserah kepada takdir.


Bila kita berbicara soal takdir, saat ini entah apa yang coba takdir lakukan pada aku dan Ali. Berada dalam satu kelompok dengan dua orang wanita terpintar di kelas di tambah yang satunya adalah wanita tercantik versi laki-laki di kelas ku.


Yup, benar sekali dia adalah Azahra sang bendahara kelas dan Wuri sang sekertaris kelas. Sebenarnya dalam hati, aku bersyukur karena dapat satu kelompok dengan mereka berdua, dan bila berbicara soal cantik, mereka berdua benar-benar cantik, namun yah bila mereka berdua dibandingkan Wuri tetaplah yang tercantik.


Tapi ada hal lain yang sangat mengganggu ku, hal itu adalah aku berada dalam kelompok yang sama dengan Azahra. Seperti yang diharapkan dari seorang siswi teladan dan terpintar di kelas ku, bila berhubung dengan tugas pastilah harus cepat dan sempurna.


Aku sudah berada satu kelompok dengannya dalam beberapa pelajaran dan berakhir dengan aku menjadi pesuruhnya. Sekarang ini aku sudah dapat membayangkan tatapan sadis dari matanya, bila sampai tugas percakapan ini tidak selesai tepat waktu.


"Bal kamu kenapa." tanya Ali kepada ku, sepertinya dia merasakan ada yang aneh dengan gerak-gerik ku.


"Engga kenapa-kenapa, btw Li, kita satu kelompok sama Wuri, bukannya dia incaran kamu." ucap ku sambil tertawa


"Mana bisa, chatan aja ga pernah." balas Ali dengan nada datar


"Ya chat duluan lah kampret." ucapku dengan nada tinggi.


"Hemm, Bal kamu tahu kan bagaimana prinsip aku." Ali berkata sambil beranjak dari kursinya menghampiri kursi Wuri dan Azahra.


Aku pun mengikutinya "Kamu masih tetep berpegang pada prinsip cewe harus mulai duluan, ahh tidak, maksud ku lebih kepada cewe berhenti dengan pemikiran egoisnya." jelas ku


"Yups kamu benar." jawab Ali sambil duduk di kursi kosong.


Aku pun mengikuti duduk di sebelah Ali, saat ini posisi duduk kami berempat berada pada satu meja yang saling berhadap-hadapan. Aku berhadap-hadapan dengan Azahra yang entah kenapa terlihat jauh lebih ceria dari biasanya. Sedangkan Ali duduk berhadap-hadapan dengan Wuri.


"Hai Ali." sapa Wuri dengan ceria


"Oy oy oy, apa-apaan ketidak adilan ini, kenapa hanya Ali yang disapa." ucap ku


Azahra kemudian menatap tajam ke arah ku "Bal, berisik."


Sepertinya wanita ini benar-benar membenciku, atau mungkin dia sedang dalam masa PMS sehingga bersikap seperti itu, tapi tadi di awal dia baik-baik saja bahkan sekilas aku melihat aura ceria dengan bunga-bunga disekitarnya.

__ADS_1


Wuri kemudian tertawa ringan "Halo juga Iqbal." sapanya


"Halo juga." balas ku "Terimakasih atas sapaanya meskipun terasa berbeda ketika kamu menyapa Ali." lanjutku


Azahra tiba-tiba mencubit kecil tangan ku, aku reflek berteriak kesakitan "Aw..aw..aw, ada apa Jah, kamu ingin aku sapa."


"Bukannya tadi aku udah bilang kalau berisik." Azahra menatap ku dengan mata yang lebih tajam, rasanya seperti seluruh kebenciannya saat ini terpusat pada ku.


Wuri yang melihat tingkah ku dengan Azahra hanya tertawa ringan. Ali kemudian membalas sapaan dari Wuri dengan nada datar seperti biasa "Hai juga Wuri."


Tak lama guru bahasa Inggris kami Pak Erick izin untuk pergi keluar sebentar karena ada beberapa barang yang tertinggal di ruang guru.


Tak lama ketika Pak Erick meninggalkan kelas Azahra tiba-tiba berbicara kepada Ali "Li kamu tahu ga, cowo yang Wuri suka tuh namanya Ali loh."


Aku dan Ali mendadak membeku, kami benar-benar tidak tahu respon seperti apa yang harus kami berikan. Mendengar perkataan Azahra, Wuri langsung menutup mulut Azahra dan menunjukan ekspresi malu-malu.


Melihat tingkah Wuri yang seperti itu membuat kami semakin membeku, Azahra berusaha melepaskan tangan Wuri dari mulutnya. Terdengar suara tawa Azahra yang penuh dengan rasa puas.


Azahra kemudian berhasil melepaskan tangan Wuri dari mulutnya dan menahan kedua tangan Wuri. Sambil tertawa Azahra melanjutkan perkataannya "Tapi sayang Li, yang Wuri suka tuh Ali yang satunya bukan Ali kamu."


Wuri kemudian menganggukan kepalanya "Iyah nama kalian berdua mirip."


Aku yang tadinya terdiam karena terkejut, tertawa terbahak-bahak karena ucapan dari Wuri dan Azahra. Ali yang juga tersadarkan dari diam nya, memukul punggung ku dan menyuruh ku untuk diam.


Ali yang mencoba mempertahankan karakternya yang kalem berkata "Kirain apaan, aku sampe kaget."


Azahra kemudian mendekatkan mukanya ke arah Ali "Pasti kamu ngarep kan Li, hahaha."


Ali membalas Azahra dengan mendekat kan wajahnya ke arah Azahra. Azahra yang terkejut karena wajah mereka saling berdekatan, kemudian reflek menjauh.


"Semua orang pasti akan terkejut mendengar itu, apa lagi dengan ekspresi malu-malu yang ditunjukan oleh Wuri, aku yakin semua orang pasti akan salah paham." Ujar Ali dengan nada datar, dia kemudian kembali ke posisi duduknya yang semula.


Seperti yang diharapkan dari seorang veteran, meskipun dalam situasi seperti itu masih bisa tetap mempertahankan karakternya bahkan bisa menyerang balik.


Azahra yang tersipu malu, sambil berkata dengan terbata-bata membalas ucapan Ali "Itu artinya kamu tadi sempat berharap kan."


Melihat mukanya yang memerah ditambah ucapannya yang terbata-bata aku dan Ali hanya tersenyum, sambil menatap tajam kearah Wuri Ali berkata "Tentu saja, aku sempat berfikir begitu."


"Hehh." Wuri terkejut mendengar ucapan Ali.


Sayangnya pembicaraan kami terhenti karena Pak Erick sudah kembali ke dalam kelas. Kami pun melanjutkan mengerjakan tugas membuat percakapan bahasa Inggris yang jelas belum ada kemajuan sedikit pun.


Pada akhirnya karena jam pelajaran bahasa Inggris telah usai, maka percakapannya akan dilakukan minggu depan. Aku dan Ali pun kembali ke tempat duduk ku yang semula.

__ADS_1


"Hahaha, ngakak Li, apalagi waktu liat ekspresi terkejut kamu, kampret sampe sekarang masih kebayang." ucap ku sambil tertawa


"Berisik Bal." Ali memukul punggung ku


"Sakit oy, tapi serius Li, siapa yang sangka, ternyata cuman nama kalian aja yang sama, tapi perasaannya beda, hahaha." lanjutku


"Aku juga ga habis pikir sama mereka berdua, maksudnya apa coba ngomong gitu." ucap Ali datar


"Menggoda kamu kali, hahaha." balasku


"Kampret memang, tapi tetep aja sakit, cuman karena nama sama." Ali mengatakannya dengan penuh emosi


"Hahaha, percayalah Li aku ngerti apa yang kamu rasakan, kalau Ali yang dia maksud itu adalah kamu, setidaknya harapan kamu untuk ditembak cewe duluan terkabul, untuk kedua kalinya." kata ku


"Bal kali ini aku terlibat namezone." ucap Ali


"Hahaha, bener Li kata-kata yang pas."


Rexi dan Farhan yang baru kembali ke tempat duduknya, melihat kearah aku dan Ali. Rexi kemudian bertanya "Ada apaan Li."


"Rex kamu pernah ngerasain namezone ga" balas Ali


"Namezone apaan, baru denger." timbal Farhan


"Kalian harus tahu namezone adalah istilah yang baru kita ciptakan, di kamus mana pun tidak ada istilah namezone." jelas ku


"Iya terus apa artinya." tegas Rexi


"Aku ceritain aja lah." aku kemudian menceritakan kejadian yang tadi Ali alami, mulai dari nama laki-laki yang Wuri suka sampai titik di mana laki-laki yang Wuri suka memiliki nama sama seperti Ali.


"Owhh, gitu, kasian amat hidup kamu Li, terjebak dalam pusaran karena nama kami sama." ejek Rexi


"kampret, udah lah aku ga bisa apa-apa." ucap Ali pasrah


"Li kan cewe kamu banyak santay aja lah." kata Farhan


"Iya tapi ga ada satu pun yang masuk kriteria si Ali, ya ga Li." kata ku sambil sedikit mengejeknya


"Ya bisa dibilang begitu, dulu sifat aku berubah sesuai dengan keinginan orang lain, sekarang ga ada salahnya kan kalau aku minta yang sesuai keinginan ku." jelas Ali


"Itu kembali kepada diri kamu sendiri Li, cuman ya siap-siap aja Masa SMA mu menjomblo." ejek ku


"Kampret memang kamu Bal." ucap Ali sambil memukul punggung ku

__ADS_1


__ADS_2