Empat Serangkai : Anak Negeri

Empat Serangkai : Anak Negeri
12. MASA LALU


__ADS_3

Jangan pernah melupakan masa lalu tapi jadikanlah dia sebagai pijakkan untuk menggapai masa depan, karena sekokoh kokoh nya pijakan adalah masa lalu.


...


Setelah di buat kan poling di line untuk memilih cerita yang cocok untuk tari kolosal, mayoritas siswa kelas memilih cerita Suku pedalaman dan pemburu.


Hari ini adalah hari Senin, setelah melakukan rutinitas siswa pada hari Senin yakni upacara, aku kembali berkumpul dengan ke-3 teman ku, banyak hal yang kami bertiga bicarakan padahal kami baru terpisah selama 2 hari.


Saat aku sedang asik mengobrol dengan Ali, Rexi dan Farhan, Mutia tiba-tiba memanggil ku dari kejauhan "Bal, sini dulu sebentar."


Aku pun menoleh kearahnya, Mutia memiliki suara yang khas, suara melengking nya dapat aku kenali meskipun aku menutup mata ku.


"Ada apaan Mut." balas ku


Mutia menggerak-gerakan tangannya sebagai tanda memanggil ku "Sini, sini ada yang mau aku omongin sebentar."


"Mut kan kamu yang butuh sama aku jadi seharusnya kamu yang nyamperin aku kesini." balas ku


"Hmmm." Mutia menatap ku dengan sinis


Aku mengerti arti dari tatapan sinis itu, aku pun menghampirinya yang sedang duduk bersama teman sebangku nya Regina.


"Ada apaan Mut." ucap ku


"Liat nih Bal, si Alfira katanya tahun depan mau pindah ke sini." ucap Mutia sambil menunjukan HP nya pada ku.


"Serius..." Aku tidak sengaja mengeluarkan ekspresi bahagia ku


"Hmmm..." Mutia lagi-lagi menatap ku dengan sinis


"Ehmm, Mut kamu kedekatan, kalo kelakuan kamu ke lawan jenis masih kek gini bisa bahaya tahu, apalagi penjagaan mu terlalu lemah." ucap ku


"Hmm, biarin Iqbal kan homo, jadi aman-aman aja, hahaha." Mutia berkata seperti itu dan bukannya menjauh dia malah semakin dekat.


"Hmmm, terserah kamu aja." kata ku dengan datar


Mutia kemudian menjauh dan kembali duduk di kursi nya "Apa sih Bal, kamu kelamaan deket ma Ali jadi respon kamu kek gitu."


Regina yang duduk di sebelah Mutia menarik-narik kecil baju Mutia "Mut emang si Alfira itu siapa."


Mutia kemudian menoleh ke arah Regina "Dia itu temen sekelas ku pas kelas 9, nah jadi si Iqbal itu pernah deket sama si Alfira ya ga bal."


"Hmmm, umbar aja terus Mut." ucap ku


Mutia dan Regina tertawa karena mendengar jawaban ku "Hahaha, Bal kamu serius ngakak." ucap Regina


"Hmmm, jadi Mut kenapa si Alfira mau pindah kesini." Potong ku


"Baru kemungkinan sih, itu pun kalau bisa, ibunya nyuruh buat pindah sekolahnya kesini." jelas Mutia


"Owhh, emang asalnya si Alfira ini sekolah dimana." tanya Regina


"Dia pesantren di Jakarta." jawab Mutia


"Owhh, gitu." timbal Regina


"Kalo gitu kabar-kabar ya Mut." ucap ku sambil kembali ketempat duduk ku, Mutia membalas ucapanku dengan membuat tanda oke oleh jarinya.


Saat aku kembali ketempat duduk ku Ali bertanya "Ada apaan Bal."


"Temen SMP ku yang dari Jakarta katanya rencananya mau pindah ke sini tahun depan." balas ku


"Ohhh, aku tadi ngedenger nama Alfira." lanjut Ali

__ADS_1


"Iya yang mau pindah si Alfira." ucap ku


"Si Alfira yang itu kan." Ali mengerak gerakan tangannya memberikan sebuah gambaran


"Huuh yang itu." balas ku meskipun aku tidak tahu apa yang dimaksudkan gerakan tangan Ali.


"Cuman ada satu kan nama Alfira di SMP 2." lanjut Ali


"Huuh, cuman ada satu." balas ku


"Iyah, berarti Alfira yang itu." Ali kembali menggerak-gerakkan tangannya


"Iya yang itu." balas ku


"Owhh, dia itu temen ku pas SD, tanya coba, pasti dia kenal sama aku." ucap Ali


"Udah, aku tanya tadi." timbal ku


Setelah menunggu setengah jam akhirnya guru pelajaran pertama ku datang, awalnya aku pikir sekarang akan jam kosong lagi, rupanya tidak.


*Suara Bel*


"Akhirnya istirahat juga." ucap Farhan sambil meregangkan punggungnya


Aku pun memarik tangannya dari belakang, sampai sampai kursi Farhan bergeser "Kantin yuk."


Farhan kemudian marah "Kampret Bal, sakit oy."


Aku bertanya lagi padanya "Jadi ke kantin ga."


"Ayo Bal." timbal Rexi


"Oke, Li kamu ikut ga." tanya ku


"Kuy, aku mau beli minuman." balas Rexi


Pemicunya adalah ring basket yang kami lihat dari kelas kami di lantai dua. Kami bertiga benar-benar terkejut mendengar kan keluluhannya tentang masa SMP.


Karena Farhan bersekolah di pesantren, terdapat batas yang sangat besar antara cewe dan cowo, yang menyebabkan dia tidak begitu dapat pengalaman berhubungan dengan cewe.


"Han yang sabar yah." ucap Rexi sambil mengelus punggung Farhan


"Han kata-kata mu kek secara tidak langsung bilang, di masa SMA ini aku pingin punya pacar." lanjutku sambil tertawa


"Hahaha, emang kamu dah punya inceran Han." ucap Ali


"Li si Farhan kan masih belum berpengalaman mana punya dia cewe inceran, ya ga Han." ejek Rexi


"Bacot lah kamu Rex." balas Farhan


"Hahaha, emang tipe cewe kamu kek gimana Han." tanya ku


"Bal kan si Farhan ga ngerti soal begituan." jawab Ali


"Kampret kalian semua, gini-gini juga aku punya inceran dong." balas Farhan


"Wow, diam-diam menghanyutkan rupanya si Farhan." ucap ku


"Siapa oy." tegas Rexi


"Rahasia lah." balas Farhan


"Ohhh, berarti kamu ngebohong pas kita kumpul-kumpul waktu itu." ucap Rexi dengan nada tinggi

__ADS_1


"Wah parah sih." ucap ku sambil tertawa


"Kumpul-kumpul apaan." Ali memotong ucapan kami


"Ahhh, kamu ga ikut Li, jadi diem aja." Kata Rexi dengan nada tinggi


"Kampret memang." jawab Ali


"Wah kita harus laporin sama si Kemal nih, tuduhannya atas tindakan penipuan." usul ku


"Oy apanya yang penipuan." Farhan membantah


"Iya, udah lah kita bawa aja." ucap Rexi sambil tertawa


"Kalian bertiga ngapain oy." ucap Ali


"Bacot Li kamu ga tahu apa-apa diem aja lah." bentak ku sambil tertawa


Ali kemudian mencengkeram kepala ku "ngomong sekali lagi tak siksa kamu."


"Hahaha, canda Li." ucap ku sambil melepaskan cengkramannya dari kepala ku


"Kampret memang kalian semua, dia itu temen ku pas SMP, jadi ga ada hubungannya sama pas kita kumpul-kumpul." jelas Farhan


"Owh, Han kamu parah sih zina itu." kata ku sambil tertawa


"Apa-apaan ucapan ketidak adilan itu, mentang-mentang aku pesantren jadi zina gitu sedangkan kalian engga." tegas Farhan


"Aku canda oy, lagian gimana caranya kalian bisa ketemu, kan cewe cowo dipisah." ucap ku


Sambil membuang botol minumannya Farhan berkata "Ya, kan aku sama dia ga selamanya ada di pesantren."


"Owhh, sebenarnya aku punya kata-kata yang pas sama situasi itu, tapi kalo aku omongin pasti kamu bakal sakit hati, hahaha." ucap ku sambil tertawa


"Yo, kalian berempat lagi ngomongin apaan." kata Dinul yang entah dari mana muncul


Rexi yang terkejut karena Dinul yang tiba-tiba muncul didekatnya, tanpa sengaja memukul perut Dinul.


"Owhh.." Dinul duduk kesakitan sambil memegang perutnya


Rexi lalu mendekati Dinul sambil menanyakan keadaanya "Nul, kamu ga papa."


Bukannya menolongnya kami berempat malah tertawa "Hahaha, Nul kamu kebiasaan sih suka tiba-tiba muncul trus nimbrung." ucap Ali


Dinul kemudian bangun "Kampret kamu Rex."


"Sorry Nul ga sengaja, salah kamu juga tiba-tiba ngomong dideket kuping aku." ucap Rexi


"Hahaha, kamu ga papa kan Nul." tanya Farhan


"Ga papa, lagian kalian berempat lagi ngobrolin apaan diluar, sumpah keliatannya aneh kalo dari dalem." balas Dinul


"Ahhh, kek apaan Nul emang." tanya ku


"Hmmm, karena si Iqbal homo jadi kalian berempat kek pasangan homo." balas Dinul


Aku kemudian memukul perut Dinul lagi, tentunya dengan pelan "Kampret memang, kok aku lagi yang kena." ucap ku


Sambil memegang perutnya Dinul tertawa terbahak-bahak "Hahaha, ya udah kalian lanjutin lagi ngobrolnya."


Setelah berkata seperti itu Dinul kembali kedalam kelas sambil tertawa.


"Woy, kampret memang, udah tiba-tiba dateng trus cuman ngomong gitu doang." teriak ku

__ADS_1


Berhubung suasananya sudah dihancurkan karena kedatangan Dinul, Farhan pun berhenti menceritakan masa lalunya lagi. Tak lama kemudian bel berbunyi dan kami berempat pun kembali masuk kedalam kelas.


Hari ini tidak ada satu pun jam kosong. Rasanya seperti ada yang kurang kalau tidak ada jam kosong, mungin karena aku sudah terbiasa dengan jam kosong.


__ADS_2