Eternal Black

Eternal Black
C.H 11 : Last Smile


__ADS_3

-Rank 1-Evan Claude Degrante


-Rank 2-Do Alexander Degrante


-Rank 3-Khansa Miu Degrante


-Rank 4-Ebil Saga


Ranking sekolah sudah keluar dengan Evan sebagai Ranking Satunya semua murid serta orang tua yang hadir bertepuk tangan.


kecuali Nyonya Cecilia, ia makin panas setelah melihat Karen yang sangat senang atas pencapaian anak semata wayangnya yaitu Evan atas Rank 1 Nasional.


dan sebaliknya Khansa,Mai,Jenny serta Chenny menjadi ketakutan karena nilai mereka dibawah Evan yang artinya Ibu mereka akan menjadi murka.


merasa wajahnya seperti di corat coret nyonya Cecilia segera beranjak pergi setelah mengambil rapot ke 5 Anaknya tersebut.


Do yang melihat ibunya ingin pergi dengan cepat mengejar kemudian menahan tangan Cecilia.


"Mah maafkan Do karena Ranking Do dibawah Evan akan tetapi Do janji kalu Do gak akan kalah di Lomba Catur ini"


melihat anaknya memohon dengan sungguh sungguh hati keibuannya pun luluh dan akhirnya ia mengikuti anaknya dan melihat pertandingan Catur anaknya.


Cecilia tak lagi marah karena melihat anak laki-lakinya tersenyum, Cecilia sadar kalau Do tak pernah meminta apapun kedirinya.


bahkan Do sebelumnya tak pernah Ranking karena Ranking selalu diraih ke 2 Kakak serta ke 2 Adiknya.


Do kini duduk berhadapan dengan Evan di tengahi oleh papan catur yang siap saling menjatuhkan.


Do sangat tegang dan terbebani karena jika satu saja kesalahan terjadi maka ia akan mencoret wajah Ibunya yang ia sayangi.


Nyonya Cecilia berdiri dari tempat duduknya kemudian menghampiri Do yang tegang dalam pertandingan.


tiba tiba nyonya Cecilia muncul di belakang Do dan membisikkan sesuatu. "mainlah...jangan merasa terbebani,kamu adalah anak mama yang luar biasa".


kemudian menatap Evan dengan senyuman yang hangat,Evan tersentak karena baru pertama kali melihat senyuman itu kemudian membalas senyuman nyonya Cecilia.


Evan merupakan anak yang sangat peka terhadap expresi tentu saja ia kaget karena senyuman Cecilia yang hangat seakan ia menyemangati kedua anaknya.


kemudian pertandingan Catur dimulai


Evan sebagai putih dan Do sebagai hitam


pertandingan pertama Evan memenangkan pertandingan dengan strategi Cole System yang bertransmormasi ke Cole Zukerthor


alasan Do kalah karena permainannya yang terfokus menyerang dengan sia sia.


sementara kuda dari Evan menjadi kuda Octopus/kuda Monster yang menjajah wilayah Hitam dengan ganas serta dua seluncur yang mengarahkan serangannya ke sayap raja.


Cole System tak bisa sembarangan diserang karena pemain dengan strategi Cole system adalah pemain yang sangat posisional sekali saja musuh blunder maka dapat dipastikan ia akan habis.


kemudian berlanjut ke babak kedua sorak sorai penonton menyemangati Evan maupun Do karena ke 2 murid terpintar sedang adu strategi.


di babak kedua Evan sebagai hitam dan Do sebagai putih pembukaan dibuka dengan (d4)


Evan berpikir kalau Do ingin meniru Strategi Cole systemnya.


kemudian Evan membalas (e5)posisi pion saling menyilang yang artinya Evan memaksa Do untuk keluar dari Ranah Cole System.


Do tak tertarik dengan pion yang ditawarkan Evan, Do memilih pion(d4).


kemudian Evan mengambil pion Do (exd4)


dan secara mengejutkan Do memberikan pion nya lagi untuk diambil oleh Evan pion (c3)


karena Evan meremehkan Do ia langsung memakan pion Do (dxc3)


kemudian Do menggerakkan seluncurnya ke (c4)1 seluncur telah mengarahkan serangan


ke sayap Raja dan sampai disini Danish Gambit dimulai.


Danish Gambit merupakan strategi Catur yang mengorbankan kedua pion untuk memanipulasi serangan kedua seluncur yang berfokus ke sayap raja.


ironinya di posisi Evan saat ini Bot Catur atau Komputer catur yaitu Komodo menyarankan untuk mengambil pion putih di (b2).


dan apabila pion di (b2) sampai diambil maka seluncur di (c1)akan memakan pion si (b2) dan akan membentuk serangan yang menkan sayap raja hitam karena kedua seluncur sudah mengarahkan serangan nya ke sayap Raja.


Evan berpikir bahwa mungkin sebaiknya menyerah tapi ia takut menyakiti hati Ibu tirinya karena itu Evan tak jadi menyerah.


Evan pun mengambil pion di (b2)


dan pion Evan dimakan dengan seluncur Do dan terbentuklah Danish Gambit.

__ADS_1


akan tetapi diposisi ini Hitam tak langsung menang karena setiap pertukaran perwira akan menyakiti hitam karena ia telah kehilangan kedua pionnya.


Evan menngerakkan seluncur hitamnya ke (b4)untuk menskak Raja Putih skak ditutup oleh kuda di (c3).


Evan dan Do saling serang dan bertahan di saat yang bersamaan di babak kedua ini Do sangat jarang melakukan Blunder ia mengerahkan segalanya.


Evan pun sama, ia ingin membanggakan Ibunya


ia mengerahkan segala pengetahuannya serangan Do yang seharusnya tajam kini berbalik menyerang dirinya.


Danish Gambit merupakan pedang bermata 2 ini adalah soal untung untungan dan setelah langkah ke 42 Do kalah karena kehabisan waktu.


dan Evan memenangkan perlombaan Final Catur tersebut,semua penonton bertepuk tangan atas kemenangan Evan.


Evan dan Do saling bersalaman kemudian


Do menoleh kebelakang dan melihat kearah Ibunya Cecilia,kemudian Do tersenyum sedih dan menundukkan kepalanya.


Do berjalan kearah Ibunya dengan lesu ia pasrah saja jika memang Mama nya memarahinya.


Cecilia kemudian menuntun Do ke Mobil


dan setelah keduanya masuk kedalam mobil suasanannya sangat hening.


Do berinisiatif tuk membuka pembicaraan


"Mom i'm so sorry"


"Sorry for what?"Tanya Cecilia santai.


"eumm...kupikir aku telah mencoreng wajah Mama...jadi kupikir.. aku minta maaf bukannya menunjukkan kemenangan tapi aku malah mempermalukan diriku sendiri".


"kamu mau makan ke restoran steak dekat sini?kita makan dulu ya"


"hello Do...apa mama sedang sendirian di Mobil ini?"


"ah...iya ma"


setelah sampai tempat parkiran Do turun dari mobil untuk membeli Steak 8 bungkus tuk di makan bersama Evan dan Ibunya.


setelah menunggu cukup lama akhirnya Steak yang dipesan sudah siap dan Do serta Cecilia kembali pulang ke rumah.


dan ketakutan mereka benar benar terjadi Ke lima anaknya terkena ocehan Cecilia walau begitu kali ini makian Cecilia tak separah sebelumnya.


ia hanya memarahi secukupnya kemudian selesai,dan untuk selanjutnya kelima anaknya diminta lebih serius.


kemudian mereka memakan steak yang tadi sudah dibeli Di Restoran tadi."Mah ini 2 lainnya buat siapa?"Tanya Mai.


Cecilia menoleh dan menjawab "oh itu buat Karen sama Evan"


ke 4 anak perempuan nya berkata "what....?!"


di dalam hatinya ada yang salah dengan Mama.


setelah selesai makan Evan dan Karen belum juga pulang."Do bukannya tadi Evan and Karen go home duluan dari pada kita?"


"lah iya...kok mereka belum pulang mungkin lagi ke Mall mah kan Evan Ranking 1 + Menang lomba catur"


cuaca mulai gelap Cecilia melirik jam tangannya "ini sudah 16.20 mereka pulang jam 13.00 lo".


"lah mamah tumben banget ngehawatirin mereka?"Sela Khansa kemudian memainkan hpnya kembali.


"ini dah mau hujan tau,kalian kan tau sendiri si Karen itu orangnya sederhana tapi pakaiannya itu loh branded semua"


Hujan turun sangat deras


"mamah males buka gerbang rumah karena hujan"


Do kemudian berkata kalau Karen tak membawa mobilnya."lah Mama Karen kan gak bawa mobil mah"


"yang bener kamu Do?!


Do mengangguk,kemudian Pintu Rumah terbuka Evan masuk kedalam dalam keadaan tubuh yang basah.


Mai yang melihat Evan masuk Rumah dengan keadaan basah memarahinya,akan tetapi Evan tak menghiraukannya.


Evan berjalan menuju Kamar mandi dengan sempoyongan dan dengan pandangan yang sayu.


melihat Karen tak ikut masuk membuat Cecilia bertanya "Mama mu mana Van?lalu apa apaan kenapa kamu..."


"Evan !! lihat Mama kenapa pipi mu berdarah dan lebam?!,Jenny !! ambil kotak P3K di samping rak!!"

__ADS_1


Cecilia menyuruh Evan duduk di Sofa kemudian ia mengambil hairdrayer tuk mengeringkan baju Evan yang basah.


"Mama mu dimana Van? lalu mana jam tangan mu?"


Evan hanya diam saja ia tak menjawab bahkan setelah di obati.


kemudian Evan pergi untuk mandi, Cecilia mencurigai kalau ada sesuatu yang tak beres


kemudian ia mencoba menghubungi Karen tapi tak ada jawaban.


dan secara tiba tiba ponsel Rumah berbunyi


polisi meminta untuk datang ke Rumah sakit XXXXX dan memberitahukan kalau Nona Karen telah meningggal.


mendengar berita itu Cecilia sangat terkejut


"Apa?!"


berita ini membuat gempar seisi Rumah ke 5 Saudara Evan pun sangatlah terkejut


Cecilia dengan cepat bersiap siap, akhirnya Cecilia pun sadar alasan Evan begitu diam saat itu langsung membawa Evan untuk pergi le Rumah sakit tersebut.


dan ketika sampai disana Evan tak menangis ia hanya menatap mayat Ibunya dengan datar,tiba tiba dari belakang Cecilia memeluknya.


"ini...berat ya...kamu bisa nangis kok "


"Mah...apa benar mama Evan tak akan bangun lagi?"


Cecilia kemudian memeluknya makin Erat


Evan hanya diam saja dan akhirnya Evan dipanggil oleh polisi tuk bersaksi.


Evan menjelaskan secukupnya,setelah itu Cecilia berusaha tuk menghibur Evan ia merasa benci sekaligus sayang pada saat yang bersamaan.


setelah sampai di rumah ke 5 Saudaranya mencoba tuk menghibur Evan.


jam sudah menunjukkan pukul 00.00 Malam


Evan masuk ke kamar nya kemudian mengambil tongkat baseball miliknya.


ia pun pergi keluar rumah ketika semua orang tertidur Evan pergi ke daerah dimana orang yang membunuh Ibunya berada.


Geng ini menyebut mereka Black Z mereka adalah anak anak SMA puber yang membegal serta merampok.


malam itu mereka berpesta karena mendapat sangat banyak uang dari hasil merampok Evan serta Ibunya.


Nyonya Karen meninggal karena mengalami pendarahan di otak nya akibat hantaman benda keras.


Evan datang dengan Motornya yang melaju dengan kencang kemudian di tabrakkan ke Orang orang yang berkumpul disana.


"*Gubrak"


"anjing...bajingan mana yang--"


"*bugh" Evan memukul tepat di wajah Salah satu Geng tersebut,kemudian keributan terjadi.


Evan saling pukul dengan anak anak tersebut "*bugh" Evan menerima hantaman di perutnya dengan tongkat kayu.


Evan oleng dan perlahan mundur kebelakang


"haha...mampus kau bajingan siapa kau beraninya menyerang markas kami?"


Evan sedikit mengingat ekspresi Ibunya ketika ia mendapat Ranking pertama di Kelas


Evan tersenyum "Aku?orang yang akan membunuhmu!"Evan kembali menyerang mereka,kali ini Evan menyerang tepat di titik vital.


ia mengarahkan pukulannya ke mata musuh


Evan benar benar mengamuk malam itu"kenapa?!" "kenapa?!" "*Buagh".


"KENAPA KALIAN BUNUH IBU KU BAJINGAN !!"


pemimpin geng itu memohon pada Evan "maaf maafkan aku aku akan menyerahkan diri ke polisi"


Evan melihat dengan pandangan jijik kemudian ia memberi pukulan terakhir padanya hingga tongkat baseballnya patah.


Evan kemudian duduk diatas badan salah satu anggota geng tersebut Evan hanya diam dengan tatapan kosong seluruh memori kenangan tentang Ibunya lewat begitu banyak.


Evan menyeka matanya kemudian air matanya tak terbendung lagi Evan menangis sejadi jadinya di malam yang sunyi itu,Do yang diam diam mengikuti Evan pun terduduk tak kuasa menahan tangisannya juga ketika melihat saudaranya menangis.


dalam tangisannya Evan berkata dalam hatinya "Her Smile Was Gone"

__ADS_1


__ADS_2