
'Do. bagaimana persiapan di daerah Alexander?' tanya Evan.
'sudah siap. kita bisa langsung menyerangnya. apakah Lyora berhasil Kakak kalahkan?.' (Do)
'iya. dia sudah mati. tunggu aku akan segera ke lokasimu.'
Do bungkam ketika mendengar Evan membunuh Lyora, akan tetapi ia tak ingin berkomentar karena ia tahu bahwa hal itu juga mengguncang Kakaknya.
'Takdir terkutuk ini harus diubah!' batin Do dalam hatinya.
Evan muncul disamping Do secara tiba-tiba. "Teropong." minta Evan pada Do.
Do menyerahkannya, Evan kemudian memantau keadaan sekitar. "sepertinya Alexander meremehkan diriku. ia berpikir kalau Aliansi mereka 24 Jam akan melindunginya, ia berpikir aku tak akan menyerangnya ya?"
sekitaran Rumah Alexander benar-benar sunyi dengan 5 Penjaga yang melindungi rumahnya.
"ayo kita mulai. Do jatuhkan 2 orang yang berada di depan Pintu, lalu bergeraklah kearah Jam 1 untuk membunuh 1 orang yang berada di dekat Alarm.
aku akan menumbangkan 2 orang yang berjaga di teras atas." perintah Evan.
Do mengangguk paham, kemudian secara diam-diam tapi cepat ia langsung menerjang 2 Penjaga.
Do menusukkan pisaunya di leher penjaga pertama "matilah."
"stab!"
penjaga yang satunya lagi terkejut melihat kedatangan Do yang menyerang secara tiba-tiba.
"Hah? siapa-"
Do mencengkram mulut penjaga itu kemudian menusukkan pisaunya ke tengkorak bagian bawah.
setelah itu Do langsung bergerak lagi untuk menjatuhkan Pria yang berada di dekat Alarm.
"bats!"
"Hup."
Do meninju wajah Penjaga itu hingga terjatuh kemudian menyeretnya kedalam semak, dan menusuknya berkali-kali.
sementara Evan ia sudah dari tadi membunuh 2 Penjaga yang berada di teras atas. setelah Do selesai dengan tugasnya Evan memberikan Do aba-aba lagi.
Evan memberi isyarat kepada Do untuk masuk kedalam lewat pintu dapur sementara Evan lewat jendela teras.
Do mengangguk kemudian langsung melaksanakannya. akan tetapi secara tiba-tiba sebuah serangan kuat tiba-tiba muncul.
"BOOM!"
Evan terpental jatuh ke tanah karena guncangan ledakan tersebut, "ugh..."
Alexander muncul dengan Pedang miliknya, "wah. aku kedatangan Tamu penting sepertinya."
Evan berdiri, "benar. setidaknya sediakan aku teh untuk diminum Bangsat."
__ADS_1
Evan langsung menerjang Alexander yang berada di lantai 2 yang meledak tadi.
Evan menyabetkan Daggernya dengan cepat.
"cting! cting! cting cting!"
Alexander menahan seluruh serangan yang dilancarkan oleh Evan. "wah. sekarang gantian aku yang menyerang ya."
Alexander melesat menyerang Evan.
hanya dalam sekali tebasan pedang tubuh Evan langsung tergores "CRATS!"
Evan mundur mengambil jarak tapi Alexander langsung menerjangnya kembali, Alexander menghunuskan pedangnya dari bawah.
Pedang itu langsung ditusukkan ke perut Evan. "SYU!"
akan tetapi Evan menahannya dengan kedua bilah Daggernya.
"CTANG! CRIKKK CRIKK CRIKK!!"
"erggghhh..."
"Evan. kamu bodoh ya? kamu pikir aku tak punya kekuatan sihir?"
kemudian Alexander mengeluarkan kekuatannya yang membuat Evan terpental "BOOM!"
"inilah kekuatan sihir sejati milikku. Bola Energi." Alexander memunculkan bola energinya kemudian ia tembakkan kearah Evan berkali-kali.
"HAHAHAHA JANGAN BERSEMBUNYI BANGSAT!"
Alexander melayangkan sabetan pedangnya kearah Evan.
"CTANG!"
dengan Dagger ditangan kirinya Evan menahan serangan Alexander.
kemudian Evan menusukkan Dagger ditangan kirinya ke perut Alexander akan tetapi perut Evan langsung ditendang oleh Alexander.
"AGH!" ringis Evan kesakitan. Alexander kemudian melayangkan pedangnya lagi tapi Do muncul lalu menendang Alexander hingga tersungkur.
"duas!"
kesempatan ini tak disia-siakan oleh Evan. Evan langsung berlari menerjang Alexander dan dengan kedua Daggernya ia tusukkan ke kedua bola mata Alexander.
Alexander berteriak sangat keras, karena tak tahan dengan suaranya Alexander refleks saja Evan menyayat pita suara Alexander, kemudian membunuhnya.
"hosh... hosh... hoshh..." nafas Evan memburu.
"kau darimana Do? kenapa tak langsung keluar begitu mendengar keributan?" tanya Evan.
Do kemudian mengajak Evan masuk dari pintu belakang, "akan kujelaskan, kita harus masuk kedalam dulu."
Do menunjuk sebuah lantai yang berlubang besar. "aku terkena jebakan itu, dan ketika aku mencari jalan keluar. aku menemukan sebuah tempat Misterius."
__ADS_1
Evan terus berjalan mengikuti Do
'Lorong?' batin Evan.
"apakah Kakak bisa menciumnya? bau tidak mengenakkan ini."
mata Evan terbelalak, "ini bau darah!"
Do mengangguk dan berkata, "jika kamu melihat didalamnya lagi sungguh kamu akan lebih terkejut Kak."
Do menunjukkan sebuah ruangan, dan ketika Evan masuk betapa terkejutnya ia "Mayat Manusia? dan seragam itu... bukankah itu miliki seragam sekolahku?!"
Do mengangguk, "benar, Tony Alexander adalah Iblis yang melakukan pembunuhan dan penyiksaan di ruang tersembunyi ini motifnya pun tidak jelas akan tetapi ia meninggalkan sebuah jejak.
kemarilah Kak akan kuperlihatkan sesuatu yang menarik."
akan tetapi Evan tiba-tiba terhuyung hampir jatuh. "KAKAK! KAMU BAIK-BAIK SAJA?"
Evan duduk bersender di tembok, "sial tempat ini bau sekali. carikan kotak P3K untuk mengobati luka ku."
Do langsung keluar ruangan itu untuk mencari kotak P3K. Evan mencoba berdiri "hah... hah... hal menarik apa tadi yang mau diperlihatkan Do padaku?"
Evan melihat ke layar monitor komputer itu. Evan membaca semua itu pembunuhan Murid-murid itu adalah suruhan seseorang, dan Murid-Murid yang dibunuh adalah Golongan kasta budak.
Penjualan organ tubuh secara ilegal, penyelundupan Narkoba dan pembuatan Narkoba, serta penculikan. dan untuk menutupi semua itu GD Corp berdiri dibidang medis.
itu adalah perusahaan yang dikelola oleh keluarga Alexander, dan saat ini Evan memegang kelemahan Keluarga Alexander.
"tak kusangka Dunia semengerikan ini... aku membunuh 1-2 Orang tapi mereka bisa membunuh ribuan orang hanya dengan satu surat perintah."
Do kemudian datang kembali sambil membawa kotak P3K nya, Evan langsung mengambilnya dan mengambil perban untuk menutup lukanya.
setelah selesai Evan dan Do langsung pergi dari sana setelah Do menyalin File yang ada di Komputer tersebut kedalam Flashdisk miliknya.
Evan kemudian menghampiri mayat Tony yang masih tergeletak kemudian mengambil Stigma milik Tony.
"kita akan langsung bergerak ke tempat Deka." ucap Evan.
Do dan Evan kemudian langsung pergi menuju kediaman Deka yang berada di Gargazo Barat.
ketika mereka berdua sampai disana Do mengobrak abrik pertahanan di kediaman Deka.
dengan kekuatan sihir miliknya yang kuat Do berhasil menghancurkan seluruh Penjaga yang berada di kediaman Deka, dan Evan hanya melihat saja.
Deka yang kakinya cacat tak bisa bertarung dan hanya bisa meminta ampun sambil memohon-mohon.
akan tetapi Evan langsung menembakkan Pistolnya ke Deka dan akhirnya Deka mati.
"Malam Pembantaian berakhir disini. kita akan mundur Do, lakukan sebaik mungkin agar anjing-anjing Ayah tidak bisa mengendus kita."
Do mengangguk paham kemudian mereka berdua langsung pergi menghilang ditengah kesunyian malam.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1