Eternal Black

Eternal Black
Chapter 15


__ADS_3

disiang hari yang terik Evan duduk di Taman sekolahnya. Evan merasa bosan dengan pelajaran sekolahnya. 'hampa.... sangat hampa.'


Evan kemudian meminum air yang ia beli dari kantin. kemudian seseorang menghampiri Evan sambil berjalan malu-malu.


Evan melirik dan memperhatikan orang itu 'hum? Lyora? ada apa dengan orang ini?' batin Evan.


Lyora kemudian berkata "umm.... Hey! kamu ada waktu besok?!" dengan nada tinggi.


wajah Evan tak berubah, wajahnya tetap saja datar. "sepertinya 10 Elite sekolah ini badut semua isinya." sindir Evan.


"eh kamu bilang apa tadi?" tanya Lyora karena Lyora tidak mendengarnya. "Lupakan saja." balas Evan singkat.


kemudian Evan berdiri dan pergi dari sana, "aku harus kembali ke kelas, besok juga aku sibuk." ucap Evan sambil melambaikan tangannya ke samping.


wajah Lyora memerah, lalu Lyora menginjak injak tanah sambil merengut karena Evan mengacuhkannya.


setelah hari yang panjang bel sekolah akhirnya berbunyi, Evan masih bengong di dalam kelas.


seseorang kemudian masuk kedalam kelasnya. itu adalah Do "Kakak apakah kamu tidak pulang?" tanya Do.


"nanti, mungkin." balas Evan singkat.


kemudian Evan berkata pada Do "Rencanaku malam ini akan menyerang 9 Pilars lainnya, dan saat ini kutanya sekali lagi padamu."


suasana sore itu seketika menjadi sangat dingin, "kamu mau tetap berdiri di pihakku. atau berbalik dan berdiri di pihak Ayah, jika kamu ingin mengkhianati ku lebih baik langsung sekarang saja, aku tak mau rencanaku rusak karena pengkhianatan mu."


Do lalu menjawab pertanyaan Evan. "apakah kakak ingat hari dimana aku mengemis meminta tolong padamu?


aku hampir terbunuh saat itu jika saja kamu tidak membantuku, kamu menyuruhku bersaksi pada Ayah bahwa kamulah yang menyerangku dan kamu juga yang menyewa para pembunuh itu.


dan akhirnya kamu diusir oleh Ayah dari rumah. rencanamu untuk keluar dari telapak tangannya ternyata berhasil.


dan saat itulah aku mengetahui kalau ternyata yang berniat membunuhku adalah Ayah. aku kemudian mencarimu dan memohon padamu untuk setidaknya melindungi Ibuku juga, aku merengek layaknya orang bodoh yang tak tau perasaan Kakak yang baru saja ditinggal oleh mendiang Nyonya Karen.


aku benar-benar tak tahu kamu memasang ekspresi apa ketika aku merengek padamu. mungkin saja kamu memasang ekspresi jijik padaku. jadi, bagaimana mungkin aku punya muka untuk mengkhianati mu."


Evan seolah menghembuskan nafas lega, "jadi perusahaan makanan yang kita incar kali ini apakah berhasil kamu akuisisi?" tanya Evan.


Do kemudian memperlihatkan data-data yang ia kumpulkan "tidak berhasil. sepertinya anjing-anjing Ayah berhasil mengendus-endus kita."

__ADS_1


"seperti dugaanku, opsi ini hanya mengandalkan keberuntungan. karena dari awal Perusahaan ini ada dibawah naungan Perusahaan milik Ayah


jadi ia pasti mencari tau informasi orang yang ingin mengakuisisinya. jangan khawatir masih ada opsi terakhir."


Do bertanya dengan penasaran "opsi terakhir? apa itu Kakak?"


kita akan kalahkan Bajingan tua itu dalam permainan yang tak bisa ia kuasai, dan itu adalah 9 Pilars."


perebutan wilayah 9 Pilars, ini adalah pertarungan Battle Royale yang memperebutkan wilayah masing-masing.


Gargazo Timur semuanya adalah Wilayah milik Evan karena ialah pemilik Stigma Naga, "Do kita pulang dulu. malam ini adalah perang habis-habisan ke dua, berhati-hatilah."


Evan kemudian pulang ke rumahnya, 'Pertarungan saat itu, seharusnya kelar hari itu juga. akan tetapi seseorang yang mengerikan ada menatap kami semua. siapa dia?' batin Evan.


seharusnya pertarungan Evan melawan 8 Pilars lainnya berlangsung 5 hari yang lalu akan tetapi tidak jadi karena sesuatu.


"kali ini persiapanku sudah lebih matang."


_______________.


Evan menitik targetnya "ini adalah 3 target yang akan kita bunuh. yaitu Lyora, Deka dan Alexander. sisanya itu saudara mu maka tak kutargetkan."


sementara Deka. ia hanyalah pria cacat cukup tembak kepalanya dan serap stigma miliknya dengan Stigma milikmu."


Do mengangguk paham, kemudian ia berangkat pergi bersama Evan.


malam hari ini suasananya sangat dingin. Lyora sedang meminum teh sendirian dalam Dojonya selepas latihan.


dan secara tiba-tiba sebuah serangan menuju kearahnya. dan dengan cepat juga Lyora menghindari serangan pisau tersebut.


"Wah. tak kusangka Lyora sehebat ini."


Lyora terkejut mendengar suara tersebut, dan seketika melirik kearah sumber suara.


"Bats!"


serangan lain langsung dilancarkan, pisau itu hampir mengenai mata Lyora tapi berhasil ia tangkis dan menyerang balik.


Evan mundur mengambil jarak. "E..Evan? kenapa kamu menyerang aku?"

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh Lyora,kamu juga pemilik Stigma kan?"


"Apa?!"


"Buk!" Evan langsung menyerang Lyora kembali dengan pukulannya.


Evan menyerang dengan sangat cepat hingga membuat Lyora kesulitan.


"Swik! Swik! Swik!"


Evan berhasil menggores pipi dan kedua paha Lyora, sehingga melemahkan kuda-kuda Lyora.


"ishhh.. sakit. hentikan ini Evan!"


saat Evan melancarkan pukulannya lagi Lyora menangkisnya kemudian menggunakan sihir Ilusi pada Evan.


Evan mengibas-ngibaskan tangannya, "sihirmu tak mempan padaku Lyora. jadi matilah!"


"Stab!"


Evan menusukkan pisaunya tepat diperut Lyora. Lyora memuntahkan darah dari mulutnya, begitupun darah dari perutnya mengalir deras keluar.


Lyora mencoba bertahan, lalu memeluk Evan "apakah kamu tau? sebenarnya tadi siang aku ingin kamu mengambil Stigma milikku sambil berkencan denganku.


seandainya aku membuang Title tak berguna milikku yaitu Murid Elite mungkin kita bisa berkencan Evan. aku sudah menyukaimu sejak lama.


terimakasih telah memberikanku sebungkus Roti dan 2 hari sewa apartemen ketika aku sedang kabur dari rumah.


ambillah Stigmaku, jika itu kamu aku akan senang hati menyerahkannya meskipun harus nyawaku juga. aku mencintaimu Evan." Lyora kemudian dinyatakan meninggal akibat kehabisan darah.


Evan langsung mengambil Stigma milik Lyora kemudian pergi meninggalkan Lyora tergeletak di lantai dojonya.


sebelum pergi Evan berkata "Mungkin aku terlihat jahat karena membunuhmu tanpa perasaan Lyora, dan mungkin ini akan terdengar bodoh dan tak masuk akal. akan tetapi kita adalah korban, dan penjahat sebenarnya masih tertawa sambil duduk di singgasana nya.


dan untuk perasaanmu padaku, aku sangat bersyukur masih ada yang menyayangiku di Dunia ini, tapi maaf aku tak dapat menerima perasaanmu. karena perasaan cinta milikku sudah lama hilang." kemudian Evan pergi dari sana.


jika Evan memiliki keraguan maka usahanya untuk membalaskan dendam pada Ayahnya akan gagal. maka dari itu ia harus menjadikan dirinya sendiri Monster.


meskipun ia tau kegelapan akan melahap dirinya sendiri."

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2