
Evan duduk dengan tenang di Kursinya sambil membaca buku dan ditemani dengan kucing peliharaannya
kemudian melihat kearah jendela,hujan turun cukup deras hari itu kemudian Evan meminum tehnya yang berada di cangkir
Evan kemudian berdiri dan menulis sesuatu di papan tulisnya,setiap rencana-rencana yang dilakukan olehnya dilakukan dengan cermat
Evan sangat mengandalkan kejeniusannya karena jelas ia kalah dalam hal sihir,yang tak masuk diakal
dan pertarungannya dengan Saki kemarin malam yang dimenangkan oleh Evan hanya karena sebatas keberuntungan
karena Saki tak menggunakan kekuatan sihirnya secara penuh,jika saja Saki melawan Evan dengan kekuatan sihir penuhnya mungkin Evan sudah mati
kemudian bel rumah berbunyi menandakan ada seseorang yang datang ke rumah Evan,Evan kemudian turun ke lantai 1
ketika Evan membuka pintu Rumahnya seseorang dengan tubuh besar berada di depan pintunya
"Hello...Mr.Evan",kemudian Pria itu memberikan Evan sebuah koper
Evan pun menerimanya,setelah itu Pria tersebut langsung pergi setelah menyerahkan koper tersebut pada Evan
Evan kemudian menutup pintunya kembali dan kembali kelantai 2 perpustakaan miliknya
koper itu Evan bukan dan isi dalam koper itu adalah uang sebanyak 100 Juta,Evan kemudian mengambil beberapa 15 Juta uang tersebut dan turun kembali ke lantai 1
Bel rumahnya kembali berbunyi dan ketika Evan
membukakan pintunya,seseorang langsung menyerangnya dengan pisau yang melayang kearah mata Sou
Sou dengan tenang memundurkan tubuhnya dan menarik lengan orang tersebut kemudian menendang kearah ulu hatinya
__ADS_1
tapi ditahan oleh teman orang tersebut,"Wow !! tenang Tuan Evan... kami hanya bercanda
kan sudah kubilang ini sudah keterlaluan !!",ucap orang tersebut sambil memarahi rekannya
"tidak lucu..",ucap Evan dingin dan entah mengapa kedua orang tersebut langsung bergidik ngeri
kemudian kedua orang tersebut langsung meminta maaf pada Evan karena membuat masalah
kedua orang itu merupakan pembunuh bayaran yang disewa oleh Evan untuk melakukan pembunuhan
dan mereka saat ini ingin meminta baayaran penuhnya,Evan langsung memeberikan uang tersebut sebesar 15 Juta
"Jalan sudah benar-benar bersih bukan?,tak lucu jika masih ada yang tersisa",ucap Evan dingin dan memastikan kinerja mereka berdua
"Tenang Tuan semua aman"
Evan kemudian menatap papan tulisnya dan berkata,"1 Jalan sudah terbuka akan tetapi,nampaknya beberapa urusan memang
harus diselesaikan terlebih dahulu agar tak overloaded nantinya"
Evan kemudian melihat kearah Stigma diatas tangan kanannya,"yang memberikan Stigma ini pastinya orang sinting, progress rencanaku akan terhambat karena hal bodoh ini"
Evan kesal dengan Stigam yang ada ditangannya tapi tak memikirkan untuk menghilangkannya
akan tetapi Evan merombak seluruh rencananya,karena keberadaannya telah menjadi incaran pengguna stigma lainnya
maka hal pertama yang perlu ia lakukan adalah membuat dinding pelindung dengan memanfaatkan Akademi Sihir sebaik mungkin
Saki telah dikalahkan akan tetapi Evan juga tak mempercayai Saki 100% ,jikalau Saki mengkhianatinya Evan sudah menyiapkan ratusan rencana kedepan untuk mengatasi hal itu
__ADS_1
________________________________________________
Disekolah Evan duduk sendirian di taman kemudian seseorang menghampirinya ia adalah Jenny
Jenny kemudian membentak Evan dan menunjukkan sebuah peluru,"APAAN INI ?!,PELURU INI DITEMUKAN DI TUBUH Dany,dan sidik jarimu ada disini !"
Evan menatap Jenny dengan tatapan dingin,Evan sama sekali tak panik dan Evan langsung berbalik berkata,"bukankah sidik jarimu malah yang ada disana karena kau malah memegangnya dengan tangan kosong?"
Jenny baru menyadari hal tersebut tapi terlambat Evan langsung mengambil peluru itu dengan cepat
"Ehh..!!",Jenny sangat terkejut dengan kecepatan Evan.
kemudian Evan mengguyur peluru tersebut dengan air minumnya,"dengar Nona orang bilang air bisa menghilangkan sidik jari loh..tapi akau tak paham itu benar atau tidak
tapi yang jelas tuduhanmu padaku itu adalah tuduhan tak berdasar,aku bisa saja menggugatmu tapi itu akan membuang waktuku
dengar satu hal ini,aku hanyalah pecundang dari kelas 11 jadi tak perlu dipikirkan"
kemudian Evan pergi sambil membawa peluru tersebut,Jenny yang sudah diserang mentalnya hingga menjadi merasa bersalah
membuat dirinya sendiri lupa kalau Peluru yang menjadi bukti untuk menahan kakaknya yaitu Evan tak ia pegang lagi
Jenny benar-benar lupa akan peluru itu dan cepat-cepat pergi kembali ke Ruang 10 Elite sekolah itu
kemudian marah-marah karena saking malunya pada Evan.
Evan memandangi Ruangan 10 Elite itu dari gedung sebelah,"*10 Elite?...semuanya akandalam kendaliku sebentar lagi".
^^^Bersambung*....^^^
__ADS_1