Everyone Is Number One

Everyone Is Number One
Bab 26.


__ADS_3

"Ma, Aku sudah dewasa yang berarti aku berhak untuk memilih pasangan hidupku sendiri." kata Daniella nada marah kepada Mamanya yang tak merestui pernikahannya dengan Adrian Pedrosa Lucero.


"Dani, tolong kamu jangan berpikir bahwa Mama seorang yang picik dan tidak melihat keinginan hatimu untuk mencintai pria manapun yang kau sukai untuk menjadi suamimu tapi pria ini sama sekali tidak layak untuk menjadi suamimu." kata Linda Sutiyoso berdiri di depan anaknya seraya menuding telunjuknya kepada Adrian suami dari anaknya itu.


Daniella semakin marah mendengar ucapan dari Mamanya yang sangat merendahkan martabat suaminya itu tanpa berpikir ulang lagi.Ia telah menarik lengan suaminya untuk pergi dari rumah Mamanya.


"Adrian, ayo kita pergi saja dari sini.. " kata gadis cantik ini yang melotot tajam kepada Mamanya.


Adrian menahan tangan istrinya yang menarik lengannya untuk ia berdiri di depan sofa dan pergi dari rumah Mama mertuanya.Ia menengok cepat ke arah Mama mertuanya dengan tatapan matanya yang tegas dan berani sekali.


"Nyonya Sutiyoso, Aku datang ke rumahmu ini secara baik-baik untuk mempertemukan kamu dengan putrimu kembali semenjak kau dan Papa istriku bercerai atau lebih tepatnya setelah anak mu memilih untuk pergi ke Amerika Serikat dan menjauh darimu.Baiklah, jika kamu menilai aku bukanlah pria yang tepat untuk menjadi suami anakmu ini maka Aku takkan pernah memaksa kau untuk menerimaku saat ini tetapi di suatu hari nanti Aku yakin bahwa kau akan menerima Aku dan merestui kami dengan ketulusan hatimu dan kedua tangan terbuka." kata Adrian dengan sikap sopan dan tegas kepada Nyonya Linda Sutiyoso sebelum Ia melangkah keluar dari rumah mama mertuanya dengan mengikuti istri dan kedua orang sahabatnya.


Mereka tidak menghubungi Kevin yang saat ini sedang berkencan dengan Stephanie di tempat lain maka mereka menggunakan taksi online untuk mengantarkan mereka ke daerah lain di Jakarta untuk mengunjungi rumah Papanya dari Daniella.


"Dan, kau jangan merasa sedih dan bersalah ya atas sikap Mamamu terhadapku karena Aku baik-baik saja." kata Adrian tersenyum lembut di samping Daniella.


"Ya, tapi..?"


"Ssttt, aku tak apa kok."


Adrian menaruh telunjuknya di bibir istrinya yang segera tidak melanjutkan pembicaraan yang tak nyaman itu karena mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah keluarga Wiyono.


"Papa.. " panggil Daniella begitu pintu gerbang di rumah ini telah terbuka dan melihat seorang pria paruh baya yang duduk di sofa ruang tamu yang sederhana namun elegan.

__ADS_1


"Daniella anakku.. " kata Pak Wiyono menyambut kedatangan mereka dengan sikap ramah sekali.


"Ya, Pa.Aku datang ke rumah Papa bersama pria yang sangat kucintai ini dan kedua orang teman kami." kata Daniella tanpa sungkan untuk bicara tentang Adrian kepada Papanya.


Pak Wiyono menatap Adrian dengan sinar mata kebapakan yang tulus setelah mengetahui pria muda yang duduk di dekat putrinya ini adalah suami dari putrinya. Ia pun memberikan senyum terbaik untuk menyambut kedatangan menantu prianya di rumahnya.


"Adrian, Aku senang sekali kamu datang kepada ku untuk memperkenalkan dirimu sebagai suami dari putriku Daniella Rosalie Wiyono.Aku sebagai orangtuanya hanya bisa mendukungnya karena bagiku yang terpenting adalah kebahagiaannya bukan hal lainnya lagi." kata Pak Wiyono dengan sikap ramah kepada Adrian.


"Ya, Pa terimakasih banyak atas restu darimu." kata Adrian tersenyum sopan dan hormat sekali pada Pak Wiyono.


Di rumah Pak Wiyono pula mereka berkenalan dengan istri kedua dari Pak Wiyono atau Mama tiri dari Daniella yang bernama Angie dan kedua orang adik tiri Daniella yang bernama Edo dan Edi juga adik kandung Daniella yang bernama Elvan Wiyono yang sudah berusia delapan belas tahun.


"Kak Daniella.. " panggil Elvan Wiyono menangis haru melihat kedatangan Kakaknya di rumahnya.


"Ya, Kak Daniella. Aku bahkan akan segera kuliah di Jerman pada bulan September nanti setelah semua dokumen yang diperlukan untuk kuliah di sana telah terkumpul dengan benar dan lengkap. Aku memilih jurusan arsitek untuk mencapai cita-cita ku menjadi insinyur seperti Pak Habibie menciptakan pesawat terbang." kata Elvan yang menceritakan bahwa dirinya kepada Daniella di teras rumah keluarga Pak Wiyono.


"Wah,Cita-cita mu hebat sekali, dek.Aku akan selalu jadi kakak yang mendukungmu kapanpun itu." kata Daniella memeluk adiknya dengan erat dan nada bicaranya pun begitu bangga terhadap adiknya.


"Ya, Kak. Aku juga akan selalu jadi adikmu yang selalu mendoakan agar kamu sukses di dunia entertainmentmu dan juga kebahagiaanmu." kata Elvan Wiyono nada tulus kepada Daniella.


Sementara Daniella ngobrol dengan adiknya di teras rumah. Adrian diajak ngobrol pula dengan Pak Wiyono di tepi kolam renang di belakang rumah sambil menikmati camilan kue lapis legit di piring kecil dan secangkir kopi.


"Adrian,Aku ingin membahas tentang pekerjaan yang cocok untukku di usiaku saat ini." kata Pak Wiyono yang berharap menantunya dapat beri dia pekerjaan yang cocok di luar negeri untuk masa depan anak-anaknya yang terkecil dari istri keduanya.

__ADS_1


"Papa, di luar negeri pekerjaan untuk usia Papa memang banyak tetapi ku rasa jauh lebih baik kalau Papa memulai usaha di Indonesia saja untuk lebih dekat dengan keluarga Papa." kata Adrian tersenyum bijak kepada Papa mertuanya.


"Ah, ya kau benar sekali Adrian tetapi usaha apa yang cocok untukku? " ucap Pak Wiyono sambil makan kuenya dengan nikmat.


"Bengkel mobil dan motor lebih cocok untukmu, Pa. Karena ku lihat Papa menyukai mobil dan motor sebagai koleksi Papa di rumah ini." kata Adrian tersenyum melihat ke garasi Pak Wiyono di sudut belakang rumah Pak Wiyono.


"Ah, ya juga sih."kata Pak Wiyono mengangguk setuju dengan usul dari menantunya.


Di ruang tamu ada Kelly yang diajak ngobrol oleh Bu Wiyono sambil menonton TV drama Korea Selatan yang sedang hits.Di dekat mereka ada Gunawan yang diajak bermain bilyar di ruangan bermain oleh Edo dan Edi Wiyono.


" Pak Gunawan, apa pekerjaanmu di USA? "tanya Edi Wiyono sambil menyodok bola bilyar dengan stik bilyar dengan lihai sekali sehingga bola- bola bilyar sebagian masuk ke dalam lubang di meja bilyar.


" Asisten pribadi Adrian."jawab Gunawan dengan sikap ramah dan sopan kepada adik ipar dari sahabat dan majikannya itu.


"Oh,trus apa kamu sudah menikah? " tanya Edo di kursi dekat meja minuman sambil asyik baca buku komik kesukaannya kepada pria bule ini.


"Belum." jawab Gunawan lesu.


"Ah, sama dong kami juga.. " kata Edi meminta Gunawan untuk tos dengannya.


Gunawan mengangguk dengan wajahnya hampa dan menghela napas dalam-dalam sebelum ia melanjutkan permainan bilyar dengan Edi yang cocok untuk menjadi teman bermainnya itu.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2