Everyone Is Number One

Everyone Is Number One
Bab 31.


__ADS_3

Ronaldo meraih lengan Thalia ketika gadis cantik itu akan masuk ke lift di gedung apartemen yang ditinggali oleh aktris asal Amerika Serikat yang berdarah blasteran Asia Selatan.


"Thalia, obat apakah ini yang telah ku temukan di tempat sampah ruang kostum khusus untuk para aktris pada sore hari ini?" tanya pria gagah perkasa ini nada serius kepada Thalia.


"Bukan obat apa-apa. Kau tak perlu tahu."jawab Thalia nada judes kepada Ronaldo.


"Hmm, begitukah?Kalau begitu Aku akan ajak kau temui dokter pribadiku, sekarang juga..!" ucap Ronaldo tegas sambil memanggul gadis itu di pundaknya lalu membawa dengan paksa ke mobilnya di luar pintu lobi apartemen mewah di salah satu daerah elit di kota San Francisco.


"Lepaskan aku, Ronaldo!!! " teriak Thalia yang di borgol oleh pria gagah perkasa yang duduk di depan setir mobil di sampingnya.


Mobil meluncur dengan mulus keluar dari area gedung apartemen mewah itu jalan raya dengan kecepatan tinggi namun tetap menaati peraturan lalu lintas untuk keamanan dan keselamatan diri mereka berdua.


Di sebuah mansion yang megah terlihatlah pria tampan yang bertelanjang dada sedang duduk di depan piano dan disampingnya terlihat seorang wanita muda yang duduk dengan sikap manja di samping pria tampan itu.


"Danny, Aku sangat mencintaimu karena kamu telah memberikan hadiah terindah di dunia ini di dalam hidupku yaitu cintamu yang tulus kepada diriku dengan kehadiran calon buah hati kita di rahimmu ini." kata Adrian nada lembut memeluk istrinya di sampingnya.


"Ya, sama-sama Adrian. Kau juga telah begitu baik sekali terhadapku dengan cintamu yang luar biasa besar dan dalam telah mengubah pribadi ku yang buruk menjadi pribadi yang baik." kata Daniella yang mencium bibir Adrian dengan luar biasa lembutnya.


"Danny, besok pagi kita akan segera temui pers di kantor manajemen artis kita untuk umumkan pernikahan kita dan kehadiran calon buah hati kita kepada dunia lalu kita akan berangkat ke Italia untuk temui Papaku dan Opaku di sana." kata Adrian yang membelai lembut wajah cantik istrinya yang tak pernah membuatnya bosan.

__ADS_1


"Iya,Adrian.Aku akan selalu mematuhi semua perkataanmu sebagai seorang istri yang baik dan bijaksana untukmu." kata Daniella menatap lembut suaminya.


Mereka saat ini sedang berada di kamar pribadi mereka di mansion pribadi milik Adrian.Dan, hal ini membuat mereka semakin mesra dalam hal saling mengerti dan memahami cinta yang telah tumbuh semakin besar dan dalam dihati mereka masing-masing.


Di aula utama mansion terlihat Gunawan yang melihat-lihat foto gadis-gadis cantik yang akan dipilih untuk menjadi kencan buta yang telah di ajukan oleh orangtuanya yang sudah tak sabar untuk melihatnya menikah dengan wanita yang dipilihkan oleh orangtuanya itu.


"Ahh, ada Rebecca si rambut merah, ada Zetta si rambut hitam, ada Kelly si rambut pirang Mmm yang menjadi tiga pilihan untuk kencan buta- ku." kata Gunawan nada lesu dengan ulah orangtua kandungnya yang tinggal di sebuah desa kecil di kota San Francisco.


"Kenapa wajahmu kusut seperti keset di pintu masuk? " tanya Stephanie yang datang dari arah pintu dapur ke ruangan ini dan duduk di sofa di depan sofa panjang yang diduduki oleh pria imut yang menjadi asisten pribadi dan sahabat dekat Adrian Pedrosa Lucero.


"Lihatlah.. "jawab Gunawan yang memberikan tiga foto gadis cantik kepada Stephanie yang kini langsung tertawa geli melihat kepolosan di raut wajahnya yang imut.


"Menjauhlah dariku jika kamu hanya ingin sekali mengejekku atau mengolok-olok diriku yang tak pernah bisa menentukan pilihanku sendiri untuk masa hidupku sendiri." kata Gunawan dengan sikap sarkastis kepada Stephanie yang tetap tak peduli dengan sikap kasarnya itu malah gadis itu duduk di sampingnya dengan senyuman manis.


"Mmm, jangan ngambek begitu dong, aku kan cuma bercanda sama kamu." kata Stephanie di sampingnya dengan sikap manis sekali sampai ia termangu di depan gadis itu.


"Jangan mendekatiku seperti ini jika kamu tak pernah melihat aku sebagai lelaki yang telah lama jatuh cinta kepadamu." batin Gunawan.


Stephanie merengkuh wajahnya dengan sebelah tangan halus dan lembut lalu mendekatkan diri kepadanya dan tersenyum untuk memberikan semangat kepadanya.

__ADS_1


"Gun, ayolah kau pasti bisa menentukan pilihan untuk masa depanmu sendiri. Lihatlah ketiga dari foto gadis-gadis cantik ini." kata Stephanie di depannya sambil memperlihatkan ketiga dari foto gadis-gadis cantik kepada Gunawan yang cepat mengambil dan menyimpan foto itu di saku celana panjang yang dikenakan oleh pria ini lalu meninggalkan Stephanie di ruang keluarga.


Stephanie mengerucutkan mulutnya melihat pria imut itu meninggalkannya dengan sikap dingin sekali sampai ia merasa heran sendiri dengan cara pria imut itu memperlakukannya tetapi ia tak bisa terlalu lama memikirkan sikap Gunawan terhadapnya karena ia mendapatkan pesan WA dari rumah orangtuanya di Indonesia.


"Tak mungkin Kevin bisa setega itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan asmara kami yang sudah terjalin selama lima tahun dan dia bahkan telah melamar ku untuk menikahku secepatnya usai pekerjaan ku di USA selesai." kata Stephanie yang menangis begitu sedih dan sakit hati usai membaca WA dari orangtuanya di Indonesia.


Daniella yang baru saja datang ke ruangan ini terheran-heran melihat Stephanie menangis di sana.Istri dari Adrian ini segera duduk di dekat Stephanie dan memeluk sahabatnya dengan luar biasa lembut dan penuh kasih sayang.


"Kenapa?" tanya Daniella ramah kepada gadis di sampingnya.


"Aku telah dikhianati oleh Kevin yang menikahi wanita lain di Indonesia, Daniella." jawab gadis manis ini yang menangis begitu menyayat hati di pelukan hangat Daniella.


"Mmm, menangislah dan lupakanlah laki-laki tak tahu diri itu lalu songsonglah masa depan yang cerah dengan melihat ke sekitarmu dengan hati kamu yang indah." kata Adrian di pintu masuk ke ruang keluarga dengan tatapan matanya ini luar biasa menyejukkan hati Stephanie yang panas dan sakit hati pasca di tinggalkan oleh pria yang dicintai oleh gadis sahabat dari Daniella ini.


"Adrian,terimakasih atas kata-kata hiburanmu terhadapku." kata Stephanie membalas tatapan mata Adrian dengan senyuman persahabatan yang tulus.


"Sama-sama,Stephanie.Kau sudah seperti adik dan sahabatku sendiri karena itu aku tak mau kau bersedih hati karena seseorang yang tidak pantas untuk bersamamu." kata Adrian dengan senyuman kasih bersahabat kepada Stephanie di sofa panjang bersama dengan istrinya.


Stephanie tertawa renyah dan memeluk Daniella dengan senyuman cerah kembali sebelum gadis itu pamit untuk pergi tidur ke kamarnya di lantai atas kepada Daniella dan Adrian.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2