
Kota Lazio, Italia.
Setibanya Adrian dan istrinya yang ditemani oleh kedua orang teman dekat mereka di depan pintu gerbang rumah keluarga Lucero telah bertemu dengan saudari tirinya yang baru saja pulang ke rumah itu dengan raut wajah seperti orang mabuk alkohol.
"Blanca, kau darimana?Kenapa kau seperti ini sih?" tanya Adrian cepat membantu saudarinya berjalan dengan benar ke dalam rumah keluarga Lucero.
"Ah, bukan urusan mu." jawab Bianca nada ketus kepada Adrian sambil mendorong saudaranya untuk melepaskannya saja agar ia bisa berjalan sendiri ke dalam rumah keluarga Lucero.
"Bianca..! " suara keras dari Mama tirinya dari arah tangga.
Adrian cepat melepaskan saudari tirinya ketika ia melihat Mama tirinya telah mengambil alih untuk membantu saudarinya berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua.Lalu, Ia dapat lihat kehadiran Papanya yang sedang duduk di sofa depan televisi yang kini menatapnya dengan sinar mata menyelidik kepada Daniella istrinya di sampingnya dan kedua orang teman dekatnya di belakangnya.
"Papa.. " panggil Adrian dengan sikap sopan dan hormat kepada Papanya.
"Duduklah." kata Papanya nada memerintah.
"Iya, Pa." jawab Adrian nada sopan kepada Tuan Besar Lucero yang tetap menatap penuh selidik kepada Daniella istrinya yang berdiri di samping kanannya kini duduk di sofa panjang di dekatnya dan diikuti oleh Gunawan dan Stephanie duduk di sofa lainnya menghadap meja tamu.
"Baiklah, Adrian. Apa maksud dari kedatangan kamu ke rumah ini dengan mengajak wanita di sebelahmu itu?" tanya Tuan Besar Lucero tanpa basa basi kepada Adrian putranya.
"Memperkenalkannya sebagai istriku kepadamu, Papa." jawab Adrian nada lugas kepada Tuan besar Lucero.
"Apa? Kau berani untuk mengatakan bahwa kau sudah menikah dengan wanita ini tanpa izin dari ku??" tanya Tuan besar Lucero nada keras dan marah kepada Adrian.
__ADS_1
"Iya, Pa. " jawab Adrian nada berani jujur kepada Tuan besar Lucero.
Tuan besar Lucero mengambil cangkir di meja tamu lalu menyiram kopi panas kepada Daniella yang duduk di samping kanan Adrian sampai wanita itu kaget sekali.
"Papa..! " teriak Adrian.
"Diam kamu..! Anak durhaka kau..! " balas Tuan besar Lucero yang sudah berdiri didepan Adrian yang juga sudah berdiri dengan raut wajahnya penuh amarah.
"Papa yang harus mendengarkan aku..!Aku ini bukan lagi anak kecil yang selalu diatur oleh Papa untuk segala sesuatu yang kuinginkan..! Aku sudah dewasa,Pa..! " teriak Adrian.
Plakk!
"Adrian..! " teriak Daniella terkejut melihat Tuan besar Lucero telah menampar pipi suaminya di depannya.
"Baik, mulai hari ini kau bukan lagi anakku jika kamu masih tetap memilih untuk bersamanya! " balas Tuan besar Lucero nada keras sampai istri barunya mendatanginya untuk dirinya bisa sabar dalam menghadapi putranya.
Tuan besar Lucero dan Adrian saling menatap dengan tatapan mata mereka begitu tajam dan memiliki prinsip-prinsip yang kuat dan tak mau mengalah untuk satu sama lainnya.Daniella yang melihat keduanya saling menatap dengan raut wajah mereka memerah segera menarik lengan suaminya dan membisikkan sesuatu untuk ia bisa mengajak suaminya pergi dari rumah itu.
"Kau bicara apa dengan anakku, Wanita sialan?!" bentak Tuan besar Lucero yang kini meluapkan amarah kepada Daniella yang dianggap sebagai seorang yang membuatnya dan putranya saling bertentangan satu sama lainnya.
"Papa.Aku tak suka Papa mengatakan dia istriku ini sebagai wanita sialan! Papa, aku mencintai dirinya dan ia sekarang ini sedang hamil anakku yaitu cucumu sendiri.Apa Papa tega memakinya seperti itu? " ucap Adrian nada pedih kepada Tuan besar Lucero yang kini terkejut setelah pria tua ini mendengar kalau Daniella sedang hamil anak pertama dari putranya.
"Willy, kau tak bisa memisahkan mereka berdua dengan tujuan untuk menangani masalah yang dihadapi oleh perusahaan kita." kata Tuan Sergio Lucero Opa dari Adrian yang telah datang ke ruang tamu.
__ADS_1
"Tapi, Pa? Kita pasti akan mendapatkan masalah dengan keluarga Leo Sanderson."kata Tuan Willy Lucero yang kini menghadapi Papa kandungnya sendiri yang sudah duduk di sofa depan meja tamu yang langsung berhadapan dengan sofa di duduki olehnya.
"Keluarga Leo Sanderson sudah mengikat Adrian dengan putrinya yaitu Loudres semenjak mereka berdua anak-anak untuk mengikat janji perusahaan kita dengan perusahaannya." kata Nyonya Risma Lucero nada serius kepada Tuan Sergio Lucero Papa mertuanya sendiri.
Daniella terkejut mendengar hal ini sampai perut wanita itu mendadak keram dan mengejutkan Adrian yang menoleh ke samping kanannya lalu pria ini cepat mengangkat istrinya untuk dibawa ke kamarnya di lantai atas.
"Daniella.. " panggil Adrian nada cemas kepada istrinya yang mengerang kesakitan pada perut istrinya itu.
"Adrian, jangan khawatir karena Opa akan segera memanggil Dokter Joe untuk datang ke rumah untuk memeriksa kesehatan istrimu ini." kata Tuan Sergio Lucero yang memilih untuk temani cucunya di lantai atas daripada mendengarkan menantunya yang menyebalkan itu.
"Kau lihat bagaimana Papamu jauh lebih sayang kepada putramu daripada kamu sebagai anak kandungnya sendiri padahal cucunya itu adalah cucu haram dari putrinya yang sudah lama sekali meninggal dunia usai cucunya lahir ke dunia ini." sindiran dari Nyonya Risma Lucero kepada Tuan Willy Lucero yang mencengkram lengan sofa di dekatnya dengan rahang mengeras.
"Diam kau! Aku tak pernah suka kau menyindir Aku seperti itu! Aku tak kan pernah kalah dengan bocah haram itu sampai kapanpun juga." kata Tuan Willy Lucero yang pergi dari ruang tamu.
Gunawan dan Stephanie pun segera mengikuti Tuan Willy Lucero meninggalkan ruang tamu ke lantai atas untuk menjenguk Daniella yang saat ini sudah ditangani dengan baik oleh Dokter dari keluarga Lucero.
"Tenanglah, Tuan Adrian Lucero. Nyonya muda Daniella Lucero tak apa-apa.Ia hanya mengalami kram saja dan akan segera baik-baik saja usai di berikan vitamin penguat kehamilan dan istirahat di tempat tidur di kamar ini."kata Dokter Joe di depan sepasang mata Adrian dengan sikap dan nada yang menenangkan hati dan pikiran Adrian.
" Ah, ya, Dokter Joe terimakasih banyak."kata Adrian menyalami tangan Dokter Joe.
"Tuan Gunawan dan Nona Stephanie mari kami akan mengantarkan Anda berdua ke kamar tamu untuk anda berdua tempati selama menginap di rumah keluarga Lucero." kata Tuan Willy Lucero nada ramah kepada kedua orang teman dekat Adrian dan Daniella Lucero.
"Ya, Tuan Willy Lucero." jawab Gunawan dengan sikap sopan kepada Tuan Willy Lucero sambil mengajak Stephanie untuk mengikutinya keluar dari kamar Adrian.
__ADS_1
Adrian menemani Daniella dengan penuh cinta dan kesabaran sampai istrinya terbangun dari tidur dengan raut wajah istrinya sudah kembali segar.Ia pun memeluk istrinya dengan senyuman lega sekali namun ia dikejutkan istrinya ini malah menangis dan menolak untuk dipeluk olehnya.
Bersambung!!