
Herkel baru hendak masuk ke kamar ketika terdengar suara panci yang jatuh dari dapur. Sontak dia mendengus kesal kemudian berjalan gontai menuju dapur.
Herkel hampir ingin menceburkan dirinya ke kolam begitu saja ketika menyadari yang ada di dapur adalah Eirene.
"Lo ngapain?", Herkel menatap malas pada Eirene yang sepertinya masih sibuk dengan masakannya.
"Masak, menurut Lo? Gak mungkin gue nyuci di dapur.", Eirene berujar sewot sambil masih terus fokus pada masakannya.
"Gue tau Lo masak, lah lagian ada bibi, ngapain Lo masak segala.", Herkel memungut panci yang terjatuh, kemudian meletakkannya di meja dapur.
"Gue sadar diri, biarin gue bantu bantu dikit disini.", Eirene berpaling dan menatap lekat pada Herkel.
"Bagus dong, ok, sekalian aja Lo cuci in baju gue.", Herkel berujar datar tanpa dosa.
"Heh, gue udah mending mau bantu bantu dikit, tapi gue ini bukan pembantu Lo ya. Gue G.A. dan kalo gue mau gue bikin barbeque Lo sekarang.", Eirene berjalan kalap menghampiri Herkel yang masih menatapnya malas.
"Santai, woy. Lo bilang mau bantu bantu, kalo iya, jangan setengah setengah dong, sekalian."
"Gue udah berusaha tulus buat ngebantuin bibi, dan untung banget ya, gue lakuin ini buat bibi bukan buat Lo.", Eirene berusaha menahan geramnya dalam senyum yang terkesan mengancam.
"Yaudah, entar malem tuh baju baju kotor udah ada dilemari gue dalam keadaan bersih dan rapi, titik.", Herkel membalikkan badan dan berjalan santai meninggalkan Eirene yang sibuk mengumpat dalam hatinya.
***
"Fi, mulai dari sekarang perjalanan menuju Sharing La nggak bakal mudah.", Asklepius berujar sambil menyandar tubuhnya dan duduk di bawah pohon besar.
Asklepius dan Filotes memang memilih berjalan biasa, layaknya manusia. Karena terang, melekat, ataupun menggunakan kekuatan magis hanya akan membuat keberadaan mereka diketahui, dan mungkin juga terancam.
"Ya, gue tau, boleh gue kasih tau sesuatu ke lo.", Filotes duduk disebelah Asklepius dan menggulung lengan bajunya, menampakkan sebuah goresan yang mirip dengan goresan pedang.
Mata Asklepius terbeliak seketika melihat hal itu, "Luka ini..... Apa lo?"
"Kemarin malam, gue yakin baik Lo maupun Eirene gak bakal menyadari kalo gue terluka.", Filotes menatap goresan ditangannya kemudian tersenyum tipis.
"Waktu gue dan Eirene ngebawa Dike ke markas, gue pernah bilang kalo gue lagi mikir. Dan sepertinya dia gak tau kalo yang gue pikirin sebenarnya, penyerang Dike masih ditempat itu. Dia sempat melayangkan serangannya ketika gue mau terbang, dan inilah hasilnya."
"Dan ngapain Lo nggak ngomong ke Eirene dari awal?", Asklepius menatap tak percaya pada goresan di tangan Filotes.
"Gak akan, dia udah cukup khawatir soal Dike, gak usah diperparah dengan keadaan gue. Gue tau gue sendiri juga butuh obat yang sama dengan yang Dike butuhin, tapi setelah sampai di Sharing La, gue yakin semua bakal baik-baik aja."
"Fi, kondisi Lo lebih parah dari Eirene tau gak sih, luka Lo bisa membunuh Lo kapanpun kalo Lo kehabisan power yang menekan racun itu gak menyebar.", Asklepius menggelengkan kepala kemudian meraih tangan Filotes.
"Segitunya banget Lo ke Eirene.", Tangan Asklepius tiba tiba mengeluarkan cahaya berwarna hijau zamrud ketika menyentuh luka Filotes. Yap, itulah power Asklepius untuk sekedar meringankan rasa sakit atau luka.
"Gue.... Gak tau, gue suka sama dia.", Filotes tersenyum tulus membayangkan Eirene.
Asklepius tak menjawab hanya batinnya yang menjawab,
Semoga perasaan Lo gak bakal ngecewain Lo.
"Yaudah, gue capek, gue mau tidur aja disini, lagian perjalanan juga masih jauh.", Filotes menyandarkan tubuhnya pada pohon, kemudian perlahan-lahan terlelap, meninggalkan Asklepius yang masih sibuk mengobati luka Filotes.
"Hmmm, ok.", Gumam Asklepius lirih.
Asklepius menyandarkan kepala Filotes yang masih terlelap pada bahunya. Dirinya merasa memiliki kewajiban sebagai kakak untuk Filotes. Jika diperhatikan lagi, usianya juga lebih tua beberapa tahun dari Filotes.
Asklepius hanya terdiam dan memandangi Filotes yang masih terlelap. Hanya beberapa menit, sampai dirinya melihat seorang gadis kecil berlari melintas didepannya.
Asklepius tak ingin mengganggu tidur Filotes, dia menyandarkan Filotes kembali pada pohon. Kemudian, dengan penasaran dia mengikuti gadis kecil itu.
Asklepius mendapati gadis kecil itu duduk dan menangis, dia pun menghampirinya.
"Kamu ngapain nangis?", Tanya Asklepius dengan lembutnya.
"Aku cari mamaku.", Gadis itu menoleh pada Asklepius.
"Loh memangnya mamamu mana? Kakak bantu cari ya?", Asklepius berusaha menenangkan gadis itu.
"Iya, makasih kak.", Gadis kecil itu menghapus air matanya kemudian tersenyum manis. Senyum yang membuat Asklepius merasakan suatu rasa yang janggal, seakan dia pernah menemui senyuman khas yang sama.
"Oh ya, nama kamu siapa?", Asklepius duduk disebelah gadis itu.
"Maura, kak.", Ujarnya lirih.
"Nama yang bagus, ayo kakak bantu cari ibu kamu.", Asklepius dan gadis kecil beranjak berdiri, kemudian pergi mencari ibu gadis itu.
***
"Hoy bangun lo, ini masih siang, udah tidur aja lo.", Eirene berteriak tepat disamping telinga Herkel.
Eirene baru saja selesai memasak dan memutuskan ke kamar Herkel untuk mengambil baju baju kotor Herkel untuk dicuci. Eirene benar benar kesal ketika masuk ke dalam kamar Herkel dan mendapatinya sedang tertidur pulas. Ditambah lagi dengan beberapa jaket, kaos, dan sepatu berserakan di kamarnya.
Eirene sangat membenci segala sesuatu yang kotor, dirinya akan sangat berapi api bila melihat sesuatu yang kotor. Oleh karena itu dia sudah siap menarik kedua telinga Herkel dan memarahinya tanpa ampun.
"Apa?", Herkel langsung berteriak sambil terduduk. Matanya terbelalak ketika menyadari Eirene berada tepat disebelah ya.
__ADS_1
"Kalem aja dong, gue gak budeg.", Bentak Herkel pada Eirene yang masih berapi api.
"Gue bakal kalem kalo gak kayak gini caranya.", Eirene mendengus kesal.
"Kayak gini apanya....... Eh, tunggu, gue gak ngizinin Lo masuk kamar gue. Jadi keluar Lo sekarang.", Herkel membentak sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya.
"Dih, main ngusir ngusir aja, mending sekarang Lo beresin kamar Lo, baru gue bakal keluar."
"Kalo gue gak mau?"
"Yaudah, berarti gue tungguin Lo Sampek malem disini."
"Lo keluar sekarang, dan inget, ini kamar gue, gue gak butuh izin buat negeberantakin kamar gue. Mau kamar ini kayak gudang juga, bodoh amat.", Herkel beranjak dari kasur.
Eirene yang melihat Herkel beranjak pun segera menarik telinga Herkel sekuat kuatnya. Herkel hilang keseimbangan dan jatuh pada pangkuan Eirene untuk kedua kalinya.
"Heh, apa apaan sih Lo. Modus ya.", Herkel segera beranjak duduk setelah beberapa saat beradu pandang dengan Eirene.
"Modus..., Ngaca dong Lo, emang kaca dikamar Lo itu kurang besar. Gue gak bakal Sudi buat modusin Lo."
"Ok, gue catat kata kata Lo, awas aja kalo Lo entar yang kecantol ama gue."
"Yaelah, paling juga Lo yang kecantol sama gue. Secara gue itu adalah bidadari dari surga.", Eirene beranjak kemudian mengambil salah satu jaket Herkel yang terhampar di lantai.
"Bidadari turun dari angkot itu baru ada. Dah ah, jangan sentuh sentuh barang gue.", Herkel segera menghampiri Eirene dan merebut jaket ditangannya.
"Kalo gue gak nyentuh barang Lo, terus gue mau nyuci gimana?"
"Pakek sarung tangan, dan oh ya, mesin cucinya lagi rusak. Jadi Lo nyuci manual.", Herkel merapikan barang barangnya yang berserakan, sementara Eirene berdiri terpaku sambil mengerjap tak percaya.
"Apa, Lo sinting ya. Mana ada orang nyuci pakek sarung tangan. Dan lagi, gue harus nyuci tumpukan baju kotor Lo segitu banyak dengan cara manual..... Ogah gue.", Tukas Eirene.
"Oh, yaudah gue bakal umumin ke seantero dunia kalo Lo sama temen temen Lo itu bukan manusia. Sekalian gue kasih tau markas kalian, biar digrebek sekalian."
"Lo bawel ya, lama-lama gue ditindas tinggal disini. Ini juga kalo bukan karena Dike belum sadar, gue gak bakal betah tinggal disini."
"Kecoak... ", Pekik Eirene ketika melihat seekor kecoak keluar dari bawah karpet kamar Herkel.
Eirene melompat ke atas kasur begitu saja. Sementara Herkel hanya bisa menganga menyaksikan kejadian itu.
"Hoy, turun Lo. Gue pikir Lo itu G.A. dan harusnya Lo gak takut sama kecoak.", Herkel melempar salah satu jaketnya ke arah Eirene.
"Gue gak takut. Cuma kaget. Dan jangan main lempar lempar jaket gitu aja, ok.", Eirene kembali kalem dan turun dari kasur.
"Kaget kok main lompat ke atas kasur orang. Itu mah namanya takut."
Herkel dibuat tak percaya mendengar ucapan Eirene, "Ha, apa? Lo takut siput?"
"Gue juga gak takut sih, cuman geli.", Eirene berujar malu.
"Intinya takut. Lucu banget sih lo, gue kira G.A. itu kebanyakan sedingin es dan datar. Tapi, kalian bisa bersikap konyol juga ya.", Herkel tertawa kecil sambil menatap pada Eirene.
"Konyol apanya, gue biasa aja kok.", Eirene berujar salah tingkah.
"Itu tadi kalo bukan konyol apa, Cute Bear.", Herkel tertawa kian menjadi sambil menepuk ujung kepala Eirene.
Eirene tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Herkel "Cute Bear?"
"Iya, Lo itu mirip beruang yang bisa ganas dan bisa juga lucu.", Herkel melangkah untuk mengambil sebuah bingkai foto diatas nakas.
Eirene hanya menatap diam, sampai Herkel menunjukkan foto wanita dengan senyum hangat sedang memeluk Herkel. Wanita itu cantik ditambah dengan Herkel yang tampak bahagia dalam pelukannya.
"Dia ibu gue. Dan Lo tau, baju yang Lo pakek sekarang adalah baju dia. Dan kalo dipikir-pikir lagi, Lo sama cantiknya sama dia."
Eirene nampak tak percaya, wanita itu memang memiliki garis wajah yang mirip dengan dirinya, senyum yang terasa tidak asing lagi bagi Eirene. Eirene merasa itu bukan kali pertamanya dia melihat wanita itu. Dia merasa pernah bertemu dengannya, tapi entahlah, Eirene tidak mengingat apapun.
"Lo nggak percaya ya, tapi jujur dari pertama gue ketemu sama Lo. Lo selalu ngingetin gue pada sosok ibu gue.", Herkel meletakkan bingkai foto itu kembali dan kemudian berdiri tepat didepan Eirene.
"Gue gak pernah punya ibu, sosok yang selalu disisi gue selama ini adalah sosok ayah.", Eirene berujar muram.
"Oh, sorry gue gak bermaksud. Yaudah kalo gitu tugas Lo gue peringan, bungkus tuh baju kotor dan sekarang kita ke laundry."
"Kita?"
"Iya, 10 menit lagi Lo nggak turun. Gwe suruh Lo cuci tuh baju secara manual.", Herkel mengambil kunci mobil di nakas dan menyahut jaket yang ada ditangan Eirene. Tanpa menunggu jawaban Eirene, dia segera keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.
"Se-sepuluh me-menit, waduh, gue harus buru buru nih.", Eirene segera membereskan baju baju kotor tersebut dan menghampiri Herkel diruang tamu.
"Tepat waktu juga ya Lo. Yaudah Lo bawa gih ke bagasi mobil." Herkel berujar begitu Eirene sampai dihadapannya.
"Wait, Lo itu cowok. Harusnya Lo dong yang bawa, bukan gue. Mana berat lagi ini.", Eirene tidak terima dengan perlakuan Herkel.
"Tapi Lo G.A., dan gue manusia. Harusnya Lo lebih kuat dari pada gue."
"G.A. sih G.A. tapi gue juga tetep cewek, jadi hargain dong. Gak berperasaan banget sih Lo.", Eirene melempar bungkusan baju kotor pada Herkel begitu saja.
__ADS_1
"Yaudah, ok fine. Gue yang bawa ke bagasi. Tapi Lo harus bayar denda gantinya."
"Denda ganti gimana maksudnya?"
"Yap, ini kan tugas Lo dan gue yang ngerjain. Jadi sebagai gantinya, Lo harus kelarin kerjaan kantor gue malam ini."
"Hmmmm, gak susah deh kayaknya. Yaudah, gue bantuin kelarin malam ini.", Eirene berjalan mendahului Herkel begitu saja.
"Liat aja ntar.", Herkel mengikuti langkah Eirene.
***
Asklepius mengikuti langkah gadis kecil itu. Keduanya berhenti ketika mendapati sesosok wanita membelakangi keduanya. Wanita itu membalikkan badannya menghadap pada Asklepius.
Asklepius bungkam saat menyadari wanita itu adalah Ryfa, wanita yang dulu pernah dia selamatkan. Asklepius masih mengingat jelas kejadian di hari itu.
Saat itu Asklepius baru saja pulang dari mengambil obat bersama Paeon. Dia mendapati seorang gadis kecil yang cantik dan manis sedang terbaring tak sadarkan diri. Di perutnya tertancap sebuah anak panah.
Gadis itu adalah Ryfa. Saat itu Ryfa sedang bermain ketika seorang pemburu G.A. mengira Ryfa adalah anak dari salah satu G.A. dan kemudian memanahnya. Dia hanya bisa merintih sambil merasakan darah yang mulai terkuras habis.
Tanpa pikir panjang Asklepius melepas jaket yang dikenakan untuk menyelimuti Ryfa, kemudian membopong tubuhnya untuk diobati.
7 hari Asklepius tinggal menjaga Ryfa, sementara Paeon dimintanya untuk segera membawa pulang obatnya. Selama 7 hari itu Asklepius mengerti bahwa Ryfa adalah gadis yang periang. Dia manusia, Argh.. ralat, dia adalah setengah manusia karena dia adalah anak dari seorang G.A. dengan manusia.
Saat pertama kali Ryfa mulai beranjak dari tempat tidurnya, kata yang terucap adalah "Terimakasih, terimakasih karena kakak sempat menangis untukku... Kakak bahkan tidak berhenti berjaga sampai aku sadar dan pulih."
"Oh ya? Apa kau suka jika aku menangis untukmu?"
"Tidak juga, aku tinggal disini, sementara ayah dan ibu pergi meninggalkanku begitu saja. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing, mereka hanya akan pulang sebentar lalu pergi lagi."
"Apa kau kesepian?"
"Selalu, aku tidak punya saudara. Dan aku selalu bermain sendiri. Dan kalau boleh jujur, kakak adalah orang pertama yang aku temui."
"Orang pertama? Jadi kamu selama ini tidak pernah bertemu orang lain selain orang tuamu?"
"Iya, kak."
7 hari Asklepius tambah menjadi 1 bulan untuk menemani gadis itu bermain, belajar memasak, dan melakukan banyak hal. Sampai suatu hari, gadis itu berkata lirih "Kak, pulanglah. Sepertinya tempat kakak bukan disini. Pasti banyak orang yang menunggu kakak."
"Kalau kakak pulang kau akan kesepian lagi, dan sepertinya kamu..."
"Aku tau aku kesepian, kak. Tapi teman teman kakak yang lain juga butuh kakak."
"Okay, kakak pulang. Simpan jaket itu baik baik. Dan jangan pernah bersedih lagi."
"Kak, boleh aku berpesan."
"Berpesan apa?"
"Jangan lupain aku. Kakak orang terbaik yang pernah aku kenal. Terimakasih karena telah mengizinkan kata kakak aku gunakan untuk menyebutmu. Aku menyayangimu kak."
"Pasti, ingat kata yang sering aku ucapkan, maka setiap kau menyebutkannya kau akan merasa aku ada disisimu."
Dan Asklepius pergi meninggalkan gadis itu berlinang air mata mendekap jaket miliknya.
"There for you.", Gadis yang bernama Ryfa itu berujar sambil menatap lekat pada Asklepius.
"Mama...", Jerit gadis kecil di samping Asklepius yang kemudian berlari memeluk Ryfa.
"Ma-ma.... Ryfa kamu?", Asklepius masih terpaku tak bergerak sedikitpun.
"Kakak, lama nggak ketemu. Udah 15 tahun lebih rasanya aku nggak ketemu sama kamu. Dia Diva, putriku."
"Gimana bisa kamu..., Apa kamu sudah menikah."
"Di hari saat kamu pulang. Saat itu ibu marah besar karena menyadari bahwa ada orang lain yang mengetahui keberadaanku. Aku diusir dari rumah. Dan aku bertemu dengan sebuah keluarga manusia sederhana. Aku tinggal disana bertahun tahun lamanya, lalu aku menikah dengan anak dari keluarga itu."
"Dan bisa kamu jelaskan, kenapa jaket yang aku berikan waktu itu kamu pakai sekarang?"
"Sejak hari itu, aku mencarimu. Aku ingin pulang. Aku ingin tinggal denganmu. Tapi sia-sia saja, aku bahkan tak sedikitpun mengetahui keberadaanmu. Dan hanya jaket ini yang bisa membuatku ingat bahwa aku masih punya kakak."
"Maaf, harusnya aku lebih sering mengunjungimu. Maafkan aku. Maafkan aku yang tanpa sengaja melupakanmu dari hidupku.", Asklepius berjalan mendekat dan memeluk erat Ryfa.
Ryfa balas memeluk Asklepius erat, dan menangis, "Kamu pulang, kak. Akhirnya kamu datang."
"Boleh aku bertemu dengan keluarga barumu? Ryfa.", Asklepius melepaskan pelukannya begitupun Ryfa.
"Tentu, tapi sepertinya adik laki lakimu yang satu itu ingin ikut juga.", Ryfa menunjuk pada Filotes yang membawa ransel milik Asklepius dan miliknya sendiri.
"Adik laki laki, Gue?", Filotes menatap heran pada Ryfa.
"Oh, Lo udah bangun. Sorry kalo gue ninggalin Lo tadi.", Asklepius menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Iya, gue tau. Tapi lo gak sepenuhnya ninggalin gue. Nih, ransel Lo ketinggalan.", Filotes melempar salah satu ransel pada Asklepius.
__ADS_1
Asklepius menangkapnya dengan mudah, "Thanks."
***