
Tak butuh waktu lama, Herkel berhasil memasukkan Eirene dan Dike ke dalam mobilnya. Sopirnya segera melajukan mobilnya.
Ketika mobil tiba dirumah Herkel, Herkel segera menurunkan Eirene dan Dike dibantu pembantu, sopir, dan tukang kebunnya.
"Bi, nanti tolong gantiin baju si cewek ya.", Herkel berujar sambil mengusap darah yang mengalir dari tangannya.
"Iya, mas. Tapi pakek baju siapa ya.", Pembantunya kembali bertanya pada Herkel.
"Pakek baju mama, aja. Tapi jangan diberantakin lemarinya.", Herkel beralih pada sopirnya, "Gantiin baju yang cowok pakek baju saya dan beesihin darah di mobil, ok."
"Siap, mas.", Sopir dan pembantu itu segera mengerjakan tugas yang diperintahkan Herkel.
Herkel masih fokus pada lukanya. Perlahan dia memerban lukanya sambil merintih kesakitan.
Tak berselang lama, sopir dan pembantunya kembali ke hadapan Herkel. Memberi tahu bahwa bajunya audah diganti. Pembantunya segera bergegas mencuci baju yang berlumuran darah, sedangkan sopirnya bergegas membersihkan mobil.
Herkel beranjak, kamar yang pertama kali dia tuju adalah kamar Eirene. Herkel mengobati setiap luka di tubuh Eirene, kemudian beralih ke kamar Dike. Herkel segera mengobati Dike kemudian kembali ke kamar Eirene.
"Beautiful eyes, girl.", Herkel duduk di tepi ranjang Eirene sambil menatap lekat gadis itu.
"Gue benci mengatakan ini, tapi ada bagian dari hati gue yang gak terima lo dekat dengan Dike.", Herkel membelai rambut Eirene pelan.
"Apa lo adalah gadis itu. Ah gue udah lupa bagaimana rupa gadis yang dulu pernah ada di hati gue.", Herkel beranjak ke kamarnya, kemudian merebahkan tubuhnya.
***
Leukothea dan Palaemon hari ini mendapat tugas mengawasi pantai. Leukothea benar benar menyesali tugas nya hari ini.
Leukothea berdiri di tepi pantai mengamati hamparan laut yang luas. Sesekali angin memainkan rambutnya ketika suara seorang laki laki menyapanya.
"Hai, Thea.", Palaemon berjalan mendekari Leukothea.
"Lo lagi, bisa nggak lo jauhin gue, gue benci sama lo.", Leukothea menjauh beberapa langkah dari Palaemon.
"Gue tahu lo nggak bisa memaafkan gue, tapi bisa nggak lo.....", Palaemon meraih tangan Leukothea dan meletakkan sebungkus ice cream rasa nanas, ".... Terima ini."
"Darimana.... Lo tau gue suka nanas.", Leukothea menatap lekat pada ice cream di tangannya.
"Gue tahu. Dan lo cuma perlu menerima ice cream ini.", Palaemon berujar datar sambil berbalik meninggalkan Leukothea.
"Mon, ada waktu.", Ucapa Leukothea membuat Palaemon kontan membalikkan badannya menatap Leukothea.
"Ada."
"Makan siang bareng gue, mau?"
"Gue.... Bukannya lo masih marah ke gue."
"Gue emang masih marah sih.... Tapi berhubung lo ngasih ice cream ini, gue punya alasan buat berterima kasih."
"Gue tadi niat beli ice cream rasa anggur, liat ada ice cream rasa nanas, dan tahu lo suka nanas, jadi gue beliin deh."
"Apapun itu, intinya makasih.", Leukothea berjalan menuju salah satu warung makan terdekat, dibelakangnya Palaemon hanya mengikuti sambil menebak nebak apa yang akan terjadi setelah ini.
"Lo ini aneh ya, kalo lagi marah aja, kayak orang mau ngajak tempur.", Palaemon berujar ketika keduanya sudah duduk berhadapan di sebuah warung bakso.
__ADS_1
"Menurut lo, lo suka gue yang marah marah sama lo.".
Obrolan mereka terhenti ketika pesanan mereka tiba. Leukothea dan Palaemon menambahkan saus sambal dan kecap ke dalam mangkuk bakso masing masing.
"Ya, nggak juga, sih.", Palaemon berujar sambil menatap Leukothea yang masih sibuk mengaduk kuah baksonya.
"Gue ngomong, Thea. Lo denger gue nggak.", Palaemon jengah karena Leukothea mengabaikannya dan melahap sepotong bakso begitu saja.
"Thea...", Palaemon masih berusaha mendapatkan perhatian Leukothea.
"Mon, gue lagi makan. Dan please jangan ganggu gue, nanti gue harus jaga pantai lagi.", Leukothea meletakkan sendok dan garpunya kemudian menatap lekat pada Palaemon.
"Gue.... Cuma.... "
"Cuma apa?", Leukothea mengangkat satu alisnya.
"Malam ini lo mau ikut gue gak. Ke pesta ulang tahun temen sekantor gue."
"Mmm... Boleh juga, ok kalo gitu."
Palaemon tampak benar-benar ragu, kemudian berujar "Habis ini temenin gue beli kado dan beli dress buat lo."
"Beli kado iya, tapi kalo buat beli dress nggak, makasih deh, tapi dress gue udah cukup banyak.", Leukothea kembali memasukkan sepotong bakso ke dalam mulutnya.
"Gue mohon kali ini aja, Thea. Biarin gue beliin lo dress."
"Mon, tapi...... Yaudahlah iya, gue males kalo lo udah masang wajah memelas ala bayi gitu."
"Okay, kalo gitu buruan deh, habisin bakso lo.", Palaemon bersemangat dan berusaha secepat mungkin menghabiskan baksonya.
***
"Siapa yang bawa gue kesini.", Pekik Eirene.
"Gue.", Herkel berujar dari ambang pintu kamar Eirene.
"Berani beraninya lo..... Dan siapa yang gantiin baju gue.", Eirene kian marah mendapati dirinya yang sudah mengenakan pakaian bersih.
"Jangan salah paham dulu deh lo, tadi pembantu gue yang gantiin baju lo.", Herkel duduk di tepi ranjang Eirene.
"Oh ok, dan mana temen gue. Lo kemanain dia.", Bentak Eirene lagi.
"Buset lo ya. Lo baru sadar, sangarnya udah ngalah ngalahin banteng.", Cibir Herkel sambil mengulurkan sesuatu di tangannya.
"Apa ini?", Eirene melihat sekilas apa yang diberikan Herkel.
"Sekotak susu sapi segar.", Herkel berujar kemudia beranjak setelah Eirene mengambil alih kotak susu di tangannya.
"Iya... Gue ta....", Kata kata Eirene tak terteruskan karena sedetik kemudian Herkel kehilangan keseimbangan dan jatuh dipangkuan Eirene. Kaki Herkel tanpa sadar tersangkut di selimut yang tadi menyelimuti tubuh Eirene.
Keduanya sempat berpandangan, hanya sekilas. Kemudian Eirene mengetuk kepala Herkel dengan kotak susu di tangannya, dengan cepat Herkel beralih ke posisi duduk dan segera pergi begitu saja setelah memastikan kakinya tidak tersangkut.
"Ah lo, pakek selimut yang bener dong.", Herkel berujar sewot dari ambang pintu kamar.
"Ya mana gue tahu, kan tadi gue syok..... Dan lagian... Lo tuh jalan pakek mata."
__ADS_1
"Dih, gak tau terimakasih ya lo. Gini gini gue bantuin lo, coba kalo gak ada gue, udah tewas lo disana tadi."
"Ok terimakasih ya...... Mmm—siapa nama lo?", Eirene belum tahu siapa nama Herkel.
"Gak perlu tahu, sorry aja. Nama gue terlalu mahal buat diketahui.", Herkel berujar sambil membanting pintu kamar itu dari luar.
"Sombong banget dah, jadi manusia aja kek gitu.", Eirene meminun susu kotak di tangannya.
***
"Cewek itu, Eirene kan ya, oh ya. Pokoknya dia gak boleh tahu nama gue.", Herkel berujar kesal ketika dirinya tiba di dapur.
"Eh lo, gue tadi nanya, lo belum jawab udah main pergi pergi aja.", Herkel terkejut bukan main, kontan dia membalikkan tubuhnya hanya untuk mendapati Eirene tengah berdiri memegang susu kotak yang tadi dia berikan.
"Tanya apa?", Herkel berujar datar.
"Temen gue lo kemanain?"
"Oh, ada di kamar.", Herkel masih menjawab dengan datar.
"Ya kamar yang mana, kamar lo tuh banyak.", Eirene semakin sangar.
"Lah bodo, cari aja satu satu, lagian kamar gue gak nyampek sepuluh ruang.", Herkel berujar sewot.
Eirene segera menarik tangan Herkel dan menyeretnya begitu saja "Kalo gue lo suruh muterin, berarti lo juga harus ikut."
"G.A. apa kayak gini. Lama-lama gue meragukan posisi lo sebagai penjaga perdamaian.", Herkel berjalan gontai mengikuti Eirene.
"Dari mana lo tau gue bertugas buat menjaga perdamaian. Gue dan yang lain pasti gak pernah ngasih tau kan ke lo.", Eirene berhenti berjalan lalu berbalik menghadap Herkel.
"Nebak.", Herkel menjawab sekenanya.
"Lo pinter juga jadi manusia.", Eirene kembali menyeret Herkel.
"Aduuuh, gwe capek lo seret kayak gini. Mana tangan gue sakit lagi, gila ya lo."
"Oh, Sorry. Tapi gimana semua luka luka gue bisa terobati. Dan lo kan manusia.... Lo nggak mungkin tahu obat untuk para G.A."
"Udah lah, masih mending luka lo bisa diobati, kalo kagak gimana coba.", Herkel menunjuk satu ruang kamar.
"Tuh disana kamar temen lo, tapi lukanya cukup parah dengan kondisinya yang kelihatan cukup lemah. Kalo boleh tahu apa dia terluka sebelum ini."
"Iya.", Eirene menjawab singkat.
"Dan yah, satu lagi, gue gak janji dia bakal bangun satu dua hari kedepan."
"Terus gimana?"
"Santai aja, dalam waktu itu tubuhnya sedang dalam masa pemulihan, dia gak bakal kenapa-kenapa karena gue udah obati semua luka lukanya.", Herkel berbalik ke dapur ketika sesuatu menghantam punggungnya.
"Argh.... Apaan sih ini.", Herkel mendapati kotak susu yang telah kosong yang sengaja di lemoar oleh Eirene.
"Lo itu maunya apa ya.", Herkel menuding Eirene dengan mata menyipit.
"Buangin itu sekalian.", Eirene lanjut berjalan memasuki kamar Dike.
__ADS_1
"Wahhh, gila. Gue baru tahu kalau kelakuan para G.A. itu gitu banget.", Herkel memungut kotak susu yang dilempar Eirene dari lantai kemudian membuangnya di tempat sampah.
"Gila, diluar aja mereka keren, lah ini, didalamnya gini banget dah. Gue mulai meragukan sejarah-sejarah yang ibu ceritain ke gue soal G.A.", Herkel mengeluarkan Sebotol air mineral dingin dari kulkas kemudia meneguknya sambil berjalan ke ruang tamu.