Fýlakas Ángelos : Fakta

Fýlakas Ángelos : Fakta
Part 14


__ADS_3

Frike dan Eris hendak melayangkan kembali tombak tombak es yang telah dilayangkan kembali ke sosok berjubah hitam itu. Namun mendadak Frike kehilangan kendali pada powernya saat menyadari siapa orang berjubah hitam itu.


"Ayah...?!!" Frike bergumam lirih ketika perlahan tubuhnya luruh dan bersimpuh di atas pasir pantai.


Eris yang menyadari bahwa mengharapkan Frike untuk membantunya bertarung bukanlah hal yang mungkin, mengingat siapa lawannya saat ini. Eris tahu Frike benar-benar benci pada ayahnya, namun biar bagaimanapun darahnya tetap mengalir dalam darah Frike.


"Dasar sialan kau..." Teriak Eris sambil melayangkan beberapa lembing lembing api.


Eris terkejut ketika mendadak seseorang muncul dan meraih tangannya, lalu melemparnya ke hamparan pasir pantai. Sementara Frike tak bisa berbuat apa-apa, hatinya mulai mengontrol kendali dirinya.


"Hey, Little brother." Sapa pria yang melempar Eris.


"Lo... Bagus kita bertemu disini. Ajalmu akan segera tiba, Aries." Bentak Eris sembari kembali berdiri dan menerjang pria yang bernama Aries itu dengan beberapa pukulan kepalan tinju.


Kepalan tinju Eris berhasil mendarat di pelipis Aries dan membuatnya terlempar sebelum akhirnya berakhir membentur pasir pantai. Eris sedikit tersenyum, namun matanya terbeliak ketika ada seorang bayi yang saat ini menjadi sandra ayah Frike. Eris sudah bersiap dengan beberapa tombak api, namun teriakan Frike membuatnya mematung selama sesaat.


"Sialan kau, Franklin. Terimalah ini??!!!" Teriak Frike sembari melempar beberapa bola es yang diikuti oleh tombak api dari Eris. Franklin, itulah nama ayah dari Frike.


Frike sudah mempersiapkan beberapa bilah pisau yang siap dilontarkan ketika Franklin berhasil menghindari tombak api terakhir dari Eris. Tanpa pikir panjang dan memberi kesempatan bagi Franklin menyerang, Frike langsung melontarkan pisau-pisau tersebut.


Salah satu pisau Frike berhasil mengenai tangan Franklin dan membuat tangannya terluka. Sementara Eris telah kembali beradu kepalan tinju dengan Aries. Bayi yang berada dalam gendongan Franklin pun terjatuh, membuat pekik keras dan histeris dari semua manusia yang menyaksikan hal itu.


"I got you." Gumam Frike yang cukup keras hingga membuat orang-orang di sekitarnya dapat mendengar gumamannya itu begitu dia dapat menangkap bayi tersebut dalam gendongannya.


Aneh, bayi tersebut tidak menangis hanya terdiam dan menatap wajah Frike. Frike pun balas tersenyum pada bayi tersebut. Sementara Franklin mengerang kesakitan dan darah segar mengalir perlahan dari luka ditangannya.


"Are you okay?" Eris berujar menghampiri Frike setelah dirinya berhasil membanting Aries pada hamparan pasir pantai.


"Lo sendiri?" Frike balas bertanya pada Eris yang menyeka darah di pelipis dan sudut bibirnya. Sementara matanya masih menatap pada bayi yang saat ini berada di gendongannya.

__ADS_1


"Gue gak papa. Sakit sih, tapi gue bakal pulih dalam hitungan jam setelah ini." Eris merangkul Frike untuk melihat bayi yang saat digendongnya.


"Balikin bayi ini ke ibunya, gih." Perintah Eris sambil kembali melesat menerjang Franklin yang telah mempersiapkan pedangnya untuk menyerang.


"Berhenti menghalangiku untuk mencelakainya." Bentak Franklin pada Eris yang tengah menangkis pedangnya dengan perisai yang terbuat dari powernya.


"Dia putramu! Dan dia juga sahabatku. Bahkan jika aku harus mati untuk menolongnya. Aku tetap akan menolongnya." Balas Eris Sarkastik.


Seorang wanita dan pria berlari menghampiri Frike. Keduanya merupakan orang tua dari bayi tersebut. Frike pun memberikan bayi itu pada keduanya namun sebelum Frike memberikannya, dirinya membuat satu s


goresan kecil di lengan bayi tersebut dan meninggal satu simbol es di lengan bayi tersebut.


Setelah, keduanya menerima kembali bayinya. Keduanya pun berlari meninggalkan Frike setelah berterima kasih. Frike hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian Aries kembali menyerang, kali ini bukan Eris sasarannya, melainkan Frike.


Frike berhasil menangkis serangan yang diluncurkan Aries. Pertempuran itu berakhir setelah 5 menit berlangsung. Pertempuran itu berakhir ketika keempatnya telah terbaring babak belur di atas pasir pantai. Keempatnya masih sadarkan diri, namun tubuhnya telah lemas dan berkali terbatuk mengeluarkan darah.


***


"Lo kenapa? Kesambet?" Kaerus adalah yang pertama kali bertanya. Namun Kratos tetap tak menghiraukan pertanyaan Kaerus.


"Woy, gue tanya sama lo." Ujar Kaerus sembari menepuk bahu Kratos. Kratos terkejut namun kembali kalem dan menatap datar pada Kaerus.


"Lo kenapa? Gue tanya sama lo, tapi lo gak jawab. Ada apa sih?" Ujar Kaerus lagi kali ini dengan gurat wajah heran.


"Gue gak papa, cuman perasaan gue mendadak gak enak. Gue kepikiran sama Eris dan Frike." Ujar Kratos ragu sembari menepis tangan Kaerus yang masih memegangi bahunya.


"Saatnya." Ujar Soter datar yang membuat semua orang disitu menatap padanya.


"Saatnya apa?" Tanya Kaerus tak mengerti dengan yang Soter katakan. Soter menyentakkan kepala, sementara Kratos hanya menghela nafas lirih.

__ADS_1


"Gue.. Gue punya kemampuan visual melebihi G.A. pada umumnya. Maksud gue... setara dengan White G.A." Kratos berujar ragu.


"Jadi lo punya kemampuan visual langka yang setara dengan White G.A.?" Kaerus tersentak tak percaya dengan kata-kata Kratos.


"Iya. Sudah lama gue menyegel kemampuan itu supaya gak ada yang tau kalau gue mempunyainya. Semua Black G.A. seperti kita akan heran jika mengetahui itu, oleh karena itu aku menyegelnya." Kratos menatap muram pada Kaerus.


"Kemampuan visual yang bisa menembus segalanya dan dapat melihat apa yang kita inginkan dengan mudah. Kemampuan itu disebut Optiklus." Jelas Kratos pada Kaerus.


"Mungkin saatnya." Gumam Kaerus kemudian berbalik dan memejamkan matanya berusaha memusatkan konsentrasi.


*Optiklus merupakan sebuah kemampuan visual yang hampir mirip dengan penerawangan. Bedanya pemilik Optiklus, pupil matanya akan berwarna merah jika dirinya terancam atau terdesak dan berwarna biru jika dirinya dalam keadaan tenang atau damai dan tidak terancam. Pemilik Optiklus dapat melihat suatu kejadian di sebuah tempat yang bermil mil jaraknya dengan sangat mudah dan dapat memanipulasi dan mengendalikan objek di sekitarnya dengan mudah. Oleh karena itu, kemampuan ini disebut langka karena pada umumnya hanya dimiliki oleh White G.A. yang perbandingannya adalah 1 : 4 dengan Black G.A. ada juga Blue G.A. yang termasuk dalam pengecualian di dunia para G.A.


Populasi White G.A. hanya terbatas karena mereka hanya bertugas menjaga langit dan membantu para arwah menemukan jalan menuju dunia selanjutnya. Namun, ada beberapa Black dan Blue G.A. yang memiliki kemampuan tersebut. Satu diantaranya adalah Kratos.*


Hanya dalam hitungan detik hembusan angin yang cukup kencang menyerbu bersamaan dengan Kratos yang membuka matanya dan menampakkan pupil biru dari matanya. Semua orang menatap kagum dan heran pada Kratos. Berbeda dengan Soter yang hanya menyeringai dan menatap Kratos tajam penuh arti.


Penglihatan Kratos memperlihatkan keadaan Frike dan Eris yang babak belur dan terbaring lemah di atas hamparan pasir. Kratos segera mengembalikan matanya seperti semula dan melesat untuk menyelamatkan keduanya.


Kaerus yang tak mengerti apa-apa hanya melongo dengan tindakan Kratos. Menyadari kelakuan Kaerus, Soter segera memintanya untuk menyusul Kratos. Kaerus tak membantah dan langsung melesat menyusul Kratos. Sementara Hipnos, Soter, dan Soteria masuk ke dalam markas, begitupun Syne.


***


Eirene dan Herkel memutuskan untuk pulang dari rumah sakit hari ini juga setelah dokter memeriksa keadaan Herkel. Dokter hanya mengatakan bahwa Herkel hanya perlu istirahat dan bisa dilakukan dengan rawat jalan.


"Pulang pakek apa kita?" Tanya Eirene begitu keduanya tiba di halaman rumah sakit.


Herkel tak menjawab, namun dia segera meraih bahu Eirene dan menariknya hingga keduanya nyaris jatuh. Eirene hampir mengumpat, namun membisu kala menyadari jika Herkel telah menyelamatkan dirinya yang hampir tertabrak oleh ambulans yang lewat.


Herkel tak berkata apapun dan kemudian segera melepaskan tangannya dari bahu Eirene. Herkel hanya melenggang begitu saja sebelum Eirene sempat mengucapkan sepatah kata "terimakasih". Eirene pun hanya pasrah dan mengikuti Herkel begitu saja.

__ADS_1


***


__ADS_2