
"Pengumuman pengumuman. Pagi ini kita akan melangsungkan rapat, di mohon untuk segera berkumpul!!!!!!", Kratos berujar sambil memukul mukul ember.
"Hoy, berisik amet sih lo, lo kira markas kita ini lapak buat jual ember keliling, ha.", Soter langsung menghampiri ruang rapat diikuti para G.A. lainnya.
Eirene yang terlambat datang karena harus membantu Dike berjalan pelan-pelan.
"Lo berdua mau ikut rapat?", Tanya Soteria yang tampak segera menghampiri Dike dan Eirene kemudian membantu keduanya.
"Iya, gwe udah gak papa, dan Dike juga memaksa ingin ikut.", Eirene berujar setelah membantu Dike duduk di salah satu kursi rapat.
"Awas aja ya lo, kalo main-main kayak kemarin. Tuh, Dike aja sampe bela belain kesini.", Leukothea menyambar bagai gelegar kilat di telinga Kratos.
"Enggak, dia gak main-main.", Tiba tiba suara Syne yang duduk dikursi rapat terdengar.
"Okay, yaudah, bawa tuh manusia kesini.", Seruan Leukothea seperti perintah bagi Kratos, tanpa basa basi dia langsung menarik kuping Herkel dan membawanya ke ruang rapat.
Syne buru buru menghampiri Kratos dan menepis tangannya dari telinga Herkel. "Gak gitu caranya memperlakukan manusia.", Suara Syne sedikit membentak Kratos.
Eirene yang memang bertugas dalam perdamaian pun setuju dengan tindakan Syne. "Mmm, yaudah biar gwe, Dike, sama Syne aja yang ngomong sama dia. Yang lain lanjutin aktifitas lagi.".
Eirene mengedarkan pandang pada semua G.A. yang berada diruangan itu. Lalu semuanya pergi begitu saja hanya menyisakan empat orang diruangan itu.
"Gwe kenal dekat dengan manusia, gwe gak akan nyakitin lo, atau bentak bentak lo.", Syne berujar yang membuat Eirene sedikit tersenyum padanya.
"Mmm yaudah sekarang lo duduk aja, dan gwe bakal cerita sesuatu sama lo.", Syne dan Herkel akhirnya duduk bersebelahan.
"Gwe dulu jahat.", Syne berujar seperti mengingat sesuatu, Herkel seketika menatap penuh ketertarikan pada cerita Syne.
"Iya, gwe dulu jahat. Dulu, gwe bener-bener kehilangan arah, gwe hidup sebagai manusia biasa awalnya, gwe juga berasal dari keluarga yang normal normal aja, gwe punya adik laki-laki. Gwe juga punya adik perempuan, keduanya... Sangat menyayangiku, memperlakukanku layaknya manusia biasa, memberikan aku sesuatu yang bisa kusebut rumah, memberikan aku sesuatu yang sepertinya tidak layak didapatkan oleh G.A. sepertiku.", Tanpa sadar air mata Syne mulai membasahi pipinya.
"Semua baik baik aja, sampai sesuatu yang nggak pernah gwe duga akan datang. Malam itu, Mereka sekelompok tidak dikenal menyerang, gwe yang saat itu masih berusia 17 tahun gak tau harus berbuat apa, mereka membantai keluargaku, tiba-tiba.... Ada sesuatu yang mengendalikan diriku, aku tak sadar apa itu, dan saat aku sadar..... Para pembantai itu tewas seketika.", Syne seperti tak bisa berkata apa-apa, namun dirinya tetap menceritakan.
"Disisa sisa tenaga terakhir, kedua adikku memelukku dengan tulus, begitupun ayah dan ibuku. Terpatah ibuku betujar, dia menjelaskan bahwa aku sebenarnya bukan anak kandungnya, aku adalah anak yang dia temukan di depan rumahnya dulu. Ibu tidak tahu siapa sebenarnya aku ini. Hanya itu yang sempat ibu katakan kemudian... Dia... Menghembuskan napas terakhirnya. Aku yang masih syok dan tidak tahu harus berbuat apa.... Hanya bisa menyaksikan kedua adikku dan ayahku perlahan lahan menggembuskan napas terakhirnya.", Air mata kian membanjiri Syne membuat semua orang di ruangan itu bisu, dan Herkel yang berada disebelahnya perlahan berusaha menenangkan.
"Malam itu, benar-benar seperti kutukan bagiku. Aku memilih meninggalkan rumah, terus berjalan tanpa tujuan, dengan pakaian yang masih berbau darah segar. Aku membalas dendam pada keluarga orang lain, merampok, mencelakai, membakar rumah orang lain adalah hal yang biasa bagiku. Membunuh semua orang yang aku anggap jahat, dan... Terus hidup dengan ketidak jelasan, hidup dengan identitas yang tidak jelas selama 2 tahun lamanya.", Syne terus berujar, sementara Dike mengeluarkan senyumnya yang tampak muram. Eirene seperti sadar akan sesuatu.
__ADS_1
"Sampai suatu malam, aku bertemu dengan pemuda yang seumuran denganku, dia mengulurkan tangannya padaku, menyadarkanku bahwa duniaku belum benar-benar mati, ada satu titik kebaikan yang dia kembalikan pada diriku. Kami... Mulai bersahabat layaknya saudara... Kami mulai mengepakkan sayap kami dan terbang... Melihat dunia yang terlihat benar-benar terang, sesuatu yang sepertinya harus kami lindungi. Hingga kami sadar bahwa kami adalah G.A.", Syne tampak mengakhiri ceritanya kemudian menyeka air matanya sembari tersenyum sedikit kaku memang. Tapi Dike sadar apa arti senyuman itu. Mungkin hanya keduanya yang tahu apa artinya.
"Siapa pemuda itu, Syne.", Eirene heran dengan cerita Syne yang terasa menggantung.
"Seseorang yang sangat baik. Dan aku takkan melupakannya.", Syne tersenyum pada Eirene, yang membuat Eirene sadar dia tidak seharusnya bertanya.
"Gwe punya adik laki laki, dia manusia. Jadi gwe jauh kenal siapa itu manusia.", Syne berpaling pada Herkel.
"Cerita yang cukup mengharukan,", Herkel berujar ragu.
"Lo masih ragu sama gwe, yaudah kalo gitu kita ngomong sambil jalan keluar aja.", Syne dan Herkel meninggalkan Eirene dan Dike yang masih tersenyum begitu saja.
Syne sengaja memesan taksi online untuk mengajak Herkel sekadar jalan-jalan keluar. Karena kalo dipikir-pikir dia sudah lama juga tidak pernah bicara dengan manusia selain teman kerjanya.
"Mmm, apa rumah keluargamu itu masih ada.", Tiba-tiba Herkel berujar canggung.
"Masih. Rumah itu sampai sekarang masih ada, aku sengaja membiarkannya. Karena tinggal disana hanya akan membanjiri tuhuhku dengan darah.", Syne berujar sesekali tersenyum pada Herkel.
"Ah ya, aku mengerti. Tapi kenapa kita jalan-jalan.", Herkel kembali berujar heran.
"Oh, ok, ngapain kita jalan-jalan."
"Gwe gak niat buat ngeadilin lo, lagian bukan sepenuhnya salah lo juga kok. Jadi lo tinggal di kamar gwe malem ini."
"Ma-maksudnya gwe harus tinggal di markas G.A. gitu."
"Yap, tapi lo masih bisa melakukan aktifitas lo seperti biasa sambil tutup mulut lo. Alias jaga rahasia kita."
"Kalo itu sih ok, tapi gak bisa ya gwe tinggal bareng nyokap bokap gwe. Ntar gwe janji bakal sering sering mampir deh."
"Mmm.. boleh."
Taksi itu berhenti di sebuah taman yang indah. Herkel dan Syne pun keluar. Syne membayar taksi tersebut kemudian taksi itu pergi begitu saja.
"Kita ngapain disini.", Herkel merasa heran karena Syne mengajaknya ke taman hiburan.
__ADS_1
"Gwe tau lo kaget. Bukannya kalo mah ngomong kita pergi ke cafe atau restoran, tapi gwe lebih milih kesini.", Jelas Syne sambil menarik tangan Herkel menuju ke suatu tempat.
"Gwe cuman pengen ngajak lo ke warkop itu.", Syne menunjuk warkop yang letaknya tidak jauh dari mereka.
"Ha, what the hell? Ngapain kita nongkrong di warkop.", Herkel langsung tersentak namun tidak menolak ketika Syne menarik tangannya menghampiri warkop itu.
"Udah jangan bawel.", Syne berujar ketika keduanya sudah sampai si warkop yang mereka tuju.
Keduanya duduk berhadapan di warkop tersebut kemudian mereka memesan 2 gelas kopi panas.
"Mmm... Gwe kira G.A. kayak lo gak terbiasa berada di warkop seperti ini.", Herkel berujar setelah pesanan mereka tiba.
"Awalnya, tapi gak ada salahnya kalo gwe berbaur dengan mereka melalui kesederhanaan.", Syne menatap lekat pada kopinya yang masih mengepulkan asap.
"Ah sorry, gwe lupa kalo lo dulu manusia.", Herkel berujar sedikit ragu.
"Lupain itu, dan sekarang, siapa sebenarnya lo.", Syne mengalihkan tatapannya pada Herkel yang membuat Herkel tersentak.
"G-gwe, gwe ma-nu-sia.", Herkel berujar terpatah.
"Nggak, gwe yakin lo lebih dari sekedar manusia. Siapa sebenarnya lo.", Syne sedikit membentak.
"Gwe cuma manusia biasa.", Herkel terus berusaha meyakinkan.
"Ah, lo memang keras kepala. Okay, kalo gitu kenalin gwe Syne, dan lo.", Syne menjulurkan tangannya pada Herkel.
"Gwe manusia. Dan gwe juga udah tau nama lo.", Herkel tidak merasa perlu menjabat balik tangan Syne.
"Oh, lo berubah dingin. Dan gwe tau lo manusia. Maksud gwe nama lo siapa.", Syne sedikit jengkel namun masih bersabar.
"Gak perlu tau nama gwe, dan thanks buat kopinya.", Herkel berujar kemudian beranjak meninggalkan warkop itu begitu saja.
Syne hanya diam melihat Herkel yang perlahan menghilang ditelan jarak. Syne ingin mencegah Herkel untuk pergi, Tapi dia sadar wewenangnya selesai, dia hanya bertugas untuk membuat Herkel tutup mulut. Syne tak mengerti dengan hatinya, hatinya berharap ini bukan terakhir kali dia bertemu dengan Herkel.
***
__ADS_1