Fýlakas Ángelos : Fakta

Fýlakas Ángelos : Fakta
Part 3


__ADS_3

Setelah puas berlari selama 15 menit, Soteria bisa mendapatkan pemuda itu. Keduanya sempat berbicara "Gila, Lo bukan manusia, lah gwe manusia, gwe capek."


"Gimana Lo bisa tahu itu semua."


"Gwe mana tahu, gwe kan gak sengaja liat."


"Yaudah Lo harus ikut gwe."


"Nggak, entar Lo bakal ngebunuh gwe kan."


"Ha?"


"Ya, biasanya orang yang tau rahasia kayak gitu kan bakal dilenyapin."


"Lo kebanyakan nonton film ya. Gwe gak bakal ngebunuh Lo."


Soteria baru ingin menarik tangan pemuda ketika sebuah anak panah melayang dan mengenai perutnya. Sontak dirinya terkulai lemas di trotoar jalan.


Soteria mungkin adalah G.A. yang termasuk dalam golongan kuat. Tapi beberapa racun yang sangat mematikan bagi manusia dalam hitungan detik dapat melumpuhkannya.


Pemuda itu tak tahu harus berbuat apa ketika seorang pria dengan busur ditangannya menghampiri keduanya.


Tapi sesaat kemudian dia memilih untuk berdiri menghalangi pria itu di depan Soteria.


"Lo ngapain.", Soteria berujar lemah.


"Gwe jelas mau nolongin Lo.", Pemuda itu masih menatap pada pria dengan busur itu tadi.


"Jangan ngaco Lo, Lo manusia, dan...", Soteria belum selesai bicara. Tapi pemuda itu langsung memotong.


"Sekalipun Lo bukan manusia, tapi Lo udah nyelametin hidup manusia. Gwe gak tahu Lo berdua ada masalah apa. Tapi gwe rasa pria itu punya niat jahat."


"Sekalipun, dia punya niat jahat. Itu bukan urusan Lo.", Soteria berusaha mencabut anak panah itu dan tampak berusaha berdiri dengan lemas.


"Soteria, lama kita nggak ketemu.", Pria itu berujar pongah.


"Mau apalagi Lo.", Bentak Soteria.


"Keinginanku jelas buat menghabisi Lo. Tapi pertama gwe jelas harus nyingkirin manusia berengsek seperti dia.", Pemuda itu berujar lagi.


"Apa salah gwe, sehingga Lo terus-terusan ngeburu gwe.", Soteria berujar sedikit cemas.


Soteria bisa saja melarikan diri dengan menggunakan sisa tenaganya, tapi bagaimana dengan pemuda itu jika dia kabur. Tidak Soteria tidak berniat menangkap pemuda itu saat ini, hanya saja melihat siapa yang saat ini ada dihadapannya. Pemuda itu bisa saja tewas karena mencampuri urusannya.


"Salah Lo, adalah karena Lo telah terlahir sebagai adik Soter.", Pria itu sudah siap untuk membidik lagi. Soteria sudah kehabisan cara lagi. Dia segera meraih lengan pemuda itu dan membawanya terbang sebisanya tepat sebelum anak panah itu mengenai keduanya.

__ADS_1


Pria itu hanya tersenyum "Dalam hitungan hari, Soteria. Racun itu bisa membunuhmu.", Ujarnya ketika mendapati anak panah itu berhasil menggores lengan Soteria.


***


"Lo gila ya, Lo mau bawa gwe kemana.", Pemuda itu sedikit tersentak ketika mendapati Soteria membawanya terbang.


"Gwe gak tau kita bakal sampek dimarkas atau nggak."


"Markas maksud Lo....", Pemuda itu berhenti bicara ketika mendapati Soteria berwajah pucat, dengan luka menganga di perut dan lengannya.


"Hmm, lo gak papa?", Tanya pemuda itu.


"Gak gwe cuma...", Ucapan Soteria menggantung, karena sedetik kemudian dirinya kehilangan kesadaran.


Keduanya pun jatuh, tapi sebelum keduanya berakhir pada tanah. Pemuda itu tampak meraih tubuh Soteria, dan membawanya terbang menggunakan sayapnya sendiri.


Dia berujar dalam hati, "Lo bukan manusia, dan gwe tau itu. Tapi Lo nggak akan pernah tau kalau gwe juga bukan manusia murni."


"Gwe adalah Herakles, Lo bisa sebut gwe Herkel, tapi itu kalo Lo dengar.", Herkel menatap pada luka-luka ditubuh Soteria dan kembali berujar "Luka seperti ini akan cukup bermasalah buat Lo, tapi gwe jamin Lo bakal selamat."


Herkel menuju kesebuah tempat, dia menyembuhkan luka-luka Soteria dengan mudah dan mengeluarkan racun yang ada pada gadis itu. Herkel cukup belajar pengobatan pada Telesforus, pamannya. Dan juga Epione, bibinya.


Luka Soteria belum menutup sempurna, tapi setidaknya racunnya sudah berhasil dikeluarkan. Herkel ingin merawat Soteria lebih lama, bukan karena ada hal lain, hanya saja dia ingin memastikan luka itu sembuh sempurna.


Hanya beberapa detik setelahnya dia sadar, Soteria memiliki kakak yang jelas pasti akan menunggunya pulang. Ditambah lagi malam ini Soteria berpatroli bersamanya.


Sempat ragu ketika Herkel meletakkan tubuh Soteria ditepi jalan dan kemudian dia sadar, jika Soteria akan bingung mencari dirinya, dan itu akan membuat Soteria curiga bahwa dirinya bukan manusia. Bagaimana tidak, seorang manusia yang jatuh dari ketinggian tidak mungkin bisa bangun sendiri tanpa bantuan orang lain.


Dia pun memutuskan berpura-pura pingsan disebelah Soteria. Dia menjadikan tangan Soteria sebagai bantal, agar tidak ada yang curiga kenapa kepalanya tak terluka sedikitpun.


***


Soter sudah hampir memutari daerah patrolinya sebanyak dua kali. Tapi, Soteria tak terlihat mengejarnya atau menemuinya sama sekali. Dalam benaknya terbentuk sebuah pertanyaan dimana adiknya itu.


Soter mengambil ponselnya, tanpa merasa perlu mendarat dia menghubungi Kaerus dari udara. Tidak sampai 10 detik. Kaerus menjawab teleponnya.


"Soteria udah balik ke markas belom.", Soter to the point tanpa harus berbasa basi.


"Yaelah, belom. Bukanya dia ama Lo.", Soter langsung menutup telponnya mendengar jawaban Kaerus. Dia bergegas mencari Soteria.


Kaerus hanya bingung sesaat, lalu sadar jika Soter bertindak seperti itu, itu artinya Soteria dalam bahaya, atau justru ada penyerangan padanya.


Kaerus segera mengajak Kratos untuk menyusul Soter. Walau, dengan sedikit paksaan akhirnya Kratos mau mengikuti Kaerus.


***

__ADS_1


Soteria perlahan mulai sadar. Dirinya tidak merasakan rasa sakit atau nyeri yang hebat seperti sebelumnya. Saat ini dia hanya merasakan perih, seperti terkena luka goresan bukannya tertusuk anak panah.


Dia sedang berusaha bangun, namun sedetik setelahnya dirinya tercengang mendapati pemuda yang tadi terbaring di sebelahnya. Kontan dia menarik tangannya yang menjadi bantal pemuda itu, kemudian dia membangunkannya secara perlahan, berharap tidak terjadi apa-apa.


"Hoy, sadar, hoy bangun.", Soteria mengguncang tubuh pemuda itu.


"Ha, apa.", Pemuda itu bangun dan beralih pada posisi duduk.


"Are you okay?", Soteria mengamati tubuh pemuda itu.


"Okay apanya, orang badan gwe sakit semua, gara-gara Lo sih main ngajak gwe terbang gitu aja."


"Sorry, itu tadi cuma cara terakhir buat kabur."


"Yaudah."


"Yaudah apanya, Oy.", Soteria menatap pemuda itu berdiri.


"Gwe mau pulang, dan Lo, mending Lo pulang terus obatin luka Lo tuh.", Pemuda itu baru saja ingin melangkah ketika tiba-tiba Soteria menarik tangannya.


"Apa lagi ha.", Pemuda itu melirik tangannya yang dipegang Soteria.


"Jangan main kabur-kabur aja ya Lo, Lo tetep harus ikut gwe ke markas.", Soteria segera menarik tangan pemuda itu.


"Gwe gak salah apa-apa."


"Bodo."


Entah dari mana asalnya tiba-tiba Kaerus, Kratos, dan Soter sudah berada didekat keduanya. Soter sedikit khawatir mendapati adiknya terluka. Sementara Kaerus dan Kratos sudah siap untuk mengintrogasi pemuda itu.


"Dia siapa, Soteria.", Kaerus mengamati pemuda itu dengan teliti.


"Manusia.", Jawab Soteria singkat.


"Kenapa dia ada disini, dia nggak lagi Lo selametin sampe luka kayak gini kan?", Tanya Soter.


"Udah, gini aja, biar gwe cerita.", Soteria pun akhirnya menceritakan awal ketika dia menyelamatkan anak kecil itu sampai saat ini dia bertemu ketiganya.


"Ok, berarti dia harus diinterogasi.", Tukas Kaerus.


"Kalo bisa sih penjara aja. Biar rahasia kita nggak bocor.", Tambah Kratos.


"Yaudah, itu sih terserah Lo sama Dike. Tapi gwe jelas bakal ngebawa Soteria ke unit kesehatan G.A..", ujar Soter.


"Kalo gitu, gwe bawa manusia ini aja.", Kaerus meraih lengan Herkel kemudian menyeretnya menuju markas bersama Kratos.

__ADS_1


***


__ADS_2