
Eirene baru selesai membantu Dike berjalan menuju kamarnya. Semula Eirene ingin segera pergi menuju kamarnya, tapi Dike segera mencegahnya dengan menggenggam lengannya erat.
"Dike, gwe harus ke kamar."
"Bisa lo temenin gwe jalan keluar sebentar."
"Tapi kondisi lo kayak gitu, dan harusnya lo istirahat, bukannya ngelayap keluar."
Dike menghela napas kemudian membalas "Gwe suntuk ada di kamar, jadi gwe harap lo mau nemenin gwe keluar."
"Oke, tapi jangan lama-lama.", Eirene langsung melepas genggaman Dike, kemudian membantunya berjalan menuju luar markas. Walau perlahan, tapi akhirnya mereka tiba di luar markas.
"Makasih.", Dike berujar lirih.
"Maksud lo? Kenapa lo tiba tiba makasih ke gue.", Eirene mengguratkan rasa heran di wajahnya.
"Makasih, karena udah ngasih gwe beberapa memori indah.", Dike berujar kemudian menghela napas,
"Lo inget waktu lo nggak sengaja nyiram gwe pakek kopi panas di daerah ini."
Eirene tersipu malu mendengar ucapan Dike "Oh itu."
"Iya, dan gwe marah marah sama lo karena lo mengotori kemeja gwe.", Dike tampak tersenyum tipis.
"Dan lo inget nggak waktu gwe meluk lo dari belakang tepat sepersekian detik sebelum lo ketabrak mobil.", Dike tertawa kecil yang kontan membuat wajah Eirene memerah seketika.
"Dan, jangan lupakan bagaiman lo begitu syok sampek gak berhenti nangis dipelukan gwe.", Dike kian tertawa membuat Eirene hampir salah tingkah.
"Dike, sorry, tapi lo... Terlalu mengungkitnya.", Eirene berujar kaku berusaha menahan wajahnya yang kian memerah.
"Ah ya, dan gwe juga baru tau kalo lo bisa malu sampek tersipu kayak gitu.", Dike menyentuh pipi Eirene dengan telunjuknya yang membuat Eirene sedikiy terkejut, namun kembali menguasai dirinya.
"Eh, lo kok diem aja sih.", Dike mengamati Eirene hingga hidung keduanya hanya berjarak 1 cm.
"Eh, apaan sih, jangan deket deket.", Eirene sedikit mendorong bahu Dike menjauh.
"Hmm okay, tapi lo beda hari ini."
"Beda gimana maksudnya.", Eirene siap memaki jika saja Dike mengatainya, tapi tindakan Dike justru membuatnya mematung seketika.
"Lo cantik."
"A.. apa?", Terbata Eirene meyakinkan dirinya salah dengar.
"Lo..... Cantik....", Dike mengulangi ucapannya pelan.
Eirene tidak bisa menahan wajahnya yang hampir terbakar. Apa yang dikatakan Dike memang wajar dikatakan oleh manusia pada umumnya. Tapi sangat tidak wajar jika Dike yang mengatakannya.
Dike selama ini tidak pernah memuji orang lain, hanya beberapa. Dan ini adalah kali pertama Eirene mendengar ungkapan seperti itu keluar dari mulut Dike.
"Lo bercanda, Dike."
__ADS_1
"Gwe nggak bercanda dan gwe serius.", Dike meyakinkan Eirene.
"Mm gwe boleh bersihin rambut lo, ada kotoran tuh.", Dike tidak merasa butuh jawaban Eirene untuk melakukannya. Dia mendekat dan membersihkan helai helai rambut yang terkena kotoran.
Eirene hanya diam, namun jelas dia nyaman dengan Dike yang saat ini. Berbeda dengan Dike yang kasar dan ketus. Dike yang saat ini berada dihadapannya adalah Dike yang benar benar lain.
"Dike, gwe bisa lakuin itu sendiri.", Eirene berujar lirih.
"Tapi gwe melarang lo, dan gwe yang bakal lakuin ini."
"Dike.... Tapi,"
"Jangan kebanyakan tapi.", Dike menyergah halus.
Eirene sudah tidak bisa menahan wajahnya yang kian terbakar. Dia hendak menciptakan jarak sedikit jauh dari Dike, dia mundur beberapa langkah. Nahas, dia terpeleset, Dike segera menarik tangan Eirene, tapi seketika itu juga keduanya jatuhbrsua dengan posisi Eirene menindih tubuh Dike.
"Argh.. lo gak papakan.", Dike berusaha memastikan Eirene aman.
"Gwe, harusnya gwe yang tanya gitu.", Eirene segera berdiri dan membantu Dike untuk berdiri.
"Udah, pokoknya kita pulang sekarang, lo bilang gak bakal lama. Jadi.... Tepatin omongan lo.", Eirene menarik tangan Dike dan berbalik untuk menuju markas.
Eirene baru hendak melangkah ketika kehadiran seorang pria membuatnya terlonjak dan segera mundur beberapa langkah. Pria itu bertubuh tegap dengan rambut hitam yang mengkilat diterpa sinar matahari.
"Mau apa lo disini.", Dike langsung menggertak pria itu.
"Gue gak nyangka, bahkan dengan fisik lo yang seperti ini pun, gertakan lo masih seperti biasanya.", Pria itu tersenyum dan menatap pada Dike.
"Atau apa?", Pria itu memancing emosi dengan menyentuh lengan Eirene dan dengan cepat membantingnya ke tanah.
Eirene tidak memiliki kesempatan untuk menangkis, tapi dia cukup bisa bertahan tanpa rasa sakit saat tubuhnya menghantam tanah.
Dike sudah mulai kehilangan kesabaran melihat apa yang dilakukan pria itu, dengan beberapa tenaga yang ada dalam tubuhnya saat ini, dia segera melesat melayangkan beberapa pukulan tinju, beberapa bisa ditangkis pria itu, beberapa mendarat di perut, dada, dan pipinya.
Pria itu tersungkur ke tanah. Semula Eirene ingin membantu Dike tapi dengan cepat Dike menolaknya. Dike bilang itu tidak ada urusannya dengan Eirene.
Dike tanpa sengaja lengah dan menatap Eirene, dan pada saat itulah pria itu melayangkan pukulan ke perut Dike, Dike terhuyung ke belakang. Dan dengan cepat Pria itu Meraih tangan Dike dan melemparnya, ketika Dike melambung di udara, Pria itu dengan cepat menendang perut Dike hingga Dike terpental cukup jauh dan berakhir menghantam tanah.
"Cukup!!!!", Eirene menatap sengit pada pria itu, "Lawan lo itu gue, bukan Dike."
"Oh, gwe harap lo bakal jadi wanita baik dan membiarkan urusan gwe selesai, tapi ternyata berani juga lo."
"Gwe G.A. gwe Eirene yang bertugas untuk menjaga perdamaian, dan lo, lo hanya sampah masyarakat yang akan mengganggu keseimbangan dunia."
"Sial, ternyata lo berani juga menyebut gwe seperti itu."
"Lo kira lo siapa, sehingga berhak gwe takuti dan gwe turuti.", Eirene segera melesat melayangkan tendangan yang langsung dihindari pria itu dengan melompat ke udara.
Eirene tak mau kalah dia juga melompat sambil mengumpulkan energi pada kepalan tinju kanannya, kemudian melompat dan memukul pria itu sekerasnya.
Pria itu jatuh ke tanah dengan daya hantam yang cukup keras. Darah mengalir melalui hidung dan mulutnya.
__ADS_1
"Harus gwe akui, lo hebat juga.", Pria itu bangkit, tanpa menyeka darah yang mengalir, pria itu balas menerjang Eirene.
Eirene menangkis beberapa pukulan yang pria itu layangkan, nahas, satu pukulan mengenai dagunya, membuatnya terlempar dan berakhir berguling di tanah.
"Apa kau masih bisa berdiri, bocah.", Pria itu mendapati Eirene yang masih berusaha bangkit.
"Jangan panggil gwe bocah. Dan lo, jangan remehin gwe.", Eirene memusatkan energinya pada kedua kepalan tangannya.
Dalam hitungan detik dia kembali menciptakan beberapa luka lebam di tubuh pria itu. Dike masih sadar namun dengan kondisi fisiknya yang lemah, dia tidak punya cukup tenaga untuk bangkit.
"Shit, lo bener bener gak bisa dibikin diam ya.", Pria itu sekali lagi menangkis kedua tangan Eirene, kemudian beralih mencengkeramnya dan melempar Eirene sekuat yang dia bisa.
Tubuh Eirene melayang perlahan tapi dengan cepat turun dan menghantam tanah. Kepala Eirene terbentur batu yang berukuran cukup lebih besar dari kerikil. Eirene terbatuk, darah segar mengalir dari kedua sudut bibirnya, dahinya, dan hidungnya.
Dengan susah payah Eirene kembali bangkit, berjalan terpatah ketika pria itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya. Dengan cepat pria itu melemparkannya ke arah Eirene.
Dike berusaha bangkit sekenanya, dan Eirene yang masih syok dengan kondisi kaki terluka tak bisa melesat dan terbang. Pisau itu melayang tepat ke jantungnya. Eirene hanya bisa memejamkan matanya ketika tangan seorang pria menghadang pisau itu. Pisau itu berakhir menancap di tangan pria itu.
"Argh... Shit.", Pekik pria itu.
Eirene terkejut bukan main ketika menyadari pria itu adalah orang yang tadi mereka debatkan untuk di adili. Yap, pemuda itu adalah Herkel, yang sedari tadi mengawasi mereka dari langit.
Awalnya setelah pulang dari warkop dia ingin tidur atau bersantai. Tapi rasa penasarannya pada Eirene membawanya kembali ke tempat ini.
"Lo.", Eirene tak bisa berkata apa apa lagi.
"Gwe tadi baru aja pulang, Syne nanti katanya. Jadi gwe pulang duluan. Jalan kaki. Dan waktu liat kejadian ini, gwe langsung lari ke arah lo, dan biar gitu juga, gwe atlit lari tahu.", Herkel masih mengaduh kesakitan mendapati darah semakin banyak mengalir dari lukanya.
"Oh,", Eirene masih berusaha menghela napas yang sempat berhenti akibat apa yang baru saja terjadi.
Perlahan Herkel mencabut pisau yang menancap di tangan kanannya. Kemudian berjalan santai menghampiri pria itu.
"Maaf nih, bang. Pisaunya jangan main lempar lempar aja dong.", Herkel menyodorkan pisau di tangan kirinya pada pria itu.
Pria itu seolah mematung dengan tindakan Herkel, Selama beberapa detik Herkel bisa membuat pria itu lengah, lantas pada saat pria itu hendak mengambil pisau di tangan Herkel, Herkel lebih dulu menghujamkan pisau itu ke dada pria dihadapannya.
Pria itu terkejut, namun darah segar langsung mengalir dari mulutnya, perlahan tubuhnya kehilangan tenaga dan terbaring lemah begitu saja. Tak sampai satu menit kemudian, tubuh pria itu lebur menjadi serpihan serpihan yang lebur oleh udara.
Herkel lantas membalikkan badannya untuk mendapati Eirene yang masih tercengang.
"Lo, manusia biasa kan.", Eirene berseru lirih sebelum dirinya kehilangan kesadaran.
Dengan cepat Herkel meraih tubuh Eirene sebelum menghantam tanah. Tak lama kemudian Herkel menoleh dan menatap pada Dike yang perlahan juga mulai tak sadarkan diri.
Herkel jelas tak mungkin membawa mereka ke markas para G.A., selain karena dirinya tak ingin lagi berhadapan dengan Kratos, dia juga malas jika harus jadi bahan perdebatan untuk diadili.
Herkel mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menghubungi sopirnya untuk datang ke tempat itu. Yap, Herkel lebih memilih untuk membawa keduanya ke rumahnya, dan lagi, mungkin dia bisa membantu menyembuhkan keduanya.
"Everything will be alright.", Bisik Herkel sambil menatap lekat pada darah-darah di tubuh Eirene.
***
__ADS_1