Fýlakas Ángelos : Fakta

Fýlakas Ángelos : Fakta
Part 5


__ADS_3

Pagi ini, Asklepius dan Filotes sudah siap berangkat. Keduanya memilih meninggalkan Eirene karena keadaannya yang sepertinya tidak memungkinkan.


Namun, sedetik sebelum berangkat, Eirene sempat menghentikan keduanya. Entah kenapa dia merasa tidak rela untuk melepas Filotes.


Dengan wajah pucat, Eirene tak berkata apapun, dia langsung memeluk Filotes begitu saja. Filotes balik memeluknya. Eirene berujar lirih "Fi, janji sama gwe, Lo bakal pulang."


"Gwe janji.", Filotes berujar mantap.


"Gwe takut kalian kenapa-kenapa. Pergi ke tempat itu akan sangat mematikan.", Dirinya meraih tangan Asklepius.


"Jangan khawatir, kita pasti bisa jaga diri, kok.", Asklepius berusaha tersenyum setulusnya.


"Tapi, semenjak peristiwa berdarah itu, kita sudah kehilangan banyak G.A., kehilangan kalian akan benar-benar mengguncang para G.A..", Eirene masih berusaha mencegah keduanya untuk pergi.


"Ini cuma tiga hari Lo, Ren.", Filotes berusaha menenangkan.


"Dan tiga hari itu gak sebentar.", Bentak Eirene.


"Apa yang dikatakan Eirene itu betul.", Dike berusaha berjalan walau terpatah.


"Dike, Lo ngapain disini. Lo harusnya istirahat.", Filotes melepas pelukannya kemudian menghampiri Dike.


"Dan gimana gwe bisa istirahat, sedangkan teman-teman gwe menantang bahaya buat gwe.", Dike kembali berujar ketika Filotes tiba didekatnya.


"Dike, gwe gak bakal kenapa-kenapa dan Lo tau itu.", Filotes menyakinkan.


"Bisa Lo memastikan itu..... Nggak kan.", Dike berusaha menepis pernyataan Filotes.


Filotes hanya menunduk seperti kehabisan kata. Lalu Dike tersenyum dan memegang kedua bahu Filotes dengan kedua tangannya.


"Lo selalu aja sama, selalu kehabisan kata setiap kali bicara denganku.", Dike berusaha mengangkat kepala Filotes yang tertunduk.


"Gwe hanya gak bisa mengatakan apa yang ingin gwe katakan.", Filotes berujar lirih.


"Masih dengan jawaban yang sama.", Dike tersenyum penuh arti.


"Dike, gwe harus pergi, gwe gak bisa biarin sahabat gwe menderita.", Filotes berusaha menepis tangan Dike yang berada di bahunya.


Filotes baru saja berbalik ketika Dike berujar "Gwe gak menderita."


Filotes menjawab lirih tapi jelas tanpa perlu berbalik menghadap pada Dike "Jelas Lo menderita."


Baru dua langkah, ketika Filotes kembali dibuat berhenti dengan kata-kata Dike "Gwe tau ini konyol, tapi hati hati, ya. Dan Lo harus pulang. Dan... Kata terakhir yang jelas bakal sulit buat gwe ucapin, gwe care sama Lo."


Filotes berujar lirih sembari berjalar menghampiri Asklepius dan bersiap terbang "Thanks."


Eirene dan Dike hanya terpaku mendapati keduanya pergi. Hening sejenak, sampai Eirene tersadar dan berusaha membantu Dike untuk berjalan menuju kamarnya.


***

__ADS_1


Syne baru saja masuk sesaat setelah, baik Eirene maupun Dike masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Ni, orang pada kemana dah. Sepi banget kayak kuburan.", Gumamnya.


Syne baru saja ingin berjalan menuju kamarnya ketika suara Kratos langsung menyemprotnya.


"Hoy, lo semalem kenapa gak datang sih. ****** gwe kena ancam sama G.A. lain.", Kratos menghampiri Syne.


"Ha, loh bukannya gwe udah bilang sama Eris dan Frike. Gwe semalem kan titip pesan ke dia.", Ujar Syne sembari berjalan ke kamarnya.


Kratos hanya berdiri, tapi sesaat setelah dirinya mulai berapi-api "Dasar ikan teri. Pantesan aja lo semalem ketawa-tawa puas. Gwe asinin lo berdua.", Kratos berujar kemudian bergegas melangkah menuju kamar Eris dan Frike.


Kratos segera menggedor dua pintu kamar yang bersebelahan ketika tiba dikamar Eris dan Frike. "Hoy, bangun lo ikan teri."


Sesaat setelahnya, pintu kamar pun terbuka keluar dua makhluk yang Kratos sebut ikan teri. Keduanya masih sibuk menguap ngantuk dan malas.


"Apaan sih, pagi buta gini ribut amat sih.", Frike berujar menatap Kratos.


"Tau,", tambah Eris.


"Buta tu mata lo. Liat jam tuh, jam 8 woyyyyyyyy.", Kratos mulai bersungut sungut.


"Ha, oh, ok. Ada perlu apa?", Frike berujar malas.


"Model lo gak tau apa-apa.", Kratos berujar sewot.


"Dih, emang kenapa, tu muka udah kaya tomat aja.", Eris menunjuk wajah Kratos.


"Ya, emang, sorry ya.", Frike berujar santai.


"SORA SORI AJA LO. GWE BIKIN PEPES SEKALIAN LO ENTAR.", Kratos meninggikan suaranya.


"Tu mulut jaga napa. Lo pengen kita digantung kalo sampe Soter tahu.", Kali ini Eris bersuara.


"Bodo, biarin sekalian mereka tahu, gimana tingkah lo berdua.", Kratos memelankan suaranya.


"Udah deh ya, ikan tongkol. Mending lo balik ke kamar lo.", Frike mendelik pada Kratos.


"Sekate-kate lo ngomong, orang ganteng gini lo bilang tongkol.", Kratos balas mendelik pada Frike.


"Ye, emang gwe terima lo katain ikan teri.", Eris menyahut.


"Halah, diem aja lo, tongseng.", Keduanya berseru kompak pada Eris.


"Hadeh, tadi Teri sekarang Tongseng.", Eris memutar bola matanya.


Beberapa detik setelahnya, Kratos dan Frike mulai saling menjambak dan menarik kerah baju sambil berguling dilantai. Eris hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat hal itu.


"Heh, lo kira lo bocah TK apa, berantem gitu amet.", Kali ini Soter yang keluar dari kamarnya dan berujar pada keduanya.

__ADS_1


"Diem lo, lontong sayur.", Keduanya berujar serempak. Yang sontak membuat Soter terkejut kemudian mengambi salah satu sandal yang dia kenakan.


Dengan kalap dia berjalan menghampiri keduanya "NGOMONG APA LO BARUSAN!!!!!!", Soter memukuli keduanya menggunakan sandal yang dia pegang.


"Waduh,", keduanya terkejut dan segera berdiri tegap bersebelahan.


"Lo ngatain gwe lontong sayur.", Soter berujar sampai ludahnya muncrat.


"Kagak.... Kok, hehe.", Keduanya cengar cengir sesekali melotot pada Eris yang berada dibelakang Soter.


Kratos dan Frike bermain isyarat tangan seolah ingin mengepret Eris.


"Eh, tu tangan mau ngapain ha.", Soter berujar menyadari tangan keduanya mulai diangkat.


"Nga-nganu....... Ada nyamuk.", Keduanya berujar kompak.


"Halah alasan lo aja.", Bentak Soter.


"Tau, mereka berdua tadi juga sempat bilang kalo lo itu mirip ikan bandeng.", Eris memanas manasi lalu masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya. Dia memilih menguping dari kamar, dibanding melihat langsung, dan kalau Soter pergi dia akan langsung kena amukan masal dari keduanya.


"Nggak, nggak kok. Sumpah.", Keduanya segera menepis omongan Eris.


"AWAS LO BERDUA!!!!!!", Teriak Soter sekencang -kencangnya.


Sesaat kemudia terdengara suara.


"Plak!!!! Plak!!!! Dugh!!!! Dugh!!!!".


Dan dengan begitu, Soter meninggalkan Kratos dan Frike terbaring diatas lantai sambil mengaduh kesakitan.


Keduanya sesekali mensumpah serapahi Eris.


***


Herkel hanya diam melamun semenjak bangun tidur tadi. Pikirannya dibawa kembali ke masa lalunya dan mata milik Eirene.


Ada rasa yang benar-benar sulit dikatakan. Ada penyesalan yang mengutuk dirinya terus menerus.


Cerita panjang yang bahkan hampir benar-benar tak ingin dia ingat. Cerita yang membawanya bisa berada di saat saat seperti sekarang ini.


Air matanya menetes mengingat kata-kata terakhir ibunya "Sayang, dengar ibu. Dia masih hidup, temukan ayahmu. Carilah semua kebenaran mengenai dirimu sendiri. Mata itu, kamu akan selalu nyaman berada di dekat pemilik mata itu. Cari kebenarannya, nak."


Herkel benar-benar tak mengerti apa yang dimaksud ibunya. Siapa ayahnya. Dan bagaimana dia bisa menemukan orang itu tanpa petunjuk apapun.


Herkel hanya menangis dalam diam. Dia selalu sendirian, yap, tak ada yang benar-benar mengenalnya selain ibunya. Dan yang ibunya bilang, pemilik sepasang mata itu.


Herkel sekarang bertemu dengan Eirene, gadis yang matanya persis seperti yang digambarkan ibunya. Tapi kenapa dia justru merasa asing dan bukannya nyaman.


Herkel hanya berdiam dalam keheningan pagi itu. Tangisan yang saat ini menghujani hatinya pun masih tetap saja hening.

__ADS_1


***


__ADS_2