
Herkel masih belum sadarkan diri hingga Eirene tanpa sadar tertidur ketika menungguinya di ruang rawatnya. Gadis itu tampak tertidur pulas dengan kepala yang menindih dada Herkel.
5 menit berlalu Hingga Herkel mulai membuka matanya. Pandangannya segera tertuju ke arah dadanya begitu merasakan ada yang menindih dadanya bersamaan dengan hawa panas yang tidak lain adalah hembus nafas Eirene.
Tanpa sadar senyum Herkel mengembang ketika dirinya mengelus pelan kepala gadis itu. Ada bagian dari hati Herkel yang mulai mengagumi gadis itu.
"Beautiful girl." Gumam Herkel lirih.
Kata kata itu terucap bersamaan dengan Eirene yang mengangkat kepalanya hingga membuat Herkel terkejut dan tersipu malu setelahnya. Eirene yang senang Herkel sadar pun segera memeluk Herkel yang membuat Herkel semakin terkejut.
"Lo udah bangun, syukurlah." Eirene berujar senang.
"Eh, apaan sih main peluk peluk aja Lo." Herkel melepas pelukan Eirene dengan sedikit kasar.
"Dih, gue itu masih belum mau Lo mati tau." Eirene berujar sewot pada Herkel.
"Apa peduli Lo kalo gue mati." Herkel melengos begitu saja.
"Makasih." Kata kata Eirene membuat Herkel menganga selama sesaat sebelum kembali datar.
"Makasih? Buat apa?" Herkel mengangkat satu alisnya sambil menatap Eirene lekat.
"Karena udah khawatir sama keselamatan gue." Eirene mendekatkan wajahnya pada Herkel hingga hidung keduanya nyaris bersentuhan.
Herkel yang terkejut segera mendorong wajah Eirene menjauh menggunakan telunjuknya. Eirene mendengus kesal dengan apa yang Herkel lakukan.
"Hish, jahat Lo."
"Kok gue jadi dibilang jahat sih."
"Ya iyalah, Tuan tanpa nama."
"Tanpa nama?"
"Lagian Lo ditanyain soal nama gak pernah mau ngasih tau." Eirene beranjak keluar dari ruang rawat Herkel begitu saja.
Herkel hanya bisu ketika punggung gadis itu menghilang dibalik pintu. Otak Herkel terus bekerja untuk memahami karakter Eirene yang sebenarnya.
***
"Kakak, bangun. Aku mohon kak." Soteria berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkan Soter.
__ADS_1
"Soteria, gunakan powerku juga untuk menyembuhkannya." Hipnos pun segera menyalurkan powernya pada Soter.
"Thanks, Hipnos."
"Tapi Lo jangan nangis, ok. Gimana Lo mau nyelametin Soter kalo Lo sendiri lemah." Hipnos menggunakan jarinya untuk menyeka air mata Soteria.
"Gue gak mau kehilangan kakak gue. Hipnos dia bakal selamatkan? Tolong yakinin gue kalo dia bakal selamat."
"Dia bakal selamat. Soter itu kuat, hanya dia yang bisa melebur apa yang dia inginkan menjadi debu." Hipnos menyandarkan kepala Soteria yang berada disebelahnya ke dadanya hingga air mata Soteria membasahi kemeja yang ia kenakan.
"Lo gadis yang kuat Soteria. Dan kalo Lo kuat otomatis kakak Lo juga pasti kuat." Hipnos berujar berusaha menghibur.
"Gue akan mencoba buat percaya sama omongan Lo." Soteria masih terisak ketika perlahan Soter mulai membuka matanya.
Soteria segera beralih memeluk kakaknya itu dengan erat. Sementara Hipnos hanya bisa tersenyum. Yap, pria itu tidak merasa harus mengganggu kebahagiaan Soteria ketika menyadari Soter sadar.
Hipnos pun berdiri dan hendak melangkah pergi ketika tangan Soteria tiba tiba memegang tangannya dan mencegahnya untuk pergi. Hipnos pun membalikkan badan dan tanpa sadar, Soteria langsung menariknya kedalam pelukannya dan Soter. Ketiganya pun akhirnya saling berpelukan.
***
Kaerus baru saja ingin pulang ke markas. Tapi tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis yang sedang terburu-buru di jalan. Gadis itu membawa beberapa buku di tangannya hingga buku buku itu jatuh berserakan.
Kaerus segera berjongkok dan membantu gadis itu untuk membereskan buku bukunya. Tanpa sengaja tangan Kaerus bersentuhan dengan tangan gadis itu ketika keduanya bersamaan memegang sebuah buku.
"Nggak papa, gue juga minta maaf tadi buru-buru." Gadis itu hendak berlari pergi, namun Kaerus menahan tangan gadis itu dan mencegahnya untuk pergi.
"Nama Lo siapa?" Kaerus bertanya ketika gadis itu menundukkan pandangannya.
"Gue... Thalassa. Loh bisa panggil gue Thasa." Jawab gadis itu masih menundukkan pandangannya.
"Gue Kaerus. Lo kenapa buru-buru?" Kaerus menatap dingin pada gadis dihadapannya yang masih menundukkan pandangannya.
"Maaf, itu bukan urusan Lo. Dan lepasin tangan gue, biar gue bisa pergi." Gadis itu menarik tangannya kemudian segera berlari meninggalkan Kaerus yang masih terus memandanginya dari kejauhan.
Kaerus hanya mendengus kemudian kembali meneruskan jalannya ketika gadis itu menghilang memasuki sebuah mobil.
***
Asklepius dan Filotes sudah hampir tiba di tempat tujuan mereka setelah berkunjung ke rumah keluarga Ryfa. Tiba tiba, sekawanan tak dikenal langsung menyerang mereka.
Asklepius melawan 6 diantaranya, sementara Filotes melawan 5 diantaranya. Yap, jumlah penyerang mereka adalah 11 orang.
__ADS_1
Mereka terlibat bakuhantam yang cukup hebat. Sesekali Filotes berhasil melempar musuhnya hingga beberapa meter jauhnya. Tidak jauh berbeda dengan Filotes, Asklepius sedang menyeka darah disudut bibirnya setelah berhasil melempar musuhnya cukup jauh.
"Sialan, dari mana asal mereka?" Gumam Filotes sembari menghampiri Asklepius yang berdiri tidak jauh darinya.
"Gue gak tau." Asklepius berujar dengan nafas terengah sembari menatap Filotes yang kini mengulurkan tangan sambil menepuk bahu Asklepius pelan.
"Mending Lo obati luka Lo dulu." Filotes berujar sambil menunjuk beberapa luka lebam di pipi dan dahi Asklepius akibat bertarung.
"Thanks, tapi gue rasa Lo nggak berhak menyebut Dike gampang khawatir." Asklepius tersenyum tipis melirik ke arah Filotes.
"Oh why?" Filotes berujar ketika keduanya melangkah menuju bawah pohon terdekat untuk beristirahat.
"Karena Lo sama kayak dia, Filotes." Asklepius menjawab begitu keduanya duduk dibawah pohon yang cukup besar hingga dahannya bisa memayungi keduanya.
"Gue gak pernah berpikiran yang sama kayak Lo."
"Kenapa? Karena Lo merasa apa yang Lo lakuin tadi itu bukan ungkapan ke khawatiran." Asklepius mengangkat salah satu alisnya sembari kembali menggunakan powernya untuk mengobati keduanya.
"Mungkin." Gumam Filotes lirih.
***
Syne baru saja pulang dari warkop tempatnya dan Herkel berpisah. Tanpa sengaja, dirinya berpapasan dengan Kaerus yang juga baru saja kembali dari arah pantai.
"Darimana Lo?" Syne bertanya heran dengan wajah Kaerus yang tampak murung.
"Bukan urusan Lo." Ketus Kaerus sambil melangkah masuk ke dalam markas.
"Dih, gue cuman tanya. Kenapa respon Lo gitu banget sih?" Syne masih terus bertanya bahkan ketika Kaerus menghempaskan dirinya ke sofa ruang bersantai para G.A..
"Daripada mikirin gue, mending Lo cerita soal pemuda manusia itu." Kaerus berujar begitu Syne duduk disebelahnya.
"Dia... pergi." Ujar Syne lirih.
"Pergi? Dan apa Lo udah tau soal identitasnya?" Kaerus spontan terkejut mendengar ucapan Syne.
"Belum. Gue belum tau apapun mengenai dia." Syne berujar dengan nada datar.
"Gawat, kita berarti gak bisa mengawasi gerak-gerik orang itu." Nada bicara Kaerus kembali datar.
Hening sesaat sampai Kaerus memilih meraih remote TV yang terletak di meja dihadapannya. Kaerus menekan tombol power. Dan seketika TV itu menyala, TV itu menampilka sebuah siaran berita. Di berita itu jelas terlihat bagaimana sebuah rekaman video dari sebuah ponsel yang menunjukkan bagaimana Soteria memilih lompat dari gedung dan rentetan kejadian sampai Soteria menjelaskan siapa dirinya.
__ADS_1
Syne dan Kaerus yang awalnya memasang wajah datar pun menganga selama beberapa saat. Keduanya pun segera bergegas menuju ke lokasi yang tertera di layar TV.
***