
"Gue baru tau Lo sesuka itu sama ice cream.", Leukothea terkejut mendengar suara Palaemon.
"Mon, lo ngapain ada di kamar gwe.", Leukothea menatap Palaemon yang berdiri diambang pintu kamar.
"Gwe... Cuma mau tau aja, sampek kapan lo bakal berhenti berdiri di dekat jendela kayak gitu.", Palaemon menghampiri Leukothea yang masih berdiri didekat jendela kamarnya, sesekali Leukothea melirik bulan yang bersinar dilangit.
"Sampai gwe puas, merutuki nasib.", Leukothea berujar sembari menatap bulan yang sepertinya tak akan berhenti bersinar malam ini.
Palaemon tidak berkata lagi, tapi langsung menarik tangan Leukothea, mengajaknya melesat keluar markas, kemudian terbang ke langit.
"Kenapa lo bawa gue ke langit.", Leukothea sedikit membentak Palaemon.
"Gwe cuma mau lihat lo tersenyum puas, berada sedikit lebih dekat dengan bulan.", Palaemon merangkul Leukothea, kemudian keduanya menatap bulan.
"Gwe cuma ingin memutar ulang waktu.", Leukothea melempar es krim ditangannya ke sembarang arah begitu saja.
"Thea, peristiwa berdarah yang merenggut nyawa banyak G.A. ribuan tahun lalu harusnya udah bisa lo lupain."
"Mon, harusnya, itu bukan hal yang tepat buat gwe. Kakak gwe tewas dan begitupun juga kekasih gwe.", Leukothea berteriak dengan nada khas orang yang sedih bercampur marah.
"Poseidon, kakak lo juga adalah sahabat gwe. Dan selamanya lo gak akan pernah tau seberapa besar gwe menderita setelah dia tewas.", Palaemon tampak menundukkan wajah teringat pada sosok pria yang dulu selalu ada untuknya.
"Oh ya, dan lo juga gak bakalan tahu seberapa berarti kehadiran Khrisus, buat gwe.", Leukothea berujar dengan nada yang perlahan dipelankan.
"Thea, gwe tau gwe salah karena dulu, gwe selalu menjauhkan kalian berdua.", Palaemon menatap Leukothea penuh arti.
"Dan lo tau gwe benci lo, Mon. Khrisus mati gara-gara lo. Kalo aja hari itu gwe datang tepat waktu, dia gak bakal mati.", Mata Leukothea mulai memerah ingin memaki sebisanya, "Dan lo tau jelas, alasan kenapa gwe sampai saat ini bisa memaafkan lo. Karena Khrisus yang meminta itu."
Palaemon hanya diam, sementara Leukothea beranjak begitu saja meninggalkan dia dalam keheningan.
Dalam hatinya berkata
Andai kau tahu yang sebenarnya, Thea.
***
"Buruan, sini. Elah, apa perlu diseret sih lo.", Kaerus menyeret Herkel sekuat tenaga menuju ruang rapat G.A..
"Gue gak salah apa-apa.", Herkel berusaha membela diri.
"Halah, banyak bacot lo.", Kaerus berujar ketus.
"Tau, tu mulut bisa diem gak sih.", Kratos menimpali.
"Lah lo juga banyak bacot, bang.", Herkel berujar pada Kaerus yang terus menarik tangannya.
"Halah, bodo. Duduk diem aja lo disini.", Kaerus berujar ketus sambil memerintah Herkel duduk di salah satu kursi ruang rapat.
"Dike, woy, ada yang perlu di adili nih.", Teriaknya pada Dike.
"Dike sakit.", Suara seorang gadis yang tidak lain adalah Eirene menjawab dengan parau. Eirene baru saja dari dapur berusaha menenangkan diri.
"Loh, penampilan lo abstrak banget, emangnya Dike kenapa.", Kaerus berujar kebingungan.
"Lo cari tau aja sendiri.", Eirene berlalu begitu saja. Tapi sesaat ketika dia berada tepat disebelah Herkel, Herkel memegang tangannya yang membuat langkahnya terhenti.
Herkel menatap mata Eirene lekat-lekat. Ada yang aneh, mata itu, mata yang dulu pernah dekat dengannya, mata yang tidak asing baginya, sepasang mata yang selama ini dia cari.
__ADS_1
Eirene hanya menatap heran pada Herkel, namun sesaat setelahnya kepalanya tiba-tiba saja sakit. Ada sebuah bayangan memori abu abu terlintas begitu saja. Dirinya tidak tahu apa itu, tapi yang jelas itu persis dengan sepasang mata milik Herkel yang menatapnya.
Kaerus heran melihat Eirene tiba-tiba terhuyung dan hampir tersungkur ke lantai. Cepat, dia segera menangkap tubuh Eirene sambil melepas tangan Herkel yang memegang tangannya.
"Lo urus dia bentar, gwe bawa Eirene ke kamarnya.", Kaerus berujar sembari membopong tubuh Eirene menuju kamarnya.
"Ok, bos.", Kratos berujar mantap.
Herkel hanya menatap tubuh Eirene yang lemah sambil terus terpaku.
"Hoy, kalo gitu gwe panggil yang lain aja buat mengadili lo.", Kratos memainkan ponselnya berusaha menghubungi anggota G.A. lain yang memiliki waktu luang. Herkel hanya sibuk melamun.
Beberapa menit setelahnya, Palaemon, Leukothea, Soter, dan Soteria tiba diruang rapat. Begitupun juga Filotes dan Kaerus setelah memastikan keadaan Eirene.
"Ok, mana nih yang mau di adili.", Filotes berujar pada Kratos.
"Ini, bocah satu ini.", Kratos menunjuk pada Herkel yang duduk disebelahnya.
"Eh, tunggu, Psamathe mana?", Celetuk Kaerus.
"Bagian jaga pantai katanya.", Palaemon menjawab begitu saja.
"Yaudah, kalo gitu tunggu apa lagi.", Leukothea menyahut begitu saja. Dirinya sedang tidak ingin berlama-lama berada satu ruangan dengan Palaemon.
"Sabar dong, kita lagi nunggu gantinya Dike.", Kratos membalas.
"Dike kenapa?", Palaemon bertanya sambil melirik pada Filotes.
"Sakit.", Jawab Filotes singkat.
"Lah Eirene juga mana.", Kali ini Soter bersuara.
"Eh, stop. Ini yang gantiin Dike siapa, elah.", Leukothea semakin muak dengan basa-basi semua orang.
"Dikaiosyne, alias syne.", Kratos berujar.
"Yaudah mana tuh cowok.", Soteria mulai bersuara.
"Tau, awas aja ya lo kalo buang waktu kita sia-sia, gwe jadiin tempe penyet lo.", Ancam Leukothea.
"Santai, bentar lagi juga datang kok dia.", Kratos menenangkan.
Eris dan Frike tiba-tiba melesat dan langsung duduk di kursi rapat. Kedua cowok itu tidak mengejutkan siapapun, lantaran sudah kebiasaan keduanya melakukan hal itu.
"Denger-denger ada rapat nih, mana, kok belum dimulai.", Frike berujar santai.
"Nunggu Syne.", Jawab Soter datar.
"Lah ngapain nunggu tuh bocah satu, biar gwe aja yang gantiin Syne.", Frike berujar yang membuat semua orang melotot padanya.
"Nggak,", teriak mereka kompak, sementara Frike dan Eris hanya cengar cengir.
"Kalo lo berdua yang gantiin Syne, boro-boro dapet keadilan, manusia itu lo tebas duluan elah.", Palaemon nyeletuk begitu saja.
"Elah, gwe bukan G.A. yang bertugas ngebantai orang."
"Alah, lo berdua jenisnya sama sama yang kayak gitu.", Filotes menimpali.
__ADS_1
"Mau sampek kapan coba nunggu Syne, kayak gini.", Leukothea berucap lagi.
"Hadeh, lo tuh jadi cewek gak ada sabar sabarnya ya.", Kratos memutar bola matanya.
"Lo kalo gak mau gwe sumpel tuh mulut pakek kapal laut, mending jangan bacot deh.", Leukothea menuding Kratos sembari mendelik.
"Lo kira mulut gwe apa bentukannya.", Kratos nyolot.
"Sssssttt..... Udah udah, eh, lo pada gak malu apa ribut didepan manusia itu.", Soter menyahut sambil melihat Herkel yang masih sibuk melamun.
"Oh iya, tuh bocah kenape deh.", Palaemon menunjuk Herkel.
"Gak tau, dari tadi dia cuman gitu. Sejak..... Eirene lewat.", Jelas Kratos.
"Ohhh... Eh, tong lo sehat.", Palaemon berujar pada Herkel.
Dua tiga detik masih belum ada jawaban. Kratos menggebrak meja di depan Herkel yang membuatnya sadar. "Hoy, diem aja lo. Kesambet ntar kita yang ribet.", Kratos berujar sewot.
"O, oh sorry, ngomong apa ya.", Herkel menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum senyum malu.
"Tuli tu, kuping lo. Udah hampir setengah jam kita ngoceh, lo gak denger.", Palaemon berujar sewot.
"Udah, heh, dia ini anak orang, lo katain kayak begitu.", Filotes menyela.
"Lah, siapa yang bilang dia anak tikus.", Palaemon melengos begitu saja.
"Tikus mah bagusan buat dia, dia tu mirip curut.", Frike menyahut.
"Heh, lo berdua, bisa diem gak sih, ini tu jadi rapat gak.", Soteria bersuara.
"Mana gwe tahu.", Kratos kelepasan bicara, sontak semua mata melotot padanya.
"Kampret ya lo, lo yang manggil kita, gak ada tanggung jawabnya sama sekali.", Respon pertama datang dari Soter.
"Oh, okay, besok pagi lo siap gue tenggelemin kedasar palung.", Leukothea mengancam.
"Kalo gwe, besok lo bakal gwe kurung di mulut ikan hiu, ****** lo.", Palaemon menimpali.
"Gwe jantur aja lo besok dilangit.", Filotes berujar sedikit datar.
"Gwe bikin lo jadi tusukan sate.", Kaerus menahan geram.
"Gwe blender lo sama cabe.", Soteria juga menahan geram.
Frike dan Eris hanya cengengesan sambil berujar "****** lo.", Setengah berteriak.
Keduanya memang berencana mengerjai Kratos, lantaran mereka tahu bahwa Syne tidak akan datang. Syne titip pesan sebelumnya pada keduanya untuk menyampaikan bahwa dia akan sibuk di kantor malam ini. Tapi, memang sifat jahil keduanya yang membuat mereka tidak menyampaikan pesan itu.
Herkel hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kejadian itu.
"Udah, kalo gitu rapat besok aja. Dan lo, lo tidur dikamar Kratos hari ini.", Kaerus berujar sewot.
"Lah, kok aku.", Kratos heran dan menunjuk dirinya sendiri.
"Hukuman buat lo.", Semuanya menjawab serempak dan meninggalkan ruangan secara bersamaan.
Jadilah malam itu Frike dan Eris tertawa puas hingga fajar menyingsing. Sementara Kratos dengan sialnya tidur dengan Herkel.
__ADS_1
***