
Seluruh anggota markas telah selesai makan malam. Satu persatu mulai melanjutkan pekerjaannya. Beberapa mengambil tugas patroli. Hanya Eirene yang sejak selesai makan malam mondar mandir di depan markas. Dirinya seperti menunggu kehadiran seseorang, raut wajahnya tampak cemas dan khawatir.
"Ren, Lo nungguin siapa.", Filotes yang heran dengan tingkah laku Eirene pun menghampirinya.
"Gwe... Lagi nungguin Dike.", Eirene menjawab masih dengan tingkah laku serupa.
"Dike kemana?", Filotes bertanya lagi.
"Dari tadi pagi buta, dia pergi, katanya ada urusan menegakkan keadilan. Tapi gwe heran, gak biasanya Dike melewatkan makan malam, kayak gini.", Jelas Eirene.
"Gimana kalo kita susulin.", Eirene tidak menjawab, melainkan langsung mengeluarkan sayap dari punggungnya dan terbang begitu saja meninggalkan Filotes
"Ren, gwe bilang kita, kenapa Lo udah cabut duluan.", Filotes pun melakukan hal yang serupa sambil berteriak "Ren, tungguin gwe."
***
Dike merasa dirinya mati rasa, pasalnya setelah dia pulang menyelesaikan tugas, dia diserang oleh salah satu musuh G.A., Dike sempat beberapa kali memberikan perlawanan, dirinya juga sempat beberapa kali memukul dan melukai lawannya itu, tapi malangnya, dia kalah jumlah, lawannya itu membawa puluhan anak buah.
Dike bisa saja menghabisi semuanya, tapi entah mengapa dia merasa hari ini powernya benar-benar lemah. Sejenak dia teringat kata kata Eirene yang seperti hendak melarangnya pergi.
Dike menyesali dirinya sendiri, entah mengapa hari ini dia membantah Eirene sahabatnya, padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukan itu.
Dike terbaring lemah ditepi jalan gang yang benar-benar sepi, atau lebih tepatnya adalah gang mati yang tak pernah dilalui orang. Dia tidak bisa bergerak sedikit pun, dalam hatinya hanya berharap, Eirene ada disini membantunya.
Beberapa menit setelahnya, samar Dike melihat wajah Eirene menatapnya khawatir, matanya kabur tapi jelas dia bisa mendengar suara Eirene meneriakkan namanya. "Dike, are you okay?", Eirene tampak mengamati tubuh Dike dan beberapa luka lebam di wajahnya, "Answer me, Dike."
Tak lama setelah itu, Filotes datang menghampiri keduanya. Dia heran sembari memikirkan siapa yang telah menyerang Dike.
"Lo jangan diem aja dong, woy.", Bentak Eirene pada Filotes.
"Gwe lagi mikir.", Jawab Filotes.
"Kebanyakan mikir Lo, gak liat apa, temen Lo lagi luka kayak gini."
"Ya, iya, yaudah gwe gendong Dike, okay."
"Nggak, gwe bantuin, kita gendong berdua."
"Tapi, Lo kan cewek, jadi haram, soalnya Dike itu cowok, bukan muhrim Lo lagi."
"Lama-lama gwe yang gendong Dike sendiri."
"Jangan, yaudah, kita gendong berdua aja."
Keduanya akhirnya berhasil membawa Dike ke markas. Walau, Filotes langsung tepar, soalnya Dike benar-benar berat.
Dokter perempuan yang bernama Aegle dan Akeso segera bertugas. Disusul oleh dokter laki-laki yang juga bertugas, Asklepius dan Paeon.
Eirene duduk disebelah Filotes yang masih terengah, dia mulai bicara "Gwe takut Dike kenapa-napa."
"Kenapa Lo setakut itu, sih.", Filotes meraih kepala Eirene kemudian meletakkannya di bahunya. Dia juga menyeka air mata gadis itu.
"Gwe menyesal, harusnya gwe lebih keras lagi buat cegah dia pergi."
__ADS_1
"Udah lah, Ren, Dike itu juga keras kepala. Apalagi kalo menyangkut tugasnya sebagai G.A."
"Tapi ini salah gwe."
"Ini bukan salah Lo kok. Lagian kalau Dike berakhir dalam menjalankan tugas. Itu bukannya suatu kehormatan buat dia.", Filotes masih berusaha menenangkan Eirene.
Filotes kembali berujar "Dike beruntung ya, dia punya sahabat kayak Lo."
"Jangan bercanda Lo, lo itu juga sahabat gwe."
"Tapi gwe gak menyangka Lo bisa menitikkan air mata buat dia, yang kalo dilihat lebih sering ngebentak dan nyakitin Lo, dibanding ngebaikin Lo."
"Wajar, Dike memang memiliki karakter kayak gitu, tapi gwe yakin pasti dia peduli juga, hanya mungkin dia terlalu bingung buat nunjukin sikapnya yang sesuai."
"Kenapa lo seyakin itu?"
"Karena Lo, Filotes."
"Gwe?"
"Iya, karena Lo selalu mengajari gwe buat bersikap percaya diri.", Eirene menatap Filotes yang sepertinya masih terkejut dengan kata-katanya. Terkesan kaku, tapi Eirene berusaha tersenyum setulusnya.
Filotes hanya bisa ternganga selama beberapa detik, kemudian kembali pada wajah yang berusaha dibuat datar olehnya.
"Fi, gwe boleh minta satu hal sama Lo."
"Hmm, minta apa?"
"Mau nggak Lo jadi sahabat yang paling ceria buat gwe, jadi kalo gwe rapuh, Lo bakal selalu ada buat ngehibur gwe."
"Gwe mohon janji sama gwe kalo Lo bakal selalu seceria biasanya dan bakal selalu ngehibur gwe.", Eirene kemudian menjulurkan jari kelingkingnya pada Filotes.
"Janji.", Filotes pun menyambut kelingking Eirene dengan kelingkingnya, sehingga terbentuk ikatan yang biasa orang-orang gunakan untuk membuat janji.
Beberapa detik berlalu, sampai Asklepius keluar dari kamar Dike. Eirene segera menyerbunya dengan beberapa pertanyaan. "Gimana keadaan Dike?"
"Oh, jadi Lo berdua masih disini. Jadi gini, stok obat yang bisa digunakan untuk mengobati Dike habis. Jadi gwe harus menemui Alaso dan Panakea."
"Loh, bukannya dua cewet anggota G.A. itu saat ini bertugas meramu obat di Sharing La. Dan perjalanan kesana gak mudah.", Filotes menyambar.
"Iya, kita kan pernah mengirim 20 G.A. menuju tempat itu, dan yang selamat hanya Alaso dan Panakea.", Timpal Eirene.
"Tapi itu adalah satu-satunya obat yang bisa menyelamatkan Dike. Dan mau gak mau kita harus ke sana.", Jelas Asklepius.
"Kalo gitu gwe sama Filotes ikut. Kita bakal ngebantuin Lo."
"Okay, bagus malah, kalo Lo berdua ikut, kita bisa sama-sama ngebawa pulang obat itu."
"Kapan kita berangkat?", Filotes bertanya lagi.
"Besok.", Jawab Asklepius mantap.
***
__ADS_1
Soter dan Soteria mengambil tugas patroli malam ini, keduanya memilih untuk menggunakan jalur pengawasan udara alias terbang. Mereka mengedarkan pandang pada setiap sudut kota.
"Kak, kenapa gwe ngerasa malam ini gak seperti biasanya, ya."
"Ya, iyalah. Kan malam ini Lo patroli, biasanya yang patroli juga si Kaerus atau gak Filotes tuh."
"Gak gitu, ada yang gak biasa bakal terjadi malam ini."
"Iya, gwe juga punya firasat yang sama."
"Kalo gitu, kita harus lebih memperketat patroli malam ini. Memastikan gak bakal terjadi masalah besar."
"Sip.", Soter mempercepat kecepatan terbangnya, begitu juga dengan Soteria.
Tidak berselang lama setelah itu, Soteria mendapati seorang anak kecil yang hampir tertabrak mobil, secepat kilat, dia langsung meraih anak itu ke dalam pelukannya, kemudian melompati mobil yang hampir menabraknya.
Orang-orang disekitarnya menatap heran pada keduanya. Tapi Soteria mengerti anak itu pasti masih syok dengan kejadian tadi. Buru-buru dia membelai rambut anak itu dan menenangkannya.
Soter hanya melihat keduanya dari langit. Kemudian dia melanjutkan berpatroli.
"Hey, Everything is alright. Okay.", Soteria berujar menenangkan.
Seorang ibu muda menghampiri keduanya. Ibu itu segera memeluk anak kecil yang tadi diselamatkan Soteria dan berujar."Kamu baik-baik saja. Terimakasih karena sudah menyelamatkan putra saya."
"Iya, sama-sama Bu.", Soteria membalas lemah lembut.
"Ma, kakak ini seperti superhero. Dia tadi dari langit.", Ujar anak kecil polos itu.
"Ah, adek, nggak kok.", Ujar Soteria sambil tersenyum pada anak kecil itu.
"Maaf ya, maklum masih anak kecil.", Balas ibu anak itu.
"Omong-omong, nama kamu siapa?", Tanya ibu itu.
"Soteria.", Soteria mengulurkan tangan pada ibu itu.
"Saya Rahma. Dan dia Dani putra saya.", Ibu itu menjabat tangan Soteria.
Setelah berkenalan dan sedikit berbicara. Ibu itu berlalu pergi. Soteria menghela napas pelan, dia bersyukur karena ibu itu tidak curiga padanya.
Ketika Soteria membalikkan badannya dan ingin melangkah pergi. Seorang pemuda berdiri tepat di depannya, pemuda itu berumur sekitar 20 tahunan. Dia lebih tinggi dibandingkan Soteria, badannya tegap dengan bahu lebar, kulitnya putih, dia menggunakan kaos berwarna merah dan celana panjang hitam.
Dia menatap pada Soteria dengan sorot takut bercampur heran. Terbata dia berkata "Lo, Lo b-bukan manu-sia."
"Maksud Lo apa ya?", Soteria berujar heran bercampur khawatir.
"G..gwe liat Lo turun dari langit dan satu teman Lo yang tadi masih ada di langit terbang gitu aja."
"Ha, apa?", Soteria terkejut bukan main, harusnya orang-orang disekitarnya tidak mengetahui kejadian itu, dia telah membuat ilusi menggunakan powernya, membuat semua orang melihat Soteria berlari bukannya turun dari langit.
Soteria heran, mestinya yang tahu hanya anak itu, tapi jika pemuda ini bisa melihatnya, itu artinya pemuda ini bukan manusia biasa.
"Tolong......, Ada makhluk jadi jadian disini.", Soteria masih belum selesai dengan keheranannya ketika pemuda itu mulai berlari dan berteriak teriak.
__ADS_1
Soteria makin terkejut dengan tingkah pemuda itu, kemudian dia berlari layaknya manusia mengejar pemuda itu. Soteria mungkin bisa saja melesat, tapi untuk saat ini, itu jelas bukan pilihan yang akan membuat semuanya lebih baik, bisa-bisa tambah berantakan semuanya.
***