
Palaemon dan Leukothea baru saja keluar dari salah satu pusat perbelanjaan. "Mon, pulang terbang, melesat atau manusiawi aja."
"Terserah, gue sih pilih terbang aja."
"Yaudah, yuk cari tempat sepi, biar gak ada yang lihat kita terbang."
"Ok, eh mmm, atau kita ke pantai aja."
"Yaudah kalo gitu, ayo."
Keduanya tiba dipantai sambil melesat kemudian terbang begitu sampai di salah satu spot sepi.
"Thea, jangan cepet cepet dong terbangnya, entar dua tas ini rusak."
"Oh iya kah-", Leukothea tidak sempat melanjutkan kata katanya. Dirinya melihat seorang wanita sedang disiksa oleh seorang pria. Keduanya masih sama sama muda mungkin keduanya seumuran sekitar 25 tahun lah.
Leukothea segera turun berharap bisa menjadi penghalang untuk gadis itu ketika pria itu hendak melayangkan satu pukulan. Dugaan Leukothea tepat dirinya yang terkena tamparan pria itu.
"Sial, cewek gak tau diri lo, jangan ikut campur urusan orang lain.", Pekik laki laki itu. Sementara sang wanita memegangi kaki Leukothea seakan meminta pertolongan.
"Tolong.", Rintih wanita itu.
Leukothea segera membalikkan badannya kemudian menepuk bahu wanita itu "Kamu akan baik baik saja, aku akan bereskan laki laki berengsek ini.".
Leukothea berbalik dan melayangkan satu pukulan tepat ke perut laki laki itu.
Laki laki itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Namun, sebelum sempat laki laki itu sadar, Leukothea melayangkan tendangan ke pelipisnya. Laki laki itu kontan tersimpuh begitu saja. Leukothea meraih kerah laki laki itu kemudian membantingnya ke aspal.
"Cuma itu, boy.", Leukothea mendesis.
"Cewek kurang ajar.", Laki laki itu berusaha bangkit dan melayangkan tendangan ke arah Leukothea. Yang dengan mudah Leukothea hindari. Leukothea meraih kaki laki laki itu kemudian kembali membantingnya ke tanah.
Palaemon hanya memperhatikan dari langit. Leukothea kembali menatap pada si gadis "Dia siapa kamu?"
"Dia.... Suami saya....", Gadis itu berujar pelan.
"Oh ok.", Leukothea baru hendak membalikkan tubuh ketika laki laki itu berada tepat dibelakangnya bersiap memukulkan sebuah batu besar padanya.
Refleks, Leukothea menggunakan kekuatan magisnya, dia mengubah batu itu menjadi air untuk sesaat, kemudian mengembalikan wujudnya menjadi batu. Wanita dan pria itu tercengang seketika.
Palaemon merasa harus membereskan ini, dengan cepat dia segera turun tapi diketahui oleh ketiganya.
"Thea, perlu bantuan.", Palaemon berujar datar setelah menyangkutkan beberapa tas belanjaannya di salah satu pohon terdekat.
"Mon, lo.", Leukothea tak berkata apa lagi setelahnya.
__ADS_1
Palaemon langsung menjentikkan jarinya, membuat pria dan wanita itu pingsan seketika.
"Udah ayo, mereka gak bakal sadar apa yang terjadi. Mereka bakal lupa semua kejadian sejak mereka bangun tidur tadi."
"Yaudah ayo."
Palaemon mengambil tas belanjaan kemudian menyusul Leukothea terbang.
***
Semenjak kejadian di markas tadi pagi, Kaerus merasa tidak memiliki alasan untuk tidak menghabiskan hari di luar markas. Dia sedang duduk di tepi pantai ketika suara seorang gadis mengejutkannya "Hembus angin pantai, air kelapa muda yang segar. Kau sepertinya selalu suka menikmati hal itu."
Kaerus dibuat bisu seketika, ketika dirinya mendapati sosok wanita yang tidak asing baginya, dia adalah Nyx. Gadis yang selu membuatnya membenci malam.
"Lo, ngapain Lo disini.", Kaerus berujar datar.
"Ah, aku tak pernah menyangka jika kamu bisa berkata kasar padaku.", Gadis itu tersenyum tipis.
"Gue nggak punya alasan buat memperlakukan Lo dengan baik setelah itu."
"Itu? Oh ya, maaf untuk kejadian malam itu, Dude.", Gadis itu duduk tepat disebelah Kaerus.
"Maaf, mudah banget ya Lo ngomong gitu ke gue. Lo sadar Lo ninggalin gue di malam pertunangan kita. Apa Lo pikir itu gampang terobati oleh kata maaf, Nyx.", Kaerus berujar dengan nada yang sepenuhnya kasar.
"Tapi Lo bisa kan, biarin gue selesaikan masalah itu sama bokap Lo, bukannya Lo main ninggalin gue gitu aja.", Bentak Kaerus.
"Aku tahu, aku emang udah gak ada tempat di dalam hati kamu, tapi aku suka sama kamu, sangat suka sampai aku gak bisa biarin kamu kena masalah sekecil apapun itu.", Nyx berujar parau sambil menunjukkan sesuatu yang melingkari pergelangan tangannya.
Kaerus terdiam tanpa kata, mendapati benda itu adalah gelang yang pernah dia berikan pada Nyx tepat sehari sebelum Nyx meninggalkannya.
"Aku cinta sama kamu, bahkan hanya dengan melihat kamu selamat udah cukup buat aku.", Nyx mulai terisak ketika mengingat kejadian di malam dia meninggalkan Kaerus sendirian.
"Malam itu, saat aku meninggalkan kamu, kamu nggak pernah tau jika aku sering berhenti makan, dan suka mengurung diri. Malamku terasa benar benar gelap.", Nyx meraih tangan Kaerus kemudian mengusapnya pelan.
"Aku cuma bisa berharap kamu bahagia. Tapi sepertinya aku salah. Aku tahu 5 tahun kenangan kita nggak akan mudah buat dilupain. Aku tahu aku salah, karena itu aku kembali."
"Nyx, gue gak tahu, apa gue masih bisa buat Nerima Lo lagi, atau nggak.", Kaerus menatap lekat pada Nyx yang berada tepat disebelahnya, "Gue masih suka sama Lo, iya gue aku itu bener. Tapi luka yang Lo ukir di malam itu hanya kering bukan menutup dengan sempurna."
"Aku tahu kok, boleh aku memelukmu.", Kaerus hanya mengangguk kemudian Nyx memeluknya dengan erat. Kaerus hanya kaku namun balas memeluknya.
"Nyx, kalo gue pergi suatu saat nanti, tolong berbahagialah dengan orang yang nanti akan menjadi pasangan hidup Lo.", Kaerus tak bisa menahan air matanya untuk mengalir.
"Kamu mau pergi kemana? Tolong jangan pergi, berjanjilah padaku Kaerus, kamu gak akan kemana mana. Cukup aku yang sempat pergi, kamu jangan."
"Nyx Lo, harus bahagia, semua salah gue, harusnya gue gak pernah jatuh cinta sama Lo. Dan mungkin Lo nggak akan kena masalah dari bokap Lo."
__ADS_1
"Kamu nggak salah, aku yang salah. Maaf, karena aku mencintai kamu."
"Cinta gak bisa disalahin Nyx, karena kalo gue dengerin pesan bokap Lo buat ngejauhin Lo, mungkin Lo gak bakal jatuh cinta sama gue."
"Justru aku bersyukur kamu pernah ada, dari kamu, aku tahu apa itu artinya cinta.... Dan dari kamu juga, aku bisa belajar bagaimana caranya memperjuangkan cinta itu."
"Nyx-"
"Kamu gak berhutang maaf atau apapun padaku. Aku yang berhutang terimakasih padamu."
"Nyx-"
"Aku hanya ada satu permintaan buat kamu. Bahagialah, lindungi orang-orang yang berarti buat kamu."
"Nyx tapi..."
"Perlahan, aku yakin aku akan terlupakan dalam hidupmu, aku ini apa? Hanya masa lalu yang menyakitkan untuk diingat.", Nyx melepaskan pelukannya pada Kaerus, namun Kaerus justru memeluknya semakin erat.
"Aku mohon, cukup aku yang membuat kesalahan, jika suatu saat nanti ada gadis lain yang akan menjadi pengganti ku. Semoga kejadian kita nggak akan terulang lagi.", Nyx berusaha melepaskan pelukan Kaerus.
"Gak, gak ada gadis lain yang bakal gantiin Lo dihidup gue.", Kaerus masih memeluk erat Nyx.
"Aku yakin itu gak akan terjadi, Kaerus. Karena gak ada rasa sakit yang abadi. Rasa sakit mencintai orang yang bersamanya justru hanya akan membunuhmu.", Nyx berhasil melepaskan pelukan Kaerus, kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.
Kotak kecil berbentuk hati berwarna pink itu diberikan pada Kaerus, kemudian Nyx beranjak pergi, pelan dirinya berbisik di telinga Kaerus "Don't be late again.".
Kata-kata sederhana memang, namun sukses membuat air mata Kaerus mengalir deras dalam diam. Dia hanya memerhatikan Nyx yang berjalan perlahan kemudian terbang begitu saja.
Sesaat setelah itu, bisikan Nyx menggema di telinganya. Kata yang selalu Nyx ucapkan ketika mereka bertemu, alasannya cukup simpel. Karena dulu Kaerus selalu telat.
Kaerus hanya diam menatap kotak yang diberikan Nyx, hatinya tidak siap mengetahui apa yang ada didalamnya, apapun itu, tapi jelas itu hanya akan membuatnya menangis sejadi jadinya.
Bisik pelan terlontar dari mulut Kaerus "Terimakasih, maaf aku mencintaimu."
"I promise you.", Hembus angin meniup rambut Kaerus ketika bisiknya terlontar sekali lagi.
Dirinya tak mengerti, apakah cinta itu serumit ini, kenapa saat dia menyadari bahwa cinta itu bisa menjadi kekuatannya, takdir justru mengubah pemikirannya menjadi rasa sakit dan penderitaan.
Saat dirinya, mulai nyaman dengan kata cinta. Tapi cinta itu menghianatinya, meremukkannya, dan menghancurkannya tak bersisa.
Sesuatu yang hampir berhasil dia lupakan, walau hanya hampir, tapi sesuatu itu kembali lagi. Menghancurkan usahanya yang dengan susah payah melupakannya.
Kaerus tak mengerti, apakah dia harus senang atau sedih dengan apa yang baru saja terjadi. Dirinya berteriak sekeras-kerasnya "Aaaaaaaaaaaaa..........hrrghhh."
Membuat angin menjadi berhembus sangat kencang karena kemarahannya. Sesekali dia berusaha membuat kekacauan dengan memainkan air laut menggunakan kekuatan magisnya.
__ADS_1