
"Lo jangan bengong, hoy.", Herkel mengetuk kepala Eirene ketika mendapati Eirene melamun menatap ke arah luar kaca mobil.
"Gue boleh minta tolong?", Eirene beralih menatap Herkel yang sedang menyetir.
"Minta tolong apa?", Herkel sesekali menatap ke arah Eirene.
"Ajarin gue nyetir.", Ujar Eirene lugu.
"Lo nggak bisa nyetir sama sekali?", Alis Herkel terangkat mendengar kata kata Eirene.
"Sama sekali, gue gak pernah diajarin nyetir kecuali naik sepeda."
"Lugu banget, sih, Lo. Gue gak habis pikir kalo ternyata semengenaskan itu hidup lo.", Herkel tertawa sedikit terbahak.
"Yeee, nyesel gue minta tolong sama lo. Jadi lo mau nggak?", Eirene memukul mukim bahu Herkel.
"Sakit, tau. Iya—iya besok pagi jam 6 tepat. Lo telat bangun, gue batal ngajarin Lo."
"Kalo Lo yang telat bangun, Lo harus nuruti kata-kata gue, biar impas."
"OK."
Tanpa sadar, perhatian Herkel teralih pada Eirene dan membiarkan mobilnya tanpa kendali yang hampir menabrak truk di depannya. Dengan cepat Herkel bisa memutar setirnya untuk menghindari dan alhasil mobilnya menabrak salah satu pohon di tepi jalan.
"Argghhh...", Erangan Herkel terdengar begitu mendapati darah segar mengalir dari dahinya.
Hanya selama beberapa detik Herkel tersadar akan kondisi Eirene. Cepat, dia berusaha membangunkan gadis itu, namun dia tetap tidak terbangun. Herkel akhirnya turun dan mengecek keadaan Eirene.
Wajah Herkel berubah khawatir ketika mendapati darah mengalir cukup banyak dari dahi Eirene. Sesaat setelah itu orang orang mulai mengerumuni keduanya. Herkel membaringkan tubuh Eirene di tanah dan meletakkan kepalanya dipangkuan Herkel.
Herkel berusaha menyembuhkan Eirene sebisanya, bahkan ditengah kerumunan sekalipun. Dari tangan Herkel keluar cahaya putih yang sepertinya tidak disadari oleh orang-orang yang mengerumuninya. Cahaya itu adalah sisa power Herkel yan bisa dia gunakan untuk menyembuhkan, setelah sebelumnya mengobati dua orang sekaligus.
Herkel belum sempat mengumpulkan tenaganya kembali karena Eirene terus mengganggunya. Herkel jelas sadar kalau dia kehabisan power maka akibatnya akan buruk. Tapi disisi lain hatinya, dia tidak ingin kehilangan Eirene.
"Hey, bangun, aku mohon bangun.", Rintihnya mengharap Eirene bangun.
"Aku janji ini gak akan terulang lagi, bangun. Aku mohon, bangun.", Herkel masih terus berusaha mengobati Eirene.
"Bangun, jangan menghilang, jangan, please jangan.", Pekik Herkel ketika kulit Eirene mulai memudar menjadi serpihan. Namun, Herkel semakin keras mencoba menyelamatkan Eirene.
Di detik terakhir power Herkel habis, Eirene tesadar. Lirih Eirene berujar "Jangan menangis."
__ADS_1
Herkel yang mendengar suara manis Eirene segera tersenyum, namun sedetik setelahnya, tubuh Herkel kehilangan kendali dan jatuh pingsan tepat disisi Eirene.
Eirene segera meraih kepala Herkel yang membentur tanah ke dalam pelukannya. Eirene segera meminta orang orang yang mengerumuninya untuk membantu membawa Herkel ke rumah sakit.
***
"Kaerus, maafkan aku. Aku harusnya tidak pernah hadir dalam hidupmu.", Nyx berujar sambil terus mengamati Kaerus dari langit.
Mengingat apa yang terjadi tadi membuat Nyx tidak mempunyai alasan untuk tenang setelah meninggalkan Kaerus sendirian.
"Nyx, apa yang Lo lakuin ke gue???!!!! Kenapa dengan mudahnya Lo pergi dan kembali sesuka hati Lo.", Pekik Kaerus pada deru ombak.
"Kaerus, andai Lo dengar ini, Lo berhak bahagia, Lo harus memiliki kehidupan yang bahagia. Aku mungkin tidak akan menjadi milikmu saat ini, di kehidupan ini. Tapi percayalah, di kehidupan yang lain, aku tidak akan melepaskan kamu, aku akan memilikimu."
***
"Soteria.", Soter memanggil nama Soteria yang membuat lamunan gadis itu buyar seketika.
Sedari pagi, Soteria memang memilih murung dan terus melamun. Soter menghampiri Soteria dan duduk disebelahnya.
"Kak, ngapain kakak disini?", Soteria berujar muram.
"Kakak ingin tau, hal apa yang membuat adik termanis kakak terus murung seperti ini.", Soter berujar dengan senyum berusaha menghibur Soteria.
"Jelas kamu butuh kakak saat ini, dan bukannya sendiri."
"Kak, dengan kehadiran pemuda itu, maka kita, para G.A. dalam bahaya. Cepat atau lambat kehadiran kita akan terbongkar perlahan. Dan bukannya perdamaian, kita justru akan menambah perang."
"Kakak tau itu."
"Dan itu semua salahku, aku ceroboh ketika menyelamatkan gadis kecil itu."
"Itu bukan salahmu, percayalah."
Percakapan keduanya terhenti kala ponsel Soter berdering, dengan cepat dia mengangkatnya begitu mengetahui itu datang dari Hipnos.
"Halo, ada masalah apa?", Tanya Soter.
"Ada masalah besar, gedung apartemen dikota kebakaran dan saat ini kondisinya hampir roboh.", Soter segera menutup telponnya dan melesat diikuti Soteria menuju tempat kejadian.
Suasana cukup riuh, hanya terlihat Psamathe, Palaemon, dan Leukothea yang membantu pemadam kebakaran untuk memadamkan api. Hipnos dan Kratos sibuk membantu mengevakuasi orang.
__ADS_1
Soteria yang melihat kejadian itu segera membantu mengevakuasi orang orang, begitupun Soter.
"Ayo, cepat.", Palaemon yang masih berusaha keras memadamkan api sekaligus memberikan tameng pada teman temannya dari jilatan api.
"Awas.", Soteria menggunakan powernya untuk menangkis salah satu plafon yang terjatuh hampir menimpa Hipnos.
"Thanks.", Gumam Hipnos.
"Cepat evakuasi yang masih di dalam.", Kata kata Soter menjadi komando bagi Soteria untuk masuk lebih dalam lagi.
Soteria mendengar tangisan bayi. Namun matanya terbeliak kala mendapati ada tabung gas yang hampir meledak di ruangan itu. Sadar hanya ada beberapa detik untuk mengeluarkan bayi itu. Soteria segera melesat meraih bayi itu dalam gendongannya dan memilih menjatuhkan diri dari lantai apartemen itu juga, tepat sedetik sebelum tabung gas itu meledak.
Soter yang kala itu berada tepat dibawahnya benar benar tidak percaya ketika Soteria memilih membongkar identitasnya dengan mengeluarkan sayapnya dihadapan publik.
"Soteriaaaaa.", Teriak Soter.
"Kamu aman, bayi yang lucu. Untukmu bahkan jika aku harus menerima cercaan dari manusia manusia ini, aku tidak apa apa.", Senyum Soteria mengembang begitu saja.
"Apa yang gadis itu lakukan?", Gumam Hipnos tepat disebelah Soter.
"Anakku.", Suara dari arah lain menyambut, suara milik seorang wanita yang jika diperhatikan masih berusia 30 tahunan.
Soteria menyerahkan anak dalam gendongannya pada wanita itu ketika tiba di tanah masih dengan sayap terkembang.
"Terimakasih sudah menyelamatkan anak saya, dan adik adik ini siapa sebenarnya.", Ibu itu bertanya ketika semua anggota G.A. disitu berkumpul.
Mendengar pertanyaan itu Soteria menoleh pada Soter yang dibalas anggukan olehnya.
"Kami adalah para Guardian Angel. Kami disini bertugas untuk menjaga keseimbangan bumi.", Soteria berujar mantap diikuti senyum yang tulus.
Semua orang yang melihat kejadian itu membalas dengan senyum penerimaan, sementara tak berselang beberapa detik setelah itu, gedung apartemen itu mulai roboh. Dengan cepat Psamathe dan Leukothea mengevakuasi orang orang disekitarnya. Sementara sisanya membuat perisai dari powernya untuk menahan puing puing bangunan yang berjatuhan.
Menyadari sesuatu, Soter menoleh pada Soteria, kemudian Soter tersenyum lalu berujar, "Aku serahkan keseimbangan perisai ini padamu."
Soteria tak bisa berkata kata ketika Soter melesat terbang dan dengan power yang dia miliki, dia gunakan seluruh powernya untuk melebur puing puing itu menjadi abu begitu saja.
Begitu abu itu turun seperti hujan, Soter kehilangan kesadaran dan tubuhnya perlahan melayang hingga membentur tanah. Soteria dan para G.A. yang lain segera menghampiri Soter. Begitupun beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu.
Soteria tersenyum menatap mata Soter yang terpejam. Sudah 2 tahun semenjak terakhir kali Soter kehilangan kesadaran dalam penyelamatan.
"Kak, Lo emang selalu sekuat itu. Dan akan sangat nggak mungkin kalo dalam 5 menit kedepan Lo gak sadarkan diri."
__ADS_1
Setelah 5 menit Soter belum juga sadar. Ada guratan heran di wajah Soteria, namun dia memilih untuk mengabaikannya. Dalam pikirannya mungkin Soter masih perlu waktu untuk menyembuhkan diri.
Namun sepersekian detik setelahnya kekhawatiran menelannya. Tubuh Soter mulai berubah menjadi serpihan, Soteria memeluk tubuh Soter erat-erat dan berusaha untuk menyelamatkannya.