Fýlakas Ángelos : Fakta

Fýlakas Ángelos : Fakta
Part 13


__ADS_3

"Soteria...!!" Syne dan Kaerus berteriak hampir bersamaan begitu sampai di dekat Soteria.


"Gue tau apa yang bikin Lo ke sini." Soteria berujar sambil menatap guratan keseriusan di wajah Syne dan Kaerus.


"Hadehh, Lo gilaaa apa gimana?" Kaerus segera menyemprot Soteria.


"Gimana bisa Lo bongkar semuanya?? Mau Lo apa sih??? Ha??" Kali ini Syne yang memberondong Soteria dengan hantaman telak.


"Udahlah, bro. Ini tuh bukan salahnya Soteria. Lagian Lo tuh harusnya khawatir sama kondisinya Soter." Hipnos mulai bersuara untuk menenangkan keadaan.


"Loh, emang Soter kenapa?" Kaerus pun beralih memandang Soter dengan kerut wajah bertanya tanya. Begitupun Syne.


"Gue gak papa. Ceritanya panjang." Soter menjawab pertanyaan Kaerus dengan nada sedikit lemah.


***


Herkel baru saja keluar dari kamar mandi ketika Eirene masuk kembali ke dalam ruang rawatnya dengan membawa beberapa buah jeruk. Sadar Eirene tidak membawa uang, Herkel segera menghampiri dan menyemprot Eirene sebisanya.


"Lo. Dari mana Lo dapet duit buat beli itu?" Herkel berujar setengah melotot pada Eirene.


"Dari dompet Lo. Habis, gue gak bawa dompet, hehe." Eirene hanya bisa terkikik ketika Herkel kian membulatkan matanya menandakan bahwa dirinya sedang marah dan kesal pada Eirene.


"Lo ini ya...!!! Ngapain Lo nggak izin dulu ke gue...??!!"


"Udah tadi. Lagian Lo dikamar mandi, ya pasti gak kedengeran."


"Halah, bohong Lo." Herkel segera merebut buah² jeruk yang dibawa Eirene.


Eirene yang tidak mau kalah pun akhirnya ikut merebut jeruk jeruk tersebut dari Herkel. Keduanya pun akhirnya saring tarik menarik hingga tanpa sengaja Kaki Eirene tersandung kaki Herkel yang masih berusaha melindungi jeruk jeruknya. Keduanya akhirnya pun limbung dan jatuh ke lantai rumah sakit.


Eirene segera mengerang kesakitan, begitupun Herkel. Eirene adalah orang yang pertama kali bangun diantara keduanya.


"Woy, bantuin gue bangun kek." Herkel berujar ketika Eirene telah berhasil berdiri.


"Bangun aja sendiri...!!! Manja banget sih Lo." Eirene berkacak pinggang sambil memeletkan lidah pada Herkel.


Herkel yang melihat kelakuan Eirene pun menarik tangan Eirene dan membuatnya jatuh kembali. Eirene kembali mengerang kesakitan, sementara Herkel hanya tertawa puas.


"Sakit tau...!!! Jahat banget sih jadi cowok." Eirene menghembuskan nafas kesal sembari berdiri begitupun Herkel yang juga ikut berdiri.


"Gini² gue itu punya reputasi cowok terkenal dikampus tau." Herkel berujar menahan tawa.


"Lo masih kuliah?" Eirene memicingkan mata pada Herkel.


"Woya jelas... Hehe." Herkel menjawab cekikikan.


"Emang apa penyebab reputasi Lo?" Eirene mengangkat salah satu alis sambil menyilangkan tangan di depan dada.

__ADS_1


"Reputasi anak pembolos nomer Wahid di sekolah. Huahaha." Herkel kian tertawa sementara Eirene menganga selama beberapa saat sebelum akhirnya memilih menepuk jidatnya.


"Lo bangga kayak gitu? Hadehhh, karma apa yang gue terima Sampek harus kenal bocah kayak Lo." Eirene menyentakkan kepalanya dan melangkah untuk di kursi.


***


"Thea." Palaemon berujar begitu mendapati Leukothea terduduk di teras markas. Palaemon tau jika Leukothea sedang kelelahan mendengar bagaimana nafasnya terengah.


"Mon. Lo..." Leukothea terkejut begitu mengetahui Palaemon sudah duduk disebelahnya.


"Kenapa? kok reaksi Lo gitu banget. Salah ya kalau gue duduk disini?" Palaemon menunduk menatap lantai yang saat ini terhampar di hadapannya.


"Nggak. Tapi Lo ngagetin gue, Mon."


"Oh, Sorry. Nih, gue bawa air mineral buat Lo." Palaemon mengulurkan sebotol air pada Leukothea.


"Thanks." Leukothea mengambil alih botol yang diulurkan oleh Palaemon.


Hening sejenak ketika Leukothea meneguk air di botol itu. Kemudian dirinya memutuskan untuk kembali berbicara.


"Mon, apa nanti malam kita jadi ke pesta itu?"


"Kalau Lo gak keberatan... Gue rasa iya. Kita jadi ke sana." Palaemon tersenyum tipis pada Leukothea.


"Hmmm.... Boleh gue tanya sesuatu?" Leukothea mempersempit jarak keduanya.


"Apa hubungan itu bisa rusak?"


"Maksud Lo?"


"Gue gak tau, Mon. Kalau seandainya hubungan itu bisa rusak. Gue harap kita gak akan pernah rusak."


"Apa yang Lo maksud dengan kita?"


"Gue sama Lo. Gue harap Lo akan selalu memperlakukan gue kayak gini. Seperti saat ini."


"Thea, Di hari kepergian Poseidon. Aku sudah mengambil tugasnya sebagai kakak buat ngejaga Lo." Palaemon menatap Leukothea sepenuhnya.


"Dan karena itu. Walaupun Lo benci gue atau bahkan muak sama gue.... Gue gak masalah." Lanjut Palaemon.


"Mon..."


"Apa?"


Tolong beri tahu aku apakah ini cinta?


Batin Leukothea yang tak akan pernah bisa Palaemon dengar. Leukothea pun menjawab "Nggak, nggak jadi."

__ADS_1


"Owh ok."


Thea, Berhentilah membuatku jatuh pada dirimu


Palaemon hanya membatin sembari terus memandangi wajah Leukothea. Sementara Leukothea hanya menunduk menatap pada botol air mineral yang ada dipangkuannya.


***


Kratos baru saja sampai di markas. Dirinya langsung dibuat kesal dengan sambutan siraman air gratis dari Frike dan Eris. Yap, keduanya memang sengaja menyiapkan seember air untuk menyiram Kratos apabila dia telah pulang.


"What?!!! Shittt!! Lo berdua...." Kratos berujar masih gelagapan karena air tersebut.


"Enak kan..." Frike berujar dengan nada mengejek.


"Kampret, Ngapain Lo pakek nyiram² gue segala, ha??!!"


"Gue kira Lo pulang dalam kondisi kebakar api. Jadi ya gue siram." Kali ini suara Eris yang terdengar.


"Gak lucu." Kratos kembali berujar dengan nada kesal.


"Emang siapa yang ngelawak?" Frike berujar sedikit terkikik.


"Bodo ah, ngomong sama Lo itu gak bakal ada selesainya." Kratos melangkah masuk dengan kesal.


***


Puas mengerjai Kratos, Frike dan Eris pun pergi berjalan-jalan. Keduanya memilih untuk pergi ke pantai dengan cara terbang. Di perjalanan Frike pun berujar "Apa hidup manusia semenyenangkan itu?"


"Maksud Lo?"


"Eris, lihat mereka bahagia sekali ketika dapat berkumpul dengan keluarga mereka di taman itu." Frike menunjuk sebuah taman yang dipenuhi oleh beberapa kelompok keluarga yang sepertinya sedang berpiknik.


"Frike, Lo rindu ayah Lo?" Nada bicara Eris perlahan melirih.


"Nggak, gue benci pria itu. Dia yang menyebabkan gue berada disini sekarang. Di dalam dunia tanpa kasih sayang orang tua ataupun keluarga." Frike berujar dengan nada yang seperti parau namun menyimpan amarah.


"Gue tau, nasib Lo gak jauh beda sama gue, Frike. Kalo adalah ayah Lo, maka gue adalah kakak laki-laki gue." Eris tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum.


"Ngapain Lo senyum-senyum gak jelas kayak gitu."


"Tapi kita masih punya mereka."


"Mereka? Maksud Lo?" Frike dibuat mengerutkan kening selama sejenak.


"Yap, kita masih punya senyum manusia-manusia itu. Kita masih punya mereka. Setidaknya, gue yakin hidup kita bisa sedikit berarti."


"Gue rasa iya. Setidaknya..." Frike ikut tersenyum kepada Eris.

__ADS_1


Frike dan Eris pun mendarat di tepi pantai. Tanpa di duga kehadiran seseorang yang membuat kekacauan di tepi pantai mengalihkan pandangan mereka berdua. Mereka pun akhirnya berusaha melindungi semua orang yang berada di pantai itu. Frike dan Eris menggabungkan power untuk membuat perisai yang menampung beberapa tombak tombak es yang dilontarkan oleh si pembuat kekacauan.


__ADS_2