Fýlakas Ángelos : Fakta

Fýlakas Ángelos : Fakta
Part 15


__ADS_3

Filotes dan Asklepius kembali melanjutkan perjalanannya setelah beristirahat selama beberapa menit. Di tengah perjalanan, keduanya bertemu dengan Alaso dan Panakea. Kedua wanita itu ternyata telah menunggu untuk menjemput Filotes dan Asklepius.


"Kondisi yang cukup buruk, guys." Alaso adalah yang pertama kali berkomentar.


"Tidak cukup buruk mengingat Lo tahu bagaimana kemampuan penyembuhan gue..." Ujar Asklepius sewot.


"Cih, sombong..." Alaso berujar kesal ketika Asklepius berdiri di dekatnya.


"Segera pergi ke markas kami dan kami obati Lo berdua...." Ujar Panakea memimpin jalan.


"Okay..." Alaso berujar malas dan membalikkan badannya. Namun tanpa sengaja tubuh Alaso menabrak tubuh kekar milik Asklepius hingga membuatnya limbung dan jatuh jika saja Asklepius tidak menarik tangan Alaso hingga membuatnya memeluk dirinya.


Panakea dan Filotes hanya diam memandangi keduanya. Sementara Alaso segera melepas pelukannya dan menatap kesal pada Asklepius yang memandangnya datar.


***


"Makasih." Ujar Eirene datar begitu keduanya begitu dirinya dan Herkel duduk di dalam taksi yang menuju rumah Herkel.


"Buat?" Herkel mengangkat salah satu alis dan menoleh pada Eirene yang duduk disebelahnya.


"Everything." Ujar Eirene dengan nada datar sembari menundukkan pandangannya.


"Everything? Gue gak merasa ngasih sesuatu atau ngelakuin sesuatu yang menguntungkan Lo." Herkel berujar sedikit terkekeh.


"Terserah Lo, yang penting gue udah berterimakasih." Kali ini Eirene mengganti nada bicaranya menjadi sewot dan kesal.


Herkel hanya tertawa ketika melihat betapa lucunya Eirene yang menggembungkan pipinya mirip anak kecil yang merajuk.


***


Kratos segera berlari menghampiri Eris yang tergeletak lemah. Kratos yang menyadari Eris masih sadar pun segera memapah Frike menuju markas, begitupun dengan Kaerus yang juga memapah Eris menuju markas.


Hanya dalam hitungan detik mereka berempat tiba di markas. Kratos segera membaringkan Frike dikamarnya, begitupun Kaerus yang juga melakukan hal yang sama pada Eris.


"Thanks." Bisik Eris lirih pada Kaerus.


"Lo gak berhutang apapun ke gue. Dan gue gak butuh makasih lo, Okay. Gue cuman butuh lo sembuh."

__ADS_1


Dan hanya dengan begitu, Kaerus meninggalkan kamar Eris. Pria itu kini mulai menusuri seluruh penjuru markas sembari memainkan ponsel berusaha menghubungi Paeon.


***


"Kakak macam apa yang tega menyakiti adiknya sendiri, Aries."


Suara itu serasa memekakkan telinga Eris. Pria itu kini memalingkan wajahnya ke arah cermin untuk memastikan bahwa sesuatu yang dia takutkan tidak terjadi. Selama sejenak, dirinya merasa perlu untuk mengeratkan cengkraman pada selimut di tubuhnya. giginya gemertak tak percaya pada pantulan wajahnya yang menampilkan kedua bola mata berwarna merah darah miliknya.


Satu tangan pria itu terulur, meraih gelas yang berada di atas nakas dan melemparnya ke cermin. Kratos yang baru saja membuka pintu mengerjap tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Sebelum otaknya dapat mencerna apa yang terjadi, tubuhnya telah lebih melesat mencegah Eris yang tengah membentuk sebuah bola api.


"Stop. What are you doing?"


"Lepasin gue, biarkan gue akhiri semua ini."


"Akhiri? Lo kira dengan cara ini lo bakal bisa mengakhiri apa?"


"Mengakhiri sesuatu yang harusnya sudah lama berakhir."


Eris menatap pada Kratos, bermaksud menunjukkan perubahan dimatanya jika saja suara dentuman khas pintu dibobol tidak terdengar. Seperti dikomando baik Eris dan Kratos melesat menuju pintu utama markas.


Semua anggota G.A. sudah berkumpul, bersiap melakukan penyerangan begitu tahu jika yang datang adalah para Ouroboros. Namun, kehadiran Soter menginterupsi niat mereka begitu saja.


"Tentu saja. Dan kau bukan lagi sang pangeran, Soter. Atau masihkah harus ku panggil dirimu... Sang Pangeran?"


"Cih, Sebutan yang kotor buatku. Dan kau tau nama itu sekarang adalah pembawa kematian buatmu."


Tanpa aba-aba, para G.A. langsung menyerang. Menyisakan 5 diantaranya yang tetap diam. Kelimanya adalah Soteria, Frike, Eris, Kratos, dan Kaerus. Seperti bisa membaca keadaan, Soteria pun bercerita.


"Gue tau Lo berempat masih berusaha mencerna kata-kata Ouroboros itu. Dan gue akan menceritakan semuanya, apa yang sebenarnya terjadi."


"Kalian pasti ingat, ada sebuah kelompok Elite dari black G.A.. Kelompok Elite yang kemampuannya hampir menyamai White Angel. Soter adalah salah satu dari kelompok itu. Semenjak pembantaian di kelompok itu, hanya beberapa anggotanya yang selamat. Soter adalah salah satu keturunan dari pendiri kelompok itu. Dan dia merupakan satu-satunya yang selamat. Dan kalian pasti tau yang terjadi."


Sesuatu menyumbat tenggorokan Soteria, teringat bagaimana akhir dari perang pembantaian tersebut. Ada bagian dari hatinya yang bisa mengingat dengan jelas bagaimana Soter menyelamatkannya. Sebelum akhirnya memilih untuk membuang identitasnya dan menciptakan topeng dengan wujud Soter yang sekarang.


"Gue ngerti." Suara yang pertama kali menjawab adalah Frike.


"Hidup sebagai G.A. memang tidaklah mudah. Dunia terkadang tak pernah memandang sisi gelap kita. Banyak yang menceritakan dongeng-dongeng mengenai kita, tapi dalam dongeng hanya mencerminkan seolah kita sempurna. Tapi kenyataannya, Lo pada tau sendiri lah."

__ADS_1


Kratos memiringkan wajah, menatap semua orang yang kini menatap dingin ke arahnya.


***


Herkel dan Eirene sudah tiba di pelataran rumah, keduanya tak bicara apapun dan langsung memasuki kamar masing-masing. Eirene hanya sekedar menengok ke kamar Dike dan mendapati tubuh pria itu masih saja terbaring lemah.


Eirene pun perlahan mendekat dan duduk di tepi ranjang Dike. Tangan gadis itu terulur mengusap pelan rambut pria yang saat ini terkapar lemah.


"Cepet bangun, Dike." Ujar gadis itu lirih sebelum meninggalkan kamar Dike.


Erangan gadis itu terdengar kala kepalanya berbenturan dengan tubuh tegap Herkel. Herkel hanya menatap datar dan melenggang masuk ke kamar Dike begitu saja. Dan sebelum Eirene mendapatkan kendali penuh atas dirinya, tubuhnya telah lebih dulu mengikuti Herkel masuk.


"Oy, Lo gak boleh masuk." Ujar Eirene penuh peringatan pada Herkel.


"Boleh, dan harusnya Lo yang gak boleh masuk."


"Dike itu sahabat gue dan gue berhak tau keadaan dia."


"Sahabat sih sahabat, tapi Lo tetap gak boleh lupa kodrat Lo sebagai cewek. Dan cewek gak boleh masuk kamar cowok."


"Suka-suka gue lah. Lo gak berhak mengatur gue."


Tanpa peringatan, Eirene langsung meraih telinga Herkel dan menariknya keluar dari kamar Dike. Herkel hanya bisa mengerang kesakitan ketika menyadari telinganya memerah karena Eirene.


"Sakit tau, Lo bisa gak sih sopan sama gue."


"Wahai tuan tanpa nama, gue gak bisa."


"Dasar cewek kampret."


"Mending daripada cowok kutukupret."


"Malah nyolot lagi."


"Biarin."


Herkel sudah bersiap memaki jika pintu kamar Dike tidak dibanting di depan hidungnya. Lalu, hembusan nafas kesalnya keluar sebelum akhirnya memilih untuk pergi kembali ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


"Kena azab apa gue mesti bawa cewek begituan ke rumah." Gumam Herkel lirih.


***


__ADS_2