FALLING

FALLING
SEPULUH


__ADS_3

Harry marah, luar biasa kesalnya dia dengan tingkah Desy. Memang sejak awal dia sudah menduga tidaklah semudah itu lepas dari perempuan itu. Dulu, baginya status hubungannya dengan Desy tidaklah penting, tapi kini sudah sangatlah mengganggunya, itu semua karena kini dia sudah punya Hexa. Seharusnya sejak awal dia tidak pernah menjadi pasangan Desy, akhirnya dia merasa jadi kesusahan sendiri.


Desy berkali-kali menelpon Harry, namun berkali-kali pula dimatikannya. Muak sekali dia rasa! Sampai membawa-bawa orang tua dalam urusan mereka berdua. Di non aktifkannya ponselnya dan memasukkannya ke saku celana. Harry meninggalkan tempat itu menuju rumah Hexa.


"Aku di bawah..." Kata Harry dari telpon saat motornya sudah di depan pagar rumah Hexa. Hexa melongo sambil mengintip dari balik jendela kamar.


Hexa bergegas turun ke bawah dan mendapati Harry sudah disitu.


"Kok 'ga bilang mau datang?" Tanya Hexa. Hari ini hari minggu, dan tiba-tiba saja Harry sudah di depan rumahnya.


"Ayo, pergi ke luar sebentar" Ajak Harry. Hexa menggeleng.


"Tapi... Papa mama juga bang Hexel ada di rumah. Ayolah masuk dulu biar ku kenalkan dengan mereka" Pinta Hexa. Harry mengangguk setuju, lalu menghidupkan lagi mesin motornya dan masuk ke halaman rumah Hexa.


Harry membuntuti Hexa masuk ke dalam rumah. Di pandanginya satu poto keluarga yang tergantung di tengah-tengah ruang tamu. Sudah ada saudara Hexa disana... Hexel.


"Bang... Ini Harry" Kata Hexa sambil memperkenalkan kekasihnya itu ke abangnya. Bang Hexel mengerutkan dahi. Dia menganalisa sebentar wajah Harry. Sepertinya dia merasa kenal atau pernah bertemu, tapi di mana? Harry pun demikian, rasanya bukan kali pertama bertemu dengan Hexel abangnya Hexa, tapi kenapa lupa?


"KAU?!" Hexel tiba-tiba sudah ingat. Raut wajahnya berubah kesal. Dia jadi emosi.

__ADS_1


"Abang kenal?" Tanya Hexa heran. Hexel mengangguk sambil menunjuk Harry tepat di depan mukanya.


"Jauhi dia!" Ucap Hexel marah. Hexa kaget dengan perkataan abangnya itu.


"Dia bajingan!" Sambung Hexel lagi sambil menarik tangan adiknya. Hexa ditarik sampai ke belakang punggung abangnya itu.


"KELUAR ! NGAPAIN KAU DEKATI ADIKKU?" Perintah Hexel sambil masih menunjuk-nunjuk wajah Harry dengan nada tinggi.


"ABANGGGGG!" Hexa berusaha menghentikan perkataan abangnya yang bernada kasar. Hexa benar- benar tak menyangka kalau akan jadi seperti ini.


"Mana ku tahu dia adikmu... " Tiba-tiba Harry menjawab sambil tersenyum sinis. Harry memandangi Hexa yang kebingungan.


"Sorry Xa, aku 'ga ada maksud apa-apa, aku juga baru tau kalau kau adiknya"Ucap Harry.


"Tanya dia, oke aku pamit" Jawab Harry sambil berlalu pergi. Hexa ingin menyusul namun di cegah abangnya. Hexa melongo, masih terheran-heran. Dia menatap mata abangnya untuk mencari jawaban. Abangnya yang juga masih marah memegang kepala adiknya itu lalu mengusapnya lembut.


"Dek... tolong kali ini aja, jangan dekat dengan manusia itu. Tolong..." Pinta abangnya serius. Hexa sedih, raut wajahnya benar-benar menggambarkan kabut hitam yang pekat. Abangnya ternyata punya masalah dengan Harry. Pernah bertengkar hebat hingga adu jotos di tempat nongkrong. Dan pertengkaran itu menyisakan sakit hati dan harga diri yang tercoreng bagi kedua belah pihak. Harry dan Hexel salah paham karena membela teman masing-masing yang akhirnya memancing mereka jadi ribut.


Hexa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya, berusaha menenangkan diri. Dia kini dilema, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sekarang permasalahan bukan hanya antara dirinya dan Desy tapu juga terkait abangnya dan Harry. Sungguh, Hexa benar-benar sangat kebingungan. Rasa sesak di dada membuatnya tidak bisa makan malam itu. Bik Mar juga sudah bolak-balik memanggilnya dan mengingatkan untuk makan, tapi Hexa menolak. Hatinya benar-benar sedih, baginya Harry adalah lelaki spesial yang baru pertama kali hadir di dalam hidupnya, namun abangnya juga sama pentingnya.

__ADS_1


Manalah mungkin hubungan mereka akan baik-baik saja sementara Hexel abangnya itu menolak keras. Manalah bisa Hexa mengesampingkan perasaan abangnya. Tapi bagaimana dengan perasaannya sendiri? Bagaimana dengan dirinya dan Harry?


Malam itu langit gelap gulita. Air hujan mengalir deras dari langit, seperti ikut-ikutan bersedih. Dia sempat mendengar abangnya emosi lagi di telpon. Entah tengah curhat dengan siapa. Mungkin tetangga cantik yang sempat di bicarakan abangnya saat baru pindah. Ahh... Entahlah...


Senin tiba, Hexa sudah tahu kalau dia tidak akan berangkat lagi dengan Harry. Semalaman juga dia tidak bisa tidur, menunggu pesan dari Harry. Tapi, sayangnya Harry tidak mengirim pesan atau menelponnya.


"Hoahemmm" Hexa menguap karena kurang tidur. Abangnya Hexel sudah berpakaian rapi dan turun ke bawah untuk sarapan.


"Berangkat denganku" Perintah abangnya singkat. Hexa tidak menjawab, namun juga tidak menolak. Dia yakin mulai sekarang pastilah abangnya itu akan jauh lebih protect kepadanya. Selesai sarapan, abangnya menghidupkan motornya, Hexa naik kemudian. Sepanjang perjalanan ke sekolah, abangnya itu tidak bersuara sedikitpun hanya diam saja. Hexa jadi takut, belum pernah abangnya itu seperti itu menjadi sangat dingin kepadanya. Biasanya abangnya akan sibuk sekali menggodanya dan selalu ceria, tapi tidak hari itu. Kejadian kemaren benar-benar merubah sikap abangnya.


Hexa sudah tiba di depan gerbang sekolah.


"Nanti ku jemput" Ucap abangnya singkat sebelum pergi lalu melanjutnya perjalanan ke kampusnya.


"Huffftt..." Hexa menghela nafas, hatinya menjadi sedih sekali. Hubungannya dan Harry jadi kacau begini.


Hexa melangkah pelan memasuki lorong sekolah. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada Harry. Mereka berdua saling bertatapan, namun akhirnya saling berusaha memalingkan wajah. Keduanya merasakan hati yang hancur. Harry juga sama, sejak semalam tidak bisa tidur. Sibuk merokok saja di jendela kamar sambil sesekali memandangi ponselnya. Berkali-kali berniat ingin menghubungi Hexa, tapi kemudian batal. Dia merasa bingung mau bilang apa ke Hexa. Ternyata Hexa adalah adik dari musuhnya di tempat biasa dia nongkrong. Masalah di tempat tongkrongan karena membela teman masing-masing kini sudah terbawa sampai ke masalah percintaan.


"Itu Harry Xa, kenapa 'ga bareng?" Dena yang melihat jarak antara Hexa dan Harry ikut bertanya. Hexa menggeleng lalu tertunduk.

__ADS_1


"Ada masalah" Balas Hexa singkat. Dena temannya itu mengelus punggung Hexa yang nampak sedih hari itu. Bahkan Dena sengaja menawarkan kursinya untuk Hexa agar mereka bertukar tempat duduk saja. Maksud Dena agar Hexa untuk sementara tidak dekat dulu duduknya dengan Harry, jadi tidak terganggu saat pelajaran nanti. Hexa mengangguk setuju, mungkin begitu lebih baik untuk sementara, itu pikirnya. Bell tanda pelajaran dimulai, Harry masuk ke kelas dan melihat kursi Hexa sudah ditempati oleh Dena. Harry juga melirik Hexa yang sudah bertukar duduk.


"Ahhh... Biarlah" Ucap Harry penuh kepahitan dalam hati.


__ADS_2