FALLING

FALLING
SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Hexel sudah dua hari tidak berteguran dengan adiknya. Dia masih marah dan kesal dengan hubungan Harry dan Hexa yang semakin hari justru semakin kuat. Bahkan saat berpapasan, Hexel sengaja mengalihkan perhatian agar tidak memandang wajah adiknya itu. Mama dan papa sudah berkali-kali membujuk Hexel agar segera berbaikan dengan adiknya.


"Kalian itu seperti anak ayam. Kakinya hanya dua. Jadi tolong jangan buat mama dan papa sedih kalau bertengkar-tengkar begini." Curhat mama sambil mengoles roti dengan selai srikaya saat sarapan. Hexel cuek saja, pura-pura tidak dengar. Apalagi Hexa, dia justru lebih parah, langsung berdiri dan berlalu pergi meninggalkan meja makan tanpa sarapan.


Mama dan papa yang menyaksikan tingkah laku mereka berdua cuma bisa geleng-geleng kepala. Sekarang hampir setiap hari Harry menjemput Hexa di depan pagar rumah. Sesekali Harry juga menyapa kedua orangtua Hexa, namun tidak pernah di ajak mampir ke dalam. Mungkin papa dan mama juga bingung, kalau di ajak masuk nanti Hexel akan semakin menjadi-jadi emosinya.


Ahh ... Sudahlah.


Begitu pikir kedua orangtua itu. Mereka juga sebenarnya belum kenal betul dengan Harry, tapi sejauh yang mereka lihat, Hexa selalu baik-baik saja pulang dan pergi bersama Harry.


Sepulang sekolah, Hexa langsung menuju kamar mandi dan berendam di bath-up. Harry baru saja berlalu meninggalkan rumahnya setelah mengantarnya pulang.


Hexa memainkan gelembung busa di dalam bath-up, iringan lagu Charlie Puth berjudul "Attention" terputar dari handphone-nya.


"Ahhhh... Legaa..." Tubuh Hexa mulai relaks setelah berendam. Hari ini pelajaran sangat sulit, banyak sekali tugasnya. Ponsel Hexa berdering, lagu di ponselnya otomatis mati. Panggilan masuk dari Harry.


"Hallo." Jawab Hexa


"Xa,bilang sama om, tante, nyusul ke rumah sakit sekarang!" Suara Harry terdengar buru-buru dan panik.


"Kenapa?!" Hexa spontan ikut panik.


"Hexel.... Anu, Abangmu..." Suara Harry terputus-putus.


Perasaan Hexa mulai tidak karuan begitu nama Hexel di sebut. Abangnya itu memang sejak dia pulang belum dilihatnya di rumah.


"Hexel... Di gebuk orang. Ini aku lagi antar ke RS." Sambung Harry menjelaskan. Tubuh Hexa gemetar, abangnya kini sedang tidak baik-baik saja. Dia langsung mengambil handuk yang tergantung dan bergegas berpakaian. Derap langkah Hexa besar-besar, cepat-cepat menuju lantai bawah.


"Maaa! Ma!" Teriak Hexa. Kebetulan hanya mamanya yang ada di rumah. Papanya masih kerja.


"Apa Xa?" Tanya mama ikut kaget dengan lengkingan suara Hexa.


"Abang lagi di rumah sakit. Kena gebuk orang." Kata Hexa dengan wajah ketakutan.


"APA???" Mama terkejut minta ampun. Mereka langsung menuju ke rumah sakit menyusul Harry yang barusan memberi kabar.


-----------------------"---------------------

__ADS_1


Harry menunduk dengan tangan bekas darah Hexel. Kata dokter kepala Hexel bocor, perlu di jahit. Harry sudah mengurus beberapa berkas untuk tindakan darurat, namun sebagian lagi belum karena harus menunggu keluarga.


Hexa dan mama berlari mendekat saat melihat Harry.


"Kenapa Hexel, nak?" Tanya mama cemas. Hexa juga sangat cemas dengan raut wajah ketakutan.


" Lagi di tindak Tante, kepalanya bocor, jadi mau di jahit." Jawab Harry hati-hati.


"Duduk dulu tante, kita di sini aja." Ajak Harry lembut sambil menuntun mama pacarnya itu ke kursi tunggu.


Wajah mereka pucat, sama-sama takut. Mereka bertiga menunggu sampai petugas di dalam ruang tindakan keluar dan memberi informasi tentang Hexel.


"Keluarga pasien atas nama Hexel?" Panggil seorang perawat bersama seorang dokter di sampingnya.


"Iya, saya." Jawab mama sambil berdiri dari duduknya.


"Anak ibu sudah aman. Kepalanya luka tapi sudah di jahit. Sudah boleh pulang, tapi kalau mau tunggu beberapa jam lagi juga boleh. Obatnya bisa di tebus di apotek, nanti resepnya suster Helda yang serahkan." Kata dokter sambil menunjuk perawat di sampingnya.


"Syukurlahh.." Seru mereka bertiga serentak. Raut wajah mereka yang tegang tadi seketika mulai bersinar. Setelah berterima kasih, dokter dan perawat kembali lagi ke dalam.


"Makasih ya, sayang. Kalau 'ga ada kamu, mungkin abangku akan bahaya." Ucap Hexa penuh haru. Harry mengusap kepala Hexa lalu mencium keningnya. Hexa kemudian membalas dengan pelukan.


"Ayo, kita ke dalam." Ajak Hexa. Harry menggeleng pelan.


"Kamu saja, Hexel mungkin 'ga senang lihat aku." Balas Harry sambil tersenyum tidak enak hati. Hexa terus memaksa, tapi Harry tetap menolak. Akhirnya Hexa pun masuk sendiri.


Beberapa saat kemudian, Hexa kembali lagi ke luar.


"Abang mau ketemu." Kata Hexa tiba-tiba. Harry langsung menoleh kaget.


"Iya..." Hexa tersenyum, fisaratnya ini akan menjadi awal yang baik.


Di dalam, Harry yang mengikuti Hexa dari belakang akhirnya melihat kondisi Hexel.


"Bro... Makasih banyak, kalau ga ada kamu, bisa gawat aku!" Ucap Hexel tulus sesaat setelah melihat pacar adiknya itu mendatanginya. Harry mengangguk senang, dia tahu Hexel kali ini tulus dan pasti mulai merubah cara pandang terhadap dirinya. Mama dan Hexa yang melihat pemandangan itu ikut tersenyum lega. Mereka menunggu kedatangan papa yang barusan mengabari akan segera datang ke rumah sakit.


Harry tidak pulang, dia tetap menemani Hexa. Beberapa kali tertangkap momen mereka saling pandang dan melukiskan senyum di bibir. Akhirnya hubungan mereka akan baik-baik saja. Semoga !

__ADS_1


-------------------------"-----------------------


Ponsel Harry berulang kali berdering. Sengaja dia matikan karena dia enggan menjawab telpon itu.


"Siapa?" Tanya Hexa saat menyadari gelagat Harry yang berkali-kali sengaja mematikan telponnya. Harry enggan menjawab, takut merusak suasana.


"Siapa?!" Tanya Hexa mendesak. Harry masih diam. Ketika lengah, Hexa merebut ponsel dari tangannya.


DESY...!


Wajah Hexa berubah pahit. Memang untuk kelanjutan hubungan dia dan Harry perihal keluarganya sudah beres, tapi dia lupa kalau masih ada satu masalah lagi. Ya... Keluarga Harry dan Desy. Tidak akan semudah itu meluluhkan mereka agar membiarkan hubungan ini tetap berjalan. Apalagi kalau sudah menyangkut Desy.


"Tenanglah..." Kata Harry saat melihat ekspresi wajah Hexa. Tapi Hexa tetap gelisah, dia tahu kalau ini tidaklah mudah.


"Apa aku akan di terima?Kau kan tahu sendiri, orangtua kalian berdua sudah saling kenal!" Ucap Hexa tidak yakin dengan posisinya. Harry mengerutkan dahi.


"Ayolah Xa, jangan mudah menyerah. " Balas Harry yang agak kesal karena Hexa mulai merusak suasana.


"Menyerah? Maksudmu apa!" Hexa mendadak jadi emosi.


Dia kesal, kenapa perkataan Harry justru tidak menghiburnya, malah memancing suasana jadi panas.


"Maksudku? Kan, kau yang selalu begini kalau soal hubungan kita, iya kan? Sebentar lagi minder, sebentar lagi menghindar!" Ucap Harry panjang lebar.


Hexa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Harry. Dia justru semakin kecewa karen Harry tidak bisa memahami isi hatinya. Hexa bangkit dari duduknya, berusaha menjauh dari Harry.


Tangan Hexa di tarik. Harry menahan Hexa yang sudah mau pergi.Harry duduk dengan kepala agak tunduk, sedangkan Hexa sudah bangkit berdiri.


Harry kemudian mengangkat wajahnya, menatap Hexa dengan pandangan yang dalam. Kedua matanya yang biasanya garang mendadak sendu. Kedua bola matanya berkaca-kaca, tampak kesedihan di sana.


"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Jangan." Pinta Harry dengan suara parau, seperti meminta kekuatan.


Hexa terpukul, seperti sebuah pisau tajam menghujam ke jantungnya. Dia merasa kalau dirinya tidak seharusnya bersikap emosi kepada Harry, apalagi Harry selalu saja bersikap baik kepadanya dan keluarganya. Hatinya ikut remuk melihat kekasihnya itu bersedih dengan suara memohon agar dirinya tidak pergi.


Hexa spontan langsung kembali duduk di samping Harry, di peluknya Harry dengan erat. Tubuh Harry tenggelam di dadanya. Mereka berpelukan lama sekali, tidak peduli lagi dengan sekitar.


"Aku tidak akan pernah pergi. Tidak akan." Bisik Hexa ke telinga Harry.

__ADS_1


__ADS_2