
Hexa mulai sadar, kepalanya masih terasa berat, namun sudah mulai berkurang sedikit demi sedikit. Tepat sesaat setelah dia mampu melihat sekitarnya, seseorang keluar dari pintu UKS. Hexa tidak tahu itu siapa, hanya saja dia melihat jelas ada seseorang selain dia di ruangan itu tadi.
"Sudah baikan, Xa?" Tanya suster Monik yang merupakan perawat di sekolah dan bertugas di ruang UKS. Suster monik memegang kening Hexa yang tadi dikompresnya, panas badan Hexa sudah turun. Rupanya selain sakit kepala, Hexa juga demam.
"Sudah sus, emmm... Itu..." Kata Hexa yang kemudian sedikit ragu melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa, Xa?" Tanya suster Monik.
"Em... Siapa yang bawa saya ke sini, sus?" Tanya Hexa melanjutkan kalimatnya. Suster Monik tidak menjawab, hanya tersenyum simpul. Lalu menuntun badan Hexa kembali ke posisi baring.
" Istirahat lah dulu sebentar lagi ya, biar segar." Kata suster Monik yang kemudian kembali lagi ke mejanya dan merapihkan beberapa obat-obatan di dalam kotak. Hexa berbaring lagi, menatap ke langit-langit ruang UKS, dia masih merasa lemas. Sementara di kelas, Harry sudah kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan pelajaran setelah menggotong tubuh Hexa ke UKS.
"Jangan bilang ke Hexa, ya sus, kalau saya yang mengangkatnya ke sini." Pinta Harry sebelum meninggalkan ruang UKS. Suster monik meng-iyakan.
Harry tidak mau, jika Hexa nantinya tidak enak hati atas pertolongannya itu. Dia ingin bisa lekas biasa saja dengan Hexa, dia ingin lupa dengan perasaannya ke Hexa, cepat atau lambat.
--------------------"--------------------------
Hexa sudah dijemput Hexel, abangnya itu sudah sedari tadi menunggu di halaman sekolah. Hexa diijinkan pulang duluan dan beristirahat dirumah karena kondisinya yang tidak enak badan.
"Nanti, sampai dirumah kalau masih lemas bawa ke dokter ya..." Begitu pesan suster Monik sambil membantu Hexa turun dari tempat tidur UKS. Hexa mengangguk lalu berjalan pelan menuju ke tempat abangnya sudah menunggu. Dari jendela kelas yang berhadapan langsung dengan halaman sekolah, Harry menatap Hexa yang berjalan menghampiri motor Hexel, abangnya. Dua yakin Hexa akan baik-baik saja setelah beristirahat di rumah, semoga.
"Katanya kamu sakit?" Abangnya yang melihat adiknya itu berjalan ke arahnya langsung bertanya.
"Ah... Cuma 'ga enak badan, biasa." Jawab Hexa. Hexel memegang kening adiknya itu dan terasa agak hangat.
"Konsul aja ke dokter." Kata Hexel lagi. Hexa menggeleng.
"Pulang saja..." Balas Hexa sambil naik ke atas motor.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, seisi rumah sepi. Hexa perlahan menuju kamarnya, abangnya Hexel menyusul dari belakang, sekedar memastikan adiknya itu baik-baik saja.
"Bik...Bik... Bawa air hangat." Hexel berteriak dari kamar atas.
"Iya, den..."
Bik mar yang langsung menoleh ke atas tangga menjawab dan lekas ke dapur untuk membawakan segelas air hangat.
"Tidur,lah, malam ini jangan keluyuran. Makanya kalau capek, istirahat." Kata Hexel sambil menarik selimut ke badan adiknya.
"Abang balik aja lagi ke kampus, kan ada Bik Mar..." Hexa yang melihat abangnya masih menemaninya itu meyakinkan kalau dia tak apa ditinggal bersama bik Mar saja. Hexel kemudian mengangguk dan keluar dari kamar adiknya, kembali menuju kampus.
---------------------------"-------------------‐
Kelas sudah bubar, Harry berjalan menuju parkiran motor.
"Bro, masih marah sama aku?" Amos yang sengaja menunggu Harry di situ menyapa Harry yang sengaja buang muka.
"Anak-anak pada kumpul sore di markas. Jangan lupa datang." Kata Amos. Harry hanya membalas senyum. Dia tahu Amos dan dirinya adalah teman baik sejak dulu. Meskipun Amos sempat membuatnya kesal, tapi teman tetaplah teman.
Harry kembali teringat dengan Hexa yang pingsan di kelas tadi. Dia cemas juga tapi tidak berani untuk menghubungi Hexa. Kini, dia dan Hexa seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Tidak menyapa dan tidak lagi memberi kabar.
Ponsel Harry berbunyi, telpon dari Desy.
"Hallo" Jawab Harry.
"Hallo, Ry, tolong antar aku ke rumah donk, supir 'ga bisa jemput, mobil mogok." Desy yang sudah biasa merepotkan Harry to the point minta di antarkan pulang.
"Ya..." Sahut Harry singkat saja. Dia mungkin merasa butuh pengalihan, dan dia merasa bisa lupa dengan Hexa saat bersama Desy, dia harap begitu.
__ADS_1
Desy bahagia, wajahnya berseri-seri. Sekian lama menjalin kasih dengan Harry, baru kali ini Harry tidak banyak alasan ketika di minta untuk menjemputnya. Permasalahan Harry dengan Hexa sedikit banyak membantunya untuk lebih sering intens bertemu dengan Harry. Dia berharap agar Harry akhirnya lupa dengan Hexa dan kembali jatuh ke pelukannya. Dia tidak bisa hidup tanpa Harry, walau bibirnya selalu berkata bisa, namun ternyata tidak.
"Hai, sayang, makasih udah datang." Desy menyambut Harry yang sudah datang dengan motor untuk menjemputnya. Senyumnya melebar. Harry juga dengan setengah hati membalas senyuman Desy.
"Nanti ikut aku ke markas. Mungkin anak-anak juga udah rindu kamu." Begitu kata Harry setelah Desy naik ke motornya. Desy langsung mengencangkan pelukan.
"Iya! Mau!" Jawab Desy penuh semangat.
--------------------"------------------
Hari itu sepanjang waktu Desy habiskan bersama Harry. Dia juga ikut ke markas dan menghabiskan waktu dengan teman-teman Harry. Memang sejak dulu, Desy sudah akrab dengan semua teman Harry di tongkrongan. Desy mudah berbaur, juga mudah beradaptasi dengan keluarga Harry. Berbeda dengan Hexa yang tertutup dan sulit akrab. Dari segi koneksi, Desy-lah yang paling cocok dengan Harry. Namun, dari segi perasaan, Jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Hexa masih menjadi pemenang di hati Harry.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Harry sudah menghantar Desy pulang. Kini dia sudah tiba di rumahnya. Dia masih menggenggam ponselnya, ragu untuk menghubingi nomor Hexa. Tapi sejak siang tadi hingga kini, hatinya tersiksa oleh rasa cemas. Dia ingin tahu kabar Hexa. Pikirannya selalu tertuju pada Hexa, sampai-sampai tidak konsentrasi diajak bicara oleh teman-temannya.
Setelah mengalami perdebatan antara gengsi dan rasa cemas akhirnya Harry memutuskan untuk menghubungi nomor Hexa.
Tersambung...!
"Hallo." Jawab Hexa.
"Hallo, ini aku." Balas Harry dengan suara yang dalam.
"Iya aku tahu...."Balas Hexa. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Lidah Harry serasa kelu untuk melanjutkan. Ditahannya kalimatnya agar tidak terlalu berlebihan.
"Hiks...Hiks..." Tiba-tiba Hexa menangis. Air mata yang dia tahan akhirnya luruh bersama pedihnya hati. Harry ikut sedih, suaranya tenggelam bersama tangisan Hexa. Dia tahu kalau gadis yang di cintainya itu sedang terluka. Sedang tidak baik-baik saja.
"Sudah... Jangan menangis sayang, kita pasti bisa melalui ini. Aku minta maaf karena sekarang kondisi kita jadi begini." Harry menyalahkan dirinya.
"Tidak, ini karena kita berdua. Bukan karena kau saja, Ry." Jawab Hexa. Dia tidak bisa menyembunyikan isi hatinya yang tidak bisa lepas dari Harry. Meski menahan diri untuk tidak lagi saling berhubungan satu sama lain, namun akhirnya mereka menyerah. Rasa cinta yang teramat dalam kembali memanggil mereka untuk bersama, selalu.
__ADS_1
Malam itu Hexa dan Harry berjanji bahwa apapun rintangan dan tantangan yang akan mereka hadapi, mereka berdua tidak akan saling melepaskan. Mereka akan saling berpegangan tangan bersama, selamanya...
Suara Harry menjadi penghantar tidur Hexa, badannya sudah enakan. Harry adalah obat baginya, dia siap untuk menghadapi hari esok dengan lebih berani dan bersemangat.