
BRAKKK!
Ada suara keras terdengar dari kamar Hexel, lantas Hexa mendadak terbangun. Dia mengucek matanya berkali-kali. Rasanya baru saja dia terlelap, sekarang sudah kaget dengan suara yang sangat keras. Hexa bangun dan membuka pintu kamarnya.
Duk...duk...duk...
Langkah kaki terdengar tergesa-gesa. Hexa yakin abangnya itu baru saja keluar kamar.
Brummmm brummmm...!
Tepat sekali, bunyi suara motor Hexel. Hexa lantas melirik jam dinding di kamar.
Jam 02.00 subuh, matanya terbelalak. Mau kemana sebenarnya abangnya itu pergi. Tapi karena masih terasa sangat ngantuk, Hexa kembali ke kamarnya dan tertidur.
Esok paginya Bik Mar terdengar tergesa-gesa membangunkan Hexa.
"Non...Non...bangun" Bik Mar bolak balik mengetuk pintu agar Hexa lekas bangun.
"Hoahemmmm... Iya bik..." Sahut Hexa dari dalam. Hexa keluar kamar lalu mendapati kecemasan dari wajah Bik Mar.
"Anu... Anu non... Den Hexel...." Suara Bik Mar terputus. Hexa mulai curiga sesuatu pasti terjadi.
Tanpa menunggu penjelasan Bik Mar Hexa lekas menuju lantai bawah dan melihat abangnya Hexel yang pagi ini sudah duduk sambil bersadar di kursi depan.
Mata Hexa melotot, abangnya memar-memar. Hexa lekas duduk di samping abangnya yang pipinya nampak lebam.
" Kenapa bang?" Kata Hexa bertanya dengan nada cemas. Abangnya itu tak menjawab.
"Kenapa??" Tanya Hexa lagi.
"Berhantam sama si Ba***at!" Jawab Hexel emosi. Hexa sudah tau, sudah yakin sekali, abangnya pasti sudah adu jotos dengan Harry. Hexa pasrah, dadanya sesak. Pantas saja abangnya itu jam 02.00 pagi sudah ngacir entah kemana. Rupanya dia dan Harry bertemu untuk berkelahi.
"Kenapa sih? Kenapa harus gini, bang?" Hexa sedih, kepalanya tertunduk.
"DIA YANG SALAH! DIA YANG SALAH!" Hexel terdengar semakin emosi sambil menyudutkan Harry.
"Iya... Masalahnya apa? Kalian berdua sebenarnya kenapa??" Hexa lanjut bertanya.
"Dia sok jago kalau di depan orang-orang. Abangmu itu Sombong!" Kata Hexel sambil mengompres pelan wajahnya yang nampak mulai bengkak. Hexa menekan sengaja menekan wajah Harry.
__ADS_1
"Awww!" Teriak Harry.
"Dia abangku!" Balas Hexa sedikit protes.
Hexel abangnya memang jago berkelahi. Untuk membela teman-temannya dia rela pasang badan entah temannya benar atau salah. Harry juga sama, meski tanpa temannya pun dia adalah pemberani. Keduanya sebenarnya mirip secara karakter, hanya saja terlanjur bermasalah satu sama lain.
Hexa lekas menelpon Harry meninggalkan abangnya setelah membantu mengompres.
"Hallo." Jawab Harry.
" Kamu dimana??" Tanya Hexa cemas.
"Di markas." Jawab Harry singkat. Suara Harry sengaja di buatnya tenang dan biasa saja.
"Kamu kelahi lagi sama abang?" Tanya Hexa makin cemas.
"Ya." Jawab Harry pelan. Hexa menghela nafas mendengar jawaban Harry.
"Aku kesana sekarang." Kata Hexa lagi.
"Jangan, nanti aja. Lagian mau naik apa? Aku 'ga apa-apa. Kamu berangkat sekolah aja" Kata Harry berusaha meyakinkan Hexa tentang kondisinya. Hexa tidak percaya, dia sebenarnya tahu Harry meringis, meski Harry berusaha menyembunyikannya.
"Aku bisa naik angkot. Tunggu aku." Kata Hexa yang kemudian menutup telpon dan lekas menghambat angkot menuju tempat Harry berada.
Suasana sekitar Markas sepi. Hexa mendorong pintu dan mencari Harry. Di atas sofa Harry sudah terbaring dan meringis kesakitan .
"Astagaaa!" Hexa cepat mendekat ke Harry.
Harry masih meringis, kedua bawah matanya lebam. Ada beberapa luka juga di kedua sisi tangannya, bajunya juga kotor sekali. Sejak subuh tadi rupanya dia sudah berada disitu setelah perkelahian dengan Hexel. Kondisi harry lebih parah dari Hexel. Harry bilang ke Hexa kondisinya babak belur karena dia sengaja tidak melawan pada awalnya, namun karena serangan Hexel yang bertubi-tubi akhirnya Harry pun membalas. Jadilah mereka berdua bergulat di tanah.
"Kenapa bisa berkelahi lagi dengan abang? Subuh-subuh pula. " Tanya Hexa sambil mengusap kepala Harry yang masih terbaring lemas.
"Dia nepon, lalu ngajak ketemuan sambil marah-marah. Dia maksa kita putus, ya ogahlah!" Harry menjelaskan dengan wajah kesal. Dia sudah berusaha agar tidak melawan abang dari kekasihnya itu, namun Hexel malah semakin menjadi yang akhirnya membuat suasana semakin runyam.
Hexa tertegun, dipandanginya wajah Harry yang lelah dan kusut. Dia kasihan pada Harry tapi juga kasihan pada abangnya sendiri. Harry memegang tangan Hexa yang melintang ke dadanya, di kecupnya tangan Hexa mesra. Hexa masih memandang Harry, wajah tampan yang dia sayangi. Hexa mendekatkan wajahnya ke wajah Harry, menuju ke bibirnya dan mengecupnya lembut. Harry membalas ciuman Hexa, mereka berdua larut dalam ciuman yang dalam dan panjang. Harry kemudian memeluk Hexa masih dalam posisi terbaring. Hexa tenggelam dalam tubuh Harry yang masih kotor karena jejak-jejak tanah.
"Kita harus gimana? " Tanya Hexa masih dalam dekapan Harry.
"Entahlah..." Jawab Harry yang nampak enggan melepaskan pelukan mereka berdua.
__ADS_1
1 jam, 2 jam, 3 jam, dst ....
Mereka menghabiskan waktu berdua di dalam ruangan yang Harry sebut markas itu. Hexa juga mengompres luka-luka di wajah Harry dan lengannya dengan obat seadanya yang ada di situ. Tak lupa dia memasak semangkok mie instant dan telur yang ada di dalam lemari dapur dengan alat masak yang kebetulan lengkap juga disitu.
Harry senang, dia bahagia setidaknya meski dia sekarang meringis sakit tapi Hexa ada dengannya. Hexa ada untuk memeluknya, mengecup bibirnya dan mengusap rambutnya, dia bisa dengan bebas bermanja kepada pacarnya itu.
"Peluk...." Kata Harry manja saat baru selesai menghabiskan semangkok mie yang ada di mangkok. Hexa tersenyum lebar, dia tahu Harry lagi kesempatan ingin bermanja. Hexa mendekat dan mereka berpelukan.
"Udah 'ga sakit kan?" Tanya Hexa yang sengaja memancing Harry agar lekas sembuh.
"Masih sakit..." Kata Harry mencegah Hexa untuk pergi .
"Isssss..." Hexa mengusap-usap kepala Harry yang semakin manja saja mencari perhatiannya.
Mereka berjanji untuk berjuang demi hubungan mereka. Semoga tidak semakin runyam seperti sekarang. Hexa meminta Harry agar sabar dan lebih menahan diri terhadap perlakuan abangnya, begitu juga dengan Harry yang meminta Hexa sabar terhadap penolakan dari orangtuanya nanti.
"Jika kita bersama, aku akan selalu baik-baik saja." Ucap Harry meyakinkan Hexa.
"Aku juga." Balas Hexa dengan nada suara lirih.
Hari itu sepanjang waktu mereka habiskan berdua. Tidak ingin rasanya berpisah meski itu hanya sebentar saja. Ponsel milik mereka sudah berdering berulang kali mencari-cari keberadaan kedua sejoli ini. Tidak satupun mereka menjawab panggilan itu, dengan sengaja mereka alihkan.
Aku ingin kita bersabar,
Seperti ketika sang fajar muncul di pagi hari,
Meski perlahan namun pasti akan tiba
Aku ingin kita berjuang,
Saling bersama dalam kesesakan dan kepenatan
Jangan biarkan Romeo berjuang sendiri tanpa Juliet,
Jangan biarkan Juliet sepi tanpa Romeo
Bawa aku ke tempat di mana kita bisa lari bersama
Melakukan hal-hal rahasia yang tak bisa di tunjukkan di depan banyak orang
__ADS_1
Bawa aku selalu dalam saku bajumu, dekat dengan dadamu
Bawa aku disitu....