
Desy dan Harry saling menatap. Keduanya membisu untuk beberapa saat.
"Aku antar kamu pulang..." Harry setelah beberapa saat akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Tapi, karena dia melihat Desy sendiri juga menunggui nya tenang, dia akhirnya memutuskan untuk mengantar Desy.
Ekspresi Desy agak kaget karena di tawari untuk di antar pulang oleh Harry. Bagi Desy itu spesial meski bagi Harry itu adalah kewajaran saja karena dia merasa masih bertanggungjawab mengantar pulang, karena dialah yang menyuruh Desy datang ke tempat itu.
"Iya!" Kata Desy semangat sekali. Gadis cantik itu naik ke atas motor Harry. Dari boncengan belakang di tatapinya punggung Harry yang dulu adalah miliknya. Dia merasa sedih, sekarang Harry sudah tidak lagi ingin bersamanya. Di depan rumahnya Desy turun, baru saja hendak berpamitan ke Harry tiba-tiba mamanya membuka pintu dan melihat kedatangan Harry.
"Harry?? Aduhhhh lama sekali tidak main kesini, ayooo masukkk, tante kangen sekali lohh..." Mama Desy menyambut Harry dengan sangat senang . Memang mama Desy sibuk juga sehingga sering menghabiskan waktunya di tempatnya praktek, beliau adalah seorang dokter.
Harry yang sudah tidak enak hati dan sulit menghindar akhirnya terpaksa menjawab. Sekedar untuk menjaga kesopan santunan
"Iya, tante, apa kabar?" Kata Harry sopan.
"Aduhh, makin cakep yaa calon mantu tante ini, ayoo masuk, masuk..." Kata mama Desy berulang kali sambil merangkul pundak Harry yang masih di atas motornya. Harry pun jadi ikut masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan motornya. Dia di rangkul oleh mama Desy hingga ke dalam, Desy yang melihat pemandangan itu luar biasa senang. Ada rasa bahagia yang sudah lama sekali ingin kembali dirasakannya. Ya, kebahagiaan saat Harry berkumpul dan berbaur lagi dengan keluarganya.
"Apa kabar mama papa? " Mama Desy mulai sibuk mewawancara Harry dengan semangat. Tangan Harry masih di genggamnya, dia semangat sekali. Desy masuk ke dapur dan meminta ART nya untuk menyediakan hidangan dan minuman ke ruang depan. Mereka bertiga berbincang cukup lama. Harry pun melirik jam.
"Aduh tante, Harry pamit dulu," Harry meminta ijin pamit. Mama Desy mengangguk, Desy mengantarkan Harry sampai ke depan pinth rumah.
"Aku senang, akhirnya bisa melihat mama berbincang lagi denganmu..." Desy tersenyum. Harry tidak menjawab apapun, dia melihat wajah Desy yang berseri. Tapi Harry justru gelisah, raut wajahnya kusut sekali. Dia masih teringat dengan Hexa yang tadi malah meninggalkannya dengan Desy. Harry kecewa, dia berharap Hexa tidak seharusnya melakukan itu. Tidak pernah.
Harry mengecek ponselnya, tidak ada pesan sama sekali dari Hexa. Bahkan untuk sekedar bertanya apakah dirinya marah atau tidak ditinggalkan Hexa berdua dengan Desy saja tidak ada. Kini, Harry merasa Hexa tidak serius tentang hubungan mereja berdua. Harry merasa Hexa tidak benar-benar ingin berjuang bersamanya.
__ADS_1
Jam dinding kamar menunjukkan pukul 12.00 WIB. Harry masih terpaku menatap langit-langit kamarnya. Suasana sepi, hanya terdengar bunyi detak jarum jam dinding di kamar. Matanya enggan terpejam, dia tidak ngantuk sama sekali. Sulit dia bayangkan bagaimana besok dia akan bertemu dengan Hexa di kelas. Dia masih merasa marah dan kecewa, rasanya enggan untuk melihat wajah Hexa.
"Akhh! Untuk apa aku memikirkannya? Dia saja tidak memikirkan aku. Bisa-bisanya dia mendadak pergi begitu saja, padahal pergi berdua, lalu pulang sendiri?!" Gumam Harry kesal sekali. Dia berpikir kalau Hexa pasti sudah biasa memperlakukan orang lain sesukanya.
Sementara di kamarnya, Hexa tertunduk di meja belajar kamarnya, air matanya mengalir perlahan dari sudut matanya. Dia tidak tahu harus memulai dari mana jika dia menghubungi Harry. Dia sadar kalau dia seharusnya tidak pergi begitu saja meninggalkan Harry. Tapi, dia terlalu malu untuk menatap wajah Desy saat itu. Dia merasa kalau dia adalah perusak hubungan Desy dan Harry. Hexa merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh Desy, diperlakukan dengan sangat baik.
Ponsel Hexa berdering, nama Harry tertera.
"Hallo?" Jawab Hexa. Suara di seberang sana hening, belum ada balasa dari Harry untuk beberapa saat.
"Hallo... Ini aku." Balas Harry beberapa saat kemudian.
"Iya, kenapa Ry?" Tanya Hexa sedikit takut dan tidak enak hati karena tidak enak hati.
"Besok aku tidak lagi menjemputmu, dan kurasa kita harus jujur saja dengan kondisi hubungan ini yang mulai tidak sejalan, mungkin mulai besok kita tidak usah lagi berhubungan. Aku tahu sekarang, kalau hubungan kita ini sejak awal sudah merupakan permainan bagimu. Aku merasa tidak ada lagi yang perlu kita perjuangkan. Aku cukup tahu diri untuk tidak lagi mengganggumu. " Suara Harry terdengar sangat parau, dia menahan emosi di dada. Hexa terpaku, dia seperti menelan ribuan beling ke tenggorokannya, lehernya tercekik, sulit lagi bicara. Setelah beberapa saat dia tidak menjawab apapun, Tiba-tiba...
Telpon terpurus. Bukan tanpa sengaja, Harry-lah yang duluan mematikan telonnya. Hexa masih enggan menjawab.
"Harry pasti marah denganku. aku terima, akulah yang salah. " Begitu suara hati Hexa yang terdengar sangat lirih. Dia pun sama, merasakan sakit atas akhir hubungan yang kini tengah dijalani dia bersama Harry.
------------------------"---------------------
Hari ini Hexa berangkat dengan abangnya Hexel. Sejak pagi Hexa sudah siap dengan pakaian seragamnya dan berdiri mematung di depan pintu kamar abangnya yang belum terbuka.
__ADS_1
"Antar..." Kata Hexa saat abangnya keluar masih dengan muka bantal, karena bangun tidur.
"Loh? Tumbennn..." Jawab Hexel, tapi dia senang. Kalimatnya tidak dilanjutkannya , dia lekas berburu mandi dan siap-siap untuk sarapan.
Hexel besiul-siul di meja makan, bukan tanpa alasan. Tanpa susah payah dia akhirnya bisa melihat adiknya itu jauh dari Harry, lelaki yang kurang dia sukai. Sementara Hexa wajahnya layu, hatinya sakit. Tapi, entah kenapa air matanya tidak mengalir sejak semalam, dia tidak menangis. Hanya saja setiap kali dia bernafas, terasa sesak sekali di dada.
Hexa naik ke atas motor, motor Hexel melaju menembus udara dingin pagi itu.
"Jangan pulang sendiri! Nanti aku jemput." Kata Hexel. Baru saja hendak pergi, Hexel menoleh ke arah kanan, ada Harry di sana, menatap mereka dengan wajah yang dingin. Ada kemarahan, namun dipendam. Harry kemudian berlalu tanpa menyapa, dia marah.
Harry yang duluan masuk ke kelas sudah duduk di kursinya, sementara Hexa menyusul kemudian. Kelas sudah ramai, beberapa teman-teman lain seperti biasa sibuk dengan dunia mereka sendiri. Sementara dari bangku masing-masing Hexa dan Harry membatu. Sangat kaku. Keduanya merasakan suasana yang berubah dingin di antara mereka. Hati keduanya sakit karena itu, namun mereka tetap membisu.
Sepanjang pelajaran Hexa tidak bisa konsentrasi, kepalanya pusing. Mungkin dia kurang tidur karena pikirannya sejak semalam tidak tenang. Dia kemudian melangkah ke depan kelas, permisi kepada guru mata pelajaran Kimia untuk istirahat di ruang UKS.
"Bu, ijin ke UKS, kepala saya pusing." Kata Hexa sesaat setelah berdiri di depan gurunya.
"Iya Hexa, istirahat saja," Jawab Bu guru yang sejenak berhenti menulis rumus-rumus di papan tulis dan mempersilahkan Hexa untuk keluar kelas.
Baru saja kakinya melangkah menuju ke pintu kelas, matanya mulai berkunang, kepalanya sangat berat.
BRUKKKKKGHHH!
Hexa terjatuh, badannya roboh dekat pintu. seisi kelas riuh, langsung ramai. Beberapa teman yang duduk di bangku depan berusaha mengangkat kepala Hexa dari lantai.
__ADS_1
"Biar aku bawa..." Sebuah suara samar-samar masih mampu di dengan Hexa yang matanya sudah terpejam itu.
"Iya Harry, bawa Hexa ke UKS , cepat!" Perintah Bu guru kemudian. Harry mengangkat badan Hexa yang terkulai. Langkahnya cepat menuju UKS sekolah. Dia cemas, gadis yang kini tubuhnya di angkatnya itu sangat pucat. Dia masih sayang pada Hexa, dia masih cinta.