
Hampir sejam lebih kedua sejoli itu menunggu lorong-lorong sekolah sepi. Maksud hati agar tidak ada kejadian seperti saat Amos teman Harry yang memergoki mereka berdua datang bersama. Kali inipun Harry dan Hexa sama-sama menghindari pandangan curiga teman-teman lain kalau mereka pulang bersama kali ini.
Harry duluan berjalan menuju parkiran motor, sementara Hexa menyusul beberapa menit kemudian. Lorong selolah tampak sudah sepi, hanya beberapa siswa lagi yang kebetulan bukan teman sekelasnya masih berdiri membaca mading sekolah. Hexa berusaha berjalan sewajarnya meski beberapa kali dia tanpa sengaja menunduk.
Di parkiran Hexa sudah melihat Harry dengan motornya yang sudah hidup. Cepat-cepat Hexa mendekat dan naik ke atas boncengan. Dia menundukkan kepalanya sedikit ke arah bahu Harry. Harry menarik gas motornya dan mereka berboncengan meninggalkan halaman sekolah.
Sementara di sudut lain, dekat dengan lapangan basket, Amos melihat kebersamaan mereka tanpa sengaja. Mungkin mereka tidak menyangka kalau sedari tadi Amos belum pulang. Dengan cepat Amos mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu memotret mereka sesaat sebelum keluar dari gerbang sekolah.
"Dapat..." Guman Amos sambil tersenyum penuh arti. Amos dengan sengaja menyimpan foto itu sebagai bukti. Di raihnya ranselnya yang tergeletak di bawah pohon rindang dekat tiang ring basket, lalu beranjak pergi menuju ke arah mobil yang sudah menjemputnya.
-------------------"--------------‐-
Desy geram, sudah berkali-kali dia berusaha menelpon Harry namun di riject. Dia benci jika Harry kembali cuek dengannya, apalagi kali ini dia sudah punya bukti kuat bahwa Harry sedang mendekati seorang gadis , teman sekolahnya. Kabar itu sudah pasti akurat! Siapa lagi yang bisa dipercayainya selain Amos? Ya... Amos langsung mengirim foto itu dari ponselnya kepada Desy dari dalam mobil sepulang sekolah.
"Des... Ini cowo mu... Lagi main api"
Begitu pesan singkat yang Amos kirim kepada Desy. Bukan main kesalnya Desy melihat foto itu. Namun kini saat Desy ingin meminta klarifikasi dari kekasihnya, dia justru mendapatkan penolakan berkali-kali karena panggilan telponnya sengaja di putus.
Di tempat lain motor Harry barusan sampai di depan rumah Hexa. Hexa turun dari motor.
"Makasih, ya, Ry " Ucap Hexa sambil curi-curi pandang ke Harry. Harry mengangguk sambil senyum. Selang beberapa saat Harry sudah berlalu pergi. Di ujung jalan Harry sengaja berhenti, lalu lekas mengambil ponselnya yang berulang kali berdering meski sudah di riject nya.
__ADS_1
"Hallo..." Jawab Harry.
"Hallo, kamu kemana aja, sih, sayang? Aku bolak balik nelpon malah di matikan, kamu lagi dengan siapa? Lagi di mana?" Suara Desy meninggi. Rasa kesal dan curiga sudah bertumpuk jadi satu.
"Aku lagi di jalan, kenapa nelponin terus, bahaya di jalan angkat telpon" Balas Harry mulai risih.
Desy menghela nafas berat, lalu menghembuskannya perlahan, dia tak ingin perbincangannya kali ini dengan kekasihnya berakhir pertengkaran berkepanjangan.
"Amos kirim sesuatu" Lanjutnya setelah agak tenang. Harry langsung tau kemana arah perkataan Desy ini. Dia sudah yakin kalau Amos temannya itu sedang menusuknya dari belakang. Amos memang sudah lama naksir Desy, hanya saja Desy selalu saja mengejar dirinya dan menolak cinta Amos.
"Kirim apa?" Tanya Harry pura-pura tidak tahu.
" Fotomu berboncengan dengan teman perempuan, dia sakit? Makanya di antar?" Desy berusaha mencari jawaban sendiri karena dia tidak siap menerima jawaban lain selain itu. Dia tidak bisa menerima kalau-kalau jawaban Harry nanti berbeda.
"Ya... Sudah sayang, kalau sudah selesai antar dia, cepat pulang, istirahat jangan lupa makan" Tutup Desy berusaha menutupi gundah hatinya. Harry tak menjawab. Percakapan perlahan kosong lalu telpon terputus.
Harry kembali menyalakan mesin motornya lalu memacu kendaraannya dengan cepat. Hembusan angin yang kencang berkali-kali menyingkap jaket yang di pakainya. Sementara dari tempat lain, Desy dengan mata berkaca-kaca berusaha untuk sabar dan menutupi luka di hati. Dia sebenarnya tahi, Harry pastilah memiliki affair dengan wanita yang ada di dalam foto itu, tapi dirinya berusaha membuang jauh-jauh prasangka itu karena tidak siap dengan kenyataan pahit nantinya. Dia tidak bisa kehilangan perhatian Harry, dia tidak terbiasa...
---‐-----------------"----------------
Harry sedikit kaget, saat masuk kedalam rumah, mamanya sudah menyambutnya dari dalam.
__ADS_1
"My darling..." Mama memeluk Harry. Harry membalas pelukan mamanya dengan hangat.
" Tumben ma? awal bulan sudah di rumah?" Tanya Harry sambil duduk di kursi tamu depan .
"Iya, proyek yang di Bali bisa di atasi papa, jadi mama pulang sebentar " Kata mama sambil sesekali mengusap rambut anak semata wayangnya itu. Harry bersandar di kursi, mengusap wajahnya beberapa kali untuk menghilangkan penat.
"Gimana kabar Desy? Kapan kita makan bareng lagi?" Sambung mama sambil menatap Harry lembut. Harry menoleh ke arah mamanya, rasanya dia enggan sekali melanjutkan hubungan palsu dan sepihak ini. Tapi, seperti biasa, mulutnya selalu terkunci untuk protes.
"Kapan-kapan lah ma. Lagi malas" Jawab Harry lalu meninggalkan mamanya di ruang ramu depan, Harry langsung masuk ke kamarnya, mengunci pintu kamar dan langsung menuju kamar mandi.
Hexa menatap layar ponselnya. Dia seperti menunggu sesuatu, ya... Menunggu kalau-kalau Harry akan menelponnya atau setidaknya mengirim pesan ke ponselnya. Tapi belum ...
Hexa melamun, pikirannya sejak beberapa jam lalu selalu tertuju pada Harry. Entah kenapa pria tampan dan agak menyebalkan itu selalu mondar-mandir dipikirannya.
"Wajah tampan, tapi menyebalkan, rambut berantakan tapi pintar..." Hexa tanpa sadar bergumam tentang Harry.
Ponsel Hexa berdering sekali. Satu pesan masuk.
"Hai...ini Aku, Harry...lagi apa?"
Hexa membaca pesan dari nomor baru dan itu adalah nomor Harry. Dia tersenyum lebar, sulit menyembunyikan isi hatinya yang sudah hampir meledak karena rasa senang . Hexa berkali kali berguling-guling di tempat tidur karena bahagia akhirnya Harry mengirim pesan juga.
__ADS_1
"Hai, lagi duduk aja...kamu?" Balas Hexa sambil tersenyum-senyum salah tingkah.
Sepanjang malam Harry dan Hexa larut dalam ponsel mereka masing-masing. Mereka sama-sama antusias satu sama lain. Malam itu udara malam terasa dingin, selepas hujan tadi sore. Namun tidak begitu dengan hati dan perasaan kedua sejoli itu. Mereka terasa begitu hangat, tidak sabar rasanya menunggu pertemuan esok hari di sekolah. Ada rasa gugup bercampur senang yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi untuk Hexa, gadis yang berkali-kali harus merasakan kesulitan bersosial karena selalu berpindah-pindah sekolah. Baru kali ini dia mulai merasa semangat di sekolah yang baru. Dan itu semua karena Harry...