
Hati Hexa sakit, begitu juga dengan Harry. Sepanjang jam pelajaran tidak ada tegur sapa apalagi saling menatap dengan dalam seperti kemarin-kemarin. Manalah mungkin sebuah hubungan akan berjalan lancar kalau masalah terlalu sulit untuk mereka atasi. Pertama tentang restu dari orangtua Harry dan yang kedua adalah restu dari abangnya sendiri, Hexel. Hexa yang saat itu baru pertama kali merasakan cinta, merasa sungguh putus asa. Dia berusaha keras untuk tetap konsentrasi pada pelajaran yang di terangkan wali kelasnya, pak Pantun tapi gagal. Air matanya sudah hampir keluar, matanya terasa pedas. Sementara di tempat duduknya, Harry juga sedang berpikir dengan keras bagaimana cara agar hubungannya dan Hexa tetap berlanjut.
"Aku mau bicara" Begitu kata Harry setelah jam pelajaran usai. Hexa tidak bisa menghindar. Di ikutinya Harry yang duluan keluar kelas setelah teman-teman lain berpulangan.
"Aku benar-benar suka kamu Hexa, benar-benar suka" Begitu kalimat Harry saat mereka berdua duduk di taman sekolah yang tampak mulai sepi. Hanya ada beberapa penjaga sekolah dan juga guru-guru yang belum pulang.
Hexa melingkarkan kedua tangannya di leher Harry dan spontan memeluknya.
"Aku mencintaimu, benar-benar cinta" Balas Hexa. Rasa yang kini ada di hati Harry adalah suka, tapi beda dengan Hexa. Sejak awal dia sudah yakin kalau rasa yang kini ada di dalam hatinya adalah rasa cinta yang dalam.
Harry membalas pelukan Hexa. Mereka berdua sama-sama merasa harus berjuang untuk hubungan ini. Mungkin tidaklah mudah, tapi pasti bisa. Keduanya meninggalkan halaman sekolah. Di ujung jalan abangnya Hexel sudah menunggu. Tatapan mata abangnya benar-benar marah saat melihat Hexa dan Harry keluar bersamaan. Hexel yakin betul kalau adiknya itu tidak jadi menyudahi hubungan cintanya itu.
"SINI!" Panggil Hexel marah. Wajah Hexel memerah menahan benci. Hexa menggenggam tangan Harry dengan berani. Hexel semakin benci melihat pemandangan itu. Harry dan Hexa mendekat.
"Kurang ajar !" Hexel langsung meraih leher baju Harry dan hendak menggebuknya namun langsung di cegah Hexa.
"Cukup bang, sudah! Aku yang memilih Harry, akulah yang duluan jatuh hati dengannya" Kata Hexa setengah berteriak. Hexel tidak mampu lagi berkata apa-apa ditariknya adiknya itu naik ke motor lalu lekas tancap gas.
__ADS_1
Di atas motor air mata Hexa membasahi baju bagian belakang abangnya. Hexel tau kalau adiknya itu menangis. Dia juga merasa sakit jika melihat adiknya itu sengsara karena perasaannya. Namun, Hexel tidak bisa menerima fakta kalau sosok yang dicintai oleh adiknya itu adalah Harry Anderson. Tidak bisa! Semakin dipikirkannya dia semakin tidak bisa terima.
Mereka sudah sampai di rumah. Hexa lekas turun dan mengusap kedua matanya yang sembab. Abangnya kemudian mengikutinya. Hexa masuk ke dalam kamar, dilihatnya abangnya itu ikut masuk.
"Keluar bang..." Pinta Hexa lirih. Hexel yang sangat kasihan dengan adiknya itu langsung memeluknya.
"Ini semua demi kebaikanmu, dia itu bukan cowo baik" Kata Hexel mencoba menasehati adiknya. Hexa menolak pelukan abangnya, dia tidak suka abangnya karena tidak setuju dengan Harry. Dia merasa kalau abangnya sangat tidak adil. Kalaupun pernah ada masalah dengan Harry seharusnya diselesaikanlah dengan baik-baik demi dirinya begitu pikir Hexa. Setelah gagal membuju Hexa, dia pun keluar dari kamar adiknya itu dan masuk ke kamarnya sendiri.
Hexa memandang pintu kamarnya yang sudah di tutup abangnya. Kedua matanya yang sembab kembali mengalirkan air mata.
__________"____________
Mama dan papa sudah mendengar dari Hexel soal hubungan Hexa dengan teman sekelasnya yang bernama Harry itu. Seperti yang diharapkan oleh Hexel, kedua orangtuanya itu mendukung saja jika memang itu yang terbaik untuk anak perempuannya Hexa. Sepanjang hari Hexa merasa apa yang terjadi saat ini adalah ketidakadilan. Namun meski tahu dia sangat terluka, dia bingung harus bagaimana.
"Aku ingin sekali di sisimu..."
Harry mengirim sebuah pesan singkat. Hexa membaca pesan itu dan sedikit terhibur olehnya. Hexa langsung menekan nomor Harry dan menelponnya.
__ADS_1
"Hiksss Hiksss... Aaaaaaaa" Yang terdengar pertama adalah tangisan dan rengekan Hexa. Harry dari seberang sana mencoba menggoda kekasihnya yang manja itu.
"Cup...cup...cup... Sayang..." Goda Harry agar Hexa tenang.
"Kita harus gimana, Ry? Aku bingung kenapa mama dan papa ikut-ikutan mendukung abang" Keluhnya sambil menggosok kedua matanya yang masih sembab dan berair.
"Entahlah, tapi aku harap kita tetap bersama, sayang" Jawab Harry. Hexa tersipu saat mendengar Harry memanggilnya sayang. Mereka menghabiskan malam itu dengan mengobrol di telpon hingga larut. Meski sudah berulang kali berniat mematikan telpon dan menyudahi perbincangan karena sudah malam, tapi itu tidak terjadi. Mereka kembali lagi saling mengungkapkan isi hati dan rasa rindu. Esok terasa terlalu lama bagi satu sama lain. Ahhh! Biarlah sedikit berlebihan, mungkin itu yang namanya kasmaran.
Tepat jam 13.00 WiB, Hexa dan Harry menyudahi juga percakapan mereka.
"Aku mencintaimu" Kata Harry. Hexa sangat bahagia, rasa suka yang di ucapkan oleh Harry kini sudah meningkat menjadi cinta.
"Aku juga, sangat" Jawab Hexa.
Tut...tut...tut..
Telpon pun mati. Hexa menarik selimutnya dan berharap kalau dia dan Harry akan selalu bersama, selamanya.
__ADS_1