FALLING

FALLING
TUJUH BELAS


__ADS_3

Hari ini Hexa kembali berangkat sekolah bersama Harry. Mereka bahkan bergandengan saat berjalan menuju ke kelas. Amos lagi-lagi melihat pemandangan itu. Sengaja dia tidak menyapa Harry meskipun berpapasan.


"Sudah baikan?" Tanya Dena saat Hexa sudah sampai di kelas dan duduk. Hexa mengangguk, senyumnya melebar. Dia bahagia. Dena langsung memeluk Hexa tanda dia turut senang.


Berbeda dengan Amos, yang kini menatap mereka dengan tajam. Sebenarnya Amos harusnya senang, kalau Hexa baikan dengan Harry. Itu artinya peluangnya untuk bersama Desy masih ada. Tapi Amos tidak begitu, kebahagiaan Desy adalah yang utama. Dan Amos sadar, kalau hanya Harry yang ada di hati Desy. Dan dia rela melakukan apapun untuk itu.


Sepulang sekolah, Hexa menemukan sebuah surat beramplop di laci mejanya. Kelas sudah sepi. Hexa memang berjanji akan pulang dengan Harry hari itu. Harry sudah duluan menuju parkiran motor. Tinggalah Hexa yang tadinya akan menyusul setelah ke toilet. Dia lekas mengemas beberapa buku di atas mejanya ke dalam tas, lalu membuka isi amplop. Sebuah surat yang misterius.


Aku tunggu kamu di belakang sekolah dekat taman, ada kejutan di dalam gudang.


...By Harry...


Begitu tulisan di surat. Hexa berpikir sejenak, tumben Harry segitu romantisnya sampai menulis surat. Kejutan apa gerangan?


Hexa bersemangat, dia berjalan menuju ke arah tempat yang sudah di arahkan oleh Harry di dalam surat tadi. Suasana taman belakang sekolah memang sering sepi. Hanya ada beberapa bangku taman dan sebuah gudang yang sudah jarang di pakai. Penjaga sekolah biasanya menggunakan gudang itu untuk menyimpan beberapa bangku atau meja yang sudah rusak.


"Dimana?" Pikir Hexa. Matanya sibuk menoleh kesana-sini mencari keberadaan Harry. Lalu pandangannya tertuju pada sebuah kertas di pintu gudang yang di tempel gambar berbentuk Love.


"Pasti di sini," Gumamnya sambil menyunggingkan senyum. Hexa mendorong pintu gudang yang sudah agak keras karena engsel pintunya yang mulai berkarat.


GELAP!


"Uhukk..Uhukkk.." Hexa terbatuk karena debu.


BRUKKKKHHH !


BRAKKKK!


CKLEK !


"AWWWW!" Hexa terjatuh ke lantai tepat di dekat pintu. Pintu terkunci, seseorang baru saja mendorongnya hingga terjatuh.


Hexa panik, dia berusaha bangun segera, lalu memutar-mutar gagang pintu yang berkarat.


Pintu sudah di kunci dengan gembok dari luar.


Hexa semakin ketakutan, dia bingung sekaligus kepanikan.


BRAKKKK! BRAKKKK!!!


Hexa memukul-mukul pintu gudang berulang kali, sampai tangannya sakit semua dan memerah.


"ADA YANG DENGAR AKU?? TOLONGG... BUKAAA ! " Pekik Hexa dari luar. Tidak ada jawaban siapapun di luar.


" SIAPA YA?? JANGAN BECANDAAA! HARRY??? 'GA LUCU....!" Hexa merasa kalau Harry tengah menjahili dirinya. Tapi tetap tidak ada jawaban. Dia mulai ketakutan. Tangannya semakin keras memukul-mukul pintu agar ada yang mendengar suaranya.

__ADS_1


"TOLONG !!!!" Hexa tidak patah semangat, suaranya semakin nyaring. Namun, tetap saja tidak ada seorangpun menjawab atau datang membukakan pintu.


"Ada yang 'ga beres, nih..." Gumam Hexa yang kini mulai menyadari kalau seseorang sengaja mengurung dia di dalam gudang itu, sendirian!


Hexa mencoba mencari saklar lampu di ruangan itu, dia meraba-raba dinding mencari keberadaan saklar lampu. Setidaknya ada cahaya, begitu harapnya. Namun nihil !


"Uhukkk..Uhukkk!" Hexa terbatuk lagi, debu di dalam gudang sangat banyak, pernapasannya terganggu. Perasaannya tak enak, dia gelisah.


----------------------------"---------------‐--


Sementara di parkiran motor, Harry menunggu Hexa sambil melirik-lirik jam tangannya.


"Kenapa lama betul?" Gumam Harry yang merasa aneh kenapa Hexa lama sekali menyusulnya.


"Kenapa belum pulang bro?" Tanya Amos tiba-tiba. Harry agak kaget, Amos ternyata belum pulang.


"Nunggu Hexa." Balas Harry singkat lalu kembali lagi melirik jam tangannya.


"Oh...Hexa? tadi ketemu aku di toilet, katanya pulang dengan abangnya." Kata Amos santai. Harry mengerutkan dahi. Kenapa Hexa tiba-tiba pulang dengan abangnya, sedangkan mereka sudah berjanji pulang bersama. Harry mencoba menelpon Hexa namun tidak masuk. Panggilannya ke ponsel Hexa selalu gagal. Harry ingin menghubungi Hexel, tapi malas berdebat. Dia tahu saudara laki-laki Hexa itu enggan menerimanya dengan baik apalagi mengangkat telponnya.


"Akh... Biarlah, besok saja ku tanya langsung." Pikir Harry dalam hati. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri. Motor Amos menyusul di belakang motor Harry, mereka bedua pulang meninggalkan halaman sekolah.


----------------------"--------------------------


Dia mencari sinyal, tidak ada. Di dalam gudang tertutup itu memang tidak ada sinyal. Tapi lumayanlah, senter Handphone-nya bisa sedikit membantu menerangi ruangan. Dia memandang sekelilingnya, hanya ada kursi-kursi rusak dan beberapa meja. Di usapnya air matanya lalu mengambil sebuah kursi yang masih bisa di duduki, dan dia duduk disitu. Hexa berpikir keras, siapa yang sudah tega berbuat begini dengannya. Kenapa bisa jahat sekali sengaja mengurungnya di gudang belakang sekolah.


DUARRRRR !!!!


Wusssss ....wussssss.....


Tes... Tes... Tes....


Petir menyambar kuat sekali, di susul angin dan hujan yang perlahan mulai deras. Suasana di dalam gudang kini menjadi lembab dan dingin. Hexa mengusap lengannya yang mulai kedinginan, bulu guduknya berdiri karena merinding. Kedua matanya masih bengkak dan sembab karena air mata.


Kriukkkk... Kriukkk...


Perutnya pun kini kelaparan dan juga haus. Di liriknya jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Dia lemas, tenaganya tadi sudah habis karena berteriak-teriak dan menggedor-gedor pintu gudang itu. Dia melihat ada sebuah lubang di atap yang meneteskan air hujan dari luar. Dengan cepat Hexa mengulurkan tangannya dan menampung air di telapak tangan lalu meminum air hujan itu.


"Ahh... Lega..." Dahaganya terobati sudah, dia tidak haus lagi setelah minum air hujan. Hexa kembali duduk di kursinya tadi lalu menunduk kelelahan.


Perasaan Harry tidak enak, dia gelisah kenapa tidak bisa menghubungi Hexa. Sejak tiba di rumah dia berkali-kali mencoba mengirim pesan ke Hexa dan menelpon. Tapi tidak bisa.


"KENAPA?!" Begitu pertanyaan di kepalanya berulang kali.


Akhirnya Harry yang cemas segera menghubungi Hexel.

__ADS_1


"Haloo?" Jawab Hexel.


"ini aku, Harry." Kata Harry.


"WOIII ! KAU BAWA KEMANA ADIKKU?! INI UDAH JAM BERAPAA??! PULANG! AKU SAMPAI BERBOHONG KE ORTU BILANG KALAU DIA ADA KERJA KELOMPOK DI RUMAH TEMANNYA!" Hexel mengamuk. Harry kaget, belum sempat dia bertanya kemana Hexa, pertanyaan Hexel justru membuat Harry syok. Berarti Hexa tidak pulang dengan Hexel.


"Aaaa.... Anu.... Emmmm.." Harry gelagapan, dia gugup mau jawab apa. Karena dia pun tidak bersama Hexa. Bahkan tidak tahu Hexa kemana.


"APA? BAJINGAN! PULANGIN ADIKKU! SEKARANG!" Maki Hexel semakin menjadi. Harry menghela nafas sejenak berusaha berpikir dengan kepala yang dingin dan menenangkan pikirannya.


"Kita lagi makan di luar, nanti aku antar. Aku cuma mau bilang ini. " Jawab Harry berbohong.


"MANA HEXA? AKU MAU BICARA !" Kata Hexel menggeram.


"Dia lagi di WC. Nanti aku antar pulang. Tunggu aja." Harry berbicara cepat-cepat, lalu sengaja mematikan telpon.


Tut.. Tut... Tut...


Telpon terputus. Hexel emosi, tapi dia berusaha tetap berkepala dingin. Dia berusaha percaya kepada Harry.


Sementara di kamarnya, Harry terduduk sambil melongo. Dia terpaku, bingung Hexa di mana. Berarti Hexa tidak pulang dengan Hexel, lalu kemana dia? Harry berusaha mengingat-ingat sebuah petunjuk.


Amos....


Pikirannya langsung tertuju ke Amos. Dia menggeram, tangannya mengepal. Dia berlari ke garasi dan menghidupkan motornya dengan geram. Tubuhnya bergetar karena rasa marah. Dia menuju ke rumah Amos dengan motor yang melaju kencang.


Hujan tidak dia hiraukan, badannya sudah basah. Jaketnya yang tebal tidak bisa melindungi tubuhnya. Sesampainya di rumah Amos, Harry langsung nyelonong masuk. Tidak ada siapa-siapa di rumah Amos kecuali asisten rumahtangga. Amos juga sama dengannya sering ditinggal orangtua pergi ke luar kota. Asisten rumah tangga yang biasa melihat wajah Harry juga tidak kaget kalau Harry langsung saja masuk tanpa permisi, sudah biasa.


Harry menaiki tangga menuju ke kamar Amos. Didapatinya Amos tengah bermain game di kamar. Amos ketakutan, dia kaget Harry datang.


BRUGGHHH !


Harry meraih leher baju Amos dan langsung melayangkan tinju ke pipi Amos. Amos tersungkur. Mulutnya terkunci rapat.


"BILANG SEKARANG JUGA, DI MANA PACAR KU?! ATAU KAU KU BUAT MATI DI KAMARMU SENDIRI !" Harry menggeram, tinjunya masih mengepal dan siap melayang lagi.


"STOPPPP...STOPPP...AMPUN.." Amos histeris dan ketakutan. Beberapa asisten rumahtangga sudah naik ke kamar Amos karena mendengar ribut-ribut di kamar tuannya, Harry sigap langsung mengunci pintu kamar sebelum mereka masuk ke dalam. Pintu di gedor-gedor dari luar. Kini hanya ada dia dan Amos di dalam kamar itu. Amos semakin takut. Posisinya terjebak di kamarnya bersama Harry yang sudah mengamuk bagai singa.


"JAWAB SEKARANG, ATAU...." Wajah Harry seperti kerasukan setan, amarahnya sudah di ubun-ubun.


"GUDANG BELAKANG!" Jawab Amos sambil menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya menghindari pukulan Harry.


"JAHANAM!" Umpat Harry lalu meninggalkan Amos yang masih lemas dan ketakutan.


Harry keluar kamar, di buka nya pintu kamar dan membantingnya sampai berbunyi membentur dinding. Para asisten rumah tangga ikut ketakutan dan tidak berani melawan Harry. Harry menatap tajam mereka semua yang hanya mampu terdiam, lalu Harry melaju menuju ke sekolah.

__ADS_1


__ADS_2