FALLING

FALLING
SEMBILAN


__ADS_3

"Eitss ! Mau ke mana?" Tiba-tiba Hexa yang sengaja pagi itu pergi awal sambil mengendap-endap di hentikan oleh suara abangnya. Hexel yang memang sudah tahu Hexa akan menghindarinya sengaja pagi-pagis sekali pasang alaram.


"Kapan-kapan aja ya bang? Aku kenalin ke Harry..." Pinta Hexa sambil memohon dengan tangan yang terkatup di dada. Hexel menggeleng.


"Tidak! Sekarang! Ohhh jadi namanya Harry?" Ujar Hexel sambil mengucek kedua matanya yang masih mengantuk.


"Besok deh...janji" Kata Hexa menimpali. Hexel semakin menggeleng kuat.


"Emang kalau sekarang kenapa?" Tanya Hexel mulai penasaran.


"Aduh, baru juga jadian, udah di intervensi" Keluh Hexa.


"Ups..." Hexa menggigit bibirnya. Dia sudah kelepasan bilang kalau dia dan Harry sudah jadian. Abangnya Hexel menghela nafas.


"Jadi sekarang gitu? Umpet-umpetan? Diam-diam udah jadian aja?" Balas Hexel kecewa. Sejauh yang dia kenal, Hexa adiknya jarang sekali menyembunyikan sesuatu darinya. Wajar saja kalau dia kini kecewa kenapa adiknya itu berubah.


Hexa meraih lengan abangnya dan merangkulnya agar abangnya itu jangan marah.


"Dia baik, kok bang... Sumpah..." Hexa meyakinkan Hexel kalau pilihannya untuk menjadi kekasih Harry adalah tepat. Akhirnya Hexel pasrah saja, dia berharap besok lelaki yang di kenalkan adiknya itu benar-benar yang terbaik. Meski cenderung agak cuek, sebenarnya Hexel sangat memperdulikan adik semata wayangnya itu. Hexel bahkan pernah adu jotos dengan tetangga di rumah lama dulu karena pernah menguntit adiknya. Dia berharap siapapun yang dipilih oleh adiknya adalah pria baik-baik.


Hexa melangkah ke depan komplek, dia sudah di tunggu Harry dengan motornya. Tadi malam Harry mengirim pesan lewat ponselnya kalau memang pagi ini akan menjemput Hexa dan berangkat ke sekolah bersama. Tidak ada lagi yang patut mereka sembunyikan, lagian Hexa dan dirinya kini sudah resmi.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan ke sekolah, Hexa tidak sekalipun melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Harry. Dia sangat bahagia kali ini dia berboncengan dengan kekasihnya ke sekolah, ya... Dengan status yang resmi, pacaran!


"Kalian pacaran?" Dena teman akrab Hexa yang kebetulan melihat juga kedatangan Hexa dan Harry bersamaan bertanya langsung.


Hexa mengangguk, meng-iyakan pertanyaan Dena.


"Hati-hati patah hati, ya? Harry orangnya tahu sendirilah..." Begitu nasehat Dena. Hexa tidak menjawab, dia sangat yakin kalau Harry akan menjaga komitmen yang mereka buat.


Saat jam istirahat mereka berdua sudah tidak canggung lagi bersama. Untuk apa di sembunyikan? Lagian kita saling suka, begitu pikir mereka berdua. Amos juga sudah tidak lagi sibuk mengurusi hubungan mereka. Dia hanya kasihan dengan Desy, tapi apa mau di kata Harry temannya itu sudah jatuh cinta.


"Hubungilah Desy sekali saja, kasihan dia... Setidaknya jelasin ke dia, tentang kau dan Hexa sekarang" Begitu ucap Amos saat melihat kebersamaan Harry dan Hexa. Harry cuek saja, lagian bukan urusan Amos, begitu pikirnya. Namun, meski begitu dia memang merasa kalau hal ini harus lekas di beritahukannya secara langsung ke Desy meskipun dia yakin kalau Desy pastilah sudah tahu.


"Temui aku di tempat biasa..."


"Aku mau ketemuan sama Desy... Aku mau bilang tentang hubungan kita berdua" Begitu ucap Harry kepada Hexa sepulang sekolah di parkiran . Hexa sedikit lega karena Harry terlebih dahulu memberitahunya kalau dia akan bertemu dengan perempuan lain, itu artinya Harry tidak main belakang, begitu pikir Hexa.


Hexa meng-iyakan saja dan memilih untuk naik angkot pulang agar Harry bisa lekas bertemu dengan Desy. Harry sempat mengecup kening Hexa di depan beberapa teman lainnya, yang membuat wajah Hexa memerah karena tersipu malu.


Motor Harry duluan pergi meninggalkan halaman sekolah, Hexa kemudian menyusul menunggu angkot di depan jalan. Dia berharap pertemuan Harry dan Desy bisa lancar dan hubungan mereka bisa mulus-mulus saja. Namun, Hexa sepertinya terlalu cepat berprasangka baik. Karena, Desy tidaklah semudah itu melepas Harry jatuh ke pelukan gadis lain selain dirinya.


Harry menghentikan motornya tepat di depan parkiran Cafe tempat dia dan Desy janjian hari ini. Harry sudah menunggu momen ini, dia dengan cepat melangkah dan mencari keberadaan Desy di situ. Namun, alangkah terkejutnya dia saat yang di temuinya bukanlah Desy, tapi mama.

__ADS_1


"Sini!" Mama melambai dan memanggil Harry. Wajah Harry heran sekaligus kesal.


" Loh? Kok mama di sini, Desy mana?" Tanya Harry dan langsung duduk di hadapan mamanya.


" Lagi ke WC, iya kata Desy kita makan bareng, lagian mama senang bukan main, sudah lama kan kita 'ga makan bareng gini" Kata mama sambil terseyum senang.


"Eh? Udah dateng sayang?" Desy muncul dari belakang Harry dan langsung duduk di samping Harry. Raut wajah Harry berubah kusut. Dia yakin betul ini merupakan cara Desy untuk tidak putus dengannya. Dia membawa mama kali ini. Harry benar-benar kesal bukan main. Wajahnya yang biasa datar saja kini penuh kerisauan. Namun Desy sepertinya santai saja dan justru bisa tertawa-tawa dengan mama dalam setiap percakapan. Dia justru merasa sangat puas dan merasakan kemenangan. Dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan Harry, karena lelaki itu adalah miliknya! Begitu pikir Desy.


Harry sudah mulai muak. Di raihnya ranselnya dan jaket kemudian dia berdiri untuk segera meninggalkan meja itu.


"Mau ke mana?" Cegah mama saat melihat Harry sudah berdiri, bersiap akan pergi.


"Aku kesini karena mau putus dari dia, bukan mau makan bersama gini, ma" Harry akhirnya blak-blakan, dia sudah muak dan tidak sudi lagi di kontrol soal perasaan. Wajah mama mendadak memerah, benar-benar marah.


" Dengar, Desy adalah gadis baik yang mama suka. Jadi, tidak ada perempuan lain yang akan mama setujui selain dia" Begitu ultimatum mama.


BRAKKK!


Harry memukul meja dengan telapak tangannya lalu lekas pergi meninggalkan mama dan Desy yang hanya mampu memandangi kepergian Harry.


"Sabar ya sayang... Tante akan selalu support kamu... Tante 'ga tahu ada masalah apa dengan Harry sampai bersikap seperti itu ke kamu cantik..." Kata mama lembut ke Desy. Desy memegang lembut tangan calon mertuanya itu di atas meja.

__ADS_1


"Perempuan lain tante, Harry dekat dengan perempuan lain. Hexa namanya..." Balas Desy mengadu. Air mata Desy mengalir, seperti biasa, untuk mencari dukungan dan simpati dari calon mertuanya itu. Desy sudah yakin sekali kalau mama Harry sudah pasti mendukungnya 100%. Dan memang benar dugaannya. Manalah mungkin soal dukungan dia akan kalah? Sedangkan dia adalah perempuan satu-satunya yang di kenalkan langsung oleh orangtua Harry di depan beberapa kolega saat jamuan jamuan penting, ya... Bagi Desy berbaur dengan keluarga Harry bukanlah hal asing. Dialah pemenangnya untuk itu.


__ADS_2