
Hari sudah sore, Harry bilang kalau malam ini dia enggan pulang kerumah. Dia malas kalau harus sendiri saja di rumahnya yang besar. Kebetulan mamanya juga sudah kembali ke Bali sibuk mengurus proyek bersama papanya. Dia memilih untuk tinggal di markas saja malam ini. Hexa melirik jam dan sudah hampir jam 5 sore. Mungkin kalau pulang sekarang masih ada angkot yang lewat, pikir Hexa.
"Aku pulang dulu ya?" Kata Hexa kemudian. Harry mengangguk. Luka memarnya memang sudah lumayan mendingan. Hexa mengusap kening Harry dan mengecupnya tepat di jidat.
"Muachh!" Hexa tersenyum lebar setelah mengecup Harry.
"Besok pagi mungkin aku masuk," Kata Harry.
"Sudah bawa seragam? " Tanya Hexa. Harry mengangguk sambil menunjuk sebuah tas.
DUARR !!!!!
Tik...Tik...Tik...!
Petir tiba-tiba berbunyi keras dan hujan turun perlahan lalu semakin lebat. Hexa dan Harry memandang hujan yang deras dari jendela. Hexa mengerutkan dahi, bagaimana bisa pulang? Pikirnya bingung.
" Di sini saja, temani aku." Kata Harry penuh harap dan aji mumpung. Hexa menoleh ke arah Harry. Harry perlahan bangun dari baringnya dan bersandar duduk.
"Ehhh... Sudah bisa?" Kata Hexa sambil mencoba membantu Harry di posisi duduknya.
"Disini saja... Besok ku antar ke rumah subuh biar ambil baju sekalian berangkat bareng." Kata Harry lagi. Hexa berpikir keras, bagaimana mungkin malam ini dia menginap bersama Harry. Orang rumah pasti sekarang tengah kalut dengan keberadaanya. Kalau papa mamanya tau pasti akan lapor polisi untuk menjemput. Hexa tambah bingung. Tapi hujan dan angin lagi kencang-kencangnya, dia juga tak membawa payung dan hari semakin bertambah gelap.
Harry memegang tangan Hexa, kedua sejoli ini bertemu pandang.
"Tetap di sini, hanya sekali ini..." Kata Harry.
__ADS_1
CUP!
Harry tiba-tiba mengecup bibir Hexa. Hexa terkejut karena sangat mendadak. Jantungnya berdegup kencang sekali. Sekencang angin di luar sana.
Jemari tangan Harry mulai berani menyentuh leher Hexa yang mulus. Hexa takut, sangat takut kalau dia tidak mampu mengontrol diri.
"Biarkan aku menciumi mu malam ini... Aku benar-benar ingin." Kata Harry, kini tatapannya sudah berubah dari tatapan manja ke tatapan yang nakal dan penuh gairah. Hexa semakin salah tingkah. Mereka memang masih SMA tapi jiwa muda yang menggelora tentu saja tidak bisa mereka bendung.
Hexa merasa kini menjadi orang tolol yang tidak mengerti bagaimana mengontrol dirinya sendiri, begitu juga dengan Harry. Harry sendiri bingung kenapa mulutnya kini terlalu lancang jujur kalau dia sudah ingin bermesraan dengan Hexa.
DEG... DEG.... DEG....!
Jantung keduanya memburu kencang.
"Tidak sayang, aku tidak akan merusakmu... Percaya saja." Ucap Harry berharap dia tahu batas.
Harry kini mendekati Wajah Hexa. Di sentuhnya rambut Hexa yang panjang. Hexa menelan ludah gugup tak menentu.
Tangan Harry yg lembut berpindah ke bahu Hexa, lalu perlahan mengecup lehernya berkali-kali. Harry memejamkan mata, apalagi Hexa. Tangan Hexa di lingkarkan ke leher Harry. Keduanya berciuman dengan panas. Jantung memburu, jemari mereka saling bertautan. Harry berhenti 10 menit kemudian. Bibirnya basah, Hexa juga. Dia mendekap Hexa dalam sekali.
" Jangan tinggalkan aku. Aku bisa membunuh demi dirimu, Hexa." Kata Harry sendu. Ada kesedihan sekaligus rasa takut yang berbaur jadi satu. Hexa mengangguk masih dalam dekapan Harry. Malam itu keduanya tertidur di kursi. Mereka berpelukan dan saling menjaga, Harry tidak pernah mencintai seorang gadis seperti dia mencintai Hexa. Apalagi Hexa, hanya Harry-lah yang dia yakini sebagai cinta dalam hidupnya.
Langit semakin gelap pekat. Namun hujan sudah berhenti, yang tersisa adalah udara malam yang sejuk. Sesekali genteng di ruangan itu berbunyi karena masih ada angin yang membawa hujan. Hexa dan Harry tertidur, lelap sekali.
-----------------------"------------------------
__ADS_1
Hari sudah subuh, jam di ruangan itu menunjukkan pukul 04.00 Wib. Harry sudah mandi dan berpakaian lengkap seragam sekolah. Hexa juga sudah mandi namun masih berpakaian yang sama. Mereka bersiap untuk kerumah Hexa dan mengambil pakaian sekolah lalu berangkat bersama.
Baru saja mereka berdua menyalakan ponsel, layar ponsel sudah penuh dengan pesan-pesan dan pemberitahuan misscall banyak sekali. Terlebih pesan dari abanngnya Hexel. Penuh ancaman dan murka. Hexa sampai takut membuka pesan-pesan dari abangnya.
"Tenang saja...ada aku." Kata Harry saat melihat raut wajah Hexa yang takut untuk pulang. Hexa akhirnya bisa sedikit tenang juga.
Setelah mengunci pintu mereka berdua berboncengan menuju ke rumah Hexa.
Di depan teras abangnya Hexel sudah terlihat. Wajahnya kusut, marah dan penuh rasa cemas. Motor Harry berhenti di depan pagar, tidak masuk ke dalam.
" KAU!!!" Hexel menunjuk Harry dan berniat akan membogem wajahnya.
"Stopp bang... Stopp, udah, kami cuma terjebak hujan, please. " Hexa mencegah abangnya yang sudah mendekat lalu memeluk abangnya itu agar tenang.
" Aku minta maaf bro, mungkin hubunganku dan Hexa memang membuatmu marah, tapi aku benar-benar tidak main-main soal hubungan ini." Kata Harry berani. Suaranya terdengar lantang dan penuh keseriusan. Harry berusaha bijak dengan minta maaf duluan. Hexel juga masih berusaha mengontrol dirinya agar tidak kelepasan mengamuk. Dia sebenarnya sudah berbohong demi adiknya itu dengan tidak bilang ke orangtuanya kalau Hexa sebenarnya pergi dengan seorang laki-laki. Hexel sengaja berbohong dengan bilang kalau adiknya itu ada kerja kelompok di rumah teman sekelas dan menginap disana. Hexel tidak mau adiknya itu di marahi orangtuanya atau di cari polisi karena tahu pasti Hexa menyusul Harry.
Hexa segera masuk ke dalam rumah dan buru-buru berganti baju. Lalu kemudian keluar lagi dan naik ke motor Harry. Hexel mendekat ke adiknya yang sudah naik di atas motor.
"Aku 'ga bisa melarang kamu lagi, karena kamu susah mau dengar, tapi tolong jaga diri." Ucap abangnya sambil memegang kepala adiknya itu. Hexa mengangguk, Harry kemudian menancap gas menuju sekolah bersama Hexa.
Hexel yakin Harry akan menjaga adiknya itu. Meski dia sangat membenci Harry, tapi jauh di dalam hatinya dia percaya pada pria yang di bencinya itu. Hexel tidak bisa menentang hubungan mereka terlalu jauh, karena dia tahu, ini adalah cinta pertama sekaligus cinta terdalam adiknya itu. Sejauh yang dia kenal, adiknya bukanlah gadis gampangan yang bisa mudah saja jatuh ke pelukan pria. Tetapi, kali ini bahkan abangnya sendiri pun dia tentang. Itu merupakan bukti kalau Hexa adiknya sudah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya kepada sosok Harry. Mungkin akan berbeda jika tadinya Harry dan Hexel tidak punya masalah satu sama lain, namun justru itulah bukti cinta terkuat yang terlihat kini. Hexa akan selalu terikat pada Harry demikian sebaliknya.
"Hexa berangkat dengan siapa?" Ujar papa yang baru keluar dari kamar.
"Teman." Jawab Hexel singkat lalu ke meja makan untuk sarapan.
__ADS_1