
Di dalam gudang, Hexa sudah lemas. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Wajah Hexa sudah pucat, aroma tubuhnya sudah apek karena debu-debu yang beterbangan di ruangan itu. Air matanya sudah tidak lagi menetes, sudah mengering.
DOR.... DOR.... DOR...!
Harry berusaha mengetuk gerbang pagar, namun tidak ada penjaga sekolah yang datang. Dia mengintip dari celah-celah pagar, nihil.
Dia akhirnya memutuskan untuk memanjat pagar. Meninggalkan motornya yang masih di luar pagar sekolah.
Berhasil!
Harry melompat dengan sempurna dan sudah masuk ke dalam halaman sekolah. Di intipnya penjaga sekolah di pos security, tidak ada.
"Kemana mereka?" Pikirnya heran. Tapi kemudian dia lekas membuyarkan pikirannya dan bergegas menuju ke belakang sekolah. Menyusul Hexa...
DORRRR.... DORRRR... DORRRR !
Ceklek... Ceklekkk !
Harry menggedor-gedor pintu gudang dan mencoba membuka gagang pintu.
Ahhhh... Tergembok...
Gumamnya dalam hati. Tidak ada jawaban dari dalam gudang, Harry semakin cemas.
"Xa....Hexa....! Sayang? Ini aku..." Harry memanggil-manggil Hexa dari luar. Masih juga tidak ada sahutan apapun dari dalam gudang. Harry mencari akal, berusaha merusak gembok.
Kedua matanya berkeliling mengitari benda apa di sekitar yang bisa dia pakai untuk merusak pintu.
"Ahhh.. Dapat..." Kedua matanya tertuju pada sebuah peti berisi peralatan tukang yang terletak di samping gudang.
Ada sebuah palu. Harry mengambil palu itu
Dan....
BRAKKK ! BERHASIL!
Gembok sudah rusak, Harry mendorong pintu gudang dan melihat Hexa sudah duduk tertunduk di sebuah kursi.
"Xa... Hexa..." Panggil Harry sambil jongkok tepat di depan Hexa yang lemas.
Hexa perlahan membuka matanya,
__ADS_1
"Kau datang...." Kedua mata Hexa nampak lega, tubuhnya masih gemetar, Harry membalut tubuh Hexa dengan jaketnya yang masih lembab. Hexa terjatuh di pelukan Harry, kelelahan...
Beberapa saat berlalu, Harry sengaja menunggu sebentar agar Hexa sedikit pulih dan tenang. Harry mengusap rambut Hexa hingga ke punggungnya.
" Ayo kita pulang," Ajak Harry dengan suara pelan. Hexa menghela nafas, enggan melepaskan pelukannya dari Harry. Harry mengelus pipi Hexa dan mencium bibirnya lama sekali.
"Aku mencintaimu," Kata Harry kemudian. Seketika kekuatan Hexa bertambah, dia bangun dari duduknya dibantu Harry. Harry menopang tubuh Hexa dan membawanya berjalan ke luar gudang. Mereka pun segera menuju ke gerbang depan sekolah.
Setibanya di depan Pos security, penjaga sekolah yang piket malam itu belum juga kembali. Entah ke mana. Harry segera masuk ke dalam pos dan mencari kunci serap di laci-laci.
Dapat!
"Memang penjaga bodoh, bisa-bisanya dia pergi meninggalkan tugasnya!" Kesal Harry sambil membuka gembok pagar sekolah. Setelah terbuka, dia pun segera keluar dari gerbang bersama Hexa. Dia mengunci lagi pagar lalu di lemparnya kunci gembok pagar itu ke dalam pos. Terjatuh di dalam pos.
"Biarlah..." Gumamnya lalu menyalakan mesin motornya dan membonceng Hexa pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, Hexa memeluk Harry erat sekali dari boncengan. Hujan juga sudah reda, menyisakan angin malam yang dingin sekali. Hexa membenamkan tubuh mungilnya di punggung Harry yang bidang. Dia merasa hangat, dia merasa sudah aman. Kekasihnya sudah datang menjemputnya, syukurlah...
Mereka sudah sampai di depan pagar rumah Hexa. Abangnya Hexel sudah mondar-mandir di teras rumah, menunggu Hexa.
Baru saja motor Harry berhenti, raut wajah Hexel sudah nampak akan memaki-maki Harry.
"KAU..." Suara Hexel terhenti saat Hexa mendorong abangnya untuk berhenti berteriak.
--------‐----------------"----------------------
Hexa sudah mandi, rambutnya basah, dia mencuci rambutnya dengan banyak shampoo untuk menghilangkan bau apek. Hexa lalu meraih ponselnya, mencari nomor Harry.
Hexa : Terimakasih, sayang udah datang.
Harry : Iya... udah segar? udah makan?
Hexa : Udah, aku masih takut sekali, trauma
Harry : Iya sayang. Yang penting sekarang udah aman, kan?
Hexa : Iya, tapi siapa ya yang tega mengurung aku. Jahat banget.
Harry : Amos.
Hexa : Amos?? Kenapa?
__ADS_1
Harry : Dia benci kita bersama, dia mau aku dengan Desy tetap pacaran.
Hexa : Tapi kenapa?
Harry : Amos cinta Desy. Dia rela melakukan apapun . Tapi Amos, si bodoh itu lupa siapa aku. Aku Harry. Aku bahkan bisa membunuhnya hanya untuk dirimu!
Hexa : SSSttttt ! jangan bilang gitu, sayang.
Harry : Memang iya. Sudah ku tinju wajahnya. Jika sekali lagi dia mengganggu kita, dia tidak akan bertemu dengan hari esok. Aku bersumpah !
Hexa terpaku sejenak. Dia bisa membayangkan seperti apa amarah Harry pastinya saat membogem wajah Amos demi membela dirinya. Dia yakin Harry pasti bisa lebih nekad lagi jika sempat mengikuti emosinya lebih lanjut.
Hexa : ayo, kita istirahat. Aku capek...
Harry : Iya, tidurlah. Ak cinta kamu, Hexa.
Hexa : Aku juga.
Hexa mematikan lampu dan menarik selimutnya. Dia terlelap dalam dinginnya udara malam itu. Demikian juga dengan Harry. Kejadian malam itu menjadi sebuah pelajaran penting bagi mereka, untuk lebih saling menjaga satu sama lain. Selamanya...
-----------------------"----------------------
" Aku antar !" Hexel abangnya menarik tas Hexa agar ikut dengannya naik ke motor.
"IHHHH ABANG! GAK!" Suara Hexa meninggi. Mama dan papa yang melihat kedua anaknya itu sudah berdebat sengit pagi itu menegur mereka.
"Kalian ini selalu ribut !" Tegur mama.
"Abang , tuh ma!" Hexa Kesal, nada bicaranya masih meninggi. Sementara abangnya Hexel tidak mau kalah.
"Kau ini bebal! Sudah kubilang temanmu itu gak baik, masih aja!" Keluh Hexel sambil terus mengeraskan suara.
" Sudahhhh! Apa-apaan kalian ini!" Papa ikut menegur.
" Tuh, anak gadis kesayangan papa! Manjanya minta ampun, susah di bilangin. Masih aja dekat dengan cowo brengsek!" Umpat Hexel. Hexa geram, bola matanya melotot.
"STOP MEMAKI DIA ! ATAU..." Suara Hexa terhenti
" Atau apa???!" Tantang Hexel.
Hexa membuang muka. Berlari ke luar rumah dan lekas naik ke atas motor Harry yang sudah menunggu. Orangtuanya dan abangnya hanya memandang Hexa berlalu tanpa bisa berbuat apa-apa. Hexel menarik nafas dalam, berusaha berpikir jernih, meredakan emosinya.
__ADS_1
"Kau ini, kalau bicara sama adikmu pelan-pelan, hati-hatilah... Makin kau keras, makin melawan dia, nak." Ucap papa menasehati anak pertamanya itu. Hexel hanya menunduk. Dia sudah tak tahan lagi. Dia semakin muak dengan percintaan adiknya dan Harry. Dia berpikir keras bagaimana cara agar mereka tidak lagi berhubungan. Hexel bukannya jahat, tapi dia masih belum bisa menemukan alasan yang kuat untuk menerima Harry sebagai kekasih adik perempuannya itu.
Hexel berpikir keras, keras sekali. Dia ingin memisahkan mereka. Segera !