
Kring... Kring...!
Alaram ponsel berdering, bukannya bangun, Hexa justru mematikan alaram itu dan kembali tertidur pulas.
"Xa ... Xa... Bangun! Bareng 'ga nih berangkat?" Suara bang Hexel terdengar nyaring memanggil Hexa dari depan pintu kamarnya.
Cekrekk cekrekkk!
gagang pintu kamar Hexa coba di buka abangnya meski memang dikunci dari dalam.
"Hoahemmmm" Hexa terbangun dari lelapnya.
Dug...Dug...Dug..
Terdengar derap kaki seseorang tergesa-gesa turun ke bawah. Ternyata abangnya Hexel sudah berangkat duluan dengan terburu-buru.
Brummmm!
Hexa langsung beranjak bangkit dari tidurnya dan mengintip ke jendela, dia melihat kalau abangnya itu sudah meninggalkan garasi dengan motornya.
"Aduhhhh!" Hexa menepuk jidatnya, dia baru sadar kalau dia sudah terlambat dan abangnya sudah berangkat duluan tanpanya.
"Non...bangun, den Hexel udah pergi duluan" Bik Mar memanggil Hexa sambil mengetok-ngetok pintu kamar.
"Iya bik..." Sahut Hexa dari dalam . Dengan secepat kilat dia bergegas mandi dan terburu-buru berganti pakaian. Dia bahkan belum sempat sarapan.
"Ma... Hexa berangkat!" Ucapnya buru-buru saat melihat mama sedang sarapan di meja makan.
"Lho Xa? Naik apa? Ikut papa aja..." Teriak mama saat melihat putrinya itu tergesa-gesa pergi.
__ADS_1
"Naik angkot aja" Balas Hexa yang langsung setengah berlari keluar dari pintu.
Hexa gelisah, jam tangannya berkali-kali di liriknya. Sudah lima menit Hexa berdiri di tepi jalan menunggu angkot yang lewat.
Tin...Tin!
Sebuah motor meng-klakson. Hexa kenal betul dengan motor itu. Ya... Harry !
"Naik!" Ajak Harry . Hexa menurut saja dan langsung naik. Pagi itu Hexa berangkat dengan bahagia, meski terburu-buru karena nyaris terlambat tapi semua ada hikmahnya. Dia bisa secara kebetulan berboncengan lagi dengan Harry, pria sekelas yang duduk tepat di belakang bangkunya.
Motor Harry sudah parkir. Sekali lagi beberapa teman-teman sekelas yang menyadari kedatangan mereka berdua saling berbisik. Pasti mereka berdua sudah jadi bahan gosip terhangat. Begitu juga dengan Amos yang kini hanya memandangi kedatangan Hexa bersama Harry.
"Bro... " Sapa Amos saat Harry sudah memarkirkan kendaraannya sesaat setelah Hexa turun. Harry tidak menjawab, hanya melirik Amos saja. Dia masih tidak senang dengan Amos yang kini sudah jadi pengadu dan mata-mata Desy.
"Ehh?" Hexa kaget.
-----‐-----‐--‐-"--‐----‐------------
Jam pelajaran pertama usai, disusul jam pelajaran kedua, ketiga dan seterusnya. Amos dan teman-teman lain masih melirik-lirik Hexa dan Harry bergantian.
Dari belakang Harry menyentuh rambut Hexa yang sebagian keluar melewati kursinya. Ternyata Hexa merasa kalau Harry menyentuh rambutnya. Hexa gugup, dia mendadak salah tingkah.
"Pulang bareng lagi..." Bisik Harry sambil mendekat sedikit dari belakang. Hexa mengangguk tanda setuju.
Di sudut lain, Amos sudah berencana untuk berbicara dengan Hexa jika ada kesempatan. Dia benar-benar penasaran apa sebenarnya yang terjadi di antara Hexa dan Harry. Akhirnya bell tanda jam istirahat berbunyi. Harry berjalan ke Wc.
ini kesempatan yang bagus, pikir Amos. Di hampirinya Hexa yang hanya duduk melamun saja.
"Hai" Sapa Amos sambil menarik kursi di dekat Hexa. Hexa hanya membalas senyum.
__ADS_1
"Ga ke kantin?" Tanya Amos basa-basi. Hexa menggeleng.
"Xa... Aku mau bilang sesuatu yang penting, aku kasihan denganmu, Harry itu playboy, dia sudah punya pacar, Desy namanya. Ini nomornya, mungkin kau bisa tanya sendiri" Begitu ucap Amos lalu dengan cepat amos menyerahkan sebuah kertas bertuliskan sederet nomor kepada Hexa. Amos lekas kembali ke kursinya sesaat sebelum Harry muncul dan kembali duduk di kursi.
Hexa terpaku, dia terdiam dengan apa yang barusan di dengarnya dari Amos. Meski Hexa sudah berusaha bersikap sewajarnya, namun kini binar matanya sayu. Dia merasa Harry berpura-pura saja dengannya. Manalah mungkin Amos berbohong, apalagi Amos juga merupakan teman Harry sejak lama. Tapi untuk apa Amos memberitahu Hexa? Bukankah Amos itu teman baik Harry, bukan Hexa? Begitu pikir Hexa dalam hati. Sorot matanya kini tampak gundah, dia yang baru saja tertarik pada Harry mendadak berubah. Dia mulai tidak suka dengan kebohongan Harry.
"Xa... " Harry menyapa Hexa pelan. Tidak ada jawaban dari Hexa. Harry terdiam setelahnya. Ada rasa kaku yang mendadak menyelimuti mereka berdua. Hexa kecewa dalam hati sedangkan Harry kini bingung kenapa Hexa enggan menjawabnya.
Ketika bell tanda pelajaran usai berbunyi, Hexa bergegas memasukkan beberapa buku di atas mejanya. Dengan cepat Hexa beranjak dari kursinya.
"Xa...!" Harry berusaha mencegah Hexa. Ditariknya lengan Hexa yang spontan menghentikan langkah Hexa, mereka pun jadi pusat perhatian beberapa teman yang memang masih belum meninggalkan kelas. Tapi Harry tak perduli. Dia hanya fokus pada Hexa yang nampak mulai menghindarinya, pasti ada masalah! Pikirnya dalam hati.
"Tunggu dulu, kamu kemana sih? Mau kemana?" Tanya Harry yang sudah berhasil membuat Hexa tidak jadi pergi duluan.
"Pulang lah..." Jawab Hexa berusaha sewajarnya.
"Kan kita bareng" Ucap Harry. Hexa melirik Harry yang mendadak heran dengannya. Dia sebenarnya ingin langsung saja bertanya ke Harry apa benar perkataan Amos di jam istirahat tadi? Tapi lidahnya mendadak kelu, tanpa suara.
Harry yang tidak mengerti ada apa dengan Hexa lantas meraih jemari perempuan yang kini berusaha di dekatinya itu, di genggamnya jemari Hexa kuat.
"Kalau ada masalah itu ngomong, jangan diam" Kata Harry lagi. Hexa menghela nafas sebentar lalu mulai tenang.
"Duduk dulu" Pinta Harry, Hexa pun langsung duduk mengikuti saran Harry. Harry langsung menarik kursi dan duduk di dekat Hexa. Seisi kelas sudah mulai sepi.
"Ada apa?" Tanya Harry pelan. Ada kecemasan dari raut wajahnya melihat perubahan sikap Hexa yang tiba-tiba.
"Kata Amos, kau sudah punya pacar...ini nomornya" Ucap Hexa sambil kemudian menyodorkan sebuah kertas yang tadi diberikan Amos kepadanya. Harry akhirnya tahu ada apa. Dia menghela nafas dan menghembuskannya, berusaha agar tidak emosi. Harry meraih kertas itu dan memastikan kalau itu adalah nomor Desy.
"Dengar, hanya dengarkan aku saja, Xa... siapapun dan apapun yang kamu dengar dari orang lain nantinya, aku cuma minta ke kamu satu hal, cukup dengar aku... janji?" Pinta Harry sambil meremuk kertas bertuliskan nomor Desy. Hexa menurut saja dan mengguk tanda sepakat. Harry tersenyum setelahnya, di usapnya lembut rambut Hexa yang panjang hingga ke punggung. Hexa merasakan kehangatan, dia suka dengan Harry, dia sangat suka...
__ADS_1