
Kepala Desy menunduk, sepanjang percakapannya di telepon dengan Amos, air matanya mengalir. Hampir sulit baginya berkata-kata untuk membalas ucapan Amos meskipun Amos berusaha berbicara dengan nada yang sangat hati-hati kepadanya. Jemarinya bergetar, di sentuhnya dadanya, terasa begitu sesak. Dia ingin lekas menyudahi telpon itu tapi sayangnya Amos masih saja terus menjelaskan fakta yang dia tahu tentang Harry. Ya... Harry main api dengan teman sekelasnya. Meski lebih tua dan Desy adalah seorang mahasiswi, tapi Desy tetap mencintai dan terobsesi dengan Harry. Dia tidak pernah merasa kalau sedang berpacaran dengan bocil, baginya Harry selalu bisa mengimbanginya. Desy sangat berharap Harry mampu mencintainya seperti dia mencintai Harry, meskipun sulit setidaknya berusahalah, begitu keinginan terbesar Desy. Tapi kini mendengar aduan dari Amos, harapan itu semakin jauh dari harapan. Semakin teranglah kondisi kalau selama ini Harry hanya berpura-pura saat bersama Desy. Selama mereka bersama, Desy lah yang selalu berjuang mati-matian agar hubungan mereka tetap terjalin meskipun dengan segala kecuekan Harry.
Desy bukanlah gadis buruk rupa, dia sangat menawan. Bahkan Amos pun sebagai teman Harry sudah lebih dulu naksir padanya. Amos kenal Desy lebih dulu, tapi Desy justru menjalin hubungan dengan Harry, itulah fakta yang paling menyakitkan bagi Amos. Amos mengadu bukannya tanpa sebab, dia merasa kalau Desy seharusnya tidak perlu menumbalkan diri sendiri untuk cinta sepihak, karena jelas Harry tidak pernah mencintainya.
"Aku harap kamu berhenti untuk menyakiti dirimu sendiri, Des, masih banyak yang sayang sama kamu" Begitu ucap Amos saat mendengar isak tangis Desy, wanita yang di taksirnya sejak lama itu. Ucapan Amos barusan tak berarti apa-apa, perasaan Desy tetap hancur, baginya Harry adalah segalanya. Dia pun sebenarnya tahu, Harry tidak pernah mencintainya. Sejak awal hubungan mereka adalah sebuah kesepakatan. Keluarga Harry dan keluarga Desy sudah kenal cukup lama. Ada unsur kepentingan juga di sana. Tapi, Desy tidak perduli, dia tetap mencintai Harry setulus hatinya bahkan justru cenderung terlalu terobsesi.
"Sudah dulu ya,Mos..." Ucap Desy hendak menyudahi perbincangannya di telepon. Amos hanya berkata iya. Setelah itu telepon pun diakhiri Desy.
Desy perlahan memencet tombol ponselnya mencari kontak Harry.
Tuttt.... Tut.....
Harry tidak bisa di hubungi. Desy tahu, apa yang ditakutkannya kini terjadi. Harry jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan itu bukan dengannya.
Sementara di tempat lain, disebuah kafe yang tidak jauh dari sekolah, Harry dan Hexa duduk berhadapan. Mereka saling menatap dengan penuh rasa suka. Sesekali tatapan dalam Harry bertemu dengan mata Hexa, rasanya jantungnya mau copot.
"Kau cantik sekali" Ucap Harry tiba-tiba. Hexa lantas salah tingkah dan mendadak merapikan rambutnya berkali-kali dengan tangan.
"Apaan sih!" Balas Hexa grogi. Harry tersenyum lebar, dia suka menggoda Hexa. Diraihnya jemari tangan Hexa lalu mengecupnya dua kali. Hexa deg-degan, jantungnya memburu.
"Ayo..." Ucap Harry kemudian.
__ADS_1
"Kemana? " Tanya Hexa sambil ikut berdiri saat Harry berdiri dari duduknya.
"Berciuman..." Ucap Harry tanpa rasa ragu. Hexa tertegun, sedikit kaget, tapi dia pun ingin ...
Akhhhh! Setan apa yang sudah menjangkiti aku? Pekiknya dalam hati sekuat-kuatnya. Tapi kalah, Hexa tetap mengikuti Harry kemanapun... Untuk berciuman...
Mereka tiba di sebuah rumah, kata Harry itu rumah temannya yang dijadikan markas kalau malam minggu. Biasanya ramai, tapi tidak saat itu. Harry dan Hexa masih berpegangan saat masuk ke dalam ruang depan tempat itu. Pintu ditutup Harry dari dalam.
Harry memegang kedua pipi Hexa, menatapnya dalam sekali lalu mencium bibir Hexa lama sekali. Beberapa kali di lepas kemudian di cium lagi. Nafas mereka memburu, saling berusaha mengontrol diri dan memenangkan akal sehat. Bibir Harry kemudian menjalar ke leher Hexa dengan sengaja.
"Stop..." Kata Hexa saat menyadari kalau ini bisa berbahaya jika di teruskan. Dia cemas! Harry pun berhenti, di aturnya nafasnya beberapa kali lalu memeluk Hexa lembut. Hexa membalas pelukan Harry. Kini Dia merasa bahagia bercampur takut... Takut kehilangan.
Ruangan itu masih sepi. Hexa dan Harry masih duduk di kursi depan. Hexa bersandar di dada Harry yang bidang, sementara Harry memeluknya dari belakang. Sesekali tangan Harry mengusap rambut Hexa yang panjang.
"Iya..." Ucapnya kemudian.
Hari sudah mulai sore, kedua sejoli itu lupa waktu sampai-sampai tidak sadar kalau mereka sudah terlalu lama di markas itu.
"Ayo pergi sebelum yang lain ke sini" Ajak Harry sambil melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Hexa.
" Iya, ayo" Balas Hexa singkat. Dirapihkannya rambutnya dan mereka bergegas keluar dari rumah itu. Motor Harry berpacu dengan waktu, dia tidak mau seorangpun melihat mereka lagi. Terlebih Amos, temannya yang tidak bisa menyembunyikan kabar dari Desy. Harry berniat akan memberitahu sendiri kepada Desy tentang Hexa jika waktunya sudah tepat. Tapi, Amos justru merusak rencananya. Harry tau beberapa kali Desy berusaha menelponnya meski dia sengaja mengalihkan telpon. Sebenarnya Harry kasihan dengan Desy, dia merasa Desy tidak perlu lagi berharap banyak kepadanya. Harry merasa kalau untuk pertama kalinya dia sangat mencintai seorang gadis dan itu adalah Hexa, bukan Desy. Meski dari segi fisik, Desy lah yang lebih menggoda dan menarik, tapi kesederhanaan Hexa dan pembawaannya yang biasa saja justru membuat Harry terpikat. Dia berharap orang tuanya akan mengerti dengan pilihannya terutama mama. Semoga!
__ADS_1
Hexa masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru.
"Darimana!?" Tanya abangnya Hexel yang membuatnya terkejut.
"Sekolah" Jawab Hexa berusaha menghindar. Hexel melirik jam dinding.
" Lihat jam berapa? Itu siapa?" Lanjut Hexel lagi mengintrogasi adiknya itu.
" Teman... Aduhh banyak tanya nih, mau mandi udah sore..." Balas Hexa masih menghindar.
"Kenalin ke aku besok!" Kata Hexel lalu lekas berlalu dari hadapan adiknya itu. Hexa bingung, mendadak abangnya tahu soal Harry. Dia sebenarnya juga ingin cerita, tapi sudah terlanjur keduluan di lihat abangnya itu .
Hexa belum pernah sedekat itu dengan pria, sejauh ini baru Harry lah yang terdekat dan berani menghantarkannya pulang ke rumah. Mungkin karena itulah Hexel abangnya jadi ingin tahu siapa laki-laki yang sudah mendekati adiknya itu. Hexa takut kalau-kalau Harry tidak disukai oleh Hexel.
Akhh! Mana mungkin, lagian kenapa bisa? Kan mereka tidak ada masalah dan baru kenal. Begitu pikir Hexa dalam hati.
Dia berjalan menuju kamarnya dan lekas mandi. Di depan kaca wastafel kamar mandi diusapnya lembut bibirnya yang tadi siang di kecup Harry.
Ahh.... Senangnya...
Desah Hexa dalam hati. Senyumnya mengembang, itu adalah ciuman terbaik yang baru pertama kali di dapatnya dari seorang pria. Dia bahagia, Harry menciumnya seperti aktor dalam film drama korea yang dulu hanya bisa dibayangkannya saja.
__ADS_1
"Aku mencintainya Tuhan, sangat!" Gumam Hexa pelan.