FALLING

FALLING
EMPAT BELAS


__ADS_3

Sepulang sekolah Harry berjanji akan menuntaskan masalah dirinya dengan Desy segera. Untuk itu dia berniat untuk membawa Hexa di depan Desy agar Desy sadar kalau kini Harry sudah milik Hexa.


"Jangan... Kasihan..." Hexa ragu saat Harry mengutarakan niatnya itu. Bagi Hexa itu terlalu kejam.


"Kalau 'ga sekarang, trus kapan?" Tanya Harry serius. Hexa menggeleng, dia kasihan pada Desy, walau bagaimanapun Desy adalah wanita sama sepertinya. Pastinya perasaan Desy akan sangat sakit.


"Ayolah, Xa... Lama-lama juga Desy akan terima walau pertama-tama pasti dia akan mendadak stres atau mengancam-ancam bunuh diri." Kata Harry lagi. Hexa masih ragu, dia merasa terlalu jahatlah kalau caranya seperti itu. Tapi Harry tak mau tahu, dia merasa sudah saatnya. Perasaan di hatinya pun masih gantung jika masih dikait-kaitan dengan Desy nantinya. Supaya semua tuntas! Itu niatnya.


Akhirnya setelah berdiskusi cukup lama, Hexa menurut juga dan ikut dengan Harry untuk menemui Desy.


Hari itu mereka menuju ke tempat yang sudah disepakati bersama, Harry akan bertemu dengan Desy dan memperkenalkannya dengan kekasih barunya Hexa. Dengan masih takut dan ragu Hexa mengikuti Harry masuk ke dalam restoran yang lumayan cozy.


Di meja agak ujung Desy sudah menunggu.


Deg....


Jantung Hexa seperti berhenti berdetak untuk beberapa saat. Nampaklah seorang gadis yang sangat cantik , berkulit putih dan pakaian sedikit seksi. Hexa sampai kagum dengan tampilan Desy dari luar. Desy berbalut busana yang modis, Hexa tahu kalau pakaian Desy tidaklah murah. Wajahnya juga sangat anggun, dandanannya sangat rapi, khas wanita-wanita yang berkelas. Make-up sedikit tebal meriasi wajah Desy yang cantik, namun make-up itu sangatlah pas di wajahnya.

__ADS_1


Perfect !


Begitulah kesan Hexa untuk pertama kalinya saat melihat sosok Desy, gadis yang kini akan di putuskan Harry. Hexa mendadak semakin gugup dan rendah diri. Sungguh minder!


Bagaimana bisa Harry memutuskan hubungan dengan gadis semenarik itu dan lebih memilih dirinya yang tampak seperti gadis kampung ini? Begitu pikir Hexa dalam hati.


Harry berjalan duluan, sementara Hexa membuntutinya di belakang. Desy tersadar dengan kedatangan mereka berdua. Ada rona kaget dan kecewa yang terlihat jelas dari wajah Desy kala mendapati ada Hexa di situ. Namun, sebentar kemudian raut wajah Desy sudah biasa saja dan mulai bersikap ramah.


"Hai, kenalin Aku Desy, ayo duduk..." Ajak Desy sambil menarik tangan Hexa untuk duduk. Hexa melongo, batinnya terpukul dengan perlakuan manis Desy. Harusnya reaksi Desy adalah memaki-maki dia dan menggebrak meja saja saat melihat dirinya ikut bersama Harry, tapi tidak. Kenapa justru kini Hexa semakin merasa berdosa dan bersalah kala mendapatkan perlakuan ramah dari Desy. Hatinya menjerit, dia malu.


"Hexa." Hexa mengulurkan tangan membalas tangan Desy. Mereka bersalaman tepat di hadapan Harry. Harry yang menyaksikan pemandangan itu juga jadi tidak enak hati.


Basa basi tentang kegiatan mereka seharian hingga sampailah di pembahasan inti.


"Des... Sebenarnya aku dan Hexa datang kesini ada yang mau di bicarakan..." Begitu kata Harry. Hexa dan Harry berpandangan, kemudian diam untuk beberapa saat berusaha mencari kalimat yang tepat untuk diucapkan.


"Aku dan Hexa sudah jadian." Lanjut Harry memberanikan diri. Desy tidak menjawab, dari raut wajahnya memang nampak kesedihan. Dia kecewa itu sudah pasti namun dia yang biasanya meledak-ledak kini berusaha bersikap biasa saja.

__ADS_1


"Aku udah tahu." Begitu balas Desy pelan. Suasana menjadi sangat canggung. Hot Chocolate di meja yang mereka pesan sudah dingin. Begitu juga dengan hati mereka semua.


"Aku 'ga bisa bilang apa-apa Harry, aku sadar, bagaimana bisa pesona Hexa terlewatkan, dia sangat cantik dan lebih pas denganmu, sementara aku?" Desy berkata lirih, dia mendadak tidak percaya diri. Padahal sejak pertama melihat Desy, Hexa-lah yang sangat kagum dengan pesona Desy. Sementara dia merasa dirinya sendiri lah yang tidak pantas bersaing dan merebut Harry dari Desy. Hexa tertunduk, rasanya sangat minder.


"Tidak... Kau sangat mempesona Des, sangat. Aku lah yang seharusnya tidak mengganggu hubungan kalian. Aku minta maaf..." Balas yang Hexa sudah penuh dengan rasa bersalah. Bahkan untuk menatap wajah Desy pun kini dia merasa tidak pantas. Harry terkejut dengan perkataan Hexa. Harry tidak tahu kemana arah pembicaraan Hexa ini.


"Maksudmu Xa?" Tanya Harry menjadi bingung.


Hexa menatap Harry dalam, di tatapnya kedua sorot mata Harry yang penuh pertanyaan dengan maksud dari ucapannya barusan. Hexa menghela nafas sebelum melanjutkan.


"Aku tidak bisa menghancurkan hubungan kalian, akulah yang seharusnya harus tahu diri. Maaf kurasa hubungan kita seharusnya tidak pernah terjadi. Maaf jika harus sampai begini." Kata Hexa pilu, ditahannya sekuat mungkin air mata agar tidak mengalir. Hatinya sakit sekali, namun dia berusaha tetap tegar dan mengambil jalan untuk berkorban. Dia sudah merasa dirinya bersalah telah hadir di dalam hati Harry yang sejak awal adalah milik Desy. Terlebih ketika sudah melihat sendiri sosok Desy di hadapannya. Kini dia merasa kalah, dia merasa salah.


Harry masih tidak terima. Semua rencana awal malah kini balik menyerangnya. Hancur sudah! Pikirnya dalam hati. Hexa meraih tas kecil nya di atas meja lalu beranjak pergi. Harry mematung, begitu juga dengan Desy sampai tidak sadar harus bagaimana dengan situasi yang kini justru berputar arah. Hexa sudah pergi dan Harry masih duduk di kursi bersama Desy. Hexa mencegat Taxi yang kebetulan lewat dari jalan itu, lalu lekas masuk ke dalam. Pulang kerumah.


Harry yang baru menyadari situasi yang terjadi bergerak cepat ke luar restoran untuk menyusul Hexa, namun Hexa sudah pergi. Kini Harry sangat bingung sekaligus tidak mengerti bagaimana bisa Hexa menyerah pada hubungan mereka berdua. Kenapa tiba-tiba? Pikirnya.


Desy kemudian menyusul Harry di luar. Dia menggenggam tangan Harry yang nampak terpukul. Harry menoleh ke Desy namun tidak menepis atau tidak menolak sikap Desy barusan . Dia terjebak dalam situasi yang sulit, wanit ayang justru dia parjuangkan meninggalkannya dan memutuskan hubungan sepihak secara mendadak. Dan yang ada kini adalah Desy, wanita yang dia ingin hindari. Harry terjongkok, kakinya tak kuat menahan berat badannya, lututnya terasa lemas. Desy mengusap bahu Harry,

__ADS_1


"Tenang dulu... Tenang," Kata Desy dengan suara lembut. Dia tidak tega melihat Harry yang kecewa, tapi di sisi lain dia juga tidak menyangka kalau Hexa membuat keputusan seperti itu secara sepihak. Posisinya justru semakin kuat, meski ada rasa lega di hatinya tapi dia cukup prihatin dengan hubungan Harry dan Hexa. Memang sejak awal dia sudah mempersiapkan diri untuk mengalah saja, apalagi selama ini dia merasa Harry sangat tidak nyaman dengan dirinya karena hubungan yang serba terpaksa. Tapi di luar dugaan, justru kini hanya dialah yang ada dan Hexa yang ingin di perjuangkan Harry malah pergi.


"Tenang, aku di sini..." Bisik Desy sambil merangkul pundak Harry yang masih tertunduk dan terjongkok di halaman restoran.


__ADS_2