
Penjelasan-penjelasan itu sangat panjang. Itu masih dalam satu hal. Hampir satu jam berlalu sejak pembelajaran dimulai. Sisa siang hari ini tinggal sekitar empat jam dari total enam jam.
Meski kepala Keil semakin memanas karena mencerna terlalu banyak kata-kata, meski ia sangat tak terbiasa dengan hal ini, ia mencoba sekuat tenaga melawan ketidakmampuannya.
"Apakah kau lelah?"
Keil menggeleng menyembunyikan kondisinya.
Tapi, sang guru lebih tahu kondisi Keil. Ia menutup bukunya dan meletakkannya pada tempat semula.
"Guru, aku..tidak sedang lelah"
"Tak apa. Tak usah memaksakan dirimu. Bahasa tubuhmu terlalu jelas. Makan dan minumlah secukupnya. Ambil-lah dari dapur di dekat kamar mandi. Ambilkan juga sepiring untuk gurumu ini dan segelas air putih"
Keil berdiri untuk mengerjakan tugasnya. Sang guru mengucapkan sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak.
"Keil, gurumu ini lupa memberitahumu. Bahwa tak ada kelezatan yang lebih lezat selain setelah lelah. Maka, jangan pernah menyesal karena kau merasa lelah"
"Aku dengar dan aku laksanakan, Guru!"
Sang guru tersenyum senang. Ia benar-benar hampir seratus delapan puluh derajat berbeda dengan yang dilihat Keil pertama kali. Yakni, dari membosankan menjadi wajah yang sedap dipandang.
Sang guru memperhatikan langkah Keil. Tapi, ia melihat sesuatu yang lain. Sebuah masa depan yang tercermin dari masa lalu.
"Namaku adalah Wey! Ingatlah oleh kalian. Aku akan menjadi guru terhebat yang akan mencetak murid terhebat yang akan merubah dunia menjadi lebih baik! Wey Vez, nama yang akan mengguncang dunia, ingat itu!"
"Ha, ha. Omong kosong kecil. Memang apa yang perlu dirubah dari dunia ini? Paling, yang kau lakukan adalah memperburuk dunia saja. Ka..ka..ka!!"
"Probabilitas mendekati nol. Kesia-siaan. Aku menduga kau akan mati sebelum menyandang gelar guru"
"Wey? Nama keluarga macam apa itu? Tumpukan sampah yang sombong nan dungu!"
__ADS_1
Sekolah elit Dunia Barat.
Sungguh, kenangan.
"Apa yang kalian katakan? Bukannya dia bebas punya mimpi? Apa yang dikatakan para pemuja hak berpendapat ini? Apakah menghina sesama Tekno disebut 'penghargaan'. Dasar, Otak besar"
Dia adalah seorang lelaki pendek.Wajahnya bukan wajah tampan. Tapi, dari dalam dirinya memancar kharisma kuat yang tak dimengerti. Semua orang berhenti mengolok-olok seketika.
Dasar, aku jadi berhutang Budi padanya sejak itu.
Boss.
"Guru, aku sudah mengambil makanan yang guru inginkan"
Hmm. Kalau dipikir-pikir, anak ini begitu sopan. Setahuku, dari cerita Boss, dia adalah tukang bolos yang tak memiliki tatakrama. Apakah, dua tahun sebelum pembantaian, dia berubah?
Pribadi yang agak sulit ditebak. Mungkin aku akan menjadikannya mata-mata saja dan melatihnya? Atau, seorang 'pembunuh senyap'?
Duh!
"Oh, terima kasih, Keil. Mari nikmati makanan kita sambil duduk seperti tadi"
"Aku dengar dan aku laksanakan!"
"Keil, setelah dipikir-pikir. Gurumu ini akan memaafkanmu dan menghapus hukumanmu. Tapi, malam ini tidurlah lebih awal dan lebih lama. Karena, di seperempat malam terakhir, kau harus bangun untuk melanjutkan pembelajaran"
"Aku dengar dan aku laksanakan!"
"Silahkan makan, isilah perutmu secukupnya. Jangan sampai kenyang dan kau sudah tidak lapar atau haus. Tapi, khusus hari ini, kondisi apapun habiskan makananmu. Mulai besok, aturan ini akan berlaku"
"Aku dengar dan aku laksanakan!"
__ADS_1
Sang guru mengambil air dari wastafel yang berjarak enam kaki dari tempat duduknya. Ia mencuci tangannya disana. Dan, ia melupakan sesuatu.
"Oh, Keil. Cuci tanganmu dulu. Kebersihan akan menjaga kesehatan—"
"Aku sudah mencuci tangan, Guru! Terima kasih atas nasehatnya!"
"Ok.."
Setelah selesai mencuci tangan, sang guru melihat ke arah Keil. Dia belum menyentuh makanannya sama sekali.
"Keil, makanlah. Tak usah sungkan. Bukankah gurumu ini sudah membolehkanmu makan?"
"Aku hanya ingin berlaku sopan. Maafkan kesalahanku guru!"
Keil menunduk dalam. Hampir ia bersujud. Keil hanya menerapkan cara meminta maaf dari desanya dulu. Yaitu, membungkuk nyaris bersujud dengan kedua tangan menjadi penyangga tubuh.
"Sudahlah. Apa yang kau lakukan itu benar. Mungkin seharusnya begitu. Tapi, satu hal, minta maaflah dengan wajar. Aku tak terlalu suka ekspresi maaf yang terlalu berlebihan. Cukup dengan isyarat tangan itu lebih baik"
"Aku dengar dan aku laksanakan!"
Sang guru memulai memakan makanannya. Keil masih duduk bersila tegap di depan makanannya. Seperti menunggu sesuatu.
"Makanlah. Mulai besok, mulailah makan setelah gurumu mulai makan tanpa aba-aba. Dan, waktu makan adalah sepuluh menit dimulai sejak gurumu ini memasukkan suapan pertamanya"
"Aku dengar dan aku laksanakan"
Keil melahap makanan di depannya dengan tangan kanannya dengan semangat. Memakan dengan tangan kanan adalah kebiasaan di desanya. Ada sebuah kata-kata yang populer dikalangan anak-anak di desanya.
'Tangan kanan itu bersih. Tangan kiri itu untuk membersihkan—cebok—'
***
__ADS_1