
Daerah yang sungguh aneh. Hanya ada satu rumah dan satu penduduk. Aku bertanya bagaimana orang ini membangun bangunan ini sendirian, atau..
Ah, aku harus menuju pintu itu..
Keil telah sampai di depan pintu. Ia pun mengeksekusi niatnya secara langsung. Tangan kanannya sedang mendekati pintu dengan kecepatan agak tinggi. Namun, masih lebih lambat daripada...
DACK!
Keil terpukul mundur karena pintu yang tiba-tiba terbuka. Ia meringis sakit memegangi jidatnya.
"Mengapa kau kembali?"
"Apa yang kau pikirkan...Kau telah melukai jidatku. Aku berniat baik, tapi, inilah hasilnya.."
Keil menahan amarahnya. Ia tak ingin menyinggung orang itu kesekian kalinya. Ia muak tapi membutuhkan pertolongan.
"Oh, maaf. Aku tak sengaja. Haruskah aku mengobatimu. Aku adalah orang yang bertanggung jawab?"
Keil menggeleng.
"Terima kasih sudah mau menolong. Tapi, daripada mengobatiku, lebih baik beritahu aku cara agar bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Aku minta maaf karena meragukanmu. Bagaimanapun, kau lebih tahu seluk beluk tempat ini.."
"Ehm, itu sulit. Aku tak bisa membantumu kalau begitu. Tapi, satu hal yang kutahu, kau tak bisa keluar dari tempat ini tanpa kemampuan"
"Lalu, apa yang harus kulakukan? Kemampuan macam apa yang dibutuhkan untuk keluar dari tempat ini?"
"Itu rahasia. Kecuali kau mau melakukan beberapa hal yang akan kuperintahkan"
Sialan. Tak ada roti gratis dimanapun.
__ADS_1
"Baiklah. Aku berterima kasih atas tawaran yang sangat menggiurkanmu itu. Sayangnya, aku harus menolaknya"
Sia-sia aku berniat baik.
Keil kembali pada niat awalnya untuk pergi dari tempat ini tanpa peduli apapun lagi. Ia benar-benar telah mantap tanpa ragu.
Jika pun aku mati, siapa yang akan peduli. Aku hanya harus berusaha untuk menuntaskan dendam atas kematian semua penduduk desa. Apapun caranya.
***
"Mengapa kau biarkan dia pergi. Bukankah dia sosok yang cukup menjanjikan?"
"Bos, memang aku lebih ingin memiliki satu murid terhebat daripada seribu murid yang hebat. Tapi, ia belum memenuhi satu kualifikasi pun yang aku inginkan"
"Wey, Kau selalu begitu sejak dulu. Aku jadi ingat saat-saat sekolah dasar. Apa yang kau katakan ketika kau menyebutkan cita-citamu?"
"Lupakan. Bahkan, Bos sendiri lebih memalukan. Bukankah Bos berkata 'aku tak memiliki cita-cita'?"
"Tak apa. Mungkin aku yang salah telah memberikan kualifikasi yang kurang tepat"
"Baiklah, sampai jumpa. Semoga Tuhan melindungimu dimanapun kau berada!"
Sejak kapan ia sereligius ini? Kupikir ia menganggap 'Tuhan' sebagai lelucon saja?
"Banyak waktu yang berlalu. Banyak hal yang berubah. Benar-kan, Veisy?"
Jari-jari tangan kanannya meneropong ke langit. Menanti siang yang akan habis. Tatapannya seperti sesuatu yang tak mudah dimengerti.
***
__ADS_1
"Hufh..hufh..hufh..Jauh juga. Tapi, ini bukannya tak berujung seperti yang semalam. Oh, tak terasa..ternyata matahari akan terbenam. Berapa waktu aku berjalan?"
"Mungkin sekitar seperempat hari?"
"Jika malam pada musim ini memiliki porsi tiga perempat. Jika diasumsikan semalam aku berjalan pelan dan cepat kemudian tertidur dikurangi waktu berdiam diri di pinggir sungai, anggap saja dua perempat waktu atau setengah hari. Maka aku baru menempuh setengah jalan hingga ke desa. Tapi, aku kurang yakin arah yang kutempuh apakah persis seperti saat aku datang.."
"Ternyata tadi malam, aku berjalan jauh sekali"
"Apakah perhitunganku sudah benar? Heil?"
"Heil?"
"Heil?"
Keil tanpa sadar meneteskan air matanya.
Benar. Keil hampir melupakan kejadian kemarin. Dada Keil bergemuruh dipenuhi amarah tanpa sadar.
"Ah..apa yang kulakukan?"
Keil tertawa aneh. Jika seseorang melihatnya, dia akan mengira Keil telah benar-benar gila. Emosi-emosi bercampur dalam diri Keil membentuk ekspresi yang mengerikan.
"Ahha-ha-ha..benar. Bukankah kemarin para bangsat itu telah merenggut semuanya dariku? Dan, bukankah kemarin aku ingin bunuh diri? Kenapa aku berakhir berputar-putar seperti ini?"
"Ah..apa—"
Pandangan Keil menjadi samar.
Ia terjatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
***