Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh

Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh
Pencarian


__ADS_3

Keil menyusuri langkahnya kembali menuju kediaman gurunya. Ia bertekad untuk meminta maaf dengan setulus-tulusnya. Ia tak peduli ia kembali pada jalannya semula, meskipun menempuh jalan yang sebelumnya sungguh membosankan, apalagi ini sudah terlalu panjang. 'Putar balik' memang tak menyenangkan, apa boleh buat.


Keil tak tahu kapan malam panjang ini akan berakhir. Tapi, Keil mengira pagi tak terlampau jauh lagi ketika ia sampai di rumah kubus tempat belajarnya. Kira-kira sekarang hampir atau sedikit lebih separuh dari waktu malam menurut Keil. Meski Keil tak membawa alat penghitung waktu, ia memiliki sedikit ilmu 'mengira-ngira' dari beberapa pengalaman sebelumnya.


Jam-jam akan berjalan bersama dengan Keil. Tapi, sepertinya kali ini 'putar balik' akan memakan waktu yang lebih lama dari keberangkatan karena Keil sudah agak lelah. Sebenarnya Keil sudah lelah, tapi semangat menjadi bahan bakar terakhir kali ini. Ia harus memanajemen bahan bakar kali ini dengan efisien dengan menjaga mood.


Menit-menit berlalu juga jam. Malam masih sunyi dan Keil masih bisa menyetabilkan tubuhnya agar tak jatuh kelelahan. Keil berusaha mencari cara agar ia tak mengacaukan perjalanan pulangnya kali ini. Keil menyeimbangkan pengaturan nafasnya. Ia mencoba mengangkat wajahnya. Ia melihat langit malam mencari sebuah inspirasi untuk mengalihkan perhatian.


Mencari inspirasi menjadi sangat sulit ketika mata telah menjadi berat. Sepertinya Keil hampir tak sanggup mengatasi kelelahannya, belum lagi rasa lapar yang kembali muncul. Keil menguatkan dirinya kembali. Ia mencoba keras untuk memperbarui semangatnya.


"Aku..rasanya melawan kelelahan ini seperti melawan kematian.."


Beban tak terlihat pada kelopak mata Keil semakin berat. Saat itu Keil tiba-tiba merasa silau oleh cahaya aneh. Keil menduga..


"Apakah ini kematian?"


Keil terjatuh di tanah yang agak lembut karena itu masih daerah hutan dan bekas air hujan belum hilang sepenuhnya.


(Siapa dia?)


(Itu! pemuda yang dimaksud!)


(Oh~rupanya pemuda yang ketua berusaha lindungi~)


(Baiklah... amankan dia. Siq, taruh anak ini di dalam mobil)


(Ketua~ bolehkah aku—)


(DIAM, kau Tian! Mintalah sesuatu nanti saat misi ini selesai!)


(Cih~ Memang apa salahnya sedikit bersenang-senang? Apa juga untungnya membiarkan hidup anak ini~)


(TIAN, kau ingat perkataanku tadi, bukan?)


(Iya~iya~ Ketuaku~)

__ADS_1


Mereka membawa Keil yang tak sadar ke dalam mobil pengangkut tertutup. Keil dilempar ke dalam agak pelan. Setelah itu pintu kembali ditutup dan dikunci dari dalam.


Rombongan itu terdiri dari dua mobil pengangkut tertutup. Di dalamnya ada delapan orang di tiap-tiap mobil dan dua supir. Dan, empat buah motor karavan. Ada satu pengendara di tiap motor, dan beban barang yang ditarik dengan dua orang penjaga di dalamnya.


Lalu, empat mobil mini tanpa awak yang memiliki pencahayaan khusus berupa lampu yang memiliki sorot kuat yang berputar putar berfungsi melihat kondisi sekeliling. Terakhir empat mobil terbuka dengan empat penumpang di setiap mobil dan satu supir. Mereka bersiaga dengan senjata laras panjang otomatis yang bisa digunakan dalam jarak jauh dan dekat—memiliki mekanis belati/pisau di dalamnya—. Dan, salah satu memegang senapan mesin yang memiliki kecepatan tembak yang luar biasa. Cukup untuk menghabisi sepuluh orang dalam waktu kurang dari tujuh detik.


***


"Hah..Aku harus melakukan hal repot lainnya. Boss, menghadapi para berandalan itu bukan sesuatu yang mudah..."


"Pengintai 0001. Divisi utama pengintai Tekno Barat. Dipimpin oleh Fan Bliad dari keluarga F cabang 'Fan'. Spesialisasi pengobatan?"


Wey berulang-ulang membaca kalimat 'pengobatan'. Ia mengira itu salah tulis atau matanya yang sudah berumur. Tak pernah terpikir divisi pengintai paling ditakuti dan profesional dipimpin oleh ahli di bidang yang lain.


"Seharusnya ini diisi oleh seseorang dari keluarga 'A'. Dasar, pasti para petinggi itu mencoba cara pandang lain atau ada politik tersembunyi. Omong-omong aku masih heran mengapa Fan ini membiarkan Keil. Dan, lebih heran lagi, Boss sudah tahu apa yang akan terjadi seakan-akan ia tahu siapa Fan ini? Hmm. Memang keluarga A dan keluarga I akan menjadi musuh bebuyutan yang saling menjatuhkan..apa dayaku yang hanya seorang 'Wey', keluarga nomor empat dari bawah, hanya cabang, pula."


Wey memperbaiki raut wajahnya. Ia merubah mimiknya menjadi serius. Lalu, setelah dirasa cukup, ia mencoba tersenyum, tapi nyaris datar.


"Bercanda..meskipun aku seorang 'Wey', aku tak berpikir ini terlalu sulit menghadapi para berandalan itu. Akan kukerjakan pekerjaan merepotkan ini"


***


Suara mobil-mobil itu, meskipun jumlahnya cukup banyak, tapi, suaranya halus. Sehingga, malam yang sunyi ini hanya sedikit terusik. Tapi, sorot-sorot cahayanya yang membuat keramaian mereka terlihat. Toh, tujuan mereka bukan menyembunyikan diri, tapi mencari sesuatu.


Sedangkan dalam salah satu dari dua mobil pengangkut tertutup, salah satu dari mereka adalah pemimpinnya. Fan Bliad, namanya. Seseorang yang sebenarnya membenci pekerjaannya saat ini. Namun, ia menahannya dan ingin menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.


"Itukah rumahnya?"


Fan melihat dari kursi kiri depan. Tepat disamping supir.


Siq, ia adalah supir mobil itu dan seorang informan dari kelompok ini.


"Benar, ketua. Aku sempat melihat kemarin, seseorang yang melihat pemandangan dari jendela"


"Bagaimana ciri-cirinya?"

__ADS_1


"Maaf, Ketua. Tapi, teropong yang kugunakan agak sedikit kabur. Mungkin memiliki tinggi hampir dua meter? Wajahnya datar, berambut pendek?"


"Mungkin, ya. Jika itu benar, jika ingatanku tak salah dan sebuah kebetulan aku pernah melihatnya saat masa sekolah dasar dahulu"


"Huh, balas budi-kah?"


Fan berbicara sendiri.


"Ketua, haruskah kita melakukan prosedur penangkapannya?"


Fan terdiam sejenak.


"Tidak, ia sudah pergi dari rumah itu. Menurutku ia berada di sekitar sini menunggu kesempatan untuk mengambil anak itu. Maka, tetaplah bersiaga, dan untuk jaga-jaga, bawa dua orang untuk mengecek isi rumah"


"Laksanakan!"


Siq membuka pintu mobil. Ia masih menyalakan mobilnya. Ia berlari menuju bagian belakang mobil dan mengetuk pintunya.


"Dua orang, pengecekan rumah. Waktu lima menit!"


Pintu terbuka segera dan dua orang turun memenuhi perintah Siq.


Siq kembali menuju tempatnya. Namun, Fan telah menghilang. Siq tak terlalu ambil peduli. Ia menduga ketua sedang ada urusan tertentu.


Siq bersandar istirahat di kursinya. Ia mengambil satu batang rokok dari tempat penyimpanan di sana. Lalu menghirup asap beracun yang nikmat itu.


"Hmm, aku juga heran. Mengapa ketua yang selalu berhati-hati membiarkan anak itu hidup. Apakah ia sudah lelah atau mengatur rencana lain. Lucu sekali, hah—"


Siq tertegun. Ia menyadari sesuatu.


"Hmm? Rencana lain? Jangan-jangan ia sudah melihat hingga sejauh ini dan tahu bahwa anak itu berhubungan dengan T3? Uh, aku tak berpikir sampai sana. Memang hebat, para keluarga Fan itu. Meski bukan bidang mereka. Mereka masih bisa mengerjakan pekerjaan para keluarga A"


Siq masih menikmati gulungan kertas sepanjang jari tengahnya itu. Tak terasa satu buah rokok telah habis. Siq yang mulai merasakan kelelahannya mulai mengantuk.


"Lama sekali. Aku akan memejamkan mata sekitar lima ratus detik.."

__ADS_1


***


__ADS_2