Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh

Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh
Konflik Tanpa Diduga


__ADS_3

Acara istirahat dan makan telah usai. Usai mencuci kedua tangan mereka. Keil dan gurunya melanjutkan pelajaran mereka.


Siang ini, meskipun pendek, tapi sangat cerah. Hari menjadi sore disaat jam keempat dari siang atau sepertiga siang terakhir. Masih ada satu jam lebih untuk sampai pada sore hari.


Sang guru membuka jendela yang mempunyai pengaturan naik-turun. Naik, untuk membuka dan turun kondisi menutup. Udara segar masuk terhirup di udara sang guru dan Keil.


"Ciumlah aromanya dan rasakan. Inilah satu alasan alam harus tetap dijaga"


"Guru, apakah aku boleh tahu tentang sesuatu?"


"Katakanlah. Asal gurumu bisa menjawabnya, pasti itu akan terjawab"


"Apa yang akan kita pelajari setelah ini?"


"Keil"


"Baik, Guru?"

__ADS_1


"Berguru itu bukan sesuatu yang instan didapat begitu saja. Boleh jadi, kau hanya ingin keluar dari tempat ini dan ingin mempelajari kemampuan bertahan hidup tertentu. Namun, jujur, gurumu ini ingin lebih dari itu. Bukankah, sudah kau dengar, bahwa kau akan menjadi murid terhebat? Dan tidak mengecewakan gurumu ini? Masih ada lima hal yang harus kau miliki dan beberapa etika penting. Hal kedua yang harus kau miliki adalah 'kerakusan'. Belajarlah sebagaimana orang yang kelaparan. 'Ilmu' itu adalah makananmu. Atau bayangkan saja kau menginginkan sesuatu, semisal permata yang berkilau. Ilmu itu adalah sesuatu yang kau butuhkan dan kau inginkan"


"Aku..mengerti, Guru"


"Hal ketiga yang harus kau miliki lagi adalah 'kesungguhan'. Belajarlah seakan-akan ini adalah hari terakhirmu. Dengan kesungguhan kau akan mendapat yang akan dirimu capai meskipun itu menembus tingginya gunung bahkan terbang diantara awan-awan. Dengan, kesungguhan, bahkan kau akan bisa menghadapi orang-orang yang telah menghancurkan desamu—"


Keil merapatkan gigi-giginya, bunyi-bunyi itu terdengar oleh sang guru. Itu adalah bunyi-bunyi kemarahan yang dalam dan tertahan.


"Lepaskanlah, ketidaktenangan akan membuatmu jauh dari akal. Keil—"


"HAH? APAKAH KAU TIDAK MENGERTI, MEREKA TELAH MEMPERKOSA IBUKU, MELECEHKAN SAHABATKU, MEMBANTAI PENDUDUK DESA TANPA SISA! Tanpa bekas, kecuali diriku.."


Ah, ternyata jiwanya masih rapuh. Ini akan memakan waktu lebih.


Sang guru menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia berdiri menghampiri Keil.


"Keil.."

__ADS_1


"Apakah kau tak mengerti?! Aku belajar padamu hanya untuk keluar dari tempat ini, dan membalas dendam untuk mereka, Tekno Barat sialan itu! Kau tahu betapa menderitanya aku karena kau hanya mengulur waktu dan tak mengajarkan apapun yang berguna!"


"KEil.."


"Aku tahu jiwaku hampir rusak! Tapi, aku percaya dengan mencincang-cincang tubuh mereka aku akan sembuh tanpa hal rumit lainnya!"


"KEIL! Cukup, jika kau sekeras kepala itu, maka pergilah dari tempat ini. Siapa yang butuh, dan siapa yang dibutuhkan. Aku takkan mengatakan apapun lagi, mulai sekarang kau keluar dari rumah ini!"


Keil menatap mantan gurunya dengan tajam dan pergi sambil membanting pintu ruangan. Lalu, berlari dengan langkah kaku yang diliputi perasaan jengkel. Sekali lagi ia membanting pintu rumah dan terdengar hingga jarak yang agak jauh.


Itu sangat menyakitkan, sungguh.


Apa aku menguji terlalu keras?


Ah, ia membutuhkan penyembuhan yang serius. Ternyata, selama ini ia hanya mengabaikan perasaannya saja. Aku tak pernah mengira akan jadi seperti ini.


Boss, benarkah aku tengah menempa sebuah permata, dan bukan batu?

__ADS_1


***


__ADS_2