
Keil sendirian di kamarnya. Ia telah mendapatkan sebagian besar ingatannya kembali. Sejak tragedi yang menimpanya, ia merasakan dirinya mengalami beberapa gangguan terkait emosi.
Ia kadang merasa marah, senang, lalu kacau, lalu tenang. Tapi, yang tak hilang darinya adalah bekas trauma yang mendalam. Apa yang ia lihat kemarin pagi—dua hari yang lalu— menjadi sebuah memori permanen yang tertanam kuat dalam dirinya.
Sekarang ia sedang tenang.
Mungkin belahan jiwa yang sedang marah sedang tak mendominasi dirinya. Tatapan Keil kosong tanpa ekspresi. Dalam benaknya, ia mengingat sosok Heil, ketua dari perkumpulan para pemuda di desa yang menginginkan perubahan.
Heil adalah pemuda yang cerdas, dewasa, lebih tua dari Keil lima tahun—berusia 21 tahun—. Pernah suatu kali mereka mengambil beberapa koin emas dari satu patung dari wadah tempat uang di bawahnya. Keil mengambil dua koin dan Heil satu koin. Keil yang heran bertanya alasan Heil hanya mengambil satu koin.
"Jangan biasakan dirimu mencuri meski dari orang yang lebih kaya atau buruk sekalipun. Jika mengambil satu itu cukup, maka tak perlu mengambil lebih"
"Kau yang mengajak, bukan?"
"Kita pulang. Penjaga Kuil pasti akan datang sebentar lagi"
...
"Nah, Keil, apa yang kau pikirkan tentang kepercayaan yang kita anut? Apakah kau berpikir roh-roh itu bisa benar-benar membantu dengan kita memberikan beberapa persembahan. Padahal, persembahan itu, orang-orang kuil yang mengambilnya?"
"Bukankah pendeta adalah perantara para Dewa yang lima?"
__ADS_1
"Darimana mereka bisa mengklaim diri mereka seperti itu?"
"Wahyu?"
"Orang seburuk itu? Apakah kau percaya orang-orang yang tega memiskinkan desa seperti itu mendapatkan hal semacam itu? Jika para Dewa benar-benar ada, mengapa mereka yang tak memiliki kapasitas di bidangnya bahkan tak bermoral bisa dipilih?"
"Heil, kita harus menerimanya. Kita hanya harus percaya dan percaya. Karena kita menghormati nenek moyang kita. Mereka akan menangkap kita jika kau ketahuan memiliki pemikiran seperti itu"
"Hah, itulah kenapa, Keil, kau berpikiran sempit. Kau tak pernah keluar dari desa dan menyaksikan dunia yang luas ini. Keil! Suatu hari jika kita berhasil merubah desa ini, aku berjanji akan memperlihatkan dunia yang luas nan indah ini. Betapapun, kau, jika mengalami suatu kepayahan, dan menganggap hidup ini tidak adil. Maka ketahuilah, bahwa matahari selalu berputar tanpa henti, pohon-pohon selalu tumbuh, dan burung-burung terbang bersama makhluk lain yang pulang dalam kondisi kenyang"
"Heil, apa maksudmu. Mengapa aku harus dilibatkan?"
"Keil, dunia ini adalah susunan yang hebat. Meski aku tak pernah percaya tentang lima dewa. Tapi, aku yakin ada sosok yang mengatur semua ini demikian rapinya. Dan, aku lebih percaya bahwa hanya satu yang bisa melakukan semua itu"
"Tidak. Tapi, aku akan mencarinya seumur hidupku. Aku sangat yakin tentang ini. Karena, aku telah membuktikannya pada diriku sendiri"
...
Ingatan Keil terhenti. Tidak, itu cukup sampai disitu. Karena percakapan berakhir disana.
"Dunia itu adil? Begitukah, maksudmu Heil? Apakah itu benar?"
__ADS_1
Keil menutup matanya. Tubuhnya bisa beristirahat tenang. Juga jiwanya.
Malam hampir berakhir dan pagi akan menjelang sebentar lagi.
Tiupan angin menyapu dedaunan
dedaunan kering berterbangan
hujan rintik datang perlahan
perlahan bumi dibersihkan
Tak ada pun sebuah kebetulan
kebetulan hanyalah khayalan
Takdir telah berjalan
iringi kehidupan
(Keil?)
__ADS_1
***