
Keil tengah lelah. Ia telah berjalan selama berjam-jam dan beberapa saat istirahat. Ini adalah istirahatnya yang ketiga. Perut Keil berbunyi, Keil yang memiliki pikiran jernih sekarang, ia menyesal terbawa emosinya. Namun, ia juga tak tahu mengapa ia melakukan hal itu.
Ah, seandainya aku bersikap tenang.
Mengapa aku sangat marah tadi?
Keil mencoba koreksi tindakannya. Dan, Keil mencoba mengingat kembali. Mengingat peristiwa di desanya.
Sesaat Wajah Keil mendadak kosong, kedua matanya membesar. Keil tanpa sadar mengeluarkan umpatan-umpatan pada Tekno yang telah membantai desanya. Keil memukul kepalanya sendiri, lalu tersadar.
Apa yang terjadi dengan diriku? Tapi, kejadian itu benar-benar mengerikan. Dadaku terasa mendidih saat mengingatnya..
Aku tak tahu..
Hari sedang gelap. Hanya cahaya bulan setengah redup yang sedikit menerangi jalan. Keil sudah melebihi jarak yang ditempuhnya kemarin.
Kaki Keil lemas dan kaku. Ia merasa tak sanggup berjalan lagi. Ia masih duduk dengan kaki memanjang(lurus).
Kemudian, ia berbaring terlentang menghadap langit. Sesaat fatamorgana suara terdengar begitu jelas di telinganya. Itu adalah refleksi masa lalu yang masih Keil ingat.
__ADS_1
"Keil, langit begitu indah. Sekalipun, aku tak pernah berpikir 'kebetulan' akan membentuk semua ini. Harus ada yang memulai dan mengadakan(menciptakan). Tapi, beberapa salah kaprah sebagian orang adalah menuhankan bulan. Padahal, ia bukan sesuatu yang paling ajaib, bahkan, ia hanya benda yang menerima cahaya dari teman yang tak pernah ia temui"
Munasian-munasian pendatanglah yang mengajarkan semuanya. Mereka adalah orang-orang terdidik yang lari dari para tuan mereka(penjajah). Mereka menjadi guru, dan Heil, sahabat Keil, ia sangat antusias menerima ilmu-ilmu yang diajarkan. Sehingga terbentuklah kata-kata panjang di atas.
Sangat berbeda dengan Keil. Ia awalnya tak sepersen pun menghormati mereka. Tapi, nasehat-nasehat Heil perlahan membentuk kepribadian yang lain. Maka benarlah sebuah pepatah : Berteman dengan penjual minyak wangi akan menjadikanmu wangi. Berteman dengan tukang besi akan menjadikanmu bau yang tak sedap. Bukan, bukan penghinaan terhadap tukang besi, tapi hanya sekedar analogi saja.
Di sisi lain, meskipun satu kepribadian yang baik terbentuk. Keil tak bisa melepaskan kepribadian lamanya sebagai 'anak nakal'. Jika saja bukan karena Heil, Keil hanya akan tumbuh sebagai pemalas yang tak akan menghargai sesuatu, berwatak keras, suka berkata kasar, seperti yang terjadi pada saat Keil mengingat kembali peristiwa memilukan yang berusaha ia lupakan, namun, ia tak bisa melupakannya begitu saja.
'Dendam.Dendam. Para Tekno itu harus mati. Tidak, semua Tekno Barat. Bahkan, seluruh Tekno harus mati.'
Mungkin itulah singkatnya pemikiran Keil.
"Keil, apa yang akan kau lakukan jika lima orang dari sebuah kaum membunuh keluargamu. Siapa yang pantas untuk dibunuh?"
"Kelima orang itu, lalu semua orang-orangnya"
"Mengapa kau harus membunuh selain dari lima orang tersebut. Padahal mereka tak ada hubungannya?"
"Karena, mereka dari orang-orang yang sama. Maka mereka juga pantas untuk mati"
__ADS_1
"Jika hal yang terjadi sebaliknya? Apakah jika mereka mengambil pendapatmu, padahal kau hanya orang dari kaum yang kelima orang-orangmu membunuh satu keluarga dari kaum lain. Lalu, dengan itu mereka membunuh semua kaummu apa yang akan kau lakukan?"
Keil terdiam.
"Aku tak pernah mengatakan pendapatmu salah sepenuhnya. Tapi, jangan pernah membunuh karena dendam. Karena dendam bisa merusak kejiwaanmu. Kau dianggap berjiwa besar jika memaafkan mereka dengan mengambil kompensasi yang setimpal. Dan, pada minimalnya hanya kelima orang itu yang pantas dibunuh. Namun, jika kaum yang ada lima orang pembunuh itu membela para pembunuh. Maka, mereka pantas diperangi dengan memenuhi etika-etika perang—, oh, apa aku menjelaskan terlalu jauh? Intinya adalah jangan biarkan dirimu terbakar oleh api dendam. Itu hanya akan melahap jiwamu sendiri dan pada akhirnya menghancurkanmu"
Keil meneteskan air matanya. Suara fatamorgana itu telah hilang. Tubuh Keil terasa ringan mendengar nasehat itu.
"Heil, aku tahu. Aku tahu. Aku tahu. Bahwa kau mengatakan semuanya untuk kebaikan sahabatmu ini..Tapi, aku bukanlah seseorang yang bisa mengikuti nasehatmu seluruhnya. Maafkan aku, Heil. Maafkan aku, walaupun aku tahu kau akan berkata : 'Sudahlah, bukan apa-apa'. Tapi, aku akan tetap berkata : 'Maafkan aku'! "
Keil mengusap wajahnya. Keil mengingat kembali tentang gurunya. Ia merasa ia harus kembali dan menyesal serta meminta maaf pada gurunya.
"Jika kau lelaki. Minta maaflah jika salah dengan tulus. Seandainya kau mau tahu, itu jauh lebih baik daripada lari dan menghindari masalah sejauh-jauhnya. Siapa tahu akibatnya di masa depan?"
Sekelebat kata-kata itu telah pergi.
Keil bangun dari posisi tidurnya. Ia menarik nafas dalam tiga kali. Anehnya, rasa lapar telah hilang.
Ya, semangat akan menghilangkan rasa laparmu. Maka hiduplah dengan semangat. Hiduplah sebagaimana orang 'hidup'.
__ADS_1
***