Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh

Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh
Guru


__ADS_3

"KEIL!"


*byur*


Keil terbangun dengan mata yang berat sedangkan tubuhnya sudah basah kuyup.


"Inikah yang kau maksud 'tidak mengecewakan'? Cepat, mandi, dan ambil ganti bajumu. Aku sudah menyiapkannya di depan kamar mandi. Pakaian di sana sedikit berbeda dari yang engkau kenakan. Maka, cari tahulah sendiri bagaimana memakainya!"


"Guru, maafkan aku! aku—"


Belum menunduk dengan sempurna, sang guru sudah menyelanya.


"Sudah, hargai waktu! Cepatlah, aku akan membuat enam puluh hitungan atau kau akan menemui hukuman keduamu!"


"Baiklah.."


Keil bergegas meninggalkan kamarnya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Arah kanan adalah pintu depan, maka ia mengambil kiri untuk menuju kamar mandi yang dimaksud.


Di desa Keil, kamar mandi adalah sesuatu yang jarang dibuat. Para penduduk desa biasa buang air dan mandi di sungai dan mereka tak malu telanjang dilihat orang. Namun, sebuah kode etik berlaku bahwa lelaki dan perempuan mempunyai perkumpulan terpisah.


Hanya sedikit kamar mandi di desanya yang dibangun beberapa orang terutama para tetua dan pemimpin kuil. Dan, ada dua kamar mandi umum yang satu berfungsi sebagai tempat buang air kecil. Di sana akan disediakan beberapa buah daun. Dan satu lagi berfungsi sebagai tempat buang air besar dengan daun besar sebagai pembungkus kotoran beserta bebatuan kering untuk membersihkan.


Keil telah sampai pada ujung jalan. Ia menemukan sebuah pintu tertutup dengan meja kecil di depannya. Ada satu set pakaian yang Keil asing dengannya.

__ADS_1


Pakaian yang dikenakan Keil adalah berasal dari kulit hewan dan hanya ada satu baju panjang yang menutupi sampai lutut Keil. Sangat sederhana, berbentuk seperti persegi panjang yang berlubang empat. Lubang kedua kaki, lubang untuk kepala, dan dua lubang untuk kedua tangan tanpa lengan.


Sedangkan yang ia lihat di depannya terdiri dari dua macam. Sebuah baju pendek —dibanding milik Keil—, dan benda yang Keil kira sebagai pelengkap untuk menutupi bagian paha ke bawah. Keil mengambil set pakaian itu dan membuka pintu yang ia kira sebagai kamar mandi.


Keil terkejut dengan yang dilihatnya dan apa yang diciumnya. Di dalamnya ada seember air dan gayung beserta benda yang hampir membentuk huruf 'O' dengan lubang pada salah satu sisinya. Keil yang dibatasi waktu segera melakukan penggantian pakaian menurut yang dianggapnya benar. Tanpa banyak waktu terbuang, Keil telah selesai mengetahui cara memakai pakaian yang baru pertama kali dilihat itu. Keil segera mengganti pakaiannya.


"Baru kali ini aku mendapati baju yang cukup bagus dan halus di kulit. Ini benar-benar nyaman dipakai."


Keil mengejar waktu dan berlari menuju tempat dimana gurunya duduk. Gurunya duduk di atas kursi kayu sambil melihat pemandangan luar dari jendela kecil. Sebelum Keil tepat berada di dekatnya, ia sudah mulai mengeluarkan kata-kata. Kata-kata itu terdengar tepat pada jarak minimal pendengaran yang jelas di telinga Keil.


"Seratus enam puluh tujuh detik lebih beberapa. Kau mengkorupsi waktu hampir tiga kali lipat. Baiklah, kesampingkan hukuman buat nanti. Kita akan memulai hal pertama yang paling penting dalam timbal balik antara guru dan murid".


Mengapa begitu cepat? Bagaimana guru menghitungnya?


Apakah aku benar memberitahukan isi hatiku? Bagaimana guru membacanya? Apa yang salah dengan mimik wajah?


"Itu benar. Sedangkan, Teknologisian yang kau incar seluruhnya memiliki kemampuan ini dalam tingkat yang lebih tinggi. Berhentilah memikirkan sesuatu dan fokuslah untuk pelajaran pertamamu"


"Baik.."


Sang guru membalik arah wajahnya dan berdiri, lalu membalik arah kursi menghadap Keil.


"Duduklah"

__ADS_1


Keil duduk dengan posisi melipat kaki secara vertikal di depan wajahnya.


"Duduklah!"


Keil masih dalam posisinya.


"Duduklah!!"


Keil tak paham apa yang dikatakan gurunya.


"Inilah mengapa memulai angka dari satu digit sungguh melelahkan"


Sang guru berdiri dan memperbaiki posisi duduk Keil. Ia membentuk posisi duduk dengan kaki saling bersilang. Dan menaruh kedua tangan Keil pada kedua lututnya. Kemudian, menegapkan posisi tubuh Keil sebagai sentuhan terakhir.


"Ingatlah posisi duduk ini pada setiap pertemuan—pelajaran—. Jika kau melanggar sedikit saja, beberapa hukuman akan menanti lagi. Camkan baik-baik"


"Baik.."


"Sekarang..."


Sang guru telah kembali ke kursinya. Tangannya mengambil sebuah buku kecil seukuran telapak tangannya. Buku itu diambil dari meja bundar kecil disampingnya. Tampak, ada beberapa buku lain yang bertumpuk dibawahnya dengan ukuran yang sama.


"Kita akan mulai pelajaran pertama kita"

__ADS_1


***


__ADS_2