
Keil berjalan mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang misterius tadi. Keil tak mengira, jarak yang ia tempuh memakan waktu yang lama. Padahal, dari jauh, itu terlihat agak dekat.
Hujan mulai mereda. Keil yang sudah tak kebasahan lagi sejak memakai payung. Kini, ia sudah sedikit kering. Keil merasakan tubuhnya sedikit mengkerut dan menggigil. Ia mempercepat langkahnya.
Keil berpikir, apa yang akan terjadi nanti. Apa yang ada pada titik cahaya itu?
Seribu langkah, dua ribu langkah, tiga ribu langkah...
Keil merasa sangat lelah. Dimana tujuannya masih jauh.
Apakah mataku menipuku?
Hujan tinggal rintik-rintik. Keil duduk memanjangkan kedua kakinya di atas tanah yang basah. Mengambil istirahat sejenak.
"Apakah ini sebuah tipuan—, atau sebuah ujian?"
Keil mencoba menghilangkan pemikiran anehnya. Ia percaya penolong itu tulus menolongnya. Mungkin, ia sedang berhalusinasi dan jarak hanya 'terlihat' jauh.
Keil berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Malam masih gelap, tak terasa titik cahaya yang Keil lihat sedikit membesar. Dari sebuah titik menjadi kumpulan enam titik yang bersatu.
"Haaf..Fuufh.."
Keil mengendalikan dirinya dari kedinginan dengan menarik dan mengeluarkan nafas secara dalam. Sedikit kehangatan akan mengurangi kemungkinan ia mati kedinginan. Ribuan langkah lagi telah berlalu.
Keil yang sudah tak kuat, kini mulai terlentang putus asa seperti yang sebelumnya ia lakukan.
"Apakah kau bercanda. Berapa jarak yang harus ditempuh?"
Apakah ini mimpi? Rasanya seperti sebuah mimpi...berjalan tanpa ujung...
Sudahlah. Lagipula aku ingin mati sedari tadi. Akan kutemui takdir yang seharusnya kulakukan..
__ADS_1
***
Pagi telah tiba. Keil terbangun dari tidurnya saat cahaya matahari menyentuh wajahnya. Keil melihat sebuah rumah yang tepat berada di sampingnya. Rumah yang tersusun dari batu bata yang disemen, namun Keil hanya tahu kalau rumah itu berwarna abu-abu—warna semen— dengan atap aneh datar. Secara keseluruhan bentuknya mirip kubus.
Desa tempat Keil tinggal, disana masih menggunakan kayu atau bambu sebagai pembentuk utama rumahnya. Lalu, jerami sebagai atap yang meneduhkan. Maka, Keil sangat asing dengan bentuk dan pembentuk bangunan ini.
Apa yang terjadi semalam?
Seseorang keluar dari pintu rumah yang telah dibuka. Seorang lelaki dewasa dengan wajah yang membosankan bahkan dalam pandangan pertama. Ia memperhatikan Keil sebentar dan masuk kembali ke dalam sambil membanting pintu.
Apa aku salah?
Keil berinisiatif untuk segera pergi dari tempat itu.
Sungguh, penduduk yang tidak ramah.
Keil memandangi sekitar..
Sial. Aku tersesat. Aku akan belajar untuk tak mempercayai orang asing lagi. Tapi, kejadian semalam memang sangat aneh. Aku tak ingat telah sampai menempuh tujuan yang ditunjuk oleh si cebol sialan itu. Ia memberiku benda ini, menyelamatkanku dari hujan, tapi, membuatku menempuh jalan yang tak kuketahui.
Sekarang, aku menemui lelaki menjengkelkan yang tidak ramah. Haruskah aku bertanya padanya?
Keil melihat sekeliling sekali lagi. Ini sebuah padang pasir kecil. Ada pepohonan yang terlihat sangat jauh melingkari tempat ini. Keil mencari sebuah celah, karena ia merasa tak pernah melalui hutan semalam.
Itu dia!
Celah yang dicari Keil, ia sudah menemukannya. Jalan tanpa pepohonan. Pada jarak yang sangat jauh lagi, berdiri sebuah gunung tinggi yang entah membutuhkan berapa bulan atau berapa tahun untuk menuju ke sana.
Keil bersemangat untuk pergi dari tempat ini. Saat ia sedang melangkahkan kaki pertamanya, pintu rumah kubus itu kembali terbuka. Kali ini, ia berbicara pada Keil.
Tidak, orang itu lagi.
__ADS_1
Keil tahu dari bunyi pintu yang dibuka. Sebenarnya Keil ingin sekali mengabaikannya. Tapi, suara orang itu menghentikannya.
"Jika kau masih ingin hidup, jangan tempuh jalan yang tanpa pepohonan itu. Apalagi memasuki pepohonan disekeliling tempat ini"
"Ehm..apa pedulimu tentang orang lain?"
Keil bernada jengkel.
Orang ini aneh.
"Baiklah. Benar apa yang kau katakan. Silahkan pergi dari tempat ini. Karena seharusnya aku memang tidak peduli!"
Apa...
Keil melewatkan sesuatu. Tak seharusnya ia tidak menjaga mulutnya. Seharusnya ia bertanya 'mengapa', bukan mengabaikannya.
"Sudahlah. Mungkin itu hanya omong kosong"
Keil menghibur dirinya sendiri dan duduk di tempat ia akan melangkahkan kakinya.
"Sepertinya, aku benar-benar harus bertanya. Perkataannya terlihat sama sekali bukan omong kosong. Aku akan menjaga diriku agar tidak membuat kesalahan yang lain"
Pertama, berjalan dan tenangkan pikiran.
Ketuk pintu dengan sopan.
Menjaga situasi apapun yang terjadi.
"Aku telah siap".
***
__ADS_1