Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh

Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh
Penerimaan dan Selamat


__ADS_3

"Hm..?"


Matanya baru saja terbuka. Ia melihat ruangan ini hangat. Tak hanya hangat, tapi sangat nyaman.


"Emosi yang tidak stabil, pingsan di tempat. Sebenarnya apa yang kau lakukan?"


"Kau..orang tidak ram—, mengapa kau membantuku?"


"Tak ada hal apa-apa selain kau akan memberitahukan tempat ini pada musuh"


"Apa yang terjadi?"


"Jangan bertanya kepadaku. Aku hanya tahu sebab pingsanmu tadi setelah mengecek beberapa hal saat kau tak sadar"


Keil masih merasa sakit pada dalam kepalanya. Ia lupa akan banyak hal. Tapi, ia masih mengingat orang itu. Banyak ingatan yang kabur.


"Heil"


Keil berucap tanpa sadar.


"Heil? Namamu Keil, bukan?"


Orang itu tak mengerti maksud Keil. Ia melirik ke tangan kanannya, menekan tombol pada sebuah benda yang melingkar disana.


"Sudah berlalu seperempat malam. Sebaiknya kau beristirahat untuk menenangkan jiwamu. Sepertinya kau mengalami sedikit lupa ingatan. Entah mengapa kau masih mengingatku"


Orang itu melanjutkan, "Aku berharap tidak salah memilih langkah seperti yang terjadi sebelumnya. Jadi, jangan kecewakan gurumu ini. Besuk, kita langsung memulai apa yang harus dilakukan".


"Aku..seorang, murid? Kau..guruku?"


"Istirahatlah. Dan, jangan mengecewakanku".


Hm..mungkin ada kebaikan dari hal ini.


Keil, apakah amnesia kecil yang dialaminya. Ada yang tidak beres dengan sikapnya.


Sudahlah. Aku hanya melaksanakan tugas dan keinginanku.


***


Guru, murid, orang yang tidak ramah. Heil, ibu, desa. Siapa aku?


Keil?


Siapa dia? Diriku?


Aku merasakan sesak yang menghimpit dadaku.


(Keil)


Siapa itu?!


(Keil?)

__ADS_1


SIAPA DISANA!!!


Apa...


Ini...


(Lari! Para penjajah Tekno telah kemari! Orang-orang Barat yang kejam lebih dari roh jahat! Selamatkan dirimu!)


(Keil, beradalah disini sampai ibu kembali, jangan keluar apapun yang terjadi?)


(Tapi, ibu..apakah Keil akan ditinggalkan?)


(Keil, apakah kau meragukan ibumu? Bukankah ibu telah berkata akan melindungimu? Percayalah pada ibu kali ini saja, jangan keluar dari jerami ini sampai ibu kembali?)


(Baiklah..)


(Keil, kau juga bukan anak kecil lagi. Keil, bukankah Keil akan menjadi dewasa dan membuat bangga ibu? Hapuslah air matamu, air mata lelaki itu berharga)


(Ibu! Jangan tinggalkan aku sendiri! Keil takut..)


Itukah Keil, diriku?


Aku, tidak! Aku bukan orang itu. Pasti itu salah!


(HEI..HEI..PENDUDUK DESA YANG MENYEDIHKAN, JANGAN BERGERAK SEDIKITPUN, ATAU ANAK INI AKAN TERLUKA! benarkan itu~ pemuda yang tampan?)


(Lepaskan! Kau lelaki busuk! LARI SEMUANYA, JANGAN PEDULIKAN aku.....)


Tidak! Tidak! Siapa itu?


(KETUA? MENGAPA KAU TAK MENANGKAP ORANG-ORANG YANG MUNGKIN AKAN BERBAHAYA INI?)


(Cih, Baiklah. SEMUANYA, BAGI YANG INGIN SELAMAT, BERKUMPUL MEMBENTUK LINGKARAN DI DEPANKU. AKU AKAN MENJAMIN KESELAMATAN SIAPA SAJA YANG MENAATI PERINTAHKU!)


(Nah, itu baru Ketua yang kusayangi~)


(Tian, diamlah, atau kubunuh kau!)


(Baiklah, Ketua tersayangku~)


Apa ini? Apa ini? APA INI?


Tidak! Tidak! TIDAK!


Aku bukan Keil!


_Aku..Aku..AKU..AKAN Membalas KEBiAdaBan KaliAN!_


Apa? Diriku, apa yang kau katakan!


Ini mimpi BURUK!


***

__ADS_1


"Hah..hah..hah..Aku bukan Keil!"


Keil seolah-olah selamat dari tenggelam. Nafasnya tak teratur bercampur dengan sedikit kelegaan. Ia seperti melompat dari tidurnya dan sekarang ia berada dalam posisi duduk dengan kaki lurus yang membentuk huruf 'O'.


"Hah, kau mengalami kejiwaan yang berat. Dan, kau menyangkal dirimu sendiri. Berdamailah dengan jiwamu dan terimalah apa yang terjadi. Aku bukan ahli kejiwaan sehingga dapat menyembuhkanmu. Duh, apa yang kupercayai dari Bos?"


Aku harus bersabar. Mungkin emas yang lebih berharga membutuhkan proses yang lebih lama.


"Keil, namamu Keil. Keil adalah dirimu. Dan, kau baru saja mengalami hal buruk. Kau harus menerima kenyataan yang menimpamu. Terimalah, maka kau akan tenang. Dan, jangan berlari atau kau akan semakin jauh dan kacau"


Apakah benar seperti ini cara menangani kejiwaan ringan? Aku menyesal melewatkan banyak kelas kejiwaan dulu.


"Aku, Keil? Mimpi buruk... itu, nyata?"


"Kau benar-benar Keil"


Bagus, Kau mulai menerimanya!


"Mimpi buruk itu adalah kenangan yang kau lupakan. Coba hiruplah udara dalam-dalam dan lepaskan. Lakukan tiga kali"


Apakah ini akan berhasil? Aku pernah menjawab pertanyaan yang sama, lalu, hasilnya...


"Oh"


Bukankah aku salah, dulu ketika menjawab dengan seperti ini? Coba cara lain—


Keil tiba-tiba menangis. Tangisannya berisak pelan. Tangannya menutupi wajahnya.


"Kau..menangis?"


"Ibu, Heil, Jev, Tagh, Hin, Nam, Laz, Seluruh penduduk desa, maafkan aku yang tak dapat berbuat apapun untuk menyelamatkan kalian. Maafkan aku yang ingin membunuh diriku sendiri untuk melepaskan tanggung jawab untuk membalas Kebiadaban mereka, orang-orang Tekno dari Barat yang lebih kejam daripada roh jahat. Tapi, aku benar-benar tak bisa berbuat apapun. Aku ingin mencabik-cabik mereka dan memotong-motong jari-jari mereka, tapi aku sangat lemah. Aku bahkan hanya menyaksikan kalian dianiaya dan dihapus layaknya debu yang cepat menghilang. Maafkan aku, maafkan aku! Aku Keil, bersumpah untuk membalaskan dendam untuk kalian. Aku akan melakukannya meski aku tak lagi memiliki tangan, kaki, atau hanya tersisa separuh anggota tubuhku. Selagi nyawa masih di ragaku"


Oh, perkataan yang dalam dari seorang yang baru saja dewasa. Pemuda yang menarik. Sepertinya aku mulai melihat kilauannya.


"Benarkah?"


"Kau—"


"—maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf dan berterima kasih. Aku telah berburuk sangka kepadamu, dan engkau menyelamatkanku. Aku akan membalas budi atas yang terjadi. Apa yang harus kulakukan? Aku tak keberatan dan dengan senang hati jika aku menjadikanmu seorang guru"


"Jangan menganggapku begitu. Kau tak perlu membalas budi apapun. Aku hanya ingin kau menjadi muridku dan kau tak mengecewakanku. Itu sudah lebih dari cukup"


"Apa hal yang tidak akan membuatmu kecewa?"


Orang itu, seorang yang akan mengajari Keil banyak hal, ia mengetuk kepala Keil sedikit keras —menjitak—.


"Aw, itu sakit.."


"Seharusnya kau menambahi kalimat awal atau akhirmu dengan kata 'guru'. Lupakan, itu pelajaran besuk. Masih ada seperempat malam, istirahatlah lagi untuk pemulihan terakhirmu. Oh, aku lupa, hanya satu hal yang takkan membuatku kecewa, jadilah seorang murid yang terhebat, seorang yang akan merubah dunia ini menjadi surga tanpa peperangan dan manusia bisa hidup sebagaimana seharusnya"


"Baiklah, guru"


***

__ADS_1


__ADS_2