
Siq perlahan membuka matanya. Ia terbangunkan oleh alarm yang ia setel sendiri. Alarm itu berasal dari benda yang melingkar di tangan kirinya. Mirip jam tangan.
"Segarnya! Istirahat singkat memang terbaik. Ketua, dia kemana? Tak biasanya selama ini.."
Siq keluar dari mobil untuk melihat kondisi sekitar. Ia sendiri sedikit merasa janggal. Kesunyian ini tak biasa. Tidak, ini tingkat kesunyian yang benar-benar berbeda dengan ketika sebelum ia tidur singkat.
Pintu mobil yang memiliki mekanisme buka-tutup dengan keamananan sidik jari terbuka setelah Siq menempelkan ibu jarinya di tempat pendeteksi yang terpasang di bagian bawah jendela pintu mobil. Setelah Siq keluar, pintu secara otomatis menutup tanpa menimbulkan suara yang tidak perlu dan menutup rapat. Inilah mobil pengangkut tentara standar Negara Barat.
Letak mobil yang dikemudikan Siq terletak di tengah-tengah rombongan. Siq yang telah keluar dari dalam mobil melihat tak ada orang yang berpatroli. Ia berjalan menuju mobil bagian belakang yang mengangkut beberapa orang. Ia mengetuk pintu.
"Laporkan kondisi!"
Pintu langsung terbuka dengan bangku duduk vertikal yang kosong. Siq semakin curiga dengan yang terjadi. Ia merasakan hal yang sangat tidak mengenakkan.
"Sial! Apa yang mereka lakukan..tidak, apa yang terjadi selama lima ratus detik ketika aku tidur?"
Sepuluh detik kemudian, pintu yang terdiri dari dua buah itu tertutup kembali dengan sendirinya. Siq berlari mengitari mobil-mobil dan melihat tak ada seorangpun di tiap mobil. Hingga ia berhasil keluar dari bagian dalam formasi dan sampai dimana mobil mini yang memancarkan sorot cahaya yang berputar-putar berada.
Siq berada di bagian selatan dan tak mendapati siapapun. Ia berlari lagi menuju bagian barat dari formasi pasukan ini. Matanya terbelalak melihat apa yang sedang terjadi.
"Sesuai perjanjian, ini anak yang kau minta. Lepaskan dia sekarang. Aku akan melupakan yang barusan terjadi!"
__ADS_1
Itu suara Fan, sang ketua. Sedangkan seluruh pasukan sudah berkumpul dengan senjata yang tergeletak di tanah dalam kegelapan dan semua mengangkat tangannya. Tapi, sorot lampu yang menyinari hampir di semua arah membuat mereka dapat sedikit terlihat.
"Bagus. Sekarang siapkan mobil atau motor untuk kami"
"Hei, kau perampok sampah! Berapa lagi tuntutan—"
Suara tembakan menghentikan ucapannya. Itu salah satu prajurit yang tak tahan dengan prilaku penyandera.
"Lain kali, akan kugunakan pisau ini untuk memotong lehernya"
Penyandera itu menggunakan senjata yang sama dengan Fan. Fan tak tahu darimana ia mendapatkannya. Pistol dengan belati adalah senjata rahasia hanya untuk para pengintai. Fan berpikir ia adalah seorang pengkhianat atau seseorang yang baru saja menyamar. Namun, topeng hitam menutupi wajahnya.
"Zpix, siapkan motor nomor dua untuk tuan ini!"
Seorang yang dipanggil Zpix segera melaksanakan perintah Fan. Fan masih memperhatikan Tian yang hampir tergores oleh pisau dan mulutnya dibekap dengan kain. Fan tak dapat melihat isyarat dari Tian.
Dia pintar. Dia tahu bahwa sesama anggota pengintai memiliki kode khusus dan ia bisa mencegahnya. Merepotkan! Menghadapi anak buah dari T3 sudah semengerikan ini, apalagi boss-nya? Misi sialan ini, membunuh boss T3? Kau bercanda? Sejauh apa kalian akan menjebakku dan menghinaku?
Dia juga sudah menyiapkan perangkat pelacak logam dan manusia. Aku akan kehilangan wanita mengerikan itu jika berani melakukan hal aneh. Ah! Persetan dengan misi ini. Aku hanya ingin bertahan hidup dan menghabisi petinggi-petinggi bermuka monyet itu!
"Ketua, sudah selesai"
__ADS_1
"Baiklah, sekarang mohon untuk memenuhi janjimu, penyandera!"
Jantung Fan bergetar kencang. Ia masih ingin melakukan rencananya. Ya, ia tak sebodoh itu menyerahkan kendaraan yang berharga. Nanti, ia akan mendapat pengurangan gaji, tidak, tapi seluruh anggotanya juga.
"Kendaraan ada pada sepuluh kaki di depanmu. Aku berharap kau mau memaafkan kami karena kelancangan kami"
Fan menundukkan kepala dengan terpaksa. Ia menyembunyikan ekspresi marahnya.
"Baik sekali. Sekumpulan orang-orang yang tak sadar siapa dirinya. Sudahlah, kalian jangan macam-macam karena aku dapat melihat kondisi dari radius satu kilometer. Atau, pria ini akan menemui ajalnya"
Lelaki bertopeng itu melihat Keil sekilas.
"Ikuti aku dan perintahku apapun yang terjadi"
Keil berjalan dengan kaki yang gemetaran dan gugup. Ia menyimpan antara perasaan takut dan curiga serta sedikit harapan. Wajahnya hampir menangis namun tertahan.
Hitungan yang menentukan itu dimulai. Dalam sepuluh langkah yang akan ia lakukan ini, lelaki bertopeng itu menghirup nafas dalam. Dan Tian masih berada pada kondisi tersandera terpaksa berjalan menuju depan. Dan Keil yang berada di belakang lelaki bertopeng itu mendapat satu perasaan lagi yang tiba-tiba muncul.
Sebuah kemarahan yang sangat.
***
__ADS_1