Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh

Fantasi Futuristik : Masa Depan Yang Jauh
Belajar


__ADS_3

"Sebelum memulai pelajaran ini, Keil, gurumu ini akan bertanya padamu. Apa yang harus dimiliki seorang murid sebelum mengambil ilmu dari gurunya?"


Keil terdiam. Ia tak tahu. Pada masa di desanya dalam sebuah pengajaran, ia sering tak hadir. Alasannya sederhana, karena banyak orang tak terlalu memperhatikan tentang pendidikan, maka ia mengikuti mayoritas. Hanya Heil, satu-satunya orang yang sering membuat Keil datang dalam pengajaran. Hanya ada tiga guru di desa Keil. Orang-orang itu berasal dari luar desa dan mengajari penduduk setempat atas permintaan beberapa tetua dengan menetapkan beberapa syarat. Tapi, mereka masihlah para Munasian terdidik yang lari dari pengejaran para penjajah.


Keil ingat satu perkataan Heil tentang jawaban atas pertanyaan yang hampir mirip diajukan oleh gurunya sekarang.


"Keil, pengajaran itu penting. Jangan sia-siakan waktumu untuk tidak belajar di masa mudamu. Lagipula, sekarang kita punya orang yang berpendidikan disini. Kita harus tahu apa-apa yang tidak kita ketahui. Semakin kau melihat, semakin kau merasa hidup. Buatlah hidup ini memiliki tujuan"


"Bukankah mereka hanya orang-orang asing yang mencari perhatian? Mengapa mereka tidak pergi saja. Lagipula, tak banyak yang peduli tentang pengajaran atau apalah. Mereka hanya mengoceh tentang 'perhitungan', 'ilmu alam', atau yang sejenisnya. Apakah mereka mencuci otakmu?"


Heil menampar Keil dengan sangat keras, bahkan sekarang Keil seperti masih mengingat rasanya.


"Keil, jaga mulutmu! Jika kau selalu mengambil kebenaran dengan apa yang dilakukan banyak orang, kau hanya akan mencelakakan dirimu sendiri! Dan, hormatilah mereka. Mereka memberikan dengan hati mereka apa yang mereka ketahui. Mereka adalah guru bagimu, seperti halnya orang tua kedua yang mendidikmu dalam sisi lain. Ingatlah, bahwa suatu hari kau akan menyesal jika menyia-nyiakan kesempatan ini. Tak ada hasil tanpa kerja keras, dan belajar adalah satu upaya untuk melihat masa depanmu. Dan, kau takkan benar-benar bisa belajar, jika hatimu hanya berisi prasangka-prasangka buruk dan kesombongan. Maka, lakukanlah perilaku sebagaimana kau berbakti pada orang tuamu, atau kau selama-lamanya takkan pernah mengerti manfaat dari apa yang mereka sampaikan!"


...

__ADS_1


"Apa jawabanmu? Apakah sebuah pertanyaan yang sulit? Kau takkan memulai pelajaran hari ini kecuali kau menjawab dengan tepat dari pertanyaan ini"


Keil menahan gigi-giginya yang bergemetar—grogi—. Memulai mengambil nafas melalui mulutnya. Lalu, membiarkan lidahnya mengatakan apa yang pikirannya inginkan.


"Bersikap hormat.."


"Sudah? Hanya itu—"


"Bersikap sopan.."


"Bersikap baik..bersikap—"


"Cukup-cukup! Kau akan menyebutkan ratusan hal yang hampir mirip. Jawablah dengan tegas tanpa berputar-putar. Keil! Dengarkan baik-baik, Aku hanya akan menyampaikan ini sekali, namun kau harus selalu mengingatnya seumur hidupmu!"


"Aku akan mendengarkan.."

__ADS_1


"Ucapkan 'aku dengar dan aku laksanakan'. Jangan pernah ragu menjadi seorang lelaki!"


"Aku dengar dan aku laksanakan.."


"Ucapkan dengan tegas. Kata-kata yang sama dengan nada yang berbeda akan bermakna berbeda!"


"Aku dengar dan aku laksanakan!"


"Itu lebih baik. Kita akan mulai"


Keil mengambil sikap serius. Ia akan menangkap sebaik-baiknya apa yang dikatakan gurunya.


"Dalam kata-kata lama ada enam hal yang harus dimiliki seorang murid. Kata-kata itu telah berumur ribuan tahun. Tapi, meski ribuan tahun, sebuah mutiara tetaplah mutiara. Ia akan selalu menjadi mutiara tak peduli berapa waktu yang akan berlalu"


"Hal pertama dari seorang murid yang harus ia miliki adalah 'kecerdasan'. Tanpa kecerdasan, seorang murid tak dapat memulai pembelajarannya. Orang gila takkan bisa belajar. Dan, seorang tanpa kecerdasan atau bodoh juga tak bisa belajar. Tapi, orang yang bodoh dan sadar akan kebodohannya, ia akan disebut cerdas karena mengetahui kebodohannya. Pada asalnya kebodohan itu tidak ada—manusia terlahir dengan akal— dan pada asalnya manusia itu bodoh—karena tak mengetahui apapun—. Bodoh dapat berarti dua, ia tidak tahu, atau ia tak mau tahu. Apapun, selagi kau bersikap mengetahui kekurangan dan kebodohanmu. Maka, kau adalah orang yang cukup untuk dibilang cerdas"

__ADS_1


***


__ADS_2