
Aldy dan teman-temannya tengah konvoi keliling kota di malam hari ini.
Tanpa sengaja, Aldy melihat Fatimeh berdiri di atas jembatan jalan raya sendirian.
Aldy pun menghentikan motornya, membuat kedua temannya merasa heran.
"Eh Dy, lu ngapa berhenti dah?" tanya Gerard.
"Bentar dulu, gue ada urusan sebentar. Kalian cabut aja duluan sana! Nanti gue nyusul setelah urusan gue selesai," jawab Aldy.
"Urusan apa sih? Lu mau ngapain berhenti di jembatan kayak gini? Pengen bunuh diri lu?" tanya Endo penasaran.
"Gila lu! Ya kagak lah! Gue tuh pengen temuin cewek yang di seberang sana tuh, gue cemas sama dia. Kayaknya dia lagi sedih banget, gue gak mau dia loncat ke sungai." jawab Aldy.
"Hah? Ohh, cewek yang lagi ngeliat ke bawah sungai itu? Emang lu kenal sama dia bro?" tanya Gerard.
"Kenal lah, dia itu Fatimeh alias cewek yang baru dibeli sama bokap gue, yang waktu itu pakaiannya kalian cium-cium loh." jawab Aldy.
"Hah? Ohh, jadi itu ceweknya yang lu maksud? Waw mantap juga bodynya ya! Dilihat dari belakang aja semok begitu, apalagi dari depan. Pasti makin mantap deh!" ujar Gerard.
"Ya iyalah, kan gue udah bilang." ucap Aldy.
"Kalo gitu kita berdua ikut ya? Kita pengen kenalan sama cewek itu sekalian, boleh ya?" ucap Endo.
"Ah kagak kagak, jangan! Biar gue aja yang kesana, ini urusan penting!" ucap Aldy.
"Yah elah pelit amat lu!" cibir Gerard.
"Bodo! Udah sana pergi lu pada!" ujar Aldy.
"Iye iye.." ucap Gerard dan Endo pasrah.
Setelahnya, Gerard dan Endo pun pergi. Sedangkan Aldy langsung berbalik arah untuk menghampiri Fatimeh disana.
Fatimeh masih terus menatap ke bawah sungai yang mengalir deras itu, Fatimeh amat bingung saat ini karena ia tak memiliki siapapun lagi.
"Hiks hiks, kenapa ini harus terjadi sama aku? Setelah paman dan bibik, sekarang aku juga kehilangan sahabat yang paling aku sayangi gara-gara pekerjaan ini." ucap Fatimeh.
Tak lama kemudian, Aldy datang menghampirinya dan menyapanya dari belakang.
"Imeh!!" wanita itu terkejut dan reflek menoleh ke belakang.
"Kak Aldy??" ucapnya dengan mata terbuka lebar.
Aldy tersenyum saja menatap wajah Fatimeh, ia melangkah mendekati wanita itu dan berhenti tepat di sampingnya.
__ADS_1
Fatimeh berusaha menghapus air matanya agar Aldy tak tahu jika ia sedang menangis tadi, namun tentu saja Aldy sudah terlanjur mengetahuinya.
"Kamu lagi ngapain disini sambil nangis? Ada masalah sama kerjaan kamu? Atau yang lain?" tanya Aldy dengan bingung.
"Gak ada kok kak, aku cuma lagi merenung aja disini." elak Fatimeh.
"Ya merenung karena apa cantik? Udah, kamu cerita aja sama aku!" ujar Aldy.
"Begini kak, tadi itu teman-teman sekolah aku datang ke club. Mereka lihat dan tahu aku jadi wanita seperti ini, akhirnya sahabat aku itu marah besar sama aku." jelas Fatimeh.
"Hah? Kok bisa ada sahabat kamu yang datang ke club? Mereka mau ngapain?" tanya Aldy kaget.
"Kayaknya mereka emang sengaja mau nyelidikin soal aku, karena sebelumnya udah banyak berita beredar tentang aku yang jadi wanita malam. Sekarang aku gak punya siapa-siapa lagi kak," jawab Fatimeh.
Aldy ikut merasa iba melihat kesedihan Fatimeh, ia mendekat dan membawa Fatimeh ke dalam tubuhnya untuk menenangkan wanita itu.
"Sudah ya, kamu jangan menangis! Siapa bilang kamu gak punya siapa-siapa? Masih ada aku loh cantik, aku akan selalu ada disisi kamu!" ucap Aldy sambil tersenyum meyakinkan Fatimeh.
"Makasih ya kak!" ucap Fatimeh.
"Sekarang kamu gak perlu sedih lagi! Biar aja sahabat kamu itu marah atau benci sama kamu, kamu gausah mikirin mereka! Kehidupan kamu yang sekarang ini udah enak, jadi kamu gak perlu melihat ke belakang lagi!" ucap Aldy.
Fatimeh mengangguk pelan, sentuhan Aldy pada tubuhnya membuat ia merasa nyaman dan tenang.
•
•
Keesokan harinya, Tina tengah bersiap-siap untuk pergi menemui calon pelanggannya sesuai perintah dari Dans selaku manager nya.
Tina tampak tersenyum ceria karena ini merupakan pelanggan pertamanya setelah sekian lama ia tak mendapatkan pelanggan.
"Akhirnya aku bisa dapat pelanggan lagi!" ucap Tina sambil tersenyum memandangi dirinya sendiri di depan cermin.
Tiba-tiba saja, Aldy muncul di belakangnya dan langsung memegang kedua pundak Tina.
"Uhh kamu cantik sekali Tina!" ucap Aldy seraya mengendus leher dan mengusap bahu wanita itu. "Kamu wangi banget, mau kemana sih sayang?" tanyanya sembari menggigit telinga Tina.
"Akh! Aku dapat panggilan dari pelanggan, mas." jawab Tina sambil merem melek merasakan sensasi yang diberikan Aldy.
"Nah kan, aku bilang juga apa. Kalau emang udah rezeki, pasti bakal datang dengan sendirinya. Selamat ya cantikku!" ucap Aldy.
"Makasih mas!" ucap Tina tersenyum lebar.
"Oh ya, kamu bisa servis aku sebentar kan? Aku tegang nih sayang," pinta Aldy yang dengan sengaja menggesekkan miliknya pada bagian belakang Tina.
__ADS_1
"Umm, tapi aku udah ditunggu sama pelanggan aku mas. Aku gak mau buat dia kecewa," ucap Tina menatap wajah Aldy.
"It's okay, aku gak maksa kok. Kamu bisa pergi sekarang, maaf ya ganggu!" ucap Aldy.
"Gak ganggu kok mas, nanti pulang dari tempat pelanggan pasti aku bakal puasin kamu deh." ucap Tina seraya mengelus dagu Aldy.
"Aku tunggu itu," ucap Aldy sedikit mendesahh.
Tina pun keluar dari kamarnya setelah merasa cukup cantik, sedangkan Aldy terlihat masuk ke kamar wanita lain karena ia butuh dipuaskan.
Tina berangkat menuju tempat tinggal si pelanggan yang bernama Rasyid, wanita itu amat senang dan tidak sabar untuk segera melayani pelanggannya.
Cukup lama memang Tina tidak memuaskan para pria, terkecuali Aldy. Oleh sebab itu, Tina amat merindukan sentuhan-sentuhan pria nakal.
Sesampainya di depan rumah si pelanggan, Tina cukup terpukau lantaran tempat tinggal pelanggan itu lumayan besar dan megah.
"Wah rumahnya keren juga!" ucap Tina.
Ia langsung melangkah ke dekat pintu, menekan bel berkali-kali agar pelanggannya segera keluar.
Ting nong ting nong...
"Berarti pelanggan aku orang kaya nih, pasti aku bisa dapat bayaran gede!" gumam Tina.
Ceklek...
Pintu terbuka, seorang pria berjenggot dan kumis muncul menemui Tina disana dengan tatapan dinginnya.
"Eee dengan pak Rasyid?" tanya Tina pada pria itu.
"Ya, saya sendiri. Kamu Tina kan? Gadis yang saya pesan?" jawab pria itu.
"Benar pak! Saya Tina," ucap Tina.
"Jangan panggil saya pak! Saya masih muda kok," ucap pria itu.
"Ah iya, maksud saya mas." ucap Tina.
Pria bernama Rasyid itu tersenyum tipis seraya mencolek dagu Tina, lalu melebarkan pintu dan membawa Tina masuk ke dalam.
"Yuk masuk!" Tina menurut saja saat Rasyid merangkulnya, mereka pun melangkah masuk dan tak lupa mengunci pintu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1